
"Menurutmu aku akan membiarkannya tinggal disini jika tidak mengetahui hal itu?! mana mungkin aku mau membahayakan orang-orang yang ada disini termasuk kalian juga yang tinggal disini ...." kata Felix.
"Tapi kau kan bisa menggunakan segala cara untuk memaksa mereka tidak melakukan hal nekat jika memang mereka melampaui batas ...." kata Tom.
"Kuakui aku memang butuh mereka. Kau puas sekarang?!" kata Felix.
"Kalau begitu ... kami bisa ...." tidak selesai kalimat Tom langsung dihentikan oleh Felix.
"Tidak!" kata Felix tegas sudah tahu betul apa yang dimaksud Tom.
Semua siswa(i) sekelas Felix dan Tom saat ini berada di luar kelas karena pemasangan papan tulis masih sementara dalam pengerjaan dan prosesnya sangat berisik.
"Bukankah kau mempercayai mereka?!" tanya Tom.
"Bukannya aku sepenuhnya mempercayai mereka. Tapi karena mereka ada dalam pengawasanku. Saat Osvald dan Demelza dibawa di dunia pikiran nanti aku akan mengawasi mereka juga agar tidak melewati batas." jawab Felix.
"Kalau begitu, kau bisa mengawasi kami juga ...." kata Tom masih berusaha membujuk Felix.
"Dunia pikiran adalah dunia Zewhit sepenuhnya, aku yang belum menjadi Caelvita resmi belum tentu bisa mengendalikan Zewhit sepenuhnya. Dan yang paling penting kalian ini Alvauden, kedua Zewhit itu bisa saja tertarik dengan kalian dan melakukan hal diluar batas. Kau bisa menjadi Meinimeirav, Setengah Manusia dan Setengah Hantu. Itu adalah kehidupan yang sangat buruk! kalau kau mau, mati saja dulu sehingga setidaknya kau bisa menjadi Amantasia. Lebih baik begitu daripada menjalani kehidupan buruk seperti itu!" kata Felix dengan mengomel.
"Kudengar Alvauden Iriana ada yang begitu ... dan bisa sangat membantu!" kata Tom.
"Kau tidak tahu betapa buruknya kehidupan seperti itu! kau lama kelamaan akan terikat dengan Bemfapirav. Dave sekarang tidak diketahui dimana keberadaannya. Bisa saja dia sudah menjadi hantu sepenuhnya atau sudah terkurung dalam Memorisepirav nya sendiri tanpa ia sadari karena bukan hantu sepenuhnya yang bisa mengendalikan Memorisepirav seperti hantu pada umumnya." kata Felix.
"Wah ...." kata Tom dengan ekspresi melongo, "Sempat kukira kau adalah rapper, kau berbicara tanpa henti."
"Jangan coba-coba melakukan tindakan bodoh atau aku bisa saja membuang peluangku dengan membunuh mereka saja." kata Felix.
"Tapi, apa menurutmu kami tudak perlu latihan itu ... bagaimanapun juga nanti yang akan dilawan adalah pasukan hantu Efrain." kata Tom masih belum menyerah.
"Aku sudah punya cara untuk itu, jadi kau tidak usah khawatir! tapi sampai aku beritahu caranya, kalian tidak boleh memasuki dunia pikiran!" kata Felix.
"Hahh ... aku menyerah!" kata Tom menghela napas panjang.
"Jangan membuatku melakukan hal yang akan aku sesali! mereka itu level 540 untuk dunia pikiran. Akan sangat berguna saat melawan pasukan Efrain tapi lebih baik aku membunuhnya jika kalian dalam bahaya karena mereka." kata Felix.
"Aku sudah bilang aku menyerah ...." kata Tom dengan sebal.
"Makanya jangan berpikiran yang aneh-aneh!" kata Felix yang kemudian memasuki kelas setelah yang memperbaiki papan tulis tadi sudah keluar dari kelas. Pelajaran dimulai kembali walau dengan terlambat karena jika dibiarkan lama, papan tulis itu bisa saja rusak atau membahayakan jika tidak cepat diperbaiki.
Senja mulai datang dengan sinar jingga yang memasuki dinding kelas yang terbuat dari kaca transparan itu, "Warna yang indah ...." kata Tom.
"Warna yang menandakan untuk iblis bisa datang dengan bebas sekarang ...." kata Felix merusak suasana.
Kalung Tom memunculkan warna putih abu-abu dengan munculnya juga Zewhit Kurcaci tepat ditengah mejanya. Zewhit Kurcaci yang datang menyapa Tom saat sore tiba. Tapi itu tidak membuat Tom takut lagi dan hanya terus menulis tanpa menghiraukan ekspresi dari Zewhit Kurcaci yang menyeramkan itu.
Felix memukul mejanya dengan keras membuat Zewhit Kurcaci itu berlari pergi. Tapi memberikannya masalah lain, "Ada apa Felix?!" tanya Pak Egan.
"Maaf pak, saya mengantuk!" kata Felix.
"Bukan begitu cara mengobati kantuk! cuci muka sana!" kata Pak Egan.
"Ada apa? kau mau ikut juga Tom?!" tanya Pak Egan.
"Tidak, pak!" sahut Tom kaget.
***
Makan malam di ruang makan sekolah tampak berbeda karena sudah mau musim ujian jadi jumlah buku yang dibawa saat makan lebih banyak lagi daripada sebelumnya. Semuanya tampak seperti berlomba-lomba memamerkan berapa banyak buku yang dibawa tapi sebenarnya mereka sama sekali tidak pamer tapi memang melakukan hal yang sudah wajar menjadi pemandangan di Gallagher.
Felix memperhatikan Demelza yang tidak mengeluarkan rasa takut sama sekali. Bahkan anak yang lainnya juga sudah sangat berkurang dibanding sebelumnya.
"Sepertinya rumor itu sangat menguntungkan ... memberikan keberanian." kata Tan.
"Itu tidak apa-apa kan, Felix?" tanya Teo.
"Tentu saja! mungkin bisa menahan soal gangguan kecil tapi tidak mungkin menahan saat gangguan tahap akhir dimulai." jawab Felix.
"Kau menjawab terdengar tidak ada rasa kasihan sama sekali ... dan jelas-jelas kau memihak hantu itu." kata Tan.
"Lagipula dia bukannya akan mati juga ... kalau mau mengasihani, kasihani orang-orang yang saat ini akan menjadi korban di titik gerbang neraka lainnya. Jadi, bagaimana kalian sudah mendapatkan kabar dari Kayle? bagaimana soal rencananya kedepan?" kata Felix.
"Belum ada kabar sama sekali." kata Tom.
"Dia lebih lambat dari yang kukira ... cepat makan dan kita berangkat Tan!" kata Felix sudah menghabiskan makanannya dan berdiri hendak membawa nampan makanannya.
Tan jadi panik karena makanannya masih sisa banyak, "Sejak kapan dia menghabiskan makanannya?! lama-lama Felix jadi makan seperti tentara saja! kau bisa sakit perut kalau makan seperti itu!" teriak Tan diakhir kalimatnya.
"Kau yakin, sudah siap menjaga Zewhit Badut? atau kau mau Zewhit Kurcaci saja?!" tanya Tom pada Teo.
"Pilihan apa itu?! seperti disuruh memilih coca-cola atau sprite ... yang pada dasarnya soda juga." kata Teo.
"Dia tidaklah semenakutkan itu, saat pagi nanti kau malah sudah bosan ...." kata Tan.
"Entahlah, tapi diantara kita bertiga akulah yang paling penakut ...." kata Teo tidak percaya diri.
"Kita akan berjaga berdua, tidak usah mengawasi secara terpisah. Lagipula dari pengalaman kemarin malam jika mengikuti mereka terus akan sangat melelahkan. Lebih baik kita berjaga di atas atap sekolah saja melihat apa ada anak buah Efrain yang datang atau tidak." kata Tom.
"Ya, lebih baik begitu. Tidak perlu mengikuti dan melihat semua tingkah konyol hantu itu. Bisa bikin stres, lagipula jika kita larang mereka juga tidak mendengarkan. Jadi tidak ada gunanya ... cukup melindungi mereka saja untuk tidak ditangkap. Biarkan saja mereka menakut-nakuti sepuasnya! anak-anak juga sudah mulai tidak takut lagi karena rumor itu ...." kata Tan.
"Kalian jadi terdengar seperti pakar hantu saja ...." kata Teo.
"Kau tidak usah merasakan apa yang kami rasakan kemarin. Pengalaman kemarin benar-benar sebuah pelajaran berharga. Awalnya memang menakutkan dan terus membuat jantung berdegup kencang tapi setidaknya ada rasa menantangnya juga tapi setelah lama kelamaan akan membuat muak." kata Tom.
Zewhit Badut melompat naik ke atas meja Tiga Kembar dan menari-nari di atas makanan mereka.
"Aku sudah kenyang!" kata Tan sebal.
...-BERSAMBUNG-...