UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.136 - Rencana Efrain



Zeki yang terlihat kebingungan harus mencari Efrain kemana karena sudah tidak pernah saling berbicara lagi semenjak Iriana meninggal dalam perang itu, mulai dari Iriana yang perlahan menghilang dari pangkuan Efrain, Zeki langsung pergi darisana. Bukan karena menyayangkan kematian Caelvita dengan usia yang masih sangat muda. Tapi karena tidak sanggup melihat sahabat baiknya itu untuk terakhir kalinya. Jika kebanyakan orang ingin ada disamping seseorang yang disayangi di saat terakhir, bagi Zeki itu adalah omong kosong. Melihat saat terakhir seseorang yang disayang adalah hal yang paling menyakitkan. Bukan hanya menghancurkan perasaan saat itu tapi ikut menghancurkan kenangan. Kenangan indah berubah menjadi kenangan pedih. Terlebih lagi dirinya ada disana, seharusnya melindungi tapi malah menangis ... menyesali. Seandainya dia tidak disana, mungkin ia bisa menyalahkan orang yang ada disana karena gagal melindungi Iriana. Begitulah ... rasa bersalah selalu memunculkan cara untuk menyalahkan orang lain. Merupakan cara untuk melindungi diri sendiri dari kehancuran. Tapi pada akhirnya, Zeki menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku harus mencarinya kemana? Efrain? apa kau masih bisa mendengarku?" Zeki berusaha berkomunikasi seperti saat masih aktif menjadi Alvauden tapi semenjak sudah melepas gelar itu, bahkan untuk menemukan keberadaan masing-masing yang paling mudah dilakukan dahulu itu sudah tidak bisa lagi.


"Aku hanya perlu mencari aura terburuk ... jika memang benar adanya yang dikatakan Caelvita baru, pasti aku bisa menemukan informasi dari Malexpir."


Bermacam warna aura dihadapannya, yang berwarna hampir hitam mulai diikuti oleh Zeki. Saat berjalan mengikuti aura itu tiba-tiba muncul aura hitam pekat lewat disampingnya.


"Kau hantu juga kan?" tanya laki-laki itu.


"Juga? kau itu bukan hanya sekedar hantu! tapi Malexpir!" jawab Zeki kesal disamakan dengan pemilik aura terburuk itu.


"Malexpir?!" kata laki-laki itu yang terlihat bingung dengan istilah yang tidak diketahuinya itu.


"Siapa yang memberimu kekuatan itu?" tanya Zeki.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya hantu laki-laki itu.


"Kau pikir aku tidak tahu, kau itu memiliki kekuatan mimpi buruk! hanya satu orang yang bisa melakukan hal itu di masa sekarang karena Viviandem belum dibangkitkan. Dimana Si Brengsek itu?! dimana Bates?" kata Zeki.


"Jadi kau salah satu dari para petinggi itu? kau memang terlihat seperti anak TK tapi pasti kau bahkan lebih tua dari manusia yang hidup saat ini?" kata hantu laki-laki yang menunjuk orang-orang disekelilingnya.


"Para petinggi?" Zeki menghela napas kesal mendengar itu, "Dimana aku bisa bertemu mereka?"


"Aku bisa mengantarmu kesana! kebetulan aku akan kesana juga ...." kata hantu laki-laki itu sambil menyeringai.


Zeki mulai mengikuti Malexpir itu. Tadi ia terus berharap jika yang dikatakan Felix adalah omong kosong tapi setelah mendengar kata Para Petinggi, menunjukkan bahwa benar ada Perkumpulan Iblis. Walau masih mengharapkan jika Efrain bukanlah salah satunya.


"Tidak mungkin Si Bodoh itu melakukan hal seperti itu!" kata Zeki dalam hati.


"Kita sudah sampai!" kata Malexpir.


"Sekolah?!" kata Zeki memandangi sekolah yang kosong karena hari libur itu, "Bukankah ini ...." Zeki menoleh ke arah dia bertemu dengan Felix untuk pertama kalinya, "Ini adalah sekolah dari Caelvita baru!"


"Jadi bagaimana kau bisa masuk ke Mundebris? kau pasti tidak bisa memiliki gerbang ...." kata Zeki.


"Walau aku tidak memiliki gerbang tapi aku bisa dengan mudahnya masuk Mundebris!" kata Malexpir.


Tidak lama kemudian datanglah Iblis Buaya, "Ted! bukankah aku sudah bilang kau tidak bisa kesini lewat Mundclariss ... bagaimana kalau kau bertemu Caelvita!"


"Lama tidak bertemu Ditte!" Zeki muncul menyapa dari belakang Ted.


"Dimana Si Bodoh itu?" tanya Zeki, "Kau tahu betul aku ini bukan orang yang sabaran kan?!" Zeki mulai menatap tajam.


Ditte membukakan gerbang untuk cepat masuk Mundebris, "Pohon hias?" tanya Zeki setelah sampai.


"Keamanan yang lumayan baik digunakan, bukan hanya menyembunyikan yang ada di dalam tapi kekuatan melindunginya tidaklah buruk ...." kata Ditte yang mulai menggigit jarinya dan meneteskan darahnya pada akar pohon. Pohon berwarna-warni itu kemudian membukakan jalan dan terlihatlah kastil.


"Kau sudah datang?" tanya seseorang yang duduk dibawah pohon dekat pintu masuk.


Zeki langsung memunculkan pedangnya dan mulai menyerang yang bertanya itu tanpa peringatan terlebih dahulu.


"Aku juga merindukanmu!" kata Efrain tidak mengahalau serangan Zeki sama sekali dan hanya diam saat pedang Zeki hampir menyentuh lehernya.


"Katakan ini hanyalah bohong? tidak ... katakan siapa yang menghasutmu melakukan ini?" kata Zeki sudah mulai menggores leher Efrain.


"Kau tahu betul jika aku ini bukanlah seseorang yang bisa dihasut untuk melakukan hal yang tidak aku suka ... ini adalah keinginanku, pilihanku sendiri! dan sepertinya kau belum mengerti juga ... aku adalah pemimpin dari Perkumpulan ini!" kata Efrain menyeringai.


"Jika Iriana tahu apa yang kau lakukan saat ini dia pasti kecewa!" kata Zeki.


Efrain mulai melawan setelah mendengar perkataan Zeki itu. Adu pedang tidak bisa terelakkan lagi, semua penghuni kastil keluar untuk melihat pertarungan kedua mantan Alvauden itu.


"Sungguh miris melihat pemandangan ini!" kata Ditte.


"Katakan alasan kau melakukan ini?! hati-hati dalam pemilihan katamu, atau aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" ancam Zeki.


Efrain yang tadinya melawan kini melepaskan pedangnya dan mulai dijatuhkan oleh Zeki.


"Bunuh saja aku sekarang!" pinta Efrain.


Zeki yang sudah bersiap mengayunkan pedangnya berhenti karena muncul keraguan dalam hatinya. Efrain yang terbaring di atas rumput itu, wajahnya terkena air mata dari Zeki yang berdiri diatasnya itu.


"Bukankah kau yang dulunya membenci kejahatan sekecil apapun itu, memaksa pengajuan peraturan undang-undang Ruleorum untuk menjemput semua roh secepat mungkin agar tidak ada Malexpir ... kau itu kan seperti itu dulu! kenapa? kenapa kau berubah?!" Zeki yang menangis dan kemudian berubah berteriak dengan penuh amarah.


"Bukannya aku yang ingin berubah! tapi kehidupan yang memaksaku berubah ... Iriana yang seharusnya masih hidup sekarang sudah tidak ada ... dia menjadi Caelvita dengan masa jabatan paling sebentar. Kenapa orang baik yang seharusnya hidup malah mati dan orang jahat yang seharusnya mati malah hidup?! maka dari itu aku menjadi bagian dari yang jahat itu agar bisa berumur panjang! akan aku bunuh semua orang baik di dunia ini, kumulai dari manusia yang tidak beruntung!" kata Efrain.


Zeki menghilangkan pedangnya dan mulai berjalan pergi, "Jika itu memang maumu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa kepada seseorang yang sudah dibutakan oleh kebencian. Tapi jangan salahkan aku atas pilihamu ini ... disaat kau melakukan rencanamu itu, kau akan menemukan aku disana menghentikanmu! aku bukan lagi bertarung bersama disampingmu tapi berada disisi lain yang berlawanan denganmu!" kata Zeki mulai berjalan masuk gerbangnya dengan menahan air matanya.


"Akan aku mulai juga membunuh para Alvauden baru itu! agar tidak ada lagi Efrain baru yang lahir!" kata Efrain.


...-BERSAMBUNG-...