UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.54 - Kau Ada di Mana, Cain?



Cain menatap dari jendela kaca kecil yang berada di pintu kamar rawat Felix. Perasaannya campur aduk, bahkan untuk dekat dengan Felix saja sekarang dia sudah tidak sanggup. Diingatnya kembali kenangan saat pertama kali bertemu dengan Felix, saat Felix datang ke lapangan ... waktu ia bermain bola tapi itu juga karena Dokter Mari yang melempar pulpen Felix sehingga mereka bisa bertemu, "Apa ini? sekarang semuanya menjadi sangat jelas?!" air mata Cain tidak bisa keluar lagi. Kini kenangan bersama Felix terasa menjadi palsu semua, "Maafkan aku Felix! aku minta maaf! sungguh!"


Tiap hari, Cain hanya melihat Felix dari luar pintu kamar. Tidak berani masuk bahkan untuk memegang gagang pintu saja tidak sanggup ia lakukan. Cain merasa sangat bersalah, ia merasa menjadi seseorang yang sangat tercela, "Serasa aku mengecewakan diriku sendiri dengan menjadi diriku saat ini ... apa aku memang orang yang seperti ini? sungguh mengecewakannya diriku saat ini!" Cain menertawai dirinya sendiri.


"Kau tidak perlu merasa bersalah, kau tidak salah apa-apa! semuanya bibi yang atur jadi kau tidak perlu ...."


Cain tidak ingin mendengar perkataan Dokter Mari lebih dari itu lagi, "Walau bibi yang membuat skenarionya tapi aku yang menjalaninya, membuatku lebih bersalah lagi ...."


"Kau kan tidak tahu apa-apa ... lagipula, apa salahnya jika kau berteman dengan Felix? dan apa yang membuatmu berpikir kau tidak akan bisa dekat dengannya tanpa bantuan bibi?"


"Jika bibi tidak membawa Felix ke panti asuhan yang sama denganku, aku tidak akan bertemu Felix ... jika bibi tidak menyarankan Felix untuk membuka diri dalam berteman, dia tidak akan pernah mau dekat denganku ... sudahlah ... bibi jangan membuatku lebih kecewa terhadap diriku sendiri!"


"Kau pikir Felix itu tipe yang menurut saja jika disuruh? walau bibi menyuruhnya untuk membuka diri dalam berteman, kalau dari dia sendiri yang memang tidak mau ...."


"Dia itu punya harga diri yang tinggi! untuk menyembuhkan traumanya dia lebih memilih menerima solusi itu daripada harus malu seumur hidup ketakutan melihat api."


"Lihat! kau lebih mengerti dia daripada bibi ... kau pasti tahu Felix adalah tipe yang menghargai sebuah ikatan, dia tidak akan membencimu hanya karena hal ini ... dan untuk lebih amannya lagi kau hanya perlu tutup mulut saja!"


"Felix bisa mendengar isi pikiran seseorang, saat dia bangun dia akan bertemu bibi dan akan mengetahui semuanya ...." dulunya Cain tidak mempermasalahkan jika Felix membaca pikirannya karena tidak ada hal yang ia sembunyikan.


"Felix tidak akan membaca pikiranmu tanpa ada alasan yang jelas dan jangan salah! bibi ini punya segel yang kuat agar tidak ada yang bisa mendengar atau membaca pikiran bibi! semua Viviandem punya cara masing-masing! kau pikir Viviandem tidak akan punya segel untuk melindungi isi kepala mereka? mau itu jahat atau baik ... semua Viviandem punya rahasia yang tidak ingin diketahui oleh Viviandem lain ... kau tidak berpikir jika tanpa sebuah segel, Viviandem akan selalu dihukum?!"


"Walau aku belum mengerti sama sekali tapi aku mulai tahu kalau Felix adalah segala-galanya bagi Mundebris dan terutama Viviandem tapi dengan Setengah Viviandem yang licik seperti bibi aku mulai paham Caelvita tidak lebih hanya sebagai pohon penghasil udara!" Cain pergi dengan emosi yang berusaha keras ditahan.


"Hahh, bisa ditebak dia akan jadi Alvauden yang sangat menyebalkan nantinya!" Dokter Mari memukul kepalanya.


***


Enam hari lamanya Felix tertidur, akhirnya bangun juga. Dikelilingi oleh Bu Corliss, Dokter Mari, Daisy dan Tiga Kembar.


"Dimana Cain?" tanya Felix setelah mengabsen satu-satu wajah yang dilihatnya.


"Entahlah, dia sedang menginjak masa remaja mungkin! akhir-akhir ini menghindari kami terus!" Teo dan Tom dengan nada kesal.


"Bukannya kalian yang membuatnya kesal?!" tanya Felix sekaligus pernyataan.


"Aku tidak menyangka dia akan bangun secepat ini ...." kata Dokter Mari dalam hati, "Dengan menggunakan kekuatan seperti itu seharusnya dia tertidur selama berbulan-bulan."


"Marissa bilang kepalamu cidera dan akan koma untuk waktu yang lama, ibu kaget sekali tapi karena sekarang sudah bangun ... ibu jadi tidak tahu harus menyebut dia itu dokter bodoh karena salah mendiagnosa atau malah dokter pintar karena membuatmu jadi cepat bangun ...." Bu Corliss memeluk Felix dan diikuti tawa oleh mereka semua yang ada di ruangan.


"Aku anggap itu sebagai pujian!" timpal Dokter Mari.


Daisy hendak memeluk Felix tapi dengan cepat Felix menghindar, "Ibu sudah mandi kan?!


"Setidaknya ibu tidak sepertimu yang belum mandi selama enam hari tahu!!!" Daisy memaksa untuk memeluk Felix.


"Cain! di mana anak itu?!" Felix merasa ada ruang yang tidak terisi karena ketidakhadiran Cain.


Walau tidak perlu tapi Felix harus menjalani prosedur pemeriksaan setelah tidak sadarkan selama enam hari, "Seperti membuang-buang waktu dan uang saja rasanya," kata Felix saat Dokter Mari membantunya naik ke alat MRI scanner.


"Setidaknya untuk membuat orang yang di luar itu tenang, bagaimanapun juga manusia biasa mengalami koma hanya sebagian penderita yang dapat sembuh total dari koma tanpa mengalami kecacatan sedikit pun. Sebagian lainnya tersadar, namun dengan penurunan fungsi otak atau bagian tubuh tertentu, bahkan kelumpuhan. Mereka tidak tahu kalu bagi Sang Caelvita koma adalah fase untuk memulihkan diri agar bisa mengembalikan kekuatan."


"Seperti kata Teo dan Tom, dia hanya mulai menginjak masa remaja ...."


***


Felix kini tiba di panti asuhan dengan sambutan meriah semua anak-anak panti, "Sepertinya mereka mengira kau akan mati!" kata Teo seperti menyumpahi dan merusak suasana.


"Kak Felix tidak apa-apa sekarang?"


"Tidak apa-apa!" sahut Felix.


"Kak Felix mau berubah jadi beruang ya makanya suka tidur?" tanya Kiana membuat semua jadi tertawa.


"Em ... bisa jadi!" Felix merespon pertanyaan lucu itu.


Alger juga kini menyapa dari jauh karena takut mendekat dari kerumunan.


"Kalian lihat Cain ada di mana?" tanya Felix.


"Tidak lihat ...."


"Kemana anak itu?" entah sudah berapa kali Felix mengatakan itu.


***


Hampir tengah malam dan Cain tidak juga datang. Felix yang bosan sendirian di kamar menunggu, akhirnya mulai mencarinya. Dimulai dari perpustakaan yang ada di panti, kamar tiga kembar tapi tidak juga ditemui keberadaan Cain yang biasanya dia paling mudah untuk dicari karena hanya dua tempat itu yang menjadi favoritnya.


"Kau menunggu siapa Felix?" tanya Pak Satpam melihat Felix memandang keluar pintu gerbang.


"Bapak tidak lihat Cain?"


"Bapak juga jarang melihat dia akhir-akhir ini ... apa sedang di Rumah Bu Penyiar Daisy?" kata Pak satpam yang bermain catur melawan dirinya sendiri.


"Apa iya? tapi kenapa? aku yang tertidur selama enam hari, masa dia tidak khawatir sama sekali?"


Diteleponnya Rumah Daisy tapi tidak ada yang mengangkat, ditelepon smartphone yang dipakai bersama Cain ternyata ditinggal di kamar. Akhirnya ditelepon Dokter Mari yang Felix sudah tahu bahwa Dokter Mari adalah bibi Cain, "Dia juga tidak ada disini!" kata Dokter Mari membuat panik Felix.


"Lalu dimana anak itu berada? dia tidak sedang dalam bahaya kan? bagaimana bisa Dokter setenang ini saat Cain tidak bisa ditemukan di mana keberadaannya?!" nada suara Felix mulai meninggi.


"Mungkin dia sedang marah karena saya sudah menamparnya ... karena menghilangkan gelang safirnya ...."


"Menampar? Dokter memang berhak memarahi sebagai bibi dan juga sebagai orang dewasa tapi tidak berhak sama sekali melakukan kekerasan! jangan pernah melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya ... saat itu terulang, aku sudah tidak akan menganggap Dokter sebagai bibi Cain lagi dan akan membalas sama dengan yang dirasakan Cain!" Felix menutup teleponnya.


"Sifat pemarah mereka itu sama persis!" decak kesal Dokter Mari mendengar suara bantingan kasar telepon yang ditutup.


"Jadi ada dimana kau sebenarnya Cain?"


...-BERSAMBUNG-...