
Ada alasan dari setiap kejadian, tidak ada yang terjadi begitu saja karena kebetulan semata. Semuanya sudah ditakdirkan mengalir begitu saja untuk terjadi. Masa depan yang menghantui Felix dan Cain kini berubah menjadi sebuah keajaiban.
Kutukan dari Permainan Tukar Kematian ini bisa saja menyelamatkan Tan, Teo dan Tom. Seseorang yang terlibat dalam takdir seseorang selain yang memang bertugas seperti Pewaris Permainan Tukar Kematian akan mendapatkan kutukan sebagai hukuman karena ikut campur dengan takdir seseorang, Caelvita mungkin menjadi pengecualian.
Yang namanya kutukan pasti bisa dipatahkan. Kutukan Permainan Tukar Kematian hanyalah dengan kematian. Masa depan yang dilihat Felix dan Cain pastinya karena kutukan itu.
"Dan yang namanya kutukan pastinya bisa dipatahkan setelah menjalani kutukan yang berupa kematian itu ... dan setelah kutukan terpatahkan mereka bisa bebas ... tidak terikat lagi dengan buku takdir!" kata Felix lewat pikiran.
"Selanjutnya kuserahkan padamu ...." kata Cain tersenyum.
"Sampai saat ini memang sudah kutemukan jalan untuk menyelamatkan mereka tapi setelah itu pasti buku takdir akan terus mengganggu mereka juga ... akhirnya kita menemui titik terang ...." kata Felix.
"Bukankah sudah kukatakan kalau untuk mematahkan kutukannya berupa kematian ... bagaimana kalian bisa sesenang itu?" Haera tidak mengerti, "Memang kematian bagi Mundebris merupakan kehidupan baru tapi tetap saja, mereka tidak akan menjadi manusia lagi ... tidak hidup lagi ...."
"Tidak semua hal buruk selalunya buruk! pasti ada setidaknya satu hal yang bermanfaat ...." kata Felix.
"Kutukan memang buruk tapi setelah kutukan dipatahkan, orang yang mendapatkan kutukan akan terbebas ... bahkan buku takdir dari orang yang mendapatkan kutukan akan berubah ...." kata Cain.
"Sudah kuduga ... kau sudah mengetahui banyak tentang Ruleorum selama menjadi Pewaris!" kata Felix menyeringai.
Cain mengalihkan pembicaraan karena ketahuan mengatakan apa yang disembunyikannya. Tan, Teo dan Tom frustasi meminta penjelasan tapi Felix dan Cain hanya mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Memang dari ekspresi sangat jelas bahwa Felix dan Cain terlihat sangat lega membuat Tiga Kembar tidak terlalu mempertanyakan lebih lanjut lagi meskipun tetap saja penasaran.
"Apa mereka tidak merasakan kalau kekuatan mereka bertambah? saat kekuatanku bertambah, sangat jelas kurasakan ...." kata Cain.
"Karena terus berlatih mereka pikir mungkin hanya karena sudah berkembang berkat latihan yang dilakukan ...." kata Felix.
Bu Farrin yang mengajar di kelas membuat Cain tidak berhenti merinding, "Biasanya tidak begini ... aku memang mencium aroma darah yang menyengat, apa karena Bu Farrin habis meminum darah manusia?" tanya Felix.
"Tidak, bukan karena itu ... biasanya kalau aku merinding karena ada bahaya mendekat atau ada kejahatan yang sedang atau pernah terjadi ditempat yang kutuju, semacam itu ...." kata Cain.
"Maksudmu Bu Farrin berbahaya atau apa?" tanya Felix.
"Yang bisa menjelaskan ini hanyalah ... saat ini ... di kelas ini, di sisi lain yang ada di Bemfapirav terjadi sesuatu ... bukannya karena Bu Farrin yang ada di kelas ini!" jawab Cain.
"Apa yang terjadi?" Felix mengeluarkan kacamata buatan Banks yang bisa melihat dunia lain tanpa harus dimasuki.
Untungnya Bu Farrin yang sedang mengajar, jadi saat melihat Felix memakai kacamata tahu bahwa kacamata itu bukan kacamata biasa. Felix juga tidak memakainya lama, setelah memeriksa Bemfapirav kacamata juga langsung dilepaskan dan yang melihat Felix memakai kacamata juga hanya Mertie dan Dea yang duduk dibelakangnya saja. Mertie tidak mungkin mengadukan Felix apalagi Dea.
"Apa yang kau lihat?" tanya Cain.
"Tidak heran kalau kau tidak berhenti merinding ... kelas ini dipenuhi mayat di Bemfapirav!" jawab Felix.
Cain yang memang sudah merinding tidak bisa menjelaskan lebih lanjut lagi bagaimana perasaannya sangat tidak karuan karena mendengar itu.
"Aku tidak bisa merasakan jika ada yang membutuhkan pertolongan dan kau juga tidak bisa mendengar permintaan tolong mereka yang ada di Bemfapirav karena pohon hias yang ada di Mundebris menyembunyikan semua itu ... tidak mungkin juga kita selalu sedia di Bemfapirav menjaga ...." kata Cain menyesal mendengar banyaknya korban yang tidak bisa ditolong, pulpen yang dipakainya menulis sampai-sampai patah karena terlalu keras digenggam.
"Tentu saja, bisa jadi mereka tidak sengaja merapalkan bemfapirav saat menutup mata ... kan bisa kacau! mereka akan tertangkap oleh Setengah Sanguiber ...." kata Cain.
Sangat lega rasanya bagi Cain saat hendak meninggalkan kelas untuk makan siang karena pasti ia akan berhenti merinding setelah meninggalkan kelas. Tapi nyatanya tidak, di setiap sudut jalan sekolah yang dilalui tidak membuat Cain berhenti merinding.
"Mereka sudah keterlaluan! sudah tahu betul kita ada disini tapi tetap saja dilakukan ... mereka seperti meledek kita tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam saja." Cain menahan emosinya. Alasan kenapa Cain tidak berhenti merinding bahkan setelah keluar dari kelas hanyalah satu, kini seluruh sekolah dipenuhi oleh korban Setengah Sanguiber di Bemfapirav.
"Kita tidak bisa melawan mereka sekarang, kau tahu kan bagaimana hebatnya Setengah Sanguiber! bahkan Banks gugur dalam peperangan melawan generasi sebelumnya ...." kata Felix menenangkan Cain.
"Aku tahu itu ... tapi bukankah mereka sudah sangat keterlaluan!" kata Cain.
"Kita harusnya masih bersyukur, setidaknya mereka tidak mengganggu siswa/siswi di sekolah ini!" kata Felix.
"Apa Bu Farrin melihat Haera saat di kelas tadi?" tanya Teo yang tentunya tidak tahu jika Felix dan Cain saat ini sedang berbicara melalui pikiran.
"Tentu saja tidak! Haera hanya bisa dilihat oleh Caelvita dan Alvauden ...." jawab Cain.
"Mereka tidak mempunyai kekuatan untuk mendengar pikiran?" tanya Felix.
"Sebenarnya, normalnya ... aku juga tidak bisa mendengar atau membaca pikiran. Kekuatan ini murni karena aku menjadi pewaris, setelah berhenti menjadi pewaris pastinya kekuatan ini juga akan hilang ... jadi mereka pastinya tidak memiliki kekuatan ini!" kata Cain.
"Kalau begitu, mereka hanya ditingkatkan kekuatan dari segi fisik saja?" tanya Felix.
"Sepertinya begitu ... tapi tidak jelas juga sih! karena seharusnya mereka bisa merasakannya dengan jelas bagaimana kekuatan memenuhi diri mereka ... bagaimana mungkin mereka tidak menyadari itu?!" kata Cain.
Balduino terlihat duduk paling pojok di kantin untuk makan siang. Terlihat sangat jelas bahwa dia sudah dihindari oleh anak-anak lain. Balduino menyapa dengan menundukkan kepala sedikit setelah melihat kedatangan Felix, Cain dan Tiga Kembar memasuki kantin.
Anak-anak yang sedang makan tiba-tiba mengerumuni dinding kaca untuk melihat keluar.
"Ada apa?" tanya Tom.
"Diharapkan tidak ada yang keluar dari dalam ruangan! bagi anak-anak yang sedang berada di luar gedung sekolah atau yang berada di halaman sekolah, agar sekiranya untuk masuk ke dalam gedung sekolah karena sekolah akan menutup semua akses untuk masuk dan keluar demi keamanan!" kata Bu Janet dari speaker sekolah.
"Apa yang terjadi?" tanya Tan.
"Ada yang berusaha menerobos masuk sekolah!" jawab Mertie memperlihatkan cctv yang terletak dari gerbang sekolah.
"Mereka itu ...." kata Cain menghela napas.
"Kalau tidak salah mereka adalah keluarga Hauda dan Erasma, pasangan pemain ke 48!" kata Mertie yang akhir-akhir ini sebagian besar yang mengambil alih pekerjaan mengawasi kamera cctv disaat FCT3 mengatasi masalah lain yang lebih besar.
...-BERSAMBUNG-...