
Baru kali ini Felix begitu bersemangat masuk ke Mundebris bahkan tanpa sempat melihat waktu Mundclariss terlebih dahulu. Biasanya dia membuat rencana perjalanannya dulu sebelum masuk Mundebris. Tapi saat ini yang ada dipikirannya hanyalah berlari.
"Berhenti!" teriak Iriana.
Felix yang masih bersemangat berlari kaget dan akhirnya tersandung jatuh karena tidak bisa menghentikan dirinya sendiri yang terlalu cepat berlari, "Ada apa?" tanya Felix.
"Tidak ada yang bisa kau lakukan!" jawab Iriana.
"Apa maskudmu?" tanya Felix.
"Kau ingin pergi membantu Unimarismu agar bisa bebas kan?" tanya Iriana.
"Tentu saja!" sahut Felix.
"Kupikir kau itu tidak seperti aku ... tapi ternyata sama juga!" kata Iriana.
"Apa itu pujian?" tanya Felix.
"Unimaris Caelvita harus keluar sendiri dari kurungannya atau tempat dirinya lahir dengan kekuatannya sendiri ... bukan karena bantuan Caelvita sendiri!" jawab Iriana.
"Kau tidak lihat bagaimana dia memanggilku untuk datang membantunya?!" kata Felix.
"Tentu saja! Unimaris dengan kita adalah ibaratkan satu tubuh, tidak mengherankan kalau dia putus asa dan akhirnya meminta pertolongan juga sehingga secara sadar maupun tidak sadar memanggil jiwa kita ... tapi itu adalah hal yang harusnya kau abaikan! Unimaris Caelvita tidak boleh dimanja! dia harus keluar sendiri dengan kekuatannya sendiri tanpa bantuan Caelvita! kukira kau akan berbeda denganku tapi sama juga ... langsung saja berlari untuk mengeluarkannya ...." kata Iriana.
"Aku tidak mengerti memangnya apanya yang salah dengan itu ...." kata Felix mendengus lalu tertawa.
"Kau ingin mengeluarkan Unimarismu dengan keadaan masih lemah? bahkan tidak bisa menghancurkan telurnya sendiri ... apa yang bisa kau harapkan dari Unimaris seperti itu?!" kata Iriana.
"Kau mungkin mengira kau itu berbeda denganku tapi pada akhirnya kau sama saja denganku!" kata Felix sarkastik.
"Aku tidak ingin kau mengikuti jalan yang sama denganku!" kata Iriana.
"Kau ingin aku membiarkannya tetap disana sendirian? bahkan aku yang hanya sebentar saja disana sudah sangat kebosanan ...." kata Felix.
"Tunjukkan bahwa kau itu benar berbeda Felix! jangan berhati lembut sepertiku ...." kata Iriana.
"Kau berkata begitu seakan kau menyesal membebaskan Unimarismu dulu dengan cepat?!" kata Felix.
"Ya ... aku menyesal! Unimaris Caelvita yang terbebas karena kita yang membebaskannya dari luar bukannya dia sendiri yang mengeluarkan dirinya dari dalam akan memiliki kekuatan berbeda." kata Iriana, "Ibaratkan telur ayam, kalau menetas sendiri tentunya akan menjadi anak ayam tapi kalau kita yang memecahkannya sebelum waktunya ... akan berakhir menjadi makanan!"
"Hem ... caramu membuat perumpamaan sangat buruk! memangnya kau pikir aku anak TK?!" kata Felix.
"Kau mengerti apa yang aku maksud, kan?" tanya Iriana.
"Sepertinya jika aku menjadi Caelvita dengan sifat yang buruk, itu karena dirimu yang membimbingku, bukannya karena aku ini memang begini dari awal ...." kata Felix.
"Tentu saja aku hanya bisa melarangmu, kau bebas mengambil pilihan ... bebas mengambil melangkah maju dengan menentangku atau mundur dengan mendengarkan saranku." kata Iriana.
Felix melangkah mundur dan kembali ke Mundclariss menggunakan gerbangnya yang masih terbuka. Sinar matahari langsung menyinarinya dari balik jendela kaca, "Ternyata sudah pagi ...." kata Felix kembali ke kamarnya dengan menyipitkan mata.
"Kau pikir aku dan dirimu sama tapi nyatanya tidak! saat aku dilarang oleh Caelvita 117, aku tetap keras kepala pergi mengeluarkan Unimarisku ... tapi kau berbeda!" kata Iriana tanpa didengar oleh Felix.
Iriana mengira Felix berbeda dengannya karena mengambil pilihan lain tapi sepertinya Felix sadar bahwa bukan dirinya yang mengambil pilihan itu tapi karena bujukan dari Iriana juga tanpa Iriana sadari.
"Caelvita-47 terkenal akan sifat tegasnya yang tidak seperti Caelvita lainnya tapi rasanya aku mulai tahu ... pembimbing atau Caelvita sebelumnyalah yang menjadi penentu Caelvita selanjutnya. Bukannya Caelvita-47 yang hebat tapi dia beruntung mendapat pembimbing yang hebat yakni Caelvita-46. Sama denganku saat ini ...." kata Felix.
Sedangkan Felix mengira dirinya memilih pilihan lain karena bujukan Iriana tapi pada dasarnya dia memang langsung saja terbujuk dengan mudah tanpa terlalu memikirkan bagaimana nasib Unimarisnya yang masih terkurung.
Keduanya saling memuji tanpa menyadari diri sendiri sedang saling memuji.
***
Balduino yang tinggal tepat di depan kamar Felix, terlihat sedang mengikat tali sepatunya saat Felix keluar kamar.
"Kau tidak pulang akhir pekan ini lagi?" tanya Felix memulai obrolan saat menuruni tangga, "Kalau aku wajar tapi kau kan punya ibu yang menunggumu di rumah ...." sambungnya.
"Ibu saya dipecat dari pekerjaannya, saat ini saya tidak punya rumah untuk pulang Yang Mulia. Ibu saya hanya pindah sauna dari malam ke malam. Untungnya saya bisa tinggal asrama jadi bisa mengurangi bebannya ...." jawab Balduino.
Felix tidak melanjutkan atau menanggapi lagi, "Fakta bahwa ibu Balduino yang juga Setengah Viviandem belum pernah dikatakan ... apa selamanya akan dia sembunyikan?" tanyanya dalam hati.
Tan, Teo dan Tom masuk kelas dengan wajah lusuh dan pakaian lusuh. Sangat jelas mereka bertiga baru saja kembali dari Mundebris dengan memakai pakaian dengan sembarangan tanpa menyetrikanya dulu.
"Yang Mulia ...." suara Balduino yang tiba-tiba masuk ke telinga Felix.
"Ada apa?" tanya Felix lewat pikiran saat sedang mendengarkan pelajaran.
"Hantu itu ... Hantu Jari Kelingkin muncul lagi!" jawab Balduino membuat Felix berdiri dan menjatuhkan kursinya.
"Do you want to tell us something?" tanya Bu Latoya mengira ada yang ingin disampaikan oleh Felix.
Karena tidak ada Cain, Felix jadi benar-benar buta saat ada sesuatu yang buruk mendekat. Felix tidak bisa merasakan kehadiran dari Hantu Jari Kelingking itu. Biasanya ada Cain yang sebagai pendeteksinya. Cain bisa dengan cepat dan mudah merasakan jika ada bahaya mendekat.
"Saya minta izin ke kamar mandi, Miss!" kata Felix segera keluar kelas bahkan belum diberi izin.
Tidak lama lagi Felix sampai ke kelas Balduino, terdengar ada suara teriakan. Felix bukannya berhenti untuk fokus mendengarkan lewat pikiran tapi langsung menuju kelas Balduino.
"Tidak! jangan lagi!" kata Felix memohon agar tidak ada lagi korban dari Hantu Jari Kelingking itu. Memang Hantu itu sudah membuat peringatan dengan jari kelingking yang tidak diketahui milik siapa karena pihak sekolah menyembunyikannya dan mengatakan bahwa itu adalah jari palsu keisengan anak-anak agar tidak membuat citra sekolah menjadi buruk, "Apa dia marah karena ancamannya diabaikan?"
Felix membuka pintu kelas Balduino dengan keras tapi malah diatatap aneh oleh seluruh penghuni kelas itu, "Bukankah dia Felix?" tanya anak-anak satu kelas Balduino.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Teo yang sekelas dengan Balduino.
"Bukankah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Felix.
"Apa yang terjadi?" tanya Teo.
"Kudengar ada suara teriakan dari luar!" kata Felix melihat seluruh ruangan yang dikiranya ada murid yang hilang dan jari kelingking yang ditinggalkan tapi tidak ada, semua kursi terisi penuh, "Balduino mengerjaiku ya?!"
...-BERSAMBUNG-...