UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.455 - Liburan Mendadak



Tan, Teo dan Tom masuk ke Mundebris dengan tujuan utama mengejar yang tadi mereka lihat sedang ke Mundclariss. Dengan tujuan untuk menyelidiki dan menangkap orang yang sepertinya jahat itu, mereka bertiga bersemangat berlari keluar dari gerbang menuju Mundebris. Tapi pemandangan yang menyambut mereka langsung menghipnotis untuk berhenti bergerak.


"Ini kan ...." Teo masih dalam mode membatu.


"Kota Setengah Quiris, Inciadicorcre!" kata Tom.


Tan sudah menyadari dari saat setengah tanaman setengah hewan yang datang ke Mundclariss waktu lalu. Kalau sisi lain Mundebris yang merupakan lokasi perkemahan pasti dekat dari kota itu. Tapi tidak menyangka kalau ternyata lokasi perkemahan berada tepat ditengah-tengah kota itu.


"Jadi, nama Incia diambil darisini ...." kata Tan sudah mulai mengerti satu petunjuk yang ada di Mundclariss.


Mereka jadi lupa tujuan mereka berada disana karena terlalu sibuk melihat sekeliling yang dipenuhi banyak Setengah Quiris berlalu-lalang memenuhi jalan sedang melihat-lihat dagangan yang terpajang.


Ada buku tentang wilayah terkenal di Mundebris, tapi lokasi yang ada di Mundclariss tidak dijelaskan.


Waktu kerja ramuan tidak terlihat mulai menghilang karena mereka tidak meminum ramuan baru, wujud fisik merekapun perlahan terlihat. Alarm Teo yang dalam mode diam tidak membantu sama sekali. Kalaupun berbunyi, tidak bisa menyadarkan pikiran mereka yang sekarang sedang kosong.


Semua yang ada disana menghentikan aktivitas dan mulai berlutut semua. Hanya Tiga Kembar kini yang dalam keadaan berdiri diantara kerumunan itu. Tapi masih dalam keadaan melamun.


"Hormat kami pada Alvauden-119!" seru semua yang ada disana bersamaan membuat Tan, Teo dan Tom merinding merasakan untuk pertama kalinya diberi hormat oleh banyak Quiris sekaligus seperti itu.


"Kita harus bagaimana membuat mereka berdiri?!" Teo mulai sangat canggung mendapat perlakuan seperti itu tiba-tiba.


"Kita harus membalasnya, supaya mereka berhenti." kata Tom.


"Bagaimana?!" tanya Teo seperti sedang terburu-buru ingin lepas dari situasi itu secepatnya.


"Memperkenalkan diri!" jawab Tom.


"Bagaimana?! menyebut nama dan kelas begitu?!" kata Teo sempat-sempatnya bercanda.


"Mengeluarkan senjata kita." kata Tan.


Tanpa aba-aba dan diatur sebelumnya atau telah mereka rencanakan. Mereka bersamaan kompak memunculkan Senjata Alvauden masing-masing. Teo dan Tom yang memiliki senjata panjang langsung jatuh terbentur di tanah seperti sengaja mereka telah melatih itu berulang kali sebelumnya. Sedangkan Tan hanya memajukan Telloppernya ke depan wajahnya.


Setengah Quiris dengan bermacam-macam rupa dan bentuk yang ada disana berdiri semua. Tapi masih terus menatap Tiga Kembar, tidak kembali melakukan aktivitas mereka sebelumnya.


"Jadi, apa lagi?" Teo ingin terlepas secepatnya dari suasana canggung itu.


"Em ... itu ... tidak tahu!" kata Tan.


"Apa?!" Teo protes.


"Hanya itu yang pernah diajarkan Banks, kalau bertemu dengan Quiris di Mundebris dan disapa ... hanya perlu memunculkan senjata saja sebagai perkenalan juga." kata Tom.


"Apa? jadi maksudmu? kita perlu berpidato dulu atau bagaimana?!" Teo menyadari semua mata yang tertuju pada mereka saat ini.


Tan dan Tom susah payah menahan tawanya karena lelucon Teo itu. Bagaimanapun juga mereka sedang menjadi pusat perhatian. Belum pernah sebelumnya mereka disapa oleh banyak Quiris seperti itu.


"Kalian bisa kembali melakukan apa yang tertunda sebelumnya ...." Teo seperti mengusir mereka semua, tidak punya pilihan lain. Hanya itu yang terpikir oleh Teo saat itu. Tapi semuanya menurut dan kembali melakukan aktivitas masing-masing kembali.


"Hahh ...." Tiga Kembar sangat lega bisa terlepas dari suasana canggung memalukan itu.


"Hal seperti ini akan banyak terjadi di masa depan. Apa kita harus selalu melakukan hal tadi?! memalukan sekali!" kata Teo berjalan menuju sebuah gang sempit untuk bersembunyi.


"Kita belum sampai kesini melakukan kontrak, jadi tidak tahu kalau situasi disini seperti bukan masa penstabilan saja. Semuanya berjalan normal disini, seperti yang diceritakan Banks." kata Tan.


Teo mengintip sedikit, "Jadi ... begini kelihatannya Mundebris kalau Felix sudah membangkitkan Viviandem nantinya." Teo terpana dengan pemandangan itu.


"Tempat lain sangat sepi seperti kuburan tapi disini ramai sekali." kata Tom.


"Seperti yang diceritakan Banks, disini semuanya berjalan normal. Walau Caelvita belum resmi atau sudah, semuanya tetap sama tidak ada yang berubah." kata Tan yang kembali menjelaskan tapi baginya juga sulit percaya melihat semua itu dengan mata kepala sendiri.


"Felix pasti sudah melihat ini ...." kata Tom.


"Lalu, kenapa dia membiarkan kita masuk kesini?!" tanya Teo.


"Entahlah ... kita juga sudah kehilangan jejak Quiris tadi." kata Tan.


"Kalau ada Cain, apa dia akan tinggal di kota ini?! kan disini kota untuk semua Setengah Quiris. Bahkan Rumah Dokter Mari juga ada disini ...." kata Tom.


"Cain kan tinggal di Istana Leaure selama ini ...." kata Tan.


"Cain bukan tipe yang suka tinggal disuatu tempat seperti istana. Disinilah tipe yang akan Cain sukai untuk tinggal." kata Teo.


"Jadi ... apa kita bersantai sejenak?!" Tan terlihat sedang sangat bahagia mengajak.


"Kemana orang yang tadi mau menyelidiki?!" kata Tom menyeringai.


"Ayolah ... sekalian kan, kita bisa mencarikan informasi rumah untuk Cain tinggali nanti kalau sudah bebas hukuman sebagai hadiah. Kalaupun tidak bisa membelikan, setidaknya kita punya informasi rumah yang bagus." kata Tan.


"Kau terlihat senang sekali, membuatku takut saja!" kata Teo tidak terbiasa melihat Tan yang tidak suka bersenang-senang ingin bersenang-senang.


Tan menarik paksa kedua saudaranya untuk keluar jalan utama dan ikut berbaur dengan Setengah Quiris lain.


"Semuanya terlihat biasa saja, tidak seperti bayanganku ...." kata Teo melihat aktivitas Quiris yang ada disana sangat terlihat biasa seperti manusia pada umumnya. Hanya saja rupa dan fisik mereka yang berbeda dari manusia. Tidak juga terlihat canggung atau terganggu dengan Alvauden yang sedang berjalan disana.


"Mereka sudah hidup lama dan sudah berulang kali kehilangan Caelvita dan Alvauden kemudian bertemu yang baru lagi. Tidak heran kalau mereka biasa saja ...." kata Tom.


"Kita ini yang ke-119! bayangkan betapa terbiasanya mereka." kata Tan.


Tidak lagi ada perasaan canggung karena mereka diperlakukan sama seperti Quiris lainnya. Tanpa ada pengistimewaan karena mereka Alvauden. Teo sudah mulai nyaman berada disana tidak seperti tadi yang rasanya Teo ingin bersembunyi masuk ke dalam lubang atau sekedar menutup kepalanya saja.


***


Felix melihat mereka dari Mundclariss, "Selamat bersenang-senang!" walau tanpa harus memasuki Mundebris tapi Felix seperti sedang berada tepat disamping mereka atau lebih tepatnya berada ditempat yang sama tapi di dunia yang berbeda.


"Kau ini benar-benar tidak bisa ditebak!" kata Iriana.


"Mereka tidak pernah liburan secara benar selama menjadi Alvauden." kata Felix yang memasuki lagi Kantor Pengelola Perkemahan. Terlihat Ed sedang mendapat bagian jaga sampai pagi di meja informasi, "Terkadang kalau tersenyum, dia mirip seperti Cain ...." kata Felix dalam hati melirik Ed sebentar kemudian menuju ruangan Pemilik Perkemahan kembali.


"Aku akan mencobanya kali ini!" Felix memantapkan tekadnya untuk berhasil. Saat ini Pemilik Perkemahan sedang membuat kopi dengan mesin kopi yang ada di ruangannya.


Pemilik Perkemahan itu seperti sudah terbiasa melakukan itu. Semuanya dilakukan tanpa harus diperhatikan dengan baik. Bahkan sambil memainkan handphone, kopinya sudah sedia juga. Tapi alangkah kagetnya Pemilik Perkemahan itu saat sedang meraih gelas kopinya. Gelas kopi itu terlihat melayang sendiri di depan tangannya saat ini. Sontak, Pemilik Perkemahan langsung mengucek mata untuk memastikan apa salah lihat karena lelah begadang tapi semuanya nyata.


Pemilik Perkemahan panik dan terjatuh bersamaan dengan gelas berisi kopi yang tadi melayang itu juga ikut jatuh dan pecah.


"Jadi, dia benar ... bukan Setengah Viviandem." kata Felix sudah mendapat jawaban.


...-BERSAMBUNG-...