UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.454 - Gerbang Unik



Pemilik Perkemahan memasuki ruangan, Felix segera bangun dan mengikuti. Karena sudah hafal bagaimana denah Rumah atau lebih tepatnya mungkin seperti kantor yang bergaya layaknya rumah yang nyaman. Felix tahu kemana tujuan Pemilik Perkemahan itu, "Ruang kontrol cctv?!"


Sampai disana, hanya benar-benar mengecek saja dengan sekedar bertanya apa terjadi sesuatu yang tidak normal. Setelah mendapat jawaban yang diinginkan, Pemilik Perkemahan itu pergi juga.


Felix mengatur Idibaltenya hanya untuk tidak terlihat oleh manusia saja. Itu dilakukan agar yang bukan manusia biasa bisa melihatnya. Tapi entah itu karena akting atau memang tidak melihat keberadaan Felix. Pemilik Perkemahan beraktivitas seperti biasanya meski Felix terus mengikuti.


"Bagaimana pusat perbelanjaan ibu yang ada di pusat Kota Pippa?!" tanya salah satu Pegawai yang membawakan minuman di ruangan Pemilik Perkemahan.


"Untuk sementara ditutup dulu, karena tidak ada pelanggan yang datang." jawabnya dengan santai tanpa ada ekspresi stres, sedih atau menyayangkan bisnisnya terancam bangkrut.


"Apa dia sekaya itu?!" kata Felix bersandar di dekat meja Pemilik Perkemahan yang sedang duduk.


Felix mulai merencanakan sesuatu yang iseng untuk mengetes apakah Pemilik Perkemahan itu benar memang tidak melihatnya atau hanya akting, "Coba kita lihat ... mana disini benda yang paling berharga?!" Felix mengatakan itu dengan suara keras untuk memancing tapi tidak ada reaksi yang diinginkannya muncul.


"Bahkan mall nya saja terancam bangkrut tapi dia biasa saja, aku harus memakai apa ya untuk mengisenginya?!" kata Felix dalam hati, "Harusnya aku belajar hal seperti ini dari Cain, dia pasti tahu betul bagaimana mengisengi orang ...."


"Oh, iya ... kan ada Teo!" kata Felix langsung berbicara lewat Jaringan Alvauden.


"Kan ada aku?! kenapa?!" Teo menjawab dengan nada datar.


"Aku mau mengetes Pemilik Perkemahan ini apa hanya akting atau memang tidak bisa melihatku. Menurutmu bagaimana aku mengganggunya supaya identitasnya bisa langsung ketahuan?!" kata Felix.


"Langsung maju tepat di depan wajahnya, siapapun itu pasti akan kaget." kata Tan memberi ide.


"Aku sudah melakukan itu dari awal kesini, tidak ada respon sama sekali." kata Felix sudah mendapat ide itu berkat Zewhit yang hobby melakukan itu.


"Langsung saja tepuk-tepuk bahunya!" kata Tom memilih ide yang secara spontan tanpa basa-basi.


"Kalian ini sangat amatir ... kalau mau mengisengi seseorang harus dengan cara selicik mungkin." kata Teo menyengir seperti orang jahat.


"Bagaimana?!" tanya Felix.


"Apa yang sedang dia lakukan sekarang?!" tanya Teo.


"Dia sedang menulis sesuatu ...." kata Felix belum selesai tapi langsung disela oleh Teo.


"Cabut pulpen atau pensil yang sedang ada di tangannya!" kata Teo menyeringai.


"Ah, hahaha ... kuakui kau memang jago kalo soal hal begini." kata Tan tertawa.


Felix mendekat ingin mencoba ide Teo itu tapi Pemilik Perkemahan itu sudah berhenti menulis, "Hehh?!" Felix sendiri merasa tidak percaya kalau gagal sebelum mencoba.


"Bagaimana?!" tanya Teo.


"Dia berhenti menulis." jawab Felix lesuh.


"Kau kurang bergerak cepat!" Teo meledek.


"Apa dia menyadari apa yang akan kau lakukan makanya berhenti menulis?!" tanya Tom.


"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa soal itu." jawab Felix.


Pemilik Perkemahan itu meninggalkan ruangannya dan duduk bersama dengan pegawai sambil mengobrol santai dan mendengar informasi soal perkemahan hari ini.


"Jendelanya sudah ditutup ...." Felix lega karena sekarang tempat duduknya di lobby bisa terasa hangat tidak seperti tadi, "Tapi ... minuman yang tadi sudah hilang, pasti yang punya kecewa karena minumannya sudah dingin."


***


Aktivitas Perkemahan Kelas 3 Gallagher masih acara perkemahan normal seperti biasanya. Setelah acara perkemahan resmi berakhir, maka barulah Pelatihan Persiapan Memasuki Osis dimulai.


Sudah pukul 2 dini hari, semua siswa telah tertidur lelap di tenda masing-masing. Kecuali Mertie yang sedang sibuk memonitor seluruh kameranya. Beruntung karena Mertie mendapat tenda sendiri tanpa ada yang menemani jadi dia bebas melakukan apapun.


Tan, Teo dan Tom sudah ada di dalam tenda Pak Egan menumpang atau lebih tepatnya menyelundup masuk tanpa izin. Mereka memilih masing-masing ujung tenda bagian pojok karena Pak Egan punya kebiasaan suka berjalan mondar-mandir sana sini untuk membaca.


"Memangnya bisa konsentrasi kalau membaca sambil berjalan begitu?!" Teo heran.


"Aku sering melihat Cain begitu ...." kata Tom tidak heran lagi.


"Kalau Cain sih ... aku sudah melihat semua tingkah lakunya yang aneh kalau membaca, memang tidak mengherankan tapi kupikir hanya dia saja satu-satunya yang begitu ...." kata Teo.


"Tidak lama lagi, kita harus minum ramuan baru ... kalau tidak kita bisa terlihat!" kata Tan mengingatkan.


"Aku sudah pasang alarm! aw!" kata Tom yang dilempar batu oleh Teo untungnya Pak Egan tidak melihat batu melayang dengan sendirinya itu.


"Kau memasang alarm?! kau mau ketahuan kalau kita disini?!" kata Teo yang mengingatkan kalau suara gadget akan terdengar kecuali suara mereka sendiri.


"Dalam mode diam, tahu!" kata Tom sebal.


"Alarm dalam mode diam?! apa-apaan?! aku baru tahu kalau ada orang aneh sepertimu! kalau begitu jangan disebut alarm dong!" kata Teo.


"Hanya pemberitahuan kalau begitu!" kata Tom menyerah.


"Kau mau kemana?!" teriak Teo melihat Tan keluar tenda dengan susah payah agar tidak ketahuan oleh Pak Egan.


"Aku merasakan sesuatu ...." kata Tan.


"Apa?! kau sering sekali bilang begitu belakangan ini ... seperti punya kekuatan yang dimiliki Cain saja." kata Teo.


"Tapi semua yang dirasakannya benar!" kata Tom mulai bangun membantu Tan.


Tan mulai berlari masuk ke dalam hutan, "Tunggu!" teriak Teo yang belakangan bergerak.


"Kenapa berhenti?!" tanya Teo setelah daritadi berlari tapi Tan dan Tom di depannya tiba-tiba berhenti. Teo maju ke tengah-tengah mereka dengan memisahkan Tan dan Tom kesamping, "Hahh!" Teo langsung terjatuh kebelakang karena kaget.


Begitu banyak kepala muncul di sebuah lubang yang sebenarnya adalah gerbang. Hanya saja bentuknya unik, tidak seperti pintu gerbang yang biasanya dilihat oleh mereka.


Semua yang ada di dalam gerbang itu tidak jadi keluar dan kembali memasukkan kepalanya dan gerbang seperti lubang kelinci itu menghilang.


"Mau kemana kalian?!" teriak Tan langsung memunculkan Gerbang Alvaudennya dan masuk untuk mengikuti orang tadi.


"Kau mau meninggalkan yang disini?!" Tom menahan Tan.


"Pergilah ...." kata Felix yang muncul dari belakang mereka, "Biar aku yang berjaga disini! kalian kejar saja mereka."


"Sungguh?! tidak apa-apa kau sendirian disini?!" tanya Teo.


"Kalau begitu biar aku yang tinggal, kalian berdua saja yang pergi!" kata Tom.


"Tidak, kalian semua pergilah ...." kata Felix.


"Kalau begitu, kami akan mencari tahu siapa mereka tadi!" kata Tan sudah masuk ke dalam gerbangnya.


"Ada apa kau melepas mereka pergi?! sudah jelas kalau yang tadi itu bukanlah orang jahat." kata Iriana.


"Aku membiarkan mereka untuk bersantai sejenak. Di Mundebris, sisi lain dari sini kan ... kota yang sangat menyenangkan." kata Felix.


...-BERSAMBUNG-...