UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.470 - Akhir Pertunjukan Tim Dunia Zewhit



"Kalian tahu kan namaku siapa?!" Felix mulai mengeluarkan kalimat pertamanya.


Tan, Teo dan Tom gelisah dengan apa yang direncanakan Felix untuk dikatakan. Tanpa konsep, Felix sepertinya hanya akan mengatakan sesuatu secara spontan.


"Tentu saja!" sahut Penonton.


"Benarkah?!" Felix kembali bertanya.


"Kau Felix, mana ada yang tidak tahu namamu." kata Penonton.


"Begitu ya?! kukira kalian tidak tahu karena selama ini ... kalian hanya terus memanggil dan menyebutku Pembawa sial. Tidak kusangka kalian tahu namaku juga rupanya." kata Felix menohok.


"Sepertinya aku tidak bisa menceritakan diriku sendiri seperti Teo, Osvald dan Demelza karena sepertinya kalian lebih tahu banyak tentang aku dibanding aku sendiri. Aku juga tidak bisa seperti Tom dan Tan yang menceritakan soal pelajaran dan pendidikan karena kalian juga tidak terlalu percaya, bahkan dengan aku yang peringkat satu. Semua ucapan kalian tentangku, jika dijadikan buku pasti sudah menjadi buku dengan ribuan halaman. Karena kalian adalah biografi hidup berjalanku." perkataan Felix terlalu terkesan menyerang, Pak Egan hendak menghentikan tapi masih tetap ditahan.


"Felix ...." Tan berbisik.


"Biarkan saja." kata Tom.


"Pernah tidak kalian berusaha menanyakannya padaku?! pernahkah kalian mencoba mencari jawaban dibanding harus menyimpulkan sendiri dan main hakim sendiri tanpa ada bukti. Aku memaklumi selama ini karena kalian masih tergolong anak-anak tapi meski begitu, aku yang juga masih anak-anak apa tidak terluka?! lucu kan?! aku memaklumi kalian tapi kalian tidak. Selanjutnya ... aku tidak akan memaklumi lagi, karena memasuki SMP ... kalian sudah remaja. Sudah seharusnya kalian tahu mana yang baik dan mana yang benar." akhir kata dari Felix yang membuat suasana jadi suram.


"Tahu begini, seharusnya bukan dia yang terakhir ...." kata Teo.


"Kukira dia akan mengatakan sesuatu yang hebat ...." kata Tan agak sedikit kecewa.


"Yang dikatakannya bukan soal diri sendiri, bukan soal pendidikan tapi soal teman-teman. Felix mencoba menyadarkan kalau kita ini sudah akan melepas masa kanak-kanak dan memasuki masa remaja." kata Tom.


"Entahlah ... sepertinya hanya kau yang mengerti maksud itu." kata Teo heran dengan cara berpikit Tom yang sama sekali tidak sejalan dengan dirinya.


Kelompok pertama selesai melakukan pertunjukan dan juga selesai menyampaikan surat kesan selama di sekolah dasar. Mereka turun ke belakang panggung untuk mengganti pakaian menjadi pakaian biasa dan merapikan properti kemudian menuju tempat duduk penonton.


"Kalau kalian menyukai pertunjukan dari kelompok penampil pertama, silahkan berikan vote dengan menggunakan akun kalian di website sekolah. Dihalaman depan sudah tersedia banner untuk pertunjukan ini. Kalian tinggal klik banner itu kemudian bisa voting kelompok yang kalian suka disana. Untuk kalian ingat, hanya bisa voting sekali saja. Kelas lain juga bisa ikut voting karena pertunjukan kalian disiarkan langsung di SNS sekolah. Jadi, kalian bisa melakukan promosi agar kelas lain bisa memberi vote pada kalian!" kata Pak Egan yang membuat Teo dan Demelza sibuk sendiri sekarang karena mencari ide untuk promosi.


Kelompok Dunia Zewhit itu tidak langsung duduk untuk menonton pertunjukan tapi ke dalam tenda untuk menyiapkan video pendek. Teo dan Demelza menyusun konsep, Tom menyiapkan kamera handphone dan mencoba segala filter, Tan dan Osvald kembali ke belakang panggung untuk mengambil properti. Felix hanya duduk di depan tenda tanpa ikut campur dengan apa yang mereka lakukan.


"Pertama, kita gunakan Felix! dia harus muncul bagian pertama ...." kata Demelza.


"Bukankah itu ide yang buruk?! kau tidak lihat bagaimana reaksi anak-anak tadi?! kelas lain juga sama ... walau tidak ikut mendengarkan soal surat Felix tapi pasti menonton bagaimana pertunjukan. Walau tidak menonton pertunjukan kalau melihat keberadaan Felix bisa jadi itu akan merugikan kelompok kita." kata Teo.


"Aku tidak menargetkan untuk menang menjadi nomor satu." kata Demelza.


"Apa-apaan?!" Teo bingung karena perkataan dan tindakan Demelza yang tidak sejalan. Demelza terlihat begitu bersemangat tapi mengatakan hal barusan tentu saja membuat Teo heran.


"Aku menargetkan jumlah pemutaran terbanyak di SNS sekolah. Dengan jumlah pemutaran dan suka terbanyak akan menjadi juara terpopuler. Dibanding hanya menang di sekolah, aku lebih suka menang dengan skala yang lebih besar dan luas. Dengan dukungan dari luar sekolah." kata Demelza menyeringai.


"Lalu apa maksudmu dengan menggunakan Felix?!" tanya Teo.


"Kau tidak tahu?!" Demelza balik bertanya.


"Tahu apa?!" tanya Teo.


Tom yang mendengar itu tiba-tiba menjatuhkan handphone tanpa sengaja. Tan dan Osvald yang baru datang memasuki tenda juga menjatuhkan properti mendengar itu.


"Felix mungkin tidak disukai di sekolah tapi di luar sekolah tidak ada yang tahu Felix." kata Demelza.


"Aku tidak menyangka kau mengatakan itu." kata Tom tertawa.


"Apa tidak aneh bagimu mengatakan itu?! Ini mungkin pertama kalinya kau memuji Felix yang selama ini selalu kau jelek-jelekkan." kata Osvald.


"Pokoknya kita akan menggunakan Felix untuk menarik perhatian penonton di luar sekolah. Cover video harus dengan wajah Felix dan awal video harus dengan Felix." kata Demelza.


"Karena terlalu tiba-tiba aku jadi tidak tahu harus merespon bagaiamana ...." kata Tan tertawa tidak habis pikir bagaimana rencana Demelza menggunakan Felix sebagai metode penarik perhatian untuk promosi.


Video pendek yang mereka rekam hanya sederhana saja. Dengan meminta para penonton dari kelas lain untuk vote di website sekolah menggunakan akun masing-masing. Sementara untuk di luar sekolah dimintai untuk klik suka dan komentar dipostingan video pendek yang akan dibagikan di akun SNS sekolah itu.


Mertie yang dipercayakan memegang dan mengelola sementara akun SNS sekolah selama acara perkemahan. Jadi rekaman video diberikan pada Mertie untuk dibagikan. Setelah itu, mereka bisa dengan tenang duduk di depan panggung untuk menonton pertunjukan. Pakaian dan properti kelompoknya juga sudah ditepikan agar antrian nomor dua bisa mengatur pakaian dan properti untuk bersiap melakukan pertunjukan.


"Kalian punya SNS?" tanya Demelza.


"Tidak!" sahut Tiga Kembar dan Osvald bersamaan.


"Kau ...." Demelza ingin bertanya pada Felix tapi diurungkan, "Sudah pasti kau tidak ada." sambung Demelza dengan tatapan datar, "Jadi hanya aku yang punya akun sosial media ... kalian sama sekali tidak membantu."


"Kita baru 13 tahun, belum boleh menggunakan sosial media. Kau tidak tahu ya?! kerasnya dunia maya?! setidaknya harus dewasa dulu untuk menggunakan sosial media!" kata Tom.


"Jangan berbicara seperti orangtua saja!" kata Demelza.


"Benar yang dikatakan Tom, lebih baik kau juga menghapus akun sosial mediamu Demelza atau kunci dulu sampai kau cukup umur untuk menggunakannya." kata Tan.


"Lalu siapa yang mempromosikan kelompok kita?! dasar! kalau tidak mau membantu sama sekali, setidanya perlihatkan niatmu membantu ...." kata Demelza.


"Apa aku buat sekarang?!" tanya Teo.


"Memangnya kalau kau buat sekarang akan langsung punya teman banyak?! kau pikir mengelola sosial media semudah itu?!" kata Demelza.


"Tadi kau sendiri yang bilang ... jadi aku hanya memperlihatkan niat untuk membantu." kata Teo menggoyangkan bahunya.


"Menyebalkan! Itu bukann namanya membantu ...." kata Demelza.


Sementara Osvald sibuk dengan handphonenya, "Aku sudah menyebarkan video pendek kita ke grup futsal adik kelas dan kakak kelas."


"Ini baru yang namanya membantu." kata Demelza memuji Osvald.


"Kalau ada Cain, kita bisa menang tanpa harus berusaha. Bahkan guru juga akan ikut membantu pastinya." kata Osvald.


...-BERSAMBUNG-...