
"Tapi aku merasakan aura Ruleorum darinya ... meski tertutupi oleh aura Alvauden yang besar tapi aku tidaklah mungkin salah." kata Winn.
"Siapapun bisa melakukan kesalahan, Winn ... akui saja kali ini kau salah." kata Teo.
"Maaf saja ... tapi meskipun ini terdengar mustahil, tapi aku benar-benar merasakannya." kata Winn tidak mau mengalah.
"Hahh ... anggap saja begitu! aku juga tidak bisa menanyakan atau membahasnya dengan Tan karena dia pasti curiga bagaimana aku bisa tahu hal itu." kata Teo.
"Bilang saja kau membacanya di buku, kenapa kau sulit sekali mencari-cari alasan?! kau harus membiasakan dirimu sebagai pemilik Moshas, kau harus pintar berbohong dan membuat alasan agar kekuatanku tidak terungkap. Pemilik Moshas harus hebat dalam berbohong!" kata Winn.
"Lucu sekali kau mengatakan itu!" Teo dengan nada kesal, "Mereka sangat mengenalku dengan baik, tahu kalau aku ini jarang membaca buku. Kalau Tan sendiri tidak mengetahui hal itu sementara aku tahu. Bukankah itu sangat mencurigakan?!"
"Baiklah, terserah kau saja. Kukira akan sangat membantu kalau pemilikku adalah orang bodoh tapi nyatanya itu juga tidak membantu." kata Winn sudah malas berdebat tapi masih sempat menghina Teo.
Para Zewhit pemilik tangan yang menjadi sayap Teo masih terus berkonsentrasi. Benang yang menghubungkan antara Teo dan Zewhit, anehnya tidak pernah kusut walau Teo sudah kesana-kemari.
"Wah, bagaimana kau melakukan ini?! dan terlebih lagi yang paling mengherankan, bagaimana mereka melakukan ini?! bukankah kebanyakan dari mereka baru menjadi Zewhit, bagaimana bisa tahu soal melakukan ini." kata Tom.
"Ini mungkin yang disebut naluri Zewhit. Seperti sudah tahu saja apa yang harus dilakukan." kata Tan mengingat apa yang dibacanya di Buku Dasar Tentang Zewhit.
"Tetap saja ... aku masih tidak mengerti bagaimana. Lihat, Kelsey! bukankah sangat mengherankan teman satu sekolah kita yang selama ini tidak tahu apa-apa soal ini menjadi seperti ahli saja." kata Tom.
"Beberapa bulan yang lalu dia masih masih hidup. Kalau kau sangat penasaran, coba saja mati dan jadi Zewhit. Buktikan dan cari tahu sendiri!" kata Tan.
"Tidak lucu, Tan!" kata Tom sebal.
"Sepertinya ini terlalu cepat ...." kata Banks mendekati Felix.
"Tidak, semuanya berjalan sesuai apa yang kita rencanakan." kata Felix.
"Dia sedang terluka dan menyalurkan kekuatan secara tidak sadar. Dia bisa saja pingsan secara tiba-tiba." kata Banks.
"Tidak apa-apa Banks ...." Felix dengan tegas untuk menurunkan kekhawatiran Banks.
"Maaf, Yang Mulia ... hanya saja ... saya khawatir sesuatu yang tidak terduga merusak rencana." kata Banks.
"Aku juga khawatir, tapi percayalah! semuanya akan berjalan sesuai rencana." kata Felix hendak kembali dalam pertempuran tapi tidak sengaja melirik Banks, "Aku tahu maksud dari tatapanmu itu ... kau sedang kesal denganku?!" Felix menghentikan langkahnya.
"Tidak ...." Banks mendahului Felix berjalan didepan.
Felix mendengus kasar, tidak habis pikir Banks sedang kesal dengannya. Wajar saja jika Banks seperti itu karena hal yang tidak terduga seperti saat Felix hanya terdiam mematung melihat keluarga di panti sebelumnya. Kemudian setelah melakukan hal yang diluar rencana itu. Felix sendiri tanpa tahu malu mengatakan semuanya baik-baik saja dan sesuai dengan rencana.
"Aku tidak mau kehilangan murid berbakatku ...." kata Banks masih ngambek tidak mau menoleh pada Felix dan hanya memperhatikan Tan.
Pertarungan kembali berlangsung dan terkesan main keroyokan lebih tepatnya karena kelompok Felix yang kalah jumlah dari pasukan Efrain. Meski kerangka tulang dari neraka yang tidak bisa mati dan kalaupun telah dihancurkan akan kembali menyatu lagi. Tapi tetap saja mereka tidaklah terlalu kuat untuk memukul mundur iblis. Setidaknya mungkin bisa mengulur waktu menahan iblis lainnya agar tidak menyerang secara berkelompok lagi.
Banks membantu sebisanya, melindungi semuanya dari belakang dengan kekuatan Daemonimed. Menghalangi pasukan Efrain dengan ramuan yang dilemparkan oleh Banks. Tapi kesulitan juga untuk melindungi mereka sementara dirinya juga selalu diserang.
Zeki melindungi bagian belakang Banks jaga-jaga jika ada yang menyerang dari belakang. Tapi karena keadaannya yang tidak stabil, benar-benar hanya menutupi saja tidaklah melindungi. Zeki terluka lagi karena serangan iblis yang akan menyerang Banks.
Verlin berjejer diantara pasukan kerangka tulang dari neraka itu. Verlin memberikan sedikit modifikasi pada kerangka itu dengan tinju dilapisi es agar tulang merkeka tidak mudah patah lagi. Membekali mereka dengan senjata yang terbuat dari es. Kelihatan ada perbedaan besar dengan bantuan Verlin itu. Tapi tidaklah berlangsung lama, iblis yang memiliki kekuatan api dengan mudah membakar dan mencairkan es. Seperti halnya iblis yang punya kelemahan air. Ruleorum memiliki kelemahan pada api. Verlin menciptakan perisai es tapi mencair sampai api membakar tangannya.
Tan yang sedang terluka beruntung memiliki Tellopper karena tidak perlu bergerak aktif, hanya perlu fokus menggunakan Tellopper sebaik mungkin. Tapi itu juga tidak berlangsung lama, karena terlalu banyak lawan. Tan tidak punya cukup waktu untuk mengatur Tellopper nya sehingga harus tetap memaksakan bergerak bertarung dengan keadaan tubuh masih belum sepenuhnya pulih.
Sesemax Tom tidak diragukan lagi mampu memberi luka yang parah pada musuh. Hanya saja berat Sesemax tidaklah cocok untuk pertarungan jangka panjang. Tom menghemat tenaga nya dengan memunculkan Sesemax pada saat dibutuhkan saja kalau tidak, Tom berusaha melawan dengan pertarungan fisik. Tapi sekuat apapun Tom, hanya bisa menghindar dan menahan serangan agar tidak terkena cidera yang berlebihan karena kekuatan bela dirinya yang tidak setara dengan kekuatan iblis.
Diantara mereka bertiga, Teo lah yang paling banyak membunuh iblis dan merubah mereka menjadi Zewhit sehingga lebih mudah dikalahkan.
"Bagaimana kita membunuh Zewhit manusia ini?!" Pasukan Efrain ingin menyerang Zewhit yang memberi sayap pada Teo itu. Karena disadari kalau Teo membuat mereka kesulitan.
"Mereka punya pelindung, tidak akan bisa diserang. Satu-satunya cara adalah menyerang penggunanya. Bunuh dia terlebih dulu!" kata Efrain menunjuk Teo.
Felix menarik sesuatu dari belakang punggungnya yang seperti tali panjang. Dilemparnya tali itu hingga melingkar dileher Efrain. Efrain terangkat keatas dengan tali itu, Felix masih menarik tali itu dengan sekuat tenaga.
Bukannya melepas tali itu, Efrain maju menyerang Felix dengan ikatan dilehernya yang masih terikat erat. Menggunakan ikatan tali dilehernya yang terhubung dengan Felix. Sehingga mudah untuk menuju tempat Felix berada.
Lebih banyak lagi iblis yang dikerahkan untuk menyerang Teo. Mereka sangat kesulitan dengan kekuatan Teo itu, maka sudah dipastikan kalau harus melakukan sesuatu dengan serius pada Teo.
"Kau tidak malu melawanku dengan rombongan begini padahal aku hanya sendiri?!" kata Teo.
"Kau sendiri berhasil membunuh banyak sekaligus sehingga berubah menjadi Zewhit. Rasanya sepadan kalau harus melawanmu dengan jumlah sebanyak ini." kata Iblis yang memimpin untuk menyerang Teo.
Dari segala sisi, kelompok Felix kelihatan sudah diambang kekalahan. Teo yang berhasil dipotong sayap sebelah kanannya membuat Zewhit yang memiliki tangan disana kembali pada tubuh masing-masing dan pelindung pada mereka menghilang sehingga iblis beramai-ramai langsung mengambil kesempatan itu untuk membunuh Zewhit itu. Disaat masih belum sadar dan tangan mereka belum kembali menyatu sempurna.
"Tidak!" teriak Teo melihat Zewhit barisan kanan dibantai dengan waktu yang sangat cepat.
Pertarungan Felix dan Efrain terus berubah-ubah. Karena Felix menggunakan kekuatan Ruleorum dan Efrain yang adalah Iblis. Tentu saja kadang Efrain kelihatan unggul tapi kadang sebaliknya, Felix lagi yang unggul.
Hingga saat Felix teralihkan melihat ketiga sahabatnya dalam keadaan bahaya. Efrain menggunakan kesempatan itu untuk menyerang disaat Felix sedang gelisah. Tentu saja itu berhasil, Efrain menancapkan pedangnya pada satu kaki Felix.
"Berlututlah! maka aku akan melepaskan mereka! setidaknya aku tidak akan membunuh mereka." kata Efrain.
"Aku ini Caelvita, kaulah yang harus berlutut padaku!" kata Felix.
Efrain memunculkan pedang yang lainnya dan menancapkannya lagi pada kaki Felix yang lain. Sehingga Felix tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berlutut menarik pedang itu.
Felix meneteskan air mata saat menarik pedang yang tertancap dikakinya. Sangat sakit yang dirasakan oleh Felix, pedang yang bahkan lebih besar daripada ukuran kakinya itu seperti membelah dua kakinya.
"Beraninya kau membuat Caelvita ku berlutut?! akan aku patahkan kakimu sehingga kau tidak punya pilihan lain selain hanya akan berlutut seumur hidupmu!" suara dari seseorang yang sangat familiar itu memukul mundur Efrain.
"Cain ...." Felix menengadahkan kepalanya melihat keatas.
"Aku datang kawan!" kata Cain mengulurkan tangannya, "Kau terlihat kacau, ck ... ck ... ck!"
...-BERSAMBUNG-...