UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.353 - Pembimbing Caelvita



Suara peringatan bahwa kelas akan dimulai dalam lima menit lagi tapi Felix masih terlihat bersantai-santai karena Dea masih saja setia menunggu di depan kelasnya.


"Percayalah, Felix tidak akan datang kalau kau ada disini!" kata Tom pada Dea, Tom merasa harus mengatakan itu daripada Felix harus terlambat.


"Dia pasti akan datang juga kalau kelas akan dimulai ... hahhh ... aku bahkan tidak pernah melihatnya akhir-akhir ini, bahkan bau dari spray rambutnya juga tidak pernah kucium lagi ...." kata Dea.


Tom terkejut mendengar Dea yang bahkan mengenali bau dari spray warna rambut Felix itu, "Kau ini lebih dari yang kubayangkan ternyata ...."


"Sudah kubilang berkali-kali kalau aku lebih dulu mengenal Felix daripada kau!" kata Dea.


"Dea kembali ke kelasmu!" kata Pak Egan yang sudah datang.


Akhirnya Dea menurut dan beberapa saat kemudian Felix masuk ke kelas.


"Kau terlambat Felix! siswa harus ada di kelas sebelum guru datang! poinmu dikurangi 1." kata Pak Egan.


"Maaf pak!" kata Felix langsung menuju tempat duduknya.


Pelajaran dimulai dengan Felix, Tan, Teo dan Tom yang sedang dalam kondisi mengantuk hebat. Teo bahkan terus mengolesi area yang dekat matanya dengan minyak dan balsem yang baunya menyengat dan rasanya panas perih di kulit itu.


Sesekali Teo tidak sengaja mengoleskan pada matanya dan berteriak membuat satu kelas menertawainya. Tan terus memukul tangannya dengan pulpen bahkan sampai berdarah tapi masih saja sering ketiduran. Tom dan Felix yang duduk paling depan lebih tersiksa lagi. Karena tidak bisa melakukan hal menonjol karena berada tepat di depan meja guru.


Pelajaran kedua berlanjut membuat FT3 semakin tersiksa lagi lebih dari sebelumnya.


"Di kehidupan selanjutnya aku ingin bersantai saja, bermalas-malasan dan tidur sepuasnya." kata Teo dalam hati.


Bell jam istirahat berbunyi langsung membuat Felix dan Tiga Kembar membenturkan kepalanya ke meja dan tertidur. Guru dan teman sekelasnya menertawai hal itu.


"Felix! Felix! FELIX!" teriak Iriana membuat Felix terbangun kaget.


"Ada apa?" tanya Felix langsung berdiri dari bangkunya dan membuat kursinya terjatuh. Tom tidak perduli dengan suara keras yang ditimbulkan oleh Felix itu dan hanya terus tertidur.


"Bukan saatnya untuk tidur! kau tahu betul apa yang akan datang! jangan bersantai-santai saja!" kata Iriana.


Felix menghela napas dan membenarkan kursinya yang jatuh kemudian menuju kamar mandi untuk mencuci muka, "Maaf ...." kata Felix sambil menatap cermin.


"Aku tahu kau lelah karena masih memiliki tubuh manusia tapi apa boleh buat kau akan menghadapi hal besar dengan tubuh manusia itu karena resiko kau yang masih belum menjadi Caelvita resmi. Jadi kuharap kau mengerti dan bisa memfokuskan dirimu untuk melakukan yang terbaik sebelum akhir tahun tiba." kata Iriana.


"Aku tahu ...." kata Felix menampar dirinya sendiri.


Felix naik ke atas atap gedung sekolah yang paling tinggi yakni gedung untuk tingkat SMP yang mempunyai lantai lebih banyak dari gedung tingkat SD, SMA dan gedung sekolah lainnya. Felix menutup matanya yang masih basah karena sudah mencuci muka dan mulai mendengarkan semua suara yang masuk ke telinganya.


"Kau ingat suara anak kecil itu kan?" tanya iriana.


"Ya!" sahut Felix.


"Nucusno yang disana masih belum pernah melewati jalan yang ada batu emerald itu." jawab Felix.


"Sepertinya mereka memang tidaklah terlalu menurut pada Efrain, hanya ingin memperlihatkan kesetiaannya saja ...." kata Iriana.


"Hahh ...." Tidak ketemu!" kata Felix kesal membuka matanya.


"Lakukan lagi!" perintah Iriana, "Jika anak 5 tahun itu terus tumbuh besar dengan bagian iblis di dalam dirinya itu, hidupnya akan sia-sia. Selamanya dia hanya akan terus diperalat oleh iblis dan tidak bisa melakukan apa yang diinginkannya, tidak bisa hidup secara benar." sambung Iriana.


"Aku tahu! jadi ... bisakah kau berhenti berbicara! jangan membuatku mengatakan bahwa kau adalah pembimbing Caelvita paling buruk lagi." kata Felix.


"Ah, okay!" Iriana akhirnya diam membiarkan Felix fokus kembali.


Tapi sampai bell berbunyi tanda istirahat selesaipun, Felix masih belum menemukan apa-apa.


"Sepertinya jarak jangkauan pendengaranku masih belum kembali normal." kata Felix menuruni anak tangga dengan perutnya yang berbunyi tanda lapar, "Hahh ... bisa-bisanya aku lapar saat ini!" Felix tidak mempercayai tubuhnya sendiri.


Felix kembali ke kelas melihat Tom yang sudah terlihat segar walau hanya tidur sebentar itu. Tom memperlihatkan roti dan susu yang dibelinya, "Kau darimana saja?!"


Felix malas menjawab dan hanya membuka pembungkus roti kemudian langsung memakan roti seperti mengunyah pasir. Felix tidak bisa menikmati rasa dari roti dan susu itu. Selama menjadi Caelvita perlahan-perlahan Felix jadi tidak tahu bagaimana menikmati makanan dan hanya menjadikan makan sebagai kewajiban saja. Itu menyebabkan wajahnya menjadi sangat tirus dengan tulang pipinya yang kentara dan lingkaran hitam dibawah matanya serta matanya yang merah sudah membuat Felix tampak seperti zombie saja.


***


Matahari mulai terbenam dengan sinar matahari yang berwarna jingga.


"Karena warna iblis yang identik dengan jingga aku jadi tidak bisa menikmati langit senja lagi ...." kata Tan dalam hati menatap langit dengan sinar matahari yang akan terbenam dengan perasaan sedih. Tak lama kemudian Tan mulai merinding, "Hem?!" Tan heran akan hal itu.


Suara teriakan mulai terdengar dari luar kelasnya. Terdengar dua anak perempuan yang sedang berlari terburu-buru masuk ke dalam kelas sambil menutup pintu kelas dengan keras. Kedua anak perempuan itu adalah teman sekelas Tan dan Teo yang meminta izin akan ke kamar mandi tapi kembali ke kelas tidak lama kemudian dengan histeris ketakutan.


"Ada apa ini?!" Bu Janet mengira mereka berdua itu berlebihan dan tidak sopan serta mengganggu teman sekelasnya yang sedang belajar.


"Ada hantu bu!"


"Cukup omong kosongnya! dan kembali ke kursi kalian dengan tenang!" kata Bu Janet tegas.


"Tapi bu, kami serius! kami benar-benar melihat hantu!"


"Diam! kalian dihukum! tidak boleh langsung pulang dan harus menghadap ke kantor ibu setelah ini." kata Bu Janet yang sudah habis kesabarannya. Bagaimanapun juga dia sudah menjadi gurus sejak lama dan mengetahui tingkah laku murid bagaimana jika mengatakan atau melakukan hal serupa. Terkadang hanya candaan, kebohongan dan kejahilan semata untuk menghindari kelas tambahan. Keberadaan hantu juga tidak bisa diterima oleh semua manusia dan salah satunya adalah Bu Janet yang merupakan guru sejarah tapi tidak percaya dengan hal mustahil seperti itu.


Kedua anak perempuan itu kembali ke tempat duduknya dengan masih gemetar ketakutan.


"Ada Zewhit? bagaimana bisa? kukira sekarang Zewhit kebanyakan adalah tawanan Efrain ... apa mungkin sudah dimulai? Efrain sudah melepasnya?" mata hijau Felix berubah menjadi biru dalam sesaat kemudian kembali lagi menjadi hijau.


...-BERSAMBUNG-...