UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.202 - Masa Tenang



Felix kembali ke Rumah Daisy dengan wajah murung disambut oleh Tiga Kembar juga dengan wajah murung.


"Cain dimana?" tanya Felix.


Lama baru ada yang menjawab, "Ah, dia ... ada di atas kamar!" jawab Tan langsung mengelap meja karena tidak sadar terus menuang air di gelasnya yang sudah penuh.


Teo dan Tom duduk menonton tv tanpa memberi volume tapi sama sekali perhatian mereka bukan ke tv tapi hanya melamun.


"Ajak Cain turun makan!" seru Tan pada Felix yang menaiki tangga.


Cain duduk melamun bersandar di dinding kaca dengan tirai putih terus mengenainya karena angin.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Felix.


"Oh, kau sudah datang!" sahut Cain.


"Aku tanya bagaimana keadaanmu?!" Felix bertanya untuk kedua kalinya.


"Aku baik-baik saja! Goldwin langsung membawakanku buah darah yang banyak tadi ...." jawab Cain.


Felix mengira Cain sedang terpuruk tapi reaksinya mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Entah itu hanya akting atau memang benar dia baik-baik saja. Sulit membaca pikiran Cain hanya dari reaksinya karena Cain cerdas menyembunyikan perasaannya.


"Ayo, kita turun makan!" kata Felix tidak mau menggali lebih lanjut.


"Apa Efrain membunuh orang tadi karena sengaja atau memang sudah tahu kalau mereka akan meninggal juga?" tanya Teo menyuap makanan hanya seujung sendok.


"Tidak usah memikirkan bagaimana Efrain melakukan sesuatu!" jawab Felix datar.


"Efrain sangat licik! membuat kita berusaha menyelamatkan ketiga orang tadi tapi ternyata mereka memang sudah ditakdirkan meninggal ... pada akhirnya dia memang sengaja hanya ingin menjatuhkan mental kita!" kata Tom.


"Dia hanya meniru bagaimana cara kerja Franklin dulunya! Franklin menyiksa Efrain dan Alvauden lainnya seperti itu dulu ...." kata Cain.


"Pada akhirnya dia menang banyak! perisai kita juga sudah hancur!" kata Tan.


Felix menaruh gelasnya di atas meja dengan keras, yang lainnya mengira bahwa Felix sedang marah karena mereka tidak menurut perkataan Felix untuk tidak membahas Efrain. Tapi sebenarnya Felix hanya berusaha menelan makanannya tapi tidak bisa dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkannya.


"Akan aku panggil Banks!" kata Cain berdiri dari kursinya.


Bukan Cain yang pergi sendiri memanggil Banks tapi menyuruh Goldwin. Bagaimanapun juga Cain tidak bisa meninggalkan mereka jauh-jauh disaat Felix sedang dalam keadaan tidak sehat, yang bahkan untuk melindungi dirinya sendiri kesusahan. Saat bertarung dengan Efrain tadi, hanya Cain yang terus menutupi kekurangan Felix.


"Kudengar, Tuan Muda memunculkan Tellopper!" kata Banks pada Tan tersenyum.


"Oh iya setelah melihat Tellopper Tan, aku jadi terpikirkan pedangmu!" kata Felix.


"Tellopper adalah pedang terkuat untuk seorang yang ahli menyembuhkan di dunia ini Yang Mulia. Intinya pedang saya tidak ada apa-apanya dibanding Tellopper milik Tuan Muda Tan ...." kata Banks.


"Pedang? lebih tepatnya ini hanyalah pisau!" kata Tan.


"Sepertinya aku akan kehilangan guru pedangku ...." kata Felix tersenyum, "Banks lebih tepat melatih Tan yang memiliki pedang yang sama!" sambungnya.


"Tellopper, lain dari senjata Alvauden yang lainnya Yang Mulia ... tidak seperti senjata yang lain ... Tellopper mengenalkan dirinya sendiri pada penggunanya. Semua pengetahuan tentang penggunaan Tellopper pasti sudah diketahui oleh Tuan Muda ...." kata Banks.


"Benarkah?" tanya Teo yang iri karena Moshas tidak begitu.


"Walau begitu ... akan lebih baik jika dia berlatih denganmu!" kata Felix.


"Baiklah Yang Mulia ... lagipula Tuan Muda Tan memang mempunyai bakat dalam bidang penyembuhan ... saya memang berniat mengajarkan ilmu penyembuhan! sekarang bisa sekalian dengan berlatih juga ... berarti tinggal Tuan Muda Tom yang belum memunculkan senjata ...." kata Banks.


"Alvauden memunculkan Senjata Alvauden untuk pertama kalinya jika merasa sangat terancam ...." kata Banks.


"Iya ... dengan Tom belum memunculkan Senjata Alvauden menandakan belum terjadi sesuatu yang besar. Tom kepribadiannya tetap selalu tenang walau dihadapkan pada suatu masalah maka dari itu tidak heran jika dia belum memunculkan Senjata Alvauden ...." kata Felix.


"Berarti kalau Tom memunculkan Senjata Alvauden ... itu tandanya situasi benar-benar sudah diluar kendali?!" kata Cain.


Felix yang diberi obat oleh Banks mulai kelihatan membaik dan bisa mengobrol lama. Untuk tubuh manusia biasa yang tidak pernah makan seharusnya Felix tidak bertahan. Dengan tubuh manusia yang lemah tapi jiwa Caelvitanya terus membuatnya bertahan hidup.


Hari ketiga berganti, menandakan bahwa hanya kejadian di Bank yang menjadi rencana Efrain. Tidak ada pergerakan dari pemain maupun keluarga pemain permainan tukar kematian. Cain dan Tiga Kembar hanya bisa tidur sebentar saat sudah subuh karena merasa sudah tenang hari benar sudah berlalu. Tapi matahari yang bersinar dari luar menyadarkan mereka pada kenyataan untuk kembali bersiaga. Mereka bertanya-tanya apalagi yang direncanakan Efrain untuk menyerang mereka.


"Kita bisa melewati hari ini juga kan?" tanya Teo tertawa.


"Tentu saja ...." sahut Cain melempar dasi pada Teo.


"Hari ini aku akan mulai berlatih dengan Banks di Bemfapirav, sisi lain dari rumah ini ...." kata Tan.


"Aku akan datang memberitahumu kalau sudah mulai pagi ...." kata Teo.


"Tidak usah! Banks punya jam tiga dunia ... dia akan memberitahu kalau sudah waktunya untuk pulang!" kata Felix membaringkan dirinya kembali di tempat tidur setelah memakai seragam.


"Kau tidak apa-apa begadang semalaman berlatih, tidak pernah tidur dan langsung ke sekolah?" tanya Cain.


"Kalian berdua juga dulu melakukan hal yang sama ...." kata Tan membuat Felix dan Cain tertawa mengingat dirinya pernah ketahuan oleh Tan saat memasuki gerbang untuk ke Mundebris berlatih.


"Sangat melelahkan ... bersiaplah! kau pasti akan ketiduran di kelas nantinya!" kata Cain.


"Apa Teo juga harusnya ikut denganmu berlatih! dia juga sudah memiliki Moshas ...." kata Tom.


"Teo seharusnya mendapat guru yang ahli dalam tombak ... aku yang biasanya menggunakan pedang tidak terlalu bisa membantu!" kata Cain.


"Kau tidak kenal seseorang yang menggunakan tombak sebagai senjata?" tanya Tom..


"Apa tidak ada kerajaan di Mundebris yang ahli dalam memakai tombak?" tanya Teo.


"Walaupun ada tapi sekarang tidak ada Viviandem yang hidup ...." jawab Felix seperti ingin mengatakan sesuatu lebih banyak tapi berhenti, "Sebenarnya Zeki dulunya adalah pemilik Moshas ...." kata Felix dalam hati.


"Kalau begitu ...." kata Teo tidak selesai karena dihentikan Tom.


"Kita tidak bisa mempercayai kaum iblis! kau mau mengatakan kan ... kalau tidak ada Viviandem, ada kaum iblis ...." kata Tom.


"Ada Banks buktinya! dia kaum iblis tapi baik ...." kata Teo.


"Kebanyakan iblis pasti sekarang menuruti perintah Efrain ... Banks berbeda karena iblis yang lahir sebelum Efrain, walau Efrain Raja Neraka tapi Banks tetaplah generasi diatas Efrain makanya dia bisa bebas tidak perlu menerima perintah Efrain ...." kata Felix.


"Bahkan jika Raja Neraka sekalipun, seharusnya ada iblis selain Banks yang tahu bahwa yang dilakukan Efrain saat ini tidak baik! tidak perlu mengikuti pemimpin yang tidak layak menjadi pemimpin!" kata Cain.


"Kalau begitu aku latihan saja dengan Banks dulu ...." kata Teo tidak tertarik dengan perkataan Cain tentang kepemimpinan.


"Tidak usah terlalu terburu-buru Teo, walau kau memiliki Moshas kau tidak perlu terbebani harus menguasainya!" kata Cain.


"Harusnya aku terbebani!" teriak Teo membuat mereka semua kaget, "Aku tidak terbebani sama sekali Felix! padahal seharusnya aku terbebani! seharusnya ... aku ... aku ... jika tidak bisa membantu kalian melawan Efrain, setidaknya aku bisa melindungi diriku sendiri!" baru kali ini Teo memperlihatkan sisi dirinya yang lain.


...-BERSAMBUNG-...