
"Bagaimana aku bisa ingat?!" Cain mengusap-usap pipinya yang telah ditampar.
"Hahh, maafkan bibi! karena terlalu emosi melihat ada Sanguiber yang ternyata seorang guru disini! apa mungkin ada lagi yang lain?"
"Bibi sendiri tidak pernah cerita tentang asal-usulku yang ternyata adalah Viviandem! bibi tidak berhak menceramahiku begini!"
"Cain!" teriak Dokter Mari saat Cain ingin kembali ke dalam sekolah, "Maafkan bibi ... bibi minta maaf! juga soal menamparmu tadi, hanya saja gelang safir yang bibi berikan itu sangat berharga, ibumu lah yang berkeliling menyembunyikan permata safir disegala tempat sebelum melahirkanmu agar kau bisa terlindungi tapi bagaimana bisa gelang itu hilang?!"
"Ada Malexpir yang mengambilnya dengan paksa dan setelah gelang itu putus semua permatanya juga langsung menjadi debu."
"Tentu saja, itu karena ... gelang itu hanya dibuat untuk dipakai oleh satu orang selamanya dan setelah dibuka atau dirusak tidak akan bisa dipakai lagi ... seperti gelang bibi, walau bibi ingin memberikannya, setelah dilepas akan langsung menghilang dan menjadi debu juga."
"Bibi juga punya gelang safir?"
"Tentu saja! rata-rata semua keturunan Leaure harus memiliki gelang safir agar terhindar dari hal seperti ini!" Dokter Mari memandangi sekelilingnya sekarang mulai mendekat banyak hantu, "Coba gigit jarimu!"
"Apa?!"
"Lakukan cepat!"
Cain mengigit jarinya tapi tidak keras dan saat dilihat Dokter Mari langsung mengkatupkan mulut Cain dan Cain langsung menggigit jarinya sampai berdarah. Dokter Mari kemudian membuat Cain menggambar lingkaran dengan darahnya dan dari lingkaran itu tiba-tiba muncul seekor kucing berbulu emas.
"Setengah Leaure?! bagaimana kau bisa memanggilku?"
"Walau bibi tidak bisa melakukannya ternyata kau bisa!" kata Dokter Mari menepuk kepala Cain lembut.
"Beraninya seorang setengah Leaure memanggilku!" teriak kucing itu.
"Kau tidak punya pilihan lain, sekarang Cain adalah Tuanmu!"
"Dasar kalian setengah Leaure! setelah sekian lama aku tidak bertuan kenapa malah harus dengan setengah Leaure!" teriak kucing itu sambil memukul-mukul kepalanya.
Hantu mulai mendekat dan ingin menyentuh Cain tapi kucing itu melirik, "Heh?!" lalu ia mengaum seperti singa membuat Cain jadi kaget, bagaimana bisa seekor kucing mengeluarkan auman singa.
Semua hantu langsung terdorong menjauh oleh auman itu," Wah, hebat!" seru Cain.
"Tidak ada pilihan lain, perkenalkan namaku Goldwin ... namamu?"
"Cain!"
"Baiklah Cain, sekarang aku akan melindungimu tapi jangan harap aku akan menganggapmu sebagai Tuan ku!"
"Terimakasih! jadi mulai sekarang kau akan melindungiku dari para hantu itu?" Cain senang sampai berlinang air mata.
"Tapi aneh juga, biasanya hanya Leaure murni yang bisa memanggil banyak Zewhit begini ... dan lebih aneh lagi bagaimana bisa kau memanggilku ...." kata Goldwin.
"Mohon bantuannya ya Goldwin, jaga keponakanku!" kata Dokter Mari.
"Dari keturunan Leaure siapa kalian?" tanya Goldwin.
"Haven Kinsey!" kata Dokter Mari yang langsung membuat Goldwin yang sedang menjilati bulunya berhenti dan mematung.
"Aku berubah pikiran! mulai sekarang Cain adalah Tuanku!"
"Memangnya dia siapa?" tanya Cain.
"Dia adalah seorang Pahlawan Leaure terhebat yang paling baik dan paling dihormati!" kata Dokter Mari bangga.
***
"Kau punya Alvauden yang hebat Felix!" kata Iriana membuat Felix yang berbaring ingin tidur dengan menutup matanya dengan tangan kembali bangun.
"Cain?"
"Akan aku cari tahu sendiri!"
"Ya ... ya ... ya kau dan harga dirimu itu!" Iriana dengan nada mengejek.
Felix tidak peduli dan hanya memutar badannya membelakangi Iriana yang sebenarnya tidak kelihatan tapi tetap menyebalkan bagi Felix.
Cain diberi cincin emas oleh Goldwin, "Ini akan melindungimu dari memanggil Zewhit dan jika kau berada dalam bahaya panggil namaku!"
"Jadi aku tidak perlu lagi menggigit jariku kan? Syukurlah!"
"Setiap tubuh seorang Leaure berharga, jadi mulai pemerintahan Sang Caldway sistemnya dirubah."
"Memangnya Leaure itu apa? karena Malaikat Maut dari Ruleorum jadi ...."
"Pelindung! Leaure adalah Malaikat Pelindung!" kata Goldwin.
***
Cain dan Tiga Kembar datang menjenguk Felix dan diikuti Dea yang datang juga dengan hebohnya. Mau tidak mau Dea tidak dibiarkan lama karena terlalu berisik. Walau mengagungkan nama ayahnya kepada para perawat tapi tidak diperdulikan.
"Dia akan lama baru bangun!" kata Dokter Mari memberitahu Cain.
"Kenapa bisa begitu? apa ada yang salah dengannya?"
"Dia hanya terlalu menggunakan kekuatannya padahal masih belum sempurna, setelah kekuatannya pulih dia akan bangun lagi ...."
"Jadi benar Felix kan yang menolong para penumpang pesawat itu?"
"Tentu saja, tapi anehnya bagaimana bisa dia seperti melakukan Ultisidium pada manusia biasa? biasanya Ultisidium hanya berlaku pada Alvauden ...."
"Ultisidium?"
"Perlindungan tertinggi, dengan mau tidak mau tubuh atau roh Caelvita akan datang menyelamatkan Alvauden."
"Jadi, saat hampir tertabrak truk adalah Ultisidium yang tidak sadar dilakukan oleh Felix ...." kata Cain dalam hati.
"Kita beruntung karena bisa bertemu dengan seorang Caelvita!" kata Dokter Mari.
"Apa maksudnya?"
"Sejak awal, bibi sudah tahu kalau Felix adalah seorang Caelvita ... jadi bibi bersikeras membawanya ke panti yang sama denganmu ... agar bisa dekat dan berteman denganmu ...." kata Dokter Mari yang membuat Cain jadi memasang wajah pucat.
"Jadi pertemuanku dengan Felix, bibi yang atur?"
"Atur? kau dekat dengannya karena memang kau cepat akrab dengan semua orang, tidak ada campur tangan bibi sama sekali dalam hal itu ... walau bibi memang menyarankan saat konsultasi agar Felix bisa membuka diri dan mencari teman agar bisa sembuh dari traumanya tapi bibi tidak pernah memaksakan!"
"Jadi saat bibi menyarankan agar aku selalu mengawasi Felix, agar dia tidak melukai dirinya itu apa? jadi selama ini bibi yang mengatur semuanya agar aku menjadi Alvauden Felix?" Cain berdiri dengan marahnya sambil mendorong kursinya hingga terjatuh.
"Bibi tidak bisa melewatkan kesempatan ini, walau terkesan licik tapi ini satu-satunya cara agar kau selalu bisa terlindungi!"
Cain berlari keluar dari ruangan Dokter Mari.
"Jadi selama ini?" isak Cain merasa bersalah, "Aku sudah menipu Felix? memaksanya menjadi sahabatku agar aku selalu bisa dilindungi?" Cain menjatuhkan dirinya di lantai dan tidak berhenti menangis karena merasa bersalah.
"Jadi skenario yang dibuat oleh bibi dengan menggunakan trauma Felix dan menyuruhku selalu mengawasi Felix agar tidak menyakiti dirinya, semuanya sudah diatur oleh bibi ... semuanya diatur agar aku bisa lebih dekat dengan Felix ... semuanya diatur agar Felix bisa membuka diri untuk menjalin persahabatan ... denganku ... jadi apa semua ini hanya palsu?" rasa bersalah Cain semakin menjadi-jadi.
"Jika bukan karena bibi aku tidak akan bisa dekat dengan Felix ... jika bukan karena skenario bibi, Felix tidak akan pernah mau bersahabat denganku! maafkan aku Felix!"
...-BERSAMBUNG-...