
"Tapi, itu bukan Alvauden Caelvita-47 kan?!" tanya Teo.
"Bukan." sahut Winn.
"Hahh ...." Teo bernapas lega.
"Apa kau tidak punya keberanian untuk meninggalkan Caelvita mu jika pendapat kalian berbeda?!" tanya Winn tapi Teo hanya diam saja, "Walau itu menentang apa yang seharusnya?!" Winn melanjutkan pertanyaannya.
"Aku mendapatkanmu karena Felix, mana mungkin aku melepaskan Felix hanya karena keegoisanku semata. Jika memang Felix melakukan sesuatu yang bertentangan maka aku hanya perlu menghentikannya atau mencari jawabannya. Jika yang dilakukannya salah maka aku tidak punya pilihan lain selain melawannya untuk disadarkan tapi jika yang dilakukannya benar maka sudah seharusnya aku membantunya ... aku tidak akan meninggalkan Felix walau dia melakukan hal yang salah." kata Teo membuat Moshas menghilang karena puas mendengar perkataan Teo itu.
Winn tidak menyangka Teo memiliki sisi dewasa seperti itu. Selama ini Teo terlihat tidak acuh dan hanya suka bermain saja tapi ternyata, "Tadinya aku benar-benar tidak tahu bagaimana aku bisa cocok dengannya ... tapi sepertinya aku mulai mengerti. Dia sepertinya memang mirip denganku. Bagaimanapun juga aku ini senjata untuk Caelvita. Caelvita-1 yang menciptakanku sebagai senjata untuk menjaga dan membawa keadilan. Caelvita-10 mulai membuat sistem Alvauden dan melepaskanku untuk Alvauden pakai, bukan lagi menjadi senjata Caelvita. Aku ditakdirkan hanya akan datang pada Alvauden yang memiliki rasa keadilan yang tinggi dan aku sedih saat harus berpisah dari Caelvita saat Alvauden yang memilikiku memutuskan untuk pergi, bagaimanapun juga dari awal aku ini adalah senjata Caelvita ...." kata Winn di dalam ruangannya sendirian.
"Em?!" Felix kaget saat melihat pedangnya keluar sendiri dari tempat penyimpanan di punggungnya dan mulai melayang-layang dihadadapan Felix. Felix meraih pedangnya itu untuk dikembalikan tapi saat dipegang Felix bisa merasakan sesuatu, "Perasaan ini ... perasaan sedih kah?!" Felix heran sendiri.
Begitupun Tan dan Tom juga mendapati senjatanya muncul secara tiba-tiba juga.
"Apa ini?! apa seperti yang terjadi pada Teo waktu itu?!" tanya Tom pada Tan, "Eh, kenapa kau menangis?!" Tom heran saat menoleh pada Tan.
"Aku menangis?!" Tan heran sendiri, tidak sadar jika dirinya menangis.
"Ada apa denganmu?!" Tom jadi tertawa.
"Entahlah ... rasanya, hatiku sakit sekali tapi aku tidak tahu kenapa." kata Tan.
"Kau tidak merasakan apa-apa?!" tanya Tan kemudian.
"Entahlah ... hanya perasaan lapar yang kurasakan saat ini." kata Tom membuat Tan jadi tertawa sementara masih mengeluarkan air mata.
"Aku jadi sentimental begini karena dia ... semoga saja perasaanku tidak sampai dan ikut dirasakan pada senjata lainnya." kata Winn.
***
Osvald dan Demelza terlihat pucat dan muncul lingkaran hitam dibawah mata mereka berdua. Sepertinya gangguan dari Zewhit Badut dan Kurcaci sudah mulai berlebihan. Liburan musim panas minggu depan akan dimulai, Felix jadi khawatir jika Osvald dan Demelza harus merasakan gangguan tahap akhirnya di luar sekolah terlebih lagi itu di rumah mereka.
Felix mencoba membaca pikiran Osvald dan Demelza. Osvald sepertinya akan tetap tinggal karena ada nilainya yang ingin diperbaiki saat kelas musim panas perbaikan nilai. Sementara Demelza sepertinya sudah ingin cepat-cepat pulang.
"Jadi, bagaimana?!" tanya Tan setelah mendengar berita dari Felix.
"Apa ada cara untuk membuat Demelza tetap di sekolah minggu depan?!" tanya Teo.
"Harusnya kami yang bertanya ... kau kan yang biasanya muncul dengan ide-ide aneh." kata Tom.
"Intinya, akan sulit jika kedua Zewhit itu harus terpisah." kata Tan.
"Aku punya ide, tapi ... sepertinya itu akan menjadikan kita orang jahat." kata Teo.
"Ohya, katakan! apa itu?!" kata Tom bersemangat.
"Auuuuh!" Teo memukul kepala Tom, "Jelas-jelas aku bilang ide jahat. Seharusnya kau menghentikanku ...."
"Ayolah ... julukan penjahat itu berbeda tergantung dari sudut pandang. Memang dari sudut pandang Demelza kitalah penjahatnya tapi dari sudut pandang lainnya, kita adalah pahlawan. Bayangkan, bagaimana jika Zewhit Badut mengikuti Demelza sampai kerumahnya ... kali ini bukan hanya orang-orang di sekolah tapi keluarga Demelza bahkan orang-orang sekitar rumah Demelza juga akan jadi target baru Zewhit Badut. Terlebih lagi, coba pikirkan jika terbagi dua untuk menjaga mereka. Apa kau yakin bisa mengalahkan anak buah Efrain jika ada yang datang. Kalau kedua Zewhit itu tertangkap oleh Efrain, barulah ... kau akan sadar, bagaiamana kita menjadi penjahat sesungguhnya. Membiarkan kedua Zewhit itu tertangkap hanya akan menambah jumlah korban nantinya, padahal kau punya ide untuk membiarkannya tetap bersama kita dan mengurangi jumlah korban. Jadi ... bagaimana, kau ingin menjadi penjahat sekarang atau menjadi penjahat nanti?!" ceramah Tom yang membuat Tan dan Teo tercengang.
"Kau sudah menghafal ini sebelumnya, kan?!" tanya Teo melongo.
"Menggunakan dia!" Teo menunjuk seseorang tanpa berpaling dari Tom dan masih dengan ekspresi melongonya.
"Mertie?!" tanya Tan.
Mertie yang sedang memakai earphone nya tidak mendengar namanya disebut. Jadi, dia hanya berjalan melewati mereka saja.
"Orangtua Demelza jarang menetap di Yardley untuk waktu yang lama. Kebanyakan mereka ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Jadi, kita bisa menipunya dengan membuat Mertie menghack handphone Demelza ... seolah-olah ibunya menyuruh tidak usah pulang karena sedang tidak ada dirumah." kata Teo.
"Licik sekali! bagaimana kau bisa terpikir ide seperti itu?!" Tan tertawa.
"Entahlah ... tiba-tiba saja muncul di kepalaku." kata Teo.
"Ide bagus, tapi bagaimana kita meyakinkan Mertie untuk melakukan itu?! mustahil dia akan langsung setuju ...." kata Tom.
"Dia akan setuju." kata Felix yang baru ikut dalam percakapan.
"Ohya?!" Tiga Kembar serempak.
"Mertie benci pada Demelza ... dia malah akan senang kalau bisa mengerjai Demelza." kata Felix.
"Demelza memang sering sekali menggosipkan Mertie ... tapi, aku heran bagaimana Mertie bisa tahan tidak melakukan apa-apa." kata Tom.
"Okey, ayo kita coba!" kata Tan.
"Dasar, kalian berdua ... tidak punya hati nurani!" kata Teo.
"Ini idemu!" kata Tom.
Tiga Kembar mengejar Mertie yang sudah lumayan jauh berjalan. Sementara Felix membiarkan mereka yang mengurus itu sehingga dia bisa memeriksa bagaimana keadaan di sekolah. Felix merasa aneh karena tidak pernah ada lagi serangan dadakan yang datang. Itu membuat Felix menjadi menambah pengawasannya lebih ketat. Felix mengelilingi seluruh pagar sekolah di sore hari yang sedang jadwal pelajaran olahraga bersamaan dengan kelas Tan dan Teo tapi guru olahraga sedang tidak ada dan membiarkan mereka untuk melakukan olahraga sendiri tanpa pengawasan.
"Kenapa kalian mengikutiku?!" tanya Mertie.
"Wah, pasti berat! sini aku bawakan!" kata Tan mengambil tumpukan buku di tangan Mertie yang akan dibawa ke perpustakaan untuk dikembalikan.
"Dari wajah kalian, pasti ada sesuatu yang kalian inginkan. Katakan saja langsung! tidak usah basa-basi!" kata Mertie.
"Kami mau kau mengerjai seseorang ... tidak masalah kalau kau tidak setuju." kata Teo.
"Kau akan setuju jika mendengar orangnya siapa ...." kata Tom menyeringai.
"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa!" kata Tan.
"Siapa orangnya?!" tanya Mertie terlihat tidak tertarik tapi tetap bertanya.
"Demelza!" sahut Tom membuat Mertie tersenyum miring.
"Kau mau aku apakan dia?!" Mertie dengan senyum yang menakutkan.
...-BERSAMBUNG-...