UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.501 - Tetap Bersama



Tan, Teo dan Tom saling memberi kode untuk membuat diri mereka tidak terlihat secara bersamaan. Tapi terganggu karena bunyi notifikasi yang masuk masing-masing dihandphone mereka bertiga.


"Mertie?!" kata Teo.


"Rekaman?!" kata Tan membuka video yang dikirim oleh Mertie itu.


"Ini kan, dekat dari pusat kota. Dia juga punya kamera terpasang disana?! lama-lama Mertie bisa tahu apa yang terjadi di seluruh Yardley kalau terus memasang kamera dimana-mana." kata Tom.


"Tapi, kebanyakan itu sangat membantu kita juga sih." kata Tan.


"Tidak ada yang aneh dari rekamannya ...." kata Teo yang sudah mengusahakan tidak berkedip menonton video itu.


"Apa kita percepat?!" tanya Tan.


"Tidak, perhatikan dengan seksama secara mendetail." kata Tom.


"Lebih cepat kalau kita menanyakannya langsung pada Mertie apa yang sebenarnya dia ingin perlihatkan." kata Teo yang matanya sudah perih.


"Penilaian Mertie dan penilaian kita berbeda. Kita harus melihat dari sudut pandang kita juga, bukan hanya dari sudut pandang Mertie yang bisa saja hanya asumsi saja." kata Tom.


"Hanya begini?!" kata Teo kecewa sudah selesai menonton sampai selesai tapi tidak ada yang spesial.


Kemudian datang lagi video lainnya tapi dari tempat yang berbeda, "Tidak pernah disangka kalau pusat kota akan jadi sepi seperti kota mati begini ...." kata Teo menyayangkan.


Akhirnya Tan kini mempercepat video tapi sama saja dengan rekaman sebelumnya yang dinonton.


Video lainnya masuk lagi, kali ini bukan satu per satu tapi langsung ada lebih 20 video.


"Mertie ini kenapa sebenarnya?! Apa dia salah kirim?! Atau tidak sengaja ...." Teo bingung dan mulai menelepon Mertie untuk menanyakan secara langsung. Sementara Tan dan Tom menonton satu per satu video yang dikirim oleh Mertie itu.


"Kau sudah lihat?!" tanya Mertie kemudian Teo menekan loudspeaker agar Tan dan Tom bisa dengar juga.


"Apanya yang perlu dilihat?! kau sedang memperlihatkan situasi menyedihkan di pusat kota pada kami atau apa?!" kata Teo.


"Semua rekaman itu bukan aku yang menghentikan." kata Mertie.


"Apa maksudmu?!" tanya Teo tidak mengerti.


"Kau lihat kan?! bagaimana semua video itu langsung mati begitu saja ...." kata Mertie.


"Mati?! bukannya memang berakhir begitu?!" kata Tan.


"Kamera yang kupasang menampilkan rekaman video secara langsung dan hanya bisa tersimpan kalau aku sengaja menyimpannya tapi akhir-akhir ini aku jarang menyimpan video rekaman karena memory laptopku sudah penuh ... atau aku mengambil memory card langsung di lokasi sehingga aku bisa mengirimnya pada kalian ... atau ...." kata Mertie berhenti menjelaskan.


"Atau?!" tanya Tom.


"Atau ... kamera yang ada disana rusak dan jika begitu ... otomatis data yang direkam disana akan terkirim langsung di drive online yang kupunya. Itu tandanya juga kameraku yang ada disana berhenti merekam." jawab Mertie.


"Jadi, maksudmu ... ini rekaman terakhir dari kameramu?!" tanya Tan.


"Dan semua kameraku sekarang tidak ada yang bisa diakses dari jarak jauh." Mertie menambahkan.


"Itu tandanya ...." kata Teo.


"Aku ingat kalian pernah mengatakan, kalau kamera akan mati atau rusak pada saat iblis mendekat. Karena itu juga aku harus membuat alat pelindung kamera yang bahannya diberikan oleh Felix itu." kata Mertie.


"Dan ini dari tempat yang berbeda-beda ...." kata Tan kelihatan pucat karena panik.


"Waktunya sama!" kata Teo.


"Benar, semua kamera mati hampir pada waktu yang sama." Tom membenarkan setelah memeriksa ulang.


"Jika ini benar, tandanya ... saat ini banyak iblis sedang ada di pusat kota." kata Tan, "Kita harus ke pusat kota!" Tan mulai memimpin jalan.


"Felix dimana?! apa dia hanya diam saja atau memang tidak ada disitu?!" tanya Mertie.


"Aku juga akan menyusul!" kata Mertie.


"Tidak!" teriak Teo.


"Kau tidak berhak melarangku! kau tahu kau bisa mendapatkan informasi ini ... itu karena aku!" kata Mertie.


"Ini sangat berbahaya Mertie ... kali ini benar-benar sangat berbahaya." kata Teo seperti memohon.


"Aku hanya akan memeriksa kameraku, kau tidak tahu seberapa mahal kameraku itu! aku bukan orang kaya yang menghambur-hamburkan uang untuk membeli kamera yang baru dipakai beberapa hari sudah rusak." kata Mertie.


"Aku yang akan memeriksanya untukmu. Jadi, kau tinggal di asrama saja." kata Teo.


"Memangnya kau mau apa?! mengikatku begitu?!" kata Mertie.


"Makanya kenapa kau menyimpan kamera disana?!" teriak Teo sambil berlari.


"Felix yang menyuruhku! katanya akan terjadi sesuatu yang besar disana. Dan kalau menemukan hal janggal, agar secepatnya dikabari tapi dia sendiri tidak ada. Aku dengan percayanya memakai kamera yang lama kukumpulkan uangnya itu ditambah lagi dengan menambahkan dari uang tunjangan hidup beasiswaku yang berharga ... semuanya karena Felix." balas Mertie dengan suara tinggi.


"Terserah kau saja ... yang jelas aku sudah menghentikanmu. Berhati-hatilah!" kata Teo menutup telepon karena tidak bisa melawan Mertie lagi dan menyerah meyakinkannya.


Tan, Teo dan Tom berlari menuju kereta bawah tanah karena tidak terlihat ada bus atau taksi disebabkan oleh badai salju. Mereka dengan suasana hati yang tidak karuan. Waspada terhadap sekeliling dan curiga pada semua orang.


"Kau tidak merasakan apa-apa?!" tanya Tom pada Tan.


"Tidak jelas ...." sahut Tan dengan dipenuhi keringat padahal cuaca sedang sangat dingin.


"Apa maksudnya itu?!" tanya Teo.


"Aku belum pernah merasakan hal seperti ini, jadi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya." jawab Tan.


"Yang ditakutkan adalah kalau kereta juga tidak beroperasi, tidak mungkin kita bisa ke pusat kota hanya dengan berlari." kata Tom.


"Apa kita masuk Bemfapirav saja?! memakai kuda, akan memakan waktu sebentar pastinya karena mereka cepat." kata Teo.


"Tidak, berbahaya ... kita tidak tahu apa yang ada di Bemfapirav sekarang, kita juga tidak bisa mengandalkan Bemfapirav yang bisa saja membuang waktu kita." kata Tan.


"Tidak ada apa-apa." kata Teo memakai kacamata untuk melihat Bemfapirav.


"Kalau begitu, kalian saja yang pergi!" kata Tan berhenti berlari, "Aku tidak bisa memanggil kuda di Bemfapirav, kalian sudah tahu itu ... dan mereka tidak akan membiarkanku ikut bersama kalian. Kuda Mundebris hanya akan membawa tuannya saja."


"Aku tidak akan membiarkanmu sendirian." kata Teo.


"Lebih baik terlambat daripada kita harus berpisah-pisah." kata Tom.


"Bukankah tadi katanya mau cepat sampai?! bisa jadi kereta juga tidak ada yang beroperasi. Lebih baik hanya aku yang terlambat daripada kita semua kan?!" kata Tan.


"Ayo lari saja, cerewet!" Teo memukul kepala Tan dan mulai berlari begitupun Tom.


"Aku mencoba menghentikan mereka tadi karena tidak ingin sendiri tapi pada akhirnya aku melepaskan mereka juga karena tahu kalau tindakanku itu egois. Tapi ... melihat kalian tetap bersamaku yang tidak beruntung memiliki kuda Mundebris, aku sangat senang kalian tetap disini ...." kata Tan menatap kedua saudaranya yang sudah jauh berlari didepan.


"Ayo cepat, siput!" teriak Teo.


Tan kembali berlari mendengar teriakan Teo yang meledek itu.


Karena terus berlari, rasa dingin tidak mereka rasakan. Sebaliknya mereka sangat kepanasan saat ini. Mereka tergolong sudah memiliki stamina yang luar biasa untuk anak manusia seumuran mereka. Berlari dengan jarak belasan kilometer itu tanpa istirahat bahkan manusia dewasa juga akan keuslitan untuk itu. Kereta bawah tanah terdekat dan masih beroperasi hanya itu, jadi tidak ada pilihan lain selain harus mengejar kereta itu..


"Itu ... sepeda!" kata Teo berhenti berlari.


"Kita mencuri namanya kalau mengambil tanpa sepengatahuan pemiliknya ...." kata Tan melarang.


"Aku punya ini!" kata Tom mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.


...-BERSAMBUNG-...