
Suara ketukan pintu yang terdengar lebih mirip seperti gebukan, "Apa-apaan kalian?! mau merusak pintu kamarku?! tunggu ... bagaiamana kalian bisa masuk ke asrama perempuan?" kata Mertie.
"Kami hanya bilang mau bertemu dengan Ketua Tim Pelatihan Osis dan langsung dibiarkan lewat ...." kata Teo.
"Hahh ...." Mertie menghela napas panjang.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Tom.
"Sudah kubilang hanya untuk anak kelas tiga saja yang bisa menemuiku, kakak penjaga asrama itu benar-benar tidak bisa diandalkan. Kenapa tidak bisa membedakan mana yang kelas 3 dan mana yang kelas 6?!" kata Mertie masih mengeluh.
"Jadi, sudah kau temukan atau belum?!" teriak Tom kesal.
"Sudah!" balas Mertie dengan menutup pintu kamarnya dengan keras. Bahkan tangan Teo hampir terjepit jika tidak cepat ditarik.
"Hampir saja ...." kata Teo mencium tangannya yang berharga.
Pintu kamar Mertie terbuka sedikit dan langsung beberapa benda melayang keluar mengenai Tiga Kembar. Alat komunikasi dan juga informasi tentang 16 orang hilang itu.
Tiga Kembar hanya langsung mengambil itu dan buru-buru pergi. Teo memutar arah balik berlari ke depan kamar Mertie dan menendang keras pintu kamar Mertie itu dan berlari kembali bergabung dengan Tan dan Tom. Mertie yang keluar memeriksa siapa yang menendang itu sudah tidak menemukan siapa-siapa, "Menyebalkan!" keluh Mertie kembali menutup pintu kamarnya.
Walau mereka saling mengeluh tapi tetap saja mereka bekerjasama dengan baik. Tiga Kembar mulai memasang alat komunikasi di telinganya dan mendengar penjelasan Mertie sambil sudah berjalan keluar sekolah secara diam-diam dengan arahan Mertie yang sedang mematikan kamera cctv, lampu dan sensor gerak. Sehingga Tiga Kembar dapat keluar dari sekolah tanpa harus memasuki Bemfapirav yang akan memakan waktu lagi.
"Jadi, Felix mencari mereka dengan apa?!" tanya Mertie meragukan Felix yang sedang mencari sendirian tanpa bantuannya.
"Felix tahu apa yang dilakukannya!" kata Tom.
"Bukannya hanya berkeliaran tidak jelas mencari iblis?!" kata Mertie.
"Felix punya sesuatu yang tidak kita miliki ...." kata Tan.
"Aku akan tertawa keras kalau saat kalian sampai disana Felix tidak ada." kata Mertie begitu percaya diri.
Tan, Teo dan Tom sampai di tempat yang dimaksud Mertie. Taman hiburan yang berada di pusat kota Pippa.
"Tempat yang besar dan sangat luas ...." kata Tan lesuh.
"Mereka bisa dimana saja ...." kata Teo memaksakan tertawa.
"Tempat yang sangat cocok untuk membuat pusing pencari tapi membuat senang yang dicari. Kalau main petak umpet disini bisa memakan waktu bertahun-tahun lamanya ...." kata Tom agak berlebihan.
"Aku sudah melacak keberadaan nomor handphone yang diberikan Tsabitah, sekitar 40 menit yang lalu nomor itu terdeteksi ada ditempat itu. Aku juga memeriksa rekening dari 16 orang itu dan ada satu yang memakai mesin atm dekat dari situ juga." kata Mertie.
"15 orang terekam cctv masuk kesini!" kata Kayle yang tiba-tiba datang dari belakang Tiga Kembar.
"Aku juga sudah menghubunginya!" kata Mertie.
"Jadi ... anak-anak! apa kalian mau bermain?!" tanya Kayle ceria.
"Dia terlihat seperti joker!" bisik Teo.
"Aku akan menggunakan anak-anak ini untuk menyamar masuk ke dalam." kata Kayle berbicara dengan alat komunikasinya.
Tiga Kembar yang mendengar itu hanya langsung dalam mode akting. Berpura-pura menjadi anak polos usia 13 tahun.
"Kalian membawa ramuannya kan?" tanya Kayle mematikan alat komunikasinya.
"Ya!" sahut Tan melihat banyak Agen Y.B.I di dalam taman hiburan yang terlihat sangat kentara dengan penyamarannya.
"Mereka buruk sekali dalam menyamar! kenapa tidak sekalian memakai kaos dengan tulisan 'aku ini Agen Y.B.I, aku kesini untuk menangkapmu!' lucu sekali ...." kata Teo.
"Aku akui, mereka memang buruk!" kata Kayle.
"Sepertinya aku mau membeli ice cream!" kata Tom menuju arah utara.
"Aku mau naik komidi putar!" kata Tan menuju arah selatan.
"Aku mau beli hotdog!" kata Teo menuju arah barat.
Melihat itu, Kayle otomatis mengerti dan berjalan ke arah timur. Masing-masing mereka dengan cermat memperhatikan sat per satu orang yang ada disana.
"Warna kalungku menghilang." kata Tan yang sudah membayar untuk naik komidi putar tapi sepertinya tidak jadi.
"Aku juga!" Tom akhirnya keluar dari antrian yang akan membeli ice cream.
"Aku masih!" Teo sudah memesan hotdognya dan tinggal menunggu disiapkan. Tan dan Tom segera menuju tempat Teo berada.
"Ini dik!" kata Penjual hotdog itu menyerahkan dua hotdog pesanan Teo.
Teo meraih dua pesanannya itu dengan masih sibuk memperhatikan sekitar dan tak sengaja menyentuh tangan penjual itu. Kalung yang dipakai Teo itu langsung menunjukkan warna yang membuatnya menjatuhkan hotdog kesukaannya itu.
"Kalung yang bagus, dik!" kata Penjual itu menyeringai.
"Kau ... kau!" Teo panik melihat warna kalungnya yang berwarna jingga, "Tan! Tom! disini ...." kata Teo berusaha untuk tidak berteriak.
"Tetap tenang!" kata Tan yang baru datang langsung memegang bahu Teo.
Tiga Kembar melihat sekeliling dan mendapatkan orang-orang yang berada di foto informasi dari Kayle. Dengan memakai penyamaran tentunya, tapi karena melihat Teo yang bersikap aneh dengan penjual hotdog itu maka semuanya jadi tidak bersikap wajar dan memandangi Teo semua.
Tan mulai menghitung, "15! sisa 1 yang tidak ada ... kita ada ditengah-tengah mereka ternyata."
"Sudah boleh panik kah?!" tanya Teo.
Kayle datang setelah melihat dari kejauhan mereka bertiga berdiri berdekatan dalam posisi siaga di tengah jalan.
"Ada apa?!" tanya Kayle, "Ah, ow! kalian menemukannya!" Kayle mulai melihat wajah yang tidak asing dengan penyamaran yang sangat kentara dibuat-buat itu.
"Kemana satu orang lagi?!" Tom panik.
"Perhatian untuk semua agen! 15 target sedang menyamar sebagai penjual makanan ringan di depan komidi putar!" kata Kayle.
Setidaknya karena ada Kayle, Tiga Kembar bisa sedikit tenang.
"Bagaimana kita meminumkan ini pada mereka?" tanya Teo yang diberikan botol ramuan oleh Tan yang sedang membagi-bagikan botol ramuan pada mereka dengan darah Felix di dalamnya.
Tan tidak sempat pergi untuk mengambil air dari Danau Ruleorum yang banyak disimpan oleh Banks. Jadi dia hanya menggunakan darah Felix yang masih tersisa dari malam itu.
"Kita tidak boleh gegabah, ini tempat umum! salah sedikit, semua yang ada disini bisa menjadi korban." kata Tom saat ada anak kecil yang berlari dengan ceria dihadapannya membawa balon.
"Jika menyuruh taman hiburan ini ditutup tiba-tiba, mereka pasti akan melakukan sesuatu. Kita tunggu saja dulu!" kata Kayle mulai mundur sedikit dan duduk di atas bangku dengan santai, "Standby!" kata Kayle pada alat komunikasinya.
Tiga Kembar akhirnya menaiki komidi putar dengan keringat dingin disaat anak lainnya dengan ceria menikmati. Ada Kayle yang menonton Tiga Kembar dengan tangan terus memegang senjatanya yang berada dibalik jaket. Ketegangan itu berlangsung lama, Tiga Kembar entah sudah berapa kali menaiki komidi putar itu.
"Kalian lagi?! kalian segitu sukanya yah naik permainan ini?!" kata Penjual tiket komidi putar.
Tan, Teo dan Tom hanya mengangguk dengan keringat dingin bercucuran, jantung berdebar kencang, tangan dan kaki gemetaran. Bagaimanapun juga malam berdarah di Desa Quinlan masih sangat jelas teringat dan melihat banyaknya orang di taman hiburan ini semakin membuat mereka terbebani.
"Taman hiburan ini bisa saja berubah menjadi taman berdarah dalam beberapa saat ...." kata Tom.
"Taman siksaan! bukan taman hiburan lagi!" kata Teo.
...-BERSAMBUNG-...