
"Pelatihan gelombang pertama akan dilaksanakan hari sabtu sepulang sekolah sampai hari minggu sore selanjutnya kalian bisa cek sendiri masuk pelatihan gelombang berapa di papan pengumuman atau di menu utama website sekolah." kata Cornelia membuat seisi kelas tambah riuh karena mengeluh.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Felix dalam hati mengingat disisi lain di Bemfapirav adalah tempat perkumpulan setengah Sanguiber dan di Mundebris masih belum jelas tapi bisa disimpulkan bukan juga tempat yang baik dan kini banyak murid yang akan menginap di sekolah, "Hahh ...." Felix menggaruk kepalanya.
Cain melihat Felix terlihat gelisah tapi berpura-pura tidak melihat dan hanya terus menulis formulir.
Sepulang sekolah Cain jadi tidak terlihat ada dimana dan hanya mengirim pesan menyuruh yang lainnya pulang duluan.
"Keluyuran kemana lagi anak itu?" tanya Teo.
"Halo Stede!" sapa Teo dan Tom melihat Stede lewat.
Stede hanya tersenyum dan lewat begitu saja.
"Dia pasti lelah sekali!" kata Tom.
"Dia itu seperti kebalikan dari kalian!" kata Felix dengan unsur mengejek.
"Apa maksud dari perkataan itu?" Teo dan Tom tersinggung.
"Dia itu seperti tidak memiliki cukup waktu untuk digunakan belajar dan kalian punya banyak waktu untuk digunakan bermain!" kata Felix membuat Teo dan Tom menjatuhkan tasnya dan langsung menyerang Felix.
Felix tertawa keras karena digelitik oleh Teo dan Tom.
"Terkadang menjadi anak yang sangat cerdas tidak juga menyenangkan ... aku tahu sekali karena aku yang mengawasinya, akhir-akhir ini dia terlihat lelah karena harus belajar untuk lomba matematika lagi padahal masih belum lama dia baru saja menang lomba sebelumnya dan harus menyiapkan diri untuk lomba selanjutnya lagi." kata Tan.
"Tapi kenapa dia tidak tertarik untuk ikut kelas akselerasi?" tanya Felix.
Tan tidak menjawab pertanyaan Felix dan malah berbalik menatap Felix.
"Tapi menurutku alasannya tidak akan sama denganku ...." kata Felix yang sebenarnya ditawari untuk masuk kelas akselerasi juga tapi menolak dan hanya ingin tetap di kelas reguler.
"Jadi menurutmu alasannya akan sama dengan Cain?" tanya Teo mulai mengundang tawa.
"Haha ... Cain itu tidak suka hal-hal membosankan seperti itu yang terlalu fokus pada satu hal dan tidak menikmati hidup ...." kata Felix.
"Kalau kami tidak ikut kelas akselerasi karena alasan yang sama dengan Cain karena ingin lebih banyak bermain daripada belajarnya haha ... sedangkan Tan kamu juga pasti sudah tahu kan kenapa tapi kau kenapa menolak juga?" kata Tom.
"Bukankah sudah jelas!" kata Tan.
"Em?" Tom bingung.
"Dia tidak lulus tes psikologi!" kata Tan mulai lari membuat Felix langsung mengejarnya.
"A~aah!" Teo dan Tom bersamaan.
"A~aah? apanya yang A~aah?! dia itu hanya berbohong ... jangan percaya!" kata Felix kesal masih memiting kepala Tan yang sedang tertawa.
"Tapi memang terlihat begitu!" kata Teo dengan mengangguk-angguk.
Felix langsung memukul dagu Teo yang tidak berhenti mengangguk-angguk membuat Felix jadi seperti terhina dan kehilangan harga diri.
"Tapi alasan sebenarnya apa? aku jadi penasaran?" tanya Tom saat mereka berempat mulai turun dari dalam bus dan berjalan menuju Rumah Daisy.
"Kau mungkin tidak akan percaya jika aku mengatakannya ...." jawab Felix.
Tapi Tan, Teo dan Tom terlihat tersenyum setelah mendengar itu.
"Kenapa kalian tersenyum seperti sudah tahu alasanku apa?" tanya Felix.
"Kukira kami ini masih jauh dari kata mengenalmu tapi ternyata seperti yang dikatakan Cain kau ini sangatlah mudah dimengerti!" kata Tan membuat Teo dan Tom tertawa.
"Sangat ... sangat ... sangat!" Teo dan Tom kompak.
"Aku juga tidaklah berbeda dengan kalian ... aku ingin menyalahkan pengalamanku sebagai alasan karena sikapku ini tapi dari awal memang aku sudah seperti ini ... tapi percayalah, aku lebih baik dari yang kalian kira!" kata Felix.
Teo dan Tom mulai datang mendekati Felix dan merangkulnya, "Ya ... kami tahu! kalau terkesan kami seperti masih tidak memahamimu itu karena kami hanya ingin perlahan mendekatimu dan kau juga perlahan membuka diri agar kami bisa mendekat." kata Tan.
"Tidak seperti Cain yang tidak berhati-hati dalam berteman dan dengan mudahnya akrab dengan semua orang ... kami sangat berhati-hati dalam memilih teman dan lebih berhati-hati lagi dengan seseorang yang sangat berharga untuk kami agar seseorang itu tidak terluka karena kesalahan kecil yang kami buat dan akhirnya meninggalkan kami ...." kata Teo.
"Dan seseorang yang berharga itu salah satunya adalah kamu!" kata Tom.
"Kupikir Teo dan Tom hanya memiliki sisi humoris berbeda dengan Tan yang serius tapi ternyata mereka sama. Hanya saja Tan lebih dewasa sedangkan Teo dan Tom memang terlihat banyak bermainnya tapi ternyata ... aku masih jauh dari kata mengenal kalian ternyata ...." kata Felix dalam hati.
"Sepertinya ada bagusnya ya tidak ada Cain!" kata Tom membuat yang lain tertawa.
Saat membuka pintu, Teo langsung berteriak membuat Tom penasaran dan cepat masuk dan langsung memasang wajah kaget juga. Felix dan Tan yang masih tidak mengerti akhirnya mulai berjalan kedepan karena terhalang Teo dan Tom.
"Bagaimana bisa?" teriak Teo dan Tom.
"Katanya ada urusan duluan? kenapa kau malah datangnya lebih cepat dari kami?" tanya Tan.
"Ya ... urusanku ini! ingin cepat pulang daripada kalian!" kata Cain santai memakan kerupuk sambil menonton tv.
Felix mulai membaca pikiran Cain dan langsung tersenyum membuat Cain mengedipkan mata pada Felix.
"Harusnya kau mengajakku agar tidak sendirian!" kata Felix melalui pikiran.
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku lakukan jadi ragu melibatkanmu!" balas Cain.
"Tapi yang aku lihat kau sampai tengah malam mengerjakannya kenapa bisa kau ada disini?" tanya Felix.
"Itu juga masih belum yakin ... jadi aku masih tidak bisa memberitahumu!" jawab Cain.
"Kalian ingin makan malam apa?" tanya Tan dari dapur.
"Aku sedang makan!" jawab Cain.
"Aku tidak menanyaimu!" kata Tan membuat Felix tertawa.
"Em ... apapun itu yang penting menyenangkan eh mengenyangkan ... em ... Tuan Chef!" teriak Teo dari kamar mandi.
"Sama denganku juga, Chef!" teriak Tom dari tangga atas.
"Yang kau lakukan sudah benar dan pantas dicoba!" kata Felix, "Kenapa kau malah ragu seperti itu?" sambungnya.
"Aku tidak ingin melibatkanmu kalau perbuatanku ini malah berimbas ke reputasimu sebagai Caelvita ... lebih baik aku saja, lagipula seorang Leaure bisa melakukan segala cara untuk menolong tanpa harus memikirkan hal rumit seperti reputasi asalkan tidak berlebihan dan malah lebih banyak mengambil korban daripada yang diselamatkan!" jawab Cain masih sibuk memakan kerupuknya.
"Selanjutnya, kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu lagi ... berbahaya jika kau sendirian saja!" kata Felix mulai berdiri dari sofa.
Cain hanya mengangguk tapi tidak seperti mengiyakan lebih tepat seperti malas berdebat dengan Felix.
"Tapi kalian lama sekali dijalan? apa saja sih yang kalian lakukan?" tanya Cain.
"Ah ... itu!" Felix tertawa kecil.
"Eeh?!" Cain bingung dengan reaksi Felix itu.
"Lain kali kau bisa pulang sendirian lagi tidak? hahaha ...." kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...