UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.93 - Penjahat Dua Dunia



"Bukan be ... gitu ...." Duarte tergagap.


"Baiklah ... kalau begitu, bawakan saja dulu aku sebuah buku!" kata Felix.


"Buku?" Duarte yang masih cegukan terlihat membesar mengecil di tangan Felix.


"Jangan sampai deh kau berubah menjadi besar di atas tangan Tuan Muda!" kata Goldwin.


"Ow ... Goldwin!" sapa Duarte dengan ceria.


"Kau tidak memperhatikan kami juga ada disini karena terlalu serius meminum darah ... dasar!" Goldwin dengan wajah datar.


"Tidak seperti kalian Unimaris Leaure yang tidak memiliki jangka waktu pemanggilan dan sangat bebas dalam segala hal, kami yang Unimaris Sanguiber hanya tergantung dari kekuatan pemanggil dan tidak bisa terlalu lama juga di dunia lain selain Mundebris ... makanya kami harus meminum darah Tuan yang memanggil agar bisa terbiasa dengan lingkungan yang kami datangi ...." kata Duarte sudah berhenti cegukan.


"Kenapa harus berbeda-beda begitu?" tanya Felix.


"Bukannya karena kami dibeda-bedakan Tuan Muda tapi karena kami memang berbeda." jawab Duarte yang meluruskan kesalahpahaman Felix.


"Apa yang membuat kalian berbeda?" tanya Felix lagi.


"Dari fisiologi tubuh, Unimaris Leaure terlahir dengan tubuh yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan apapun itu sedangkan kami Unimaris Sanguiber tidak terlalu bisa beradaptasi dengan lingkungan baru selain Mundebris tapi di Mundebris kami akan sangatlah kuat!" kata Duarte sambil melirik Goldwin.


"Kau ini sedang menyindirku ya?!" Goldwin mulai mengeluarkan suara geraman tanda marah.


"Kalian ini tidak akur ya ... sama seperti Tuan kalian juga tidak bisa akur." kata Cain dengan senyuman miring.


"Saya bukan Unimaris Tuan Muda!" tunjuk Duarte pada Felix, "Tuan Muda punya Unimaris sendiri!" tambah Duarte.


"Oh ia kau belum menjawab kan pertanyaan soal Unimaris Caelvita itu apa?" kata Cain sambil mengingat-ingat.


"Unimaris Caelvita saat ini sedang tertidur karena baru terlahir saat rambut hijau Tuan Muda berubah sempurna ... nanti saat Viviandem dibangkitkan ia akan datang sendiri!" kata Duarte, "Saat ini saya hanya bisa dibilang seorang Unimaris sementara atau sebagai ...." sambung Duarte tapi tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Kau ini punya banyak sekali rahasia!" kata Cain pada Felix.


"Dia yang membuatnya banyak!" sahut Felix sambil menunjuk Duarte, "Oh iya ... buku! hahh ... kita jadi berputar-putar begini!"


"Siap Tuan Muda! buku apa yang ingin Tuan Muda baca?" tanya Duarte.


"Ramuan, bahan atau alat peledak! apapun itu yang bisa membuat sesuatu terbakar menjadi berkeping-keping." jawab Felix membuat mereka semua yang mendengar terlihat kaget.


"Baik Tuan Muda akan segera saya carikan!" kata Duarte terlihat memaksakan diri tersenyum.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan peledak itu? kau ingin meledakkan Perkumpulan Setengah Sanguiber?" tanya Cain.


"Kalau kubilang iya? apa kau akan menghentikanku?" Felix balik bertanya.


"Bagaimanapun juga mereka adalah Setengah Manusia dan Setengah Sanguiber yang merupakan penduduk Mundebris dibawah kekuasaan Caelvita!" kata Cain.


Goldwin menghela napas panjang, "Kalau menggunakan perasaan saat ingin mengalahkan sesuatu ... kau akan kalah duluan sebelum bertarung."


"Aku tidak percaya seorang Leaure berkata seperti itu!" kata Cain kesal.


"Saat Unimaris Leaure mendapatkan Tuan, mereka akan terpaku pada keselamatan hanya pada Tuan mereka sendiri ... bisa dibilang Unimaris Leaure akan egois untuk menjaga Tuan mereka sendiri saja!" kata Duarte.


"Kau ini terdengar tahu banyak juga ya!" kata Felix bangga.


"Kalau soal Ramuan atau bahan peledak, sebenarnya Tuan Muda bisa bertanya pada Banks!" kata Goldwin.


Cain menyenggol Goldwin, "Kau cemburu?"


"Apa? siapa? saya? kapan? hari apa? jam berapa? waktu apa? Mundclariss? Bemfapirav? Mundebris?" Goldwin jadi heboh sendiri.


"Haha ... santai aja kali!" kata Cain tersenyum miring.


Duarte terlihat kaget dan langsung mengepakkan sayapnya.


"Kau kenapa?" tanya Felix.


"Ah, itu ... ada panggilan dari Tuan saya! saya pamit Tuan Muda!" Duarte terlihat menghilang.


"Apa ada Setengah Sanguiber sepertimu yang menjadi tuannya?" tanya Felix.


"Sudah kubilang hal itu mustahil!" kata Felix.


"Kau hanya berharap itu mustahil!" balas Cain.


"Sudahlah ... ayo kita kembali!" kata Felix.


Cain berbisik pada Goldwin untuk lokasi dan waktu yang ingin mereka datangi.


"Tapi! saya hanya bisa melakukan teleportasi satu kali dalam sehari saja ...." kata Goldwin terlihat tidak percaya diri.


"Katanya kau sudah berlatih keras? lagipula tidak baik membatasi diri ...." Cain memotivasi sekaligus menggoda Goldwin.


Goldwin mulai membuat rantai jam sakunya melayang-layang mengelilingi Felix dan Cain lagi. Sementara Goldwin sibuk, Felix dan Cain mulai mengobrol lagi.


"Tapi kenapa harus pakai peledak sih?" tanya Cain.


"Mengerahkan para Optimebris itu sudah biasa ... kita harus berpikir biasa dan sederhana saja. Mereka pasti akan mengira kita menggunakan cara Mundebris tapi kita hanya akan menggunakan cara Mundclariss ... cara manusia saja!" jawab Felix.


Saat masih berbicara, Felix dan Cain sudah sampai di depan pintu kelas, "Ayo masuk!" kata Pak Egan.


"Ah, kita kembali ke waktu ini?" kata Felix mulai masuk ke dalam kelas meninggalkan Cain dan Goldwin yang masih ingin mengobrol.


Goldwin langsung membaringkan dirinya karena kelelahan.


"Lihat kan! kau bisa! katanya batasmu cuma satu kali ... sekarang sudah jadi dua kali kan ...." kata Cain.


"Harusnya motivasi itu terdengar manis tapi ini menyebalkan sekali!" balas Goldwin.


"Tidak ada motivasi yang manis! yang ada motivasi itu selalu pahit tapi hasilnya nanti yang manis!" kata Cain, "Kau boleh pulang!" Cain sebenarnya kasihan juga dengan Goldwin.


***


Setelah melihat dan memastikan Mertie baik-baik saja dan tidak melakukan hal yang aneh di lokasi kejadian, mereka bisa kembali ke waktu sebelum pergi mengejar Mertie.


"Apa benar dia tidak akan apa-apa?" tanya Cain sambil melempar bola basket ke dalam ring.


"Ya! aku sudah berbicara dengannya!" jawab Felix yang hanya duduk di atas lapangan basket dalam ruangan disaat Cain yang disampingnya terus melempar bola.


"Hehh? kapan?" setahu Cain dia terus bersama dengan Felix.


"Lewat pikiran! kau pikir dia tidak akan tiba-tiba tenang tanpa aku berbicara dengannya!" kata Felix.


"Apa yang kau katakan?" tanya Cain.


"Bagaimana kau melakukan itu?" tanya Mertie yang tiba-tiba datang.


"Seperti katamu ini adalah salah satu kekuatan yang kamu sebut sebagai dukun itu ...." jawab Felix membuat Cain jadi meleset melempar bola karena tertawa.


"Apa benar aku sekarang bisa melihat hantu?" tanya Mertie.


"Sepertinya itu sudah jelas, lagipula ini bukan pertama kalinya kan buatmu ...." jawab Felix.


"Kau pernah bertemu hantu lainnya? siapa? orangtuamu?" tanya Cain jadi berhenti melempar.


"Aku juga berharap begitu tapi nyatanya bukan! jadi yang tadi itu benar hantu Ted?" tanya Mertie.


Felix hanya terdiam sambil membaringkan dirinya dan Cain hanya mengangguk.


"Bagaimana agar aku bisa bertemu dia lagi? apa dia bisa terluka lagi dengan wujud sebagai hantu?" tanya Mertie.


"Kenapa? kau ingin melakukan sesuatu?" tanya Cain.


"Balas dendam!" jawab Mertie, "Bantu aku!" tambahnya.


"Bagaimanapun juga kami harus menangkap Ted sebelum melakukan sesuatu yang sama luar biasanya mengguncang dunia manusia ... saat ini aku dan Felix akan menghentikannya mengguncang dunia hantu!" kata Cain.


...-BERSAMBUNG-...