
Dengan keadaan sedang sakit, Felix yang sudah mulai terbiasa mendengar semua suara yang ada di dekatnya kini kembali dari awal merasa seperti baru pertama kali mendengar suara lagi. Kepalanya sudah serasa mau pecah ditambah lagi telinganya mendengar banyak suara, "Apa aku menyesal telah menolong Dallas?" Felix meragukan dirinya sendiri setelah dengan yakinnya menggantikan Dallas menjadi sarang Veneormi, "Cara agar Veneormi ini cepat pergi adalah dengan menjadi Caelvita resmi ... dengan begitu, tubuh manusiaku ini akan berubah dan Veneormi bisa menghilang ...." tapi selama ini tanpa Veneormi pun Felix sudah berusaha keras untuk cepat menjadi Caelvita resmi. Memang saat ini seperti ada ancaman untuk menambah semangatnya agar bisa cepat menjadi Caelvita resmi tapi dengan tubuh yang lemah bisa saja membuat Felix lambat mencapai tujuannya, "Dasar pecundang! bagaimana bisa aku menyesal setelah menolong seseorang ...."
"Apa aku perlu ke masa lalu dan menghalangimu menyembuhkan Dallas?" tanya Cain lewat pikiran.
Felix sejenak terdiam entah kenapa dia merasa tergiur dengan tawaran Cain itu, "Tidak! jangan membuatku menjadi lebih menyedihkan lagi ...." kata Felix dalam hati dan membalas Cain dengan gelengan kepala.
Tan, Teo dan Tom berebut ingin mentraktir makan siang, "Pakai kartu siswaku saja!" kata Teo merengek.
"Terkadang aku bingung dengan kalian yang suka sekali mentraktir orang lain makan ...." kata Cain sebal harus tertunda untuk makan karena tiga sahabatnya sedang berdebat ingin menjadi yang menraktrir makan siang.
"Gunting, batu, kertas saja biar cepat!" kata Felix tidak bisa lama tinggal berdiri karena pusing. Tapi entah karena kebetulan atau karena mereka kembar, pilihan mereka selalu saja sama.
"Kalau begitu adu cepat saja siapa yang duluan kartu siswanya yang terscan!" kata Cain memberi solusi lain.
Tiga Kembar saling melirik kemudian dengan cepat tangan mereka bergerak dan menunggu di monitor nama siapa yang muncul, "Yess!" teriak Tom.
"Dasar aneh!" kata Cain buru-buru pergi mengambil makanan.
"Terimakasih traktirannya, Tom!" kata Felix.
Felix memaksakan makan agar bisa lebih bertenaga tapi ternyata makanan tidak bisa masuk. Felix langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh makanan yang belum sempat dicerna karena barusaja habis ditelan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Cain menggedor-gedor pintu.
"Iya, tolong belikan air!" sahut Felix.
"Anak itu kalau menurut dan sopan begini membuatku jadi khawatir ...." kata Cain membeli air minum botol, "Apa aku langsung saja pergi menghentikannya di hari kemarin tanpa memberitahunya ... tapi sama saja kalau aku tidak menghormati pilihannya!" Cain tahu betul bagaimana rasanya gagal dalam menolong seseorang.
Masuk ke ruang belajar mandiri, Dea ribut mengganggu Felix untuk dipaksa ke gedung kesehatan, "Aku tidak apa-apa!" kata Felix melepaskan tangan Dea yang tidak berhenti menariknya.
"Kau jadi seperti terkena penyakit yang sama denganku ... tapi tenang saja nanti pasti akan cepat baikan kok!" kata Dallas membuat Felix hanya bisa membalas dengan senyuman dipaksakan.
"Itu tidak akan terjadi, Dallas!" kata Felix dalam hati.
"Lebih baik kau pulang duluan saja Felix, pasti Pak Egan akan mengerti!" kata Parish.
Cain dan Tiga Kembar sudah lelah membujuk Felix dan memilih untuk terus disamping Felix untuk membantunya melewati hari ini. Walau tidak pernah makan dan hanya air yang bisa masuk seharusnya orang yang sehat sekalipun akan merasa tidak enak tapi ditambah lagi dengan keadaan Felix yang sedang menjadi sarang Veneormi membuat perasaanya seperti kertas yang jika terkena angin pasti akan langsung terbawa terbang.
Sepulang sekolah, mereka tidak bisa langsung pulang karena harus menukar kematian Adsila dengan Wasim. 4 lawan 1 membuat Cain tidak punya pilihan lain selain pasrah menerima kekalahannya dalam memilih.
Felix merasa tidak enak melihat Cain selama ini langsung menerima saja semua keputusan tanpa terlalu berdebat. Felix takut jika Cain sudah memutuskan untuk menerima saat ini tapi suatu saat akan kembali merubahnya sendiri, "Memang bagaimana bisa menghentikan seseorang yang memiliki waktu ditangannya ... selamanya pemilik waktu akan selalu menang dan kemenanganku saat ini tidak ada kekuatan apapun dibanding Cain ...." jam kehidupan dan benang Wasim di lahap habis oleh tengkorak yang muncul dari tanah dan Haera sudah menunggu di depan rumah Wasim.
"Jujur aku sangat ingin menyentuh bulu Haera itu!" kata Teo gemas.
"Kau tidak takut? katanya kalau pikiran manusia mendengar apa yang dikatakan Haera akan membuat koma selama 90 hari!" kata Tom mengingatkan.
"Dari cerita Felix bisa kutebak kalau Haera itu suka mencoba melakukan hal yang tidak biasa untuk mengetes kita ...." kata Tom.
"Bagaimana kalau dia mengira kita ini Alvauden hebat dan mencoba mengetes kita kemudian kita langsung koma selama 90 hari ...." kata Teo heboh.
"Hebat apanya!" Tom memukul kepala Teo.
Roh Wasim berjalan keluar tapi kemudian berbalik lagi melihat keluarganya yang sedang menangisi tubuhnya yang sudah tidak bernyawa, melihat itu Haera langsung datang menyapa, "Dia pergi deh ...." kata Teo menyesalkan tidak bisa menyentuh bulu Haera lagi dan hanya terus melihatnya dari kejauhan.
Tubuh Felix serasa tiap inci nya sangat sakit, bahkan hanya disentuh sedikit saja sudah seperti pukulan baginya.
"Jadi pasangan ke 22 besok siapa? mendiskusikannya lebih awal lebih baik ...." kata Tan yang takut keadaan Felix lebih buruk lagi besok jadi setidaknya malam ini bisa langsung beristirahat cepat dan besok tidak harus berdebat lagi.
"Catriona 19 tahun dan Tuoli 39 tahun!" kata Felix.
"Catriona yang penyanyi baru debut itu kan? yang sangat sulit untuk memasang kamera pengawas di apartemen asrama perusahaan yang tidak menentu waktu istirahatnya, peserta pelatihan tidak berhenti berlalu-lalang ...." kata Teo.
"Jangan lebay seakan kau yang memasangnya sendiri!" kata Cain yang memasang kamera.
Mereka berjalan kembali dengan perlahan mengimbangi langkah kaki Felix yang lambat.
"Siapa itu?" tanya Tom melihat ada yang sedang berdiri di depan rumah Daisy.
"Dokter Mari." sahut Cain mengenali dengan cepat bukan karena Dokter Mari adalah bibinya tapi dari auranya.
Lama mereka hanya saling diam tidak ada yang berbicara dan Cain juga duduk di kursi yang ada di dapur berjauhan dari ruang tamu tidak ingin dekat dengan Dokter Mari.
Dokter Mari hanya langsung mengeluarkan selembar kertas, "Surat misi!" kata Felix mengenali surat misi seperti yang pernah dilihatnya.
Cain mendekat untuk memastikan perkataan Felix dan memang benar sama persis.
"Darimana Dokter mendapatkan ini?" tanya Felix.
"Dari salah satu pasienku hari ini yang datang konsultasi ... kalian sedang disibukkan dengan permainan ini kan?" jawab Dokter Mari.
"Apa yang dia katakan?" tanya Cain.
"Seperti kau sudah tahu siapa orangnya saja ...." sahut Dokter Mari.
"Catriona yang baru saja menggapai mimpinya menjadi penyanyi itu!" kata Tom yang juga sudah menebak.
"Ya, dia datang konsultasi sesuai saran dari perusahaan entertainmentnya karena melakukan semua yang diperintahkan oleh surat misi ... dari perusahaannya mengira dia hanya sedang stres dan berhalusinasi saja. Dari perusahaannya juga mengancam akan mengeluarkan Catriona jika terus melakukan hal aneh ...." kata Dokter Mari.
...-BERSAMBUNG-...