UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.265 - 4 vs 1



Felix dan Tom terpaksa harus kembali padahal baru saja sampai di tempat terakhir Teo dan Felix mencari kemarin.


"Ceritakan saja langsung! kalau memang itu penting, kan kami bisa mengetahuinya lebih cepat dan langsung bertindak saat sampai ...." kata Tom.


"Masalahnya aku tidak tahu harus mulai dari mana ...." kata Teo.


"Baiklah ...." kata Tom menyerah.


"Tunggu, Teo! aku segera kembali ...." kata Tan yang suaranya seperti sedang berlari.


Duarte kaget karena Felix dan Tom begitu cepat keluar, "Ada apa? apa ada yang terjadi? jangan bilang ... sudah selesai?!"


"Jangan bercanda! mana mungkin sudah selesai ...." kata Felix.


"Lalu ...." Duarte bingung.


"Aku harus kembali ... sepertinya hari ini harus selesai sampai disini saja dulu." kata Felix.


"Sampai mana? bahkan kita belum memulai sama sekali!" kata Tom.


"Bisa tidak ... sekali saja kau tidak membantah perkataanku dan hanya mengiyakan?!" kata Felix sebal.


"Em ... tidak bisa!" Tom menggeleng.


Duarte akhirnya membawa mereka kembali, seperti biasa tidak terlalu dekat dari sekolah untuk mendarat karena Kastil Perkumpulan Iblis.


"Bagaimana bisa Tuan Muda tinggal disini? apa Tuan Muda bisa tidur nyenyak?" tanya Duarte mengingat disini adalah tempat dibantainya Perkumpulan Setengah Sanguiber.


"Memang masih dipenuhi oleh aura dendam ...." kata Felix.


"Tentu saja, Tuan Muda ... butuh waktu lama untuk aura dendam menghilang. Bahkan jika aura yang lain sudah melemah, aura dendam akan bertahan sangat lama." jawab Duarte.


"Banyak juga anak-anak yang sering bercerita terus bermimpi buruk kalau bermalam di asrama jadi banyak anak-anak kembali ke rumah, hanya datang kalau ada kelas atau kegiatan yang sangat pagi barulah mereka ke asrama menginap ...." kata Tom.


"Kalau awal-awal begini masih aura dendam tapi kalau sudah lama nanti ... lebih merepotkan lagi, karena aura menyeramkan yang membuat bulu kuduk merinding. Sekolah akan menjadi tempat menyeramkan yang memancarkan aura buruk yang menarik banyak Malexpir mengira sekolah adalah gedung tua yang tidak dipakai padahal merupakan sekolah. Tidak bisa kubayangkan bagaimana sekolah nantinya ...." kata Felix.


"Tentunya akan banyak cerita horor dan banyak anak-anak yang diganggu oleh Zewhit ...." kata Tom.


Tan sudah sampai duluan menemui Teo yang menyuruh mereka semua kembali ke Mundclariss. Tan keluar dari Mundebris untuk memilih memakai YTE agar bisa cepat sampai.


"Kalian dimana?" tanya Tom.


"Mereka ada di samping gedung SMA!" jawab Felix yang melihat dua aura Alvauden yang bersinar terang.


"Ow ... aku mulai merasakan mereka!" kata Tom.


"Kau sudah mulai merasakan aura? ooow hebat juga Tom!" kata Felix memukul punggung Tom.


"Hanya mulai terasa kalau dekat begini ... jangan berlebihan!daripada memujiku, kau tidak khawatir apa yang akan disampaikan Teo?" tanya Tom melihat wajah Felix yang santai.


"Manusia biasa seharusnya tidak bisa merasakan aura tapi kau sendiri sudah bukan lagi bisa dikatakan manusia biasa sih ... dan rasanya aku mulai tahu apa ... jadi aku sudah menebak apa yang terjadi." jawab Felix.


"Aku hanya bisa merasakan aura Alvauden ... tidak lebih! apa maksudmu yang kau sudah menebak?" kata Tom.


"Selain aura Alvauden, ada aura manusia yang sangat familiar!" kata Felix.


"Ah, jadi begitu ... sepertinya aku juga sudah mulai tahu apa." kata Tom.


"Kalian lama sekali!" sapa Teo.


"Ck, kukira juga ada sesuatu yang darurat ...." kata Tom berdecak kesal.


"Ini darurat tahu!" kata Mertie.


"Ya ... ya!" Tom dengan nada malas, "Seharusnya kau bisa menjelaskannya hanya lewat jaringan Alvauden jadi kami bisa terus mencari ...." sambungnya lewat pikiran pada Tan, Teo dan Felix.


"Sudah kubilang aku tidak tahu mau mulai darimana mengatakannya ...." Teo protes.


"Kau sudah membaca pikiran Mertie?" tanya Tan lewat pikiran.


"Ya ... tinggal kalian jelaskan pada Tom!" jawab Felix menutup matanya.


"Jangan tidur! dengarkan penjelasanku dulu!" kata Mertie heboh.


"Aku dengar kok ...." kata Felix.


"Awas saja kalau kau meminta untuk diulang!" kata Mertie.


"Jadi ada apa? kau menemukan buktinya?" tanya Tom.


"Tentu saja." sahut Mertie begitu bangga pada dirinya sendiri.


"Jadi bagaimana ... ceritakan!" kata Tom.


"Kau sudah menceritakannya dua kali, kau tidak lelah?" tanya Teo karena tadi Mertie sudah menjelaskan pada Teo kemudian Tan yang baru datang, lalu Tom dan Felix yang datang belakangan.


"Tidak lelah! tidak bosan sama sekali!" kata Mertie.


Tom memutar bola matanya malas dan tanpa sengaja bertatapan dengan Felix. Mereka berdua hampir tertawa tapi ditahan karena bisa jadi Mertie murka.


"Aku sudah menghack informasi psikiater yang memeriksa 8 pelaku pembunuhan yang lupa ingatan itu, dan ...." Mertie begitu bersemangat menjelaskan.


"Dan kau menemukan bahwa mereka normal saja kan?!" kata Tom memotong perkataan Mertie.


"Kau! jangan memotong perkataanku ... membuat mood ku jadi jelek saja!" kata Mertie sebal.


"Ah, sorry!" Tom minta maaf tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Bukan hanya normal saja, tapi ingatan mereka hanya mulai dari berjalan untuk pulang dan tersadar ketika sudah jauh dari lokasi kejadian ... tersadar dengan tangan sudah berlumuran darah ...." kata Mertie.


"Jadi?" Tom tidak lelah menjahili Mertie.


"Jadi ... hahh ... dengarkan baik-baik sampai aku selesai! jangan berbicara sampai aku persilahkan! jadi ... aku menonton video saat mereka diwawancarai oleh psikiater, untungnya psikiater itu mengirim video pada teman kuliahnya di luar negeri untuk konsultasi makanya aku bisa mendapatkan banyak informasi ...." Mertie menyombongkan dirinya sendiri, "Menurut percakapan mereka, pelaku mengaku sebelum ingatannya hilang itu ada yang menepuk bahunya dan mengajaknya berbicara tapi pelaku tidak melihat siapa yang melakukan itu ... semua pelaku akhirnya di hipnosis untuk melihat dengan jelas siapa yang melakukan itu tapi wajah yang melakukan itu tidak bisa dilihat ...." kata Mertie berhenti berbicara.


"Terus ...." kata Tom.


"Wajah yang memerintahkan itu tidak bisa dilihat, berarti ini ada kaitannya dengan kalian ...." kata Mertie melanjutkan setelah menunggu untuk mendapat respon dari Tom tapi ternyata Tom biasa saja.


"Ingatan bisa dimodifikasi, bukannya wajah yang memerintah itu tidak bisa dilihat tapi dia sudah menanamkan sendiri pikiran bahwa dia tidak bisa melihat yang memerintah itu ...." kata Tom.


"Bukankah kau sudah berjanji kalau mendapatkan bukti, walaupun itu kecil tapi jika menyangkut soal dunia perdukunan kalian akan membantuku ...." kata Mertie.


"Lagi ... lagi perdukunan! bukankah sudah kubilang kami ini bukan dukun!" Tom kesal bukan main.


"Baiklah, aku setuju ...." kata Tan.


"Tan!" Tom menegur.


"Kita bersyukur kalau ini hanya tindakan hipnotis biasa tapi kalau memang ada kaitannya dengan dunia yang ...." Tan berhenti sejenak karena hampir keceplosan mengatakan perdukunan juga, "Setidaknya Mertie sudah melakukan yang terbaik untuk mendapatkan bukti ini, bukankah kita harus menghargai kerja kerasnya!"


"Ini hanyalah metode hipnotis sederhana, apa yang kau harapkan?" kata Tom.


"Memang metode hipnotis yang sederhana tapi kejahatannya bukanlah sederhana. Kita sudah sering mendengar pelaku penghipnotis mencuri uang tapi memangnya kalian pernah dengar pelaku menghipnotis seseorang untuk membunuh?" kata Teo.


"Bagaimana menurutmu Felix? sekarang 2 lawan 1 ...." kata Tom meminta pendapat Felix.


"3 lawan 1 tahu! kau tidak menghitungku?!" kata Mertie.


"Sebenarnya dari awal sudah 4 lawan 1!" kata Felix.


"Hahh?! jadi kau memihakku?" tanya Mertie dengan wajah senang yang tidak bisa ditutupi.


...-BERSAMBUNG-...