UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.116 - Pilihan Terbaik?



Goldwin menyudahi latihan setelah Cain berhasil memotong surainya. Felix juga sudah datang setelah berjalan-jalan di sekitar istana dan mendengar panggilan Goldwin untuk bersiap pulang ke Mundclariss.


"Jadi kita melewatkan berapa hari Mundclariss?" tanya Cain dengan ekspresi sangat lelah.


"13 hari!" jawab Goldwin santai.


Cain yang sedang minum langsung menyemburkan air yang diminumnya karena saking kagetnya.


"Jangan khawatir kalau kau tidak bisa kembali ke waktu saat masuk Mundebris akan aku bantu memundurkan waktu ...." kata Goldwin.


"Tapi ini air minum apa yang kau berikan? rasanya manis tapi berwarna putih ...." kata Cain menyicipi lagi minuman itu dan menuang sedikit di telapak tangannya.


"Air minum biasa!" kata Goldwin.


"Kalau air minum biasa ya tidak ada rasanya!" balas Cain.


"Air minum di Mundebris memang memiliki rasa, makanya jika membuat sesuatu tidak perlu memakai gula lagi dan di Mundebris itu kebanyakan semua makanan atau minuman manis semua." kata Goldwin.


"Tapi tidak semua olahan makanan dan minuman itu diberi gula ... ini menunjukkan Mundebris tidaklah sempurna soal makanan dan minuman!" kata Cain mengkritik.


"Makanya ada perusahaan di Mundebris yang memisahkan rasa manis dari air minum dan menjualnya!" kata Goldwin.


"Bisnis yang bisa dipastikan tidak akan bangkrut di Mundebris!" kata Felix.


"Awalnya dari Setengah Viviandem yang pertama kali masuk ke Mundebris dan tidak terbiasa dengan air minum alami Mundebris makanya mencoba mencari cara untuk membuang rasa manis air dan tidak lama kemudian banyak Viviandem lainnya yang menyukai air tidak memiliki rasa itu dan jadilah perusahaan air minum Mundclariss yang pertama di Mundebris pada pemerintahan Caelvita-50." jelas Goldwin.


"Berarti ada yang membuat gula juga dengan air ini dong?" tanya Cain.


"Membuat gula dari air minum sudah dilakukan sejak lama! tapi tidak terlalu laku karena air biasa sudah manis. Baru laku saat muncul pemisahan rasa manis dari air itu ...." jawab Goldwin


"Apa tidak ada air Mundclariss dijual disekitar sini?" tanya Felix.


"Cabangnya ada disetiap kerajaan ... ada juga dekat diluar istana dijual, Tuan Muda mau?" tanya Goldwin.


"Tidak! aku hanya bertanya ... nanti aku beli sendiri!" kata Felix.


"Tidak mau! belikan sekarang!" Cain protes.


Walau malas tapi Goldwin segera pergi ke luar istana.


"Kalau di Mundclariss ada lautan yang memiliki air garam, di Mundebris ada air manis yang dijadikan gula ... aku jadi penasaran dengan Bemfapirav?" Cain bertanya-tanya dengan perbedaan setiap dunia.


"Tidak banyak informasi tentang Bemfapirav. Karena dunia itu yang begitu suram dan kebanyakan adalah ingatan hantu yang tidak bisa meninggalkan dunia ini dan masih tinggal dengan perasaan dendam atau menyayangkan dirinya mati begitu cepat ... dunia tempat hantu penasaran jadi tidak banyak yang ingin menggali informasi karena juga hanya diketahui sebagai dunia abu-abu perantara antara Mundclariss dan Mundebris ...." kata serangga terbang yang bertubuh lurus seperti tongkat kecil panjang.


Felix dan Cain saling pandang karena tiba-tiba pertanyaannya dijawab oleh seseorang yang hanya lewat.


"Ehhem!" Cain berdehem, "Kalau boleh tahu siapa?"


"Hormatku pada Caelvita baru dan Alvauden! perkenalkan nama saya Tillie. Kalau di Mundclariss saya disebut capung tapi di Mundebris saya disebut Ossantes!"


"Di Mundclariss memang ada capung bentuknya mirip sepertimu tapi tidak sepanjang ini hehe ...." Cain tertawa karena melihat tubuh capung yang panjangnya sekitar satu meter lebih itu.


Felix memukul kepala Cain karena tertawa, "Tidak apa-apa Tuan Muda, saya sudah terbiasa. Nona Muda Iriana bahkan setiap kali bertemu selalu tertawa dulu ...." kata Tillie.


"Tapi selama di Mundebris saya jarang melihat Ossantes sepertimu, seharusnya kan banyak ... seperti di Mundclariss." kata Cain.


"Oooh ... kau itu ibarat seperti sapu terbang, begitu ya?" kata Cain.


"Ow! betul Tuan Muda, kami mirip seperti itu!" kata Tillie terlihat bersemangat.


Goldwin datang dengan botol air minum yang terbang disampingnya. Cain mengulurkan tangannya dan botol minuman itu langsung terbang dengan cepatnya ke tangan Cain. Cain sendiri kaget dan menjatuhkan botol minuman karena tidak siap menerima.


"Ow Tillie! kau sudah datang!" sapa Goldwin.


"Dimana barang yang mau diantar?" tanya Tillie.


Banyak tas berisi barang langsung beterbangan dan langsung menempatkan diri sendiri untuk tergantung rapi ditubuh Tillie.


"Kiriman untuk siapa?" tanya Felix.


"Untuk Marissa!" jawab Goldwin sambil menatap Cain.


"Dokter Mari? kiriman ini untuknya?" tanya Felix.


Cain sama sekali tidak menunjukkan ekspresi penasaran bahkan hanya langsung kesal mendengar nama bibinya disebut itu.


"Ayo kita pulang!" kata Cain.


Tillie juga pamit pergi dengan langsung terbang mengantar kiriman barang itu.


"Berarti Dokter Mari tidak tinggal di kerajaan Leaure karena barang diantar oleh Ossantes?" tanya Felix.


Goldwin hanya mengangguk tanda iya karena tahu suasana hati Cain sedang tidak baik.


***


Tiap hari Felix dan Cain datang ke Mundebris untuk berlatih dan kembali lagi memundurkan waktu untuk kembali ke waktu saat masuk agar tetap bisa menjalani kehidupan normal juga.


Kembali ke masa kini, setelah kepergian Felix dan Cain yang tidak normal itu, Tan lama tinggal di ruang tamu terus memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi. Tan tidak tidur dan terus berpikir hingga Felix dan Cain tiba dan membuka pintu.


"Aaaaaa!" reaksi berlebihan dari Cain.


"Kau sedang apa disini? tidak tidur?" tanya Felix menyalakan lampu.


Sungguh Tan ingin mengatakan semua yang ingin dikatakannya dan punya banyak pertanyaan yang perlu jawaban tapi ditahan.


"Aku hanya perlu menunggu, pasti mereka berdua akan menceritakannya!" kata Tan dalam hati.


Felix mendengar itu langsung kaget, "Apa dia tahu sesuatu?" tanya Felix dalam hati. Ingin memberitahu Cain tapi ditahan juga karena Cain pasti akan langsung memberitahukan semuanya.


Selama tiga kembar tidak mengetahui ada dunia selain yang ditempatinya saat ini dan rahasia lainnya. Masa depan mengerikan itu tidak akan terjadi juga pada mereka bertiga, begitulah pemikiran Felix. Tapi ternyata Felix lengah sehingga Tan bisa melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.


Ingin memundurkan waktu lagi dan mencegah Tan melihat tapi hanya Cain yang bisa memutar waktu dan pasti Cain akan terus bertanya. Sehingga Felix tidak punya pilihan lain dan sepertinya akan membuat Tan penasaran selamanya.


Selama Tan diam dan tidak menanyakan hal itu, semuanya akan baik-baik saja. Walau hal itu akan menyiksa Tan dengan rasa penasaran. Tapi itu lebih baik daripada memberitahu kebenaran dan bisa membuka jalan masa depan itu terjadi. Felix juga mengenal Tan, tidak mungkin menanyakan hal yang tidak mustahil seperti itu dengan kepribadiannya itu.


Tan menjalani kehidupan seperti biasa tapi dengan pertanyaan yang terus menerus didengar oleh Felix. Lama kelamaan Felix juga muak mendengarnya dan terkadang berteriak tidak jelas tapi setelah tenang kembali Felix menyadari perbuatannya dan perlahan mulai terbiasa dengan rasa penasaran Tan yang terus menerus itu.


...-BERSAMBUNG-...