UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.368 - Juro 2020



"Haruskah Quiris sepertimu mengikuti Efrain, kukira Keluarga Juro bukanlah tipe yang menerima perintah tapi yang membuat perintah itu sendiri." kata Tan merasa bisa santai menghadapi Juro yang bisa diajak berbicara dan tidak hanya menyerang dengan membabi buta seperti lawan-lawan sebelumnya.


"Juro hanya berpihak untuk yang berpeluang akan menang." kata Juro 2020.


"Jadi, menurutmu kami akan kalah. Sepertinya generasi Juro sudah akan mulai kehilangan keberuntungannya ...." kata Tan.


Juro 2020 tersenyum tanpa ada tekanan mengintimidasi tapi malah membuat Tan merasa nyaman. Seperti bukan sedang bertarung dengan musuh pada umumnya. Tidak ada aura kebencian sama sekali.


"Bagaimana cara agar bisa membuatmu berada dipihak kami?!" tanya Tan berniat merekrut Juro 2020 walau hanya sekedar iseng saja tapi bisa menjadi jackpot kalau benar terjadi.


"Perlihatkanlah bahwa kalian yang berpeluang akan menang, mudah kan?!" kata Juro 2020 memamerkan gaya bertarungnya yang entah bagaimana Tan selalu saja berakhir menyerang punggung besi Juro yang sangat keras itu. Jika menggunakan pedang biasa pasti sudah hancur.


"Bukankah melihatnya saja sudah menggoyahkanmu ... jujur sajalah!" kata Tan beradu pedang dan berbisik agar Felix tidak mendengar. Tan bisa melihat tatapan Juro yang menatap Felix dengan kagum. Jadi tidak ada salahnya menurut Tan untuk benar mencoba.


"Saat ini dipihak Caelvita-119 yang terkonfirmasi hanya ada tiga Alvauden manusia, sangat disayangkan Pemimpin Alvauden yang bisa menjadi pembalik keadaan sedang dalam masa hukuman, Mantan Alvauden 118 Zeki, Secrevanques 118 Verlin, Pahlawan Perang sekaligus Quiris yang saya hormati Banks, Setengah Leaure Marissa. Melawan Pasukan Efrain ...." Juro 2020 merasa tidak enak tapi tidak bisa menyembunyikan bahwa Caelvita-119 memang tidak ada peluang untuk menang walau didampingi oleh beberapa yang sudah berpengalaman tapi tetap saja kalah jumlah sudah menjadi bayangan kekalahan.


Tan mengakui bahwa anggapan itu memang benar adanya. Terkesan gila memang jika beranggapan bisa menang melawan Efrain dengan jumlah personel dan kekuatan yang belum bisa dikategorikan bisa mengimbangi iblis.


Juro 2020 melihat kekecewaan pada wajah Tan setelah mendengar perkataannya, "Tapi rasanya tidaklah mustahil memang ...." Juro meralat ucapannya, "Memang kemungkinan kalah sangatlah besar tapi kemungkinan menang bukanlah hal yang mustahil." lanjutnya.


"Kami mungkin ... mungkin memang adalah dipihak yang akan kalah tapi kami berada di pihak yang benar. Aku tahu bahwa tiap generasi Juro menjunjung tinggi perang yang akan meningkatkan jumlah kehidupan setelahnya bukan sebaliknya." kata Tan masih berusaha membujuk.


Juro 2020 tidak menjawab dan hanya membalas dengan serangan yang membuat punggung Tan serasa akan patah karena terkena serangan punggung Juro 2020.


Jika saja saat ini hanya ada Felix, Tan pasti sudah menangis meringis kesakitan tapi karena sedang ada Juro, Tan harus menjaga image nya agar tidak terlihat menyedihkan. Bagaimanapun juga Tan masih ingin merekrut Juro dan tentunya kesan pertama tidak boleh terlihat menyedihkan dan tidak bisa diandalkan.


"Hebat juga untuk seorang manusia ...." kata Juro dalam hati melihat Tan sanggup berdiri setelah menerima serangan itu, "Padahal Efrain sendiri sudah langsung menyerah saat adu duel denganku dulu ...." kata Juro 2020.


"Aku bisa merasakannya bagaimana ...." kata Tan yang mengerti betul jika langsung menyerah setelah mendapat serangan itu, "Tunggu ... Efrain katamu?! apa aku tidak salah dengar?!" Tan mengira dirinya salah dengar.


"Tidak akan ada yang menyangka Efrain yang bodoh dan malas itu sekarang melakukan semua hal yang dibencinya saat masih menjadi Alvauden ... bagaimanapun juga saya merasakan pemerintahan Caelvita-118, sudah sewajarnya ... setidaknya saya harus membalas budi dengan apa yang telah saya dapatkan di pemerintahan sebelumnya." kata Juro 2020.


Tan sudah kehilangan semangatnya untuk membujuk Juro, "Tapi daritadi tidak ada serangan yang membahayakan ... lebih baik anda pergi saja daripada membuang-buang tenaga sia-sia." Tan ingin agar Juro cepat pergi saja jika memang tidak serius dalam menyerang. Karena tidak ada unsur untuk melukai apalagi membunuh. Tan hanya ingin menghemat tenaganya sekaligus menyembunyikan kekecewaannya ditolak oleh Juro.


"Ide yang bagus!" kata Juro menyarungkan pedangnya.


"Hehh?! lebih cepat dari dugaanku ...." kata Tan tertawa karena Juro begitu cepatnya mengiyakan.


"Jujur, saya juga tidak suka melakukan hal yang saya tidak suka tapi setidaknya saya harus memperlihatkan dedikasi saya ...." kata Juro 2020.


"Walaupun saya tidak suka melakukan itu tapi bagaimanapun saya ini adalah kaum iblis, Yang Mulia. Kami harus membunuh atau setidaknya melukai agar bisa berumur panjang dan ...."


Tan melanjutkan kalimat Juro, "Dan ... Efrain membukakan jalan untuk itu."


"Tentu saja sebuah tawaran yang tidak bisa ditolak." kata Juro 2020.


"Apa ada yang perlu kau katakan lagi?!" tanya Felix.


"Tidak ada Yang Mulia." jawab Juro.


"Kalau begitu, pergilah ... tidak usah memberikan harapan pada Alvaudenku jika dari awal kau tidak ada niat untuk itu." kata Felix.


"Baik, Yang Mulia." Juro pamit setelah melakukan salam perpisahan dengan sopan, "Terlihat seperti seseorang yang tidak memperdulikan siapapun di dunia ini selain dirinya sendiri tapi dengan melindungi Alvaudennya dari kekecewaan langsung menghapus dugaan sebagai pemimpin yang egois. Jadi ... ini yang dimaksud oleh cerita ... beginilah yang dirasakan kakek saat bertemu Caelvita-47." Juro dalam hati sambil berjalan menjauh dari Felix dan Tan berada, "Efrain sepertinya tidak beruntung harus melawan Caelvita baru ini ...." Juro menoleh ke arah Felix dan Tan sambil tersenyum kemudian memasuki Bemfapirav.


"Ad ... ddu ... duh!" Tan membaringkan dirinya merasakan sakit yang teramat sakit dipunggungnya saat ini. Sudah lama Tan menahannya dan akhirnya bisa mengeluarkan semua keluhannya. Perlahan dia meraih tasnya dengan kondisi masih berbaring. Meraih tasnya saja sudah sangat menyiksanya. Tan menenggak ramuan dari botol berwarna hitam sehingga tidak dapat dilihat ramuan apa yang diminumnya, "Hahh ... leganya!"


"Ramuan itu bukan untuk manusia." kata Felix.


"Jangan menceramahiku! aku tahu apa yang kulakukan." kata Tan yang masih merasakan setruman sakit tiba-tiba jika bergerak sedikit saja.


"Padahal kupikir kau bisa mengambil hati Juro tadi ...." kata Felix.


"Seakan kau membantu saja! kau hanya terus diam dan malah berakhir mengusirnya ... kau tidak pantas menyalahkanku." kata Tan sebal.


"Aku bukan tipe yang suka merekrut seseorang. Aku hanya lebih suka jika orang-orang mengikuti tanpa kusuruh atau kuminta ...." kata Felix yang menginginkan diikuti dengan perasaan tulus untuk sehingga tidak perlu terbebani untuk membalas apa yang mereka lakukan. Karena mereka melakukannya karena kemauan sendiri


"Kau akan menjadi Caelvita paling kesepian jika terus membawa prinsip itu." kata Tan tertawa tapi sebenarnya dalam hatinya berkata lain, "Dengan hanya melihat Felix saja, Juro pasti sekarang sudah mulai goyah ... aku yakin. Felix memang akan menjadi pemimpin yang diikuti secara naluriah bukan karena dia yang meminta untuk diikuti."


Mencabut batu permata iblis berhasil dilakukan. Walau tidak berhasil menyelamatkan korban tapi setidaknya bisa menunda waktu lagi untuk terciptanya gerbang neraka yang akan menimbulkan korban lebih banyak lagi.


Felix yang menjadi korban pengganti dalam kondisi tidak terluka seperti sebelum-sebelumnya sangat menunjukkan perbedaan.


"Dengan begini ... marathon yang kau katakan itu sepertinya akan berjalan dengan baik." kata Tan memeriksa tubuh Felix kecuali wajahnya yang pucat, Felix sangatlah sehat, "Kemampuanmu dalam menyembuhkan diri juga sudah meningkat pesat ... kalau begini ... sepertinya kau akan menjadi Caelvita resmi dalam waktu dekat." Tan mempelajari bahwa kondisi kesehatan Caelvita adalah penentu utama untuk bisa menjadi Caelvita resmi.


...-BERSAMBUNG-...