UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.223 - Detik-detik Terakhir



"Padahal seharusnya Caelvita tidak ikut campur dalam permainan ini ... kalau memang harus ikut campur, biarkan kami saja!" kata Tom.


"Semua itu hanyalah pedoman saja untuk Caelvita pelajari dan pilih untuk lakukan atau tidak. Bukannya peraturan yang harus dituruti!" kata Felix.


"Tapi kan semua Caelvita sebelumnya menggunakan pedoman itu sebagai peraturan ...." kata Tom.


"Kau pikir Felix akan menurut saja? tidak mungkin dengan kepribadiannya itu! dia akan menjadi Caelvita yang sangat berbeda dari Caelvita sebelumnya ...." kata Cain.


"Komplit sudah! kalian bertiga selalu saja mengomentari satu sama lain padahal kalian sangatlah mirip, terkadang kalian itu lebih seperti kembar ketimbang denganku dan Teo." kata Tan.


"Haera, ayo bangun!" kata Cain.


Haera hanya membuka matanya dan menjulurkan kedua tangannya, "Kau itu memang kecil tapi berat untuk digendong terus!" kata Cain mengeluh.


"Mau denganku?" tanya Teo dengan malu-malu.


Haera hanya mengangguk dengan matanya yang seperti terus ada yang menarik turun untuk tidur. Teo memberanikan diri di saat-saat terakhir bersama Haera.


"Kau akan menyesal menawarinya begitu!" kata Cain melihat Teo terlihat sangat senang dan tidak berhenti tersenyum karena akan menggendong Haera.


"Apanya yang berat? ringan begini kok ...." kata Teo.


"Iya, masih ringan! nanti kalau lama akan berat juga ...." kata Cain.


Dan benar, saat masih berjalan biasa di lantai yang datar tidak ada masalah tapi saat menaiki tangga, Haera terasa berat sekali. Apalagi Haera banyak bergerak dan tidak mau diam sama sekali walau disuruh.


"Apa juga kubilang! sini ... biar aku yang menggendongnya!" kata Cain mengambil Haera yang membuat Teo keringatan menaiki tangga.


Haera tidur bersama dengan Cain di ranjang atas membuat Felix yang tidur di ranjang bawah susah tidur karena Haera tidak berhenti bergerak seperti sudah mengelilingi seluruh kasur dan membuat heran karena tidak terjatuh dengan kebiasaannya itu. Felix bangun melihat Haera yang tidur di sebelah Cain dengan cara terbalik. Kaki Haera berada di pipi Cain. Tapi Cain juga tidak perduli dan hanya tidur nyenyak.


"Jika ada yang akan sangat sedih dengan kepergian Haera, pasti Cain lah orangnya! hanya saja pasti dia tidak ingin memperlihatkannya ...." kata Felix dalam hati.


***


Tidak seperti di Rumah Daisy yang bisa bangun agak telat tapi kalau bermalam di panti harus bangun sepagi mungkin.


"Sudah lama rasanya tidak melakukan aktivitas sepagi ini ...." kata Cain merasa aneh padahal sudah menjalaninya bertahun-tahun, "Wajahmu cerah sekali!" Cain mengucek-ngucek matanya meragukan penglihatannya, "Kau memakai pewarna bibir?" tanya Cain.


"Pewarna bibir? memangnya masih ada yang menggunakan kata itu?!" jawab Felix tertawa.


"Sudah lama rasanya aku bisa melihat bibirmu tidak pucat ...." kata Cain.


"Bukan hanya itu, rasanya kesehatanku mulai membaik. Apa Veneormi menyembuhkanku lagi atau bagaimana ya?" kata Felix.


"Tapi seharusnya dia membuatmu sekarat dulu lagi ...." kata Cain.


"Sekarat? penggunaan katamu juga ...." kata Felix.


"Atau karena permainan sudah mulai berakhir? memangnya ada hubungannya?" tanya Cain dalam hati.


Haera masih belum bangun saat mereka berangkat sekolah. Cain menaruh Haera di dalam ransel sambil kepalanya keluar dari tas seperti ada boneka dari dalam tas Cain. Cain terpaksa harus mengurangi jumlah buku yang dibawanya karena Haera. Dengan Haera yang ada di dalam ransel sambil berlari menuju halte bus saat masih agak gelap, rasanya sama saja bagi Cain karena terbiasa membawa banyak buku yang berat.


"Ow, ada apa denganmu hari ini?!" kata Teo melihat Felix bisa menyamai langkah kaki mereka.


"Bahkan aku bisa mendahului kalian kalau mau ...." kata Felix tersenyum.


"Ow, bahkan kau tersenyum sambil berlari! kau merasa baikan sekarang?" kata Teo dengan ekspresi berlebihan.


"Rasanya akupun bisa terbang!" kata Felix.


"Ini pertanda baik kan?" tanya Tom.


"Eh?!" mereka kaget mendengar Haera menjawab.


"Sejenak kukira kau hanya boneka sampai kau berbicara ...." kata Tom tertawa.


H-3 permainan tukar kematian akan berakhir. Anehnya kesehatan Felix mulai membaik, entah karena pengaruh apa masih belum jelas.


"Aku berharap kau bisa begini terus ...." kata Tan


"Aku berharap juga begitu ...." kata Felix.


Mereka menaiki bus dengan hanya mereka yang menjadi penumpang.


"Sudah lama kalian tidak naik bus ...." kata Pak Sopir.


"Iya pak, biasanya kami tinggal di dekat sekolah!" sahut Cain.


"Putri saya juga akan mendaftar di sekolah yang sama dengan kalian! tiap malam selalu saja memandangi gambar seragam kalian ...." kata Pak Sopir.


"Mendaftarnya untuk masuk kelas berapa pak?" tanya Teo.


"Untuk SMA!" sahut Pak Sopir.


"Semoga putri bapak bisa lulus dan menjadi kakak kelas kami!" kata Tan.


"Namanya siapa pak?" tanya Felix.


"Namanya Camelia! dari namanya saja sudah cantik kan?" kata Pak Sopir, "Apa ada hal rahasia atau sesuatu yang khusus bisa membuatnya lulus? biar nanti bapak traktir makanan enak!" sambungnya.


"Kami tidak tahu kalau tingkat SMA pak, tapi kalau misalkan sama dengan SD ... lebih baik suruh untuk menjawab soal selain perhitungan. Biasanya yang mendaftar akan terobsesi untuk menyelesaikan soal perhitungan makanya yang dipilih nantinya diantara yang menjawab soal perhitungan dengan benar adalah yang menggunakan rumus lengkap saat menjawab soal. Makanya banyak yang gagal karena kuota untuk masuk menggunakan nilai matematika sudah penuh. Padahal Gallagher sebenarnya mementingkan yang namanya keseimbangan. Akan lebih baik kalau menjawab pertanyaan lainnya selain perhitungan dan bisa diluluskan untuk masuk sebagai penyeimbang ...." kata Cain memberi tips dengan senang hati.


"Kau terdengar seperti guru les saja!" kata Tan.


"Tidak, lebih mirip terdengar seperti penipu yang mengurus anak sekolah masuk dengan meminta banyak uang!" kata Teo.


"Dimana kau tahu semua itu?" tanya Tom.


"Aku pernah membantu kakak yang di perpustakaan mengatur dokumen dan tidak sengaja melihat lembar ujian di gudang penyimpanan arsip." jawab Cain.


"Wah, terimakasih banyak nak! kalau turun nanti, simpan nomornya ya! supaya bapak hubungi untuk traktir makan malam yang enak ...." kata Pak Sopir.


"Haha, tidak usah pak! nanti kalau benar lulus baru saya minta traktir sendiri ...." kata Cain bercanda.


"Seharusnya memang begini ... membicarakan hal normal seperti ini! bukannya berlatih keras dengan menggunakan senjata tajam, bertarung melawan iblis, berkeliaran menukar kematian ... tapi karena menjadi Alvauden, karena menjadi sahabatku mereka harus melalui hal sulit dan merelakan kehidupan normal ...." kata Felix dalam hati.


Haera mengelus-elus rambut Felix yang memandang keluar jendela, "Jangan menyalahkan takdir Lix! biarkan saja semuanya mengalir dan jalani hidup selama mungkin ... pasti akan ada jawaban yang akan datang nantinya untuk pertanyaan saat ini, akan ada penyelesaian yang datang untuk penyesalan saat ini!"


"Kau bisa mendengar pikiranku lagi? bukankah sudah tidak bisa?!" kata Felix lewat pikiran kaget.


"Kekuatan Dicoisvi akan bertambah kuat detik-detik sebelum permainan berakhir!" kata Haera.


"Tunggu ... berarti ...." kata Felix menatap Cain.


"Ian juga sekarang kekuatannya berlipat-lipat ganda dan sedang mendengar kita mengobrol juga pastinya ...." kata Haera membuat Cain menggigit bibirnya karena ketahuan tapi tetap bersikap santai.


"Apa?!" Felix menatap Cain yang terlihat sibuk mengobrol dengan Tan, Teo dan Tom. Tidak terlihat mencurigakan sama sekali. Seandainya Haera tidak bilang pasti Felix tidak akan tahu fakta itu.


...-BERSAMBUNG-...