UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.487 - Tidak Pernah Pulang



Karena telah begadang semalaman dan bukan hanya satu dua orang tapi satu angkatan. Jadi, mereka diberi tambahan waktu untuk beristirahat. Sebenarnya kalau dilihat dari jadwal, mereka harus segera bersiap-siap untuk pulang. Tapi para guru memberi keringanan, bagaimanapun mereka sudah melakukan aktivitas berat semalaman tidak sesuai dengan usia mereka itu.


Setelah menanam pohon sebagai tanda sekaligus tradisi untuk mengakhiri perkemahan. Semuanya kembali ke tenda masing-masing untuk kembali melanjutkan tidur.


Saat kelas tiga, Felix tidak ikut dalam kegiatan menanam pohon itu karena harus dibawa ke rumah sakit. Padahal saat itu bukan hanya satu pohon yang ditanam tapi ratusan karena perkemahan saat itu menggunakan sistem tiket pinjam. Mengambil kayu bakar di pengelola perkemahan akan diberikan tiket pinjam yang satu tiket setara dengan satu pohon harus ditanam saat pulang.


"Setidaknya kali ini cepat selesai ...." kata Teo seperti mengigau dalam tidurnya.


"Apa dulunya lama?!" tanya Felix.


"Lama ... apalagi karena waktu itu kita begadang berjaga dari Hantu Merah Muda. Jadi, kita memakai banyak kayu bakar untuk menghangatkan diri." jawab Tan dengan mata tertutup.


"Apa seru?!" tanya Felix lagi karena saat itu dia tidak ada disana. Menanam satu pohon saja barusan bersama-sama satu angkatan begitu heboh apalagi kalau menanam banyak pohon. Felix bisa saja membaca pikiran anak-anak yang lain untuk mengetahui saat itu, tapi keseruannya tidak akan sama karena tidak merasakannya langsung.


"Tidak seru, karena tidak ada kau dan Cain." jawab Tom membuat Felix berhenti bertanya lagi.


"Jadi, karena itu dia bertanya terus ...." kata Teo dalam hati.


Tradisi untuk mengakhiri perkemahan dengan menanam pohon, menyirami air, memberi pelindung disekitar sisi pohon, menambahkan tanda papan nama angkatan Gallagher di depan pohon ditanam agar mudah untuk dikenali. Sehingga bisa didatangi kembali untuk dirawat dan dilihat perkembangannya.


"Aku juga ikut berkontribusi menanammu ... tumbuhlah menjadi pohon yang kuat dan sehat." kata Cain menambahkan tanah pada pohon yang ditanam oleh angkatannya barusan.


"Hahh ... lucu sekali itu keluar dari mulut pembunuh pohon tadi malam. Seharusnya kau menanam pohon puluhan untuk menebus dosamu." kata Tanaman Leaure yang jauh dari tempat pohon itu berada tapi bisa didengar oleh Cain.


"Ck, diam kalian!" kata Cain yang menghilang lagi.


Felix sudah bangun sementara Tan, Teo dan Tom masih tertidur. Felix berbaik hati membantu merapikan barang-barang mereka agar nanti bisa langsung naik bus dan beristirahat lagi.


"Felix ... dia ...." kata Teo membalikkan badannya mengarah pada Felix dengan mata terlihat seperti ice cream yang akan meleleh.


"Em!" Felix hanya menyahut singkat, tahu kalau Teo juga terbangun karena merasakan keberadaan Cain.


Teo kembali menutup matanya dan secepat kilat kembali terlelap tidur.


"Hahh ....." Felix hanya menghela napas.


Jam 4 sore barulah mereka dibangunkan untuk segera mempersiapkan barang untuk meninggalkan area perkemahan. Dalam keadaan lapar semua murid sibuk menyiapkan barang bawaan kembali ke bus. Mereka hanya sempat sarapan sebelum menanam pohon, makan siang hanya sebagian yang datang makan, selebihnya lebih memilih tidur.


Untungnya Felix sudah selesai mengemas barang bawaannya dan juga Tiga Kembar. Sehingga disaat yang lainnya sibuk kesana kemari, mereka bisa meluangkan waktu untuk masuk ke tenda makan.


"Wah, mereka tetap menyiapkan kita makanan padahal sekolah hanya menyewa tempat ini sampai siang." kata Tom.


"Sudah kuduga, aku memang sangat suka perkemahan ini ...." kata Teo.


"Ow, makanan kesukaan Felix semua ...." seru Tan.


Tapi lain dari bayangan, semuanya mengambil banyak makanan kecuali Felix. Harusnya sebaliknya, Felix lah yang mengambil banyak makanan.


"Apa?!" tanya Felix melihat Tan, Teo dan Tom terus menatapnya.


"Aku sudah makan siang ...." kata Felix.


"Ah, begitu ya ... pantas saja!" kata Tan tertawa canggung.


Felix lebih dulu selesai makan dibanding Tiga Kembar yang masih menambah makanan lagi. Felix keluar tenda melihat banyak anak-anak berlalu-lalang membawa barang bawaan. Dengan kabut tipis yang mulai muncul mengelilingi perkemahan.


"Sangat pas memang disini untuk tempat berpindah dari Mundebris, sangat tertolong oleh kabut ini ...." kata Felix dalam hati menikmati pemandangan sore yang sudah seperti malam itu.


"Aku belum mendapat informasi apapun soal perkemahan ini tapi harus sudah pulang ...." Felix sedikit menyesalkan hal itu tapi apa boleh buat. Lagipula, satu fakta penting yang utama adalah perkemahan itu bukanlah milik musuh.


Berkat itu pula Felix bisa tenang berada disana, menikmati perkemahan terakhir di tingkat SD dengan santai.


"Siapapun itu, terimakasih ... sudah memberi hadiah ini. Bagiku ini adalah hadiah sebelum badai musim dingin datang menghempasku tanpa ampun." kata Felix pelan, berharap ada yang bisa mendengar tapi tidak terlalu seberharap itu juga.


"Perlu untuk selalu kau ingat, kau tidak pernah sendirian ...." kabut yang berada dihadapan Felix berubah membentuk tulisan.


Felix menengok kesana-kemari mencari siapa pemilik mantra itu tapi terhalang oleh kabut yang tiba-tiba menjadi sangat tebal. Anak-anak berteriak mengeluh karena tidak bisa melihat apapun.


Felix menutup matanya dan melihat menggunakan batu permata emerald yang tertanam disekeliling perkemahan dan merasakan kehadiran yang bukanlah manusia melewati batu permata emerald. Felix segera berlari ke arah tersebut dengan kabut tebal masih menyelimuti. Tentunya Felix bisa berlari tanpa kesulitan. Sampai ditempat yang dirasakan Felix melalui batu permata emerald, Felix menemukan amplop surat yang sudah terbuka dan surat di dalamnya sudah diambil.


Karena kesal, Felix menendang amplop surat itu hingga terbang mengenai pohon. Setelah merasa tenang barulah Felix sadar kalau telah menggores pohon dengan amplop Mundebris itu, "Maaf ...." Felix menyentuh batang pohon yang tergores itu dan perlahan goresan itu menghilang.


"Felix, kita akan berangkat!" kata Tan yang sudah berada di depan bus sementara Teo dan Tom memasukkan barang di bagasi bus.


"Aku segera kesana!" kata Felix.


Felix berhenti melangkah saat berada disamping kantor pengelola perkemahan. Menyempatkan diri untuk sekedar melihat-lihat. Tapi seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Semuanya berjalan normal seperti pada umumnya.


Kabut menunda keberangkatan mereka untuk pulang, sehingga kebanyakan hanya terus menunggu di dalam bus. Ada yang tidur, menonton, bermain dan melakukan apapun yang dirasa cocok agar tidak bosan.


"Hahh ... seperti kabut ini melarang kita untuk pulang saja." kata Tan.


Kabut menghilang secara tiba-tiba seperti terhisap kesuatu tempat setelah keluhan Tan itu. Bahkan Tan sendiri terkejut melihat itu. Para guru secepatnya meminta sopir untuk segera berangkat. Karena biasanya kabut hanya berada di dekat lokasi perkemahan saja. Jadi, mereka harus keluar ke jalan besar meninggalkan hutan agar bisa terbebas dari kabut itu.


"Sepertinya ada yang ingin kita cepat pulang!" kata Teo langsung membuat ucapan Tan terpatahkan.


Bus segera berangkat meninggalkan hutan dan keluar ke jalan besar. Suhu diluar hutan juga tidaklah terlalu dingin lagi dibanding saat di area perkemahan yang sudah seperti musim dingin.


Felix yang tadinya bersandar tidur tiba-tiba berdiri, Tom menyadari apa yang terjadi langsung menutup mata Felix.


"Dimana dan siapa?!" tanya Teo karena tidak sempat melihat mata Felix.


"Di jalan ini ... kita ...." kata Tom membuat mereka panik dan melihat kedepan bus.


Tak lama setelah itu suara hantaman keras mulai terdengar. Satu bus sekolah yang berada paling depan terbalik membuat bus yang dibelakang hampir juga saling bertabrakan satu sama lain. Untungnya bisa dihentikan karena kecepatan bus tidaklah secepat itu untuk sulit dikendalikan. Hanya saja kini bus berjejeran membuat jalan menjadi tertutup dan bus yang di depan menghalangi jalan jadi tidak ada jalan untuk bisa maju.


...-BERSAMBUNG-...