
Jika memberitahu bahwa yang dilihatnya tadi adalah seseorang yang sudah dinyatakan meninggal pasti Felix akan dianggap gila oleh si tiga kembar. Andai hanya berdua dengan Cain mungkin Felix bisa mengatakannya tapi tanpa bukti membuat Felix yang tidak mau menjelaskan nyatanya membuat ia malah ditatap aneh oleh Teo dan Tom.
Melewati Jl. Ferench, pandangan Teo dan Tom tiba-tiba tertuju oleh penjual aksesoris pinggir jalan, "Ayo kita beli gelang samaan berlima!" ajak Teo.
"Tidak mau!" jawab Felix langsung.
"Sudah ... jangan hiraukan dia, nanti juga kalau dipaksa ... dia pakai kok!" Cain ikut memilih.
Felix yang tidak tertarik ikut mereka melihat gelang tapi didorong oleh Tom dan dia pun terpaksa ikut mengamati segala macam aksesoris, tanpa disadari ia tertarik dengan sebuah gelang dengan permata berwarna ungu dan merah. Nenek yang menjual langsung menghalangi tangan Felix, "Ini tidak untuk dijual?"
"Kalau tidak untuk dijual kenapa dipajang disini?" Felix langsung mengambil gelang itu.
"Itu sudah ada yang memesan ...." kata Nenek itu mengambil gelang dari tangan Felix.
Tak sengaja mereka bersentuhan tangan, "Nenek Alviani?" kata Felix.
Nenek yang berwajah tegas dan menyeramkan tadi kini menatap Felix dengan mata yang berkaca-kaca, "Ternyata benar hari ini? namamu Felix?" kata nenek itu.
"Kau kenal dia?" tanya Tan.
"Tidak."
"Tadi kau memangilnya Nenek Alviani?"
"Aku memanggil begitu?" Felix heran sendiri.
"Ini gelang permata Alexandrite, kalian bisa mengambilnya gratis ...." Nenek itu menyerahkan lima pasang gelang yang permatanya hanya satu berada ditengah dan tali rantainya berwarna hitam.
"Gratis?" Teo langsung menerimanya dengan senang hati.
"Gratis?" Cain bergantian menatap nenek itu lalu menatap Felix.
"Nenek, kenal Felix?" tanya Tom.
"Tidak, tadi nenek kira orang yang nenek kenal ternyata bukan ...."
"Tapi bagaimana nenek tahu nama Felix?" tanya Tan.
Felix langsung menurunkan jaketnya tanpa sepengetahuan mereka dan Nenek Alviani menyadari itu, "Dari papan namanya."
"Aaaah ...." Teo dan Tom berisik.
Nenek Alviani memasang gelang pada pergelangan tangan Felix, "Hem hampir saja ... Oh? luka ini sama seperti yang dia bilang ...." kata Nenek Alviani sambil mengelus luka Felix.
"Siapa yang bilang?" tanya Felix.
"Bilang apa?" tanya Cain dan Teo bersamaan.
"Hahh?" Nenek itu kaget, "Kau bisa membaca pikiran juga?" katanya lagi dalam hati.
Felix jadi ikut kaget, ia tidak menyadari nenek itu tidak berbicara tadi tapi bisa mendengarnya.
"Dengar, aku ingin sekali bisa melihatmu lagi ... tapi hari kematianku tidak lama lagi ... apa aku bisa bertemu lagi denganmu sebelum aku meninggal?" tanya Nenek itu yang hanya Felix bisa mendengar.
"Kapan?"
"Apanya yang kapan?" Tom menanyai Felix sambil selesai memasang gelang pemberian gratis itu.
Mereka berempat berterima kasih pada nenek itu yang mendapat gelang gratis dengan permata yang unik.
"Kita bertemu lagi nanti di taman, perbatasan Jl. Ferench dan Jl. Fawn ... hari dimana hujan turun saat sinar matahari begitu terang."
Cain mengajak Tan, Teo dan Tom untuk membeli minuman hangat untuk memberi Felix ruang untuk berbicara dengan nenek itu.
"Jadi kapan hari itu tiba?"
"Aku juga tidak tahu pastinya, tapi katanya itu sejam sebelum aku meninggal ... jadi kita bisa bertemu hari itu, di taman itu! kurang lebih sebelum bulan ini berakhir ...." Nenek Alviani sambil menunjuk taman.
"Kalau begitu kita bisa bertemu lebih awal sebelum hari itu tiba ... banyak yang ingin aku tanyakan ...."
"Tanyakan? tapi aku juga tidak tau apa-apa selain hanya disuruh untuk memberikan gelang itu."
"Siapa yang menyuruh?"
"Katanya aku tidak bisa memberitahu siapa namanya jika kamu datang bukan dengan rambut berwarna hijau sepertinya ...."
"Tidak, walau aku menghindar akan tetap terjadi dan bila itu terjadi harus ditempat itu katanya ... lagipula dia tidak memberitahuku kapan tepatnya itu akan terjadi tapi seperti kebetulan nenek akan ada disana sesuai rencana takdir."
Cain datang bersama tiga kembar dengan membawakan minuman untuk Felix juga dengan suara yang berisik bercerita lalu menyapa nenek itu lagi.
Mereka berlimapun melanjutkan berjalan menuju Toko Optik Gavin di Jl. Fawn, "Jangan membuat Verlin meninggal untuk yang kedua kalinya ... kata dia yang menitipkan gelang!" Nenek Alviani yang berbicara dalam hati membuat Felix berbalik dan melihat nenek itu sudah membereskan barang dagangannya.
Memasuki Toko Optik Gavin dengan Cain memimpin jalan sedang Felix seperti pikirannya ada ditempat lain dan tidak fokus, "Felix?" teriak Tan.
"Kau mau pergi kemana?" Teo bingung karena melewati toko yang jadi tujuan utama mereka berjalan saat cuaca semakin dingin ini.
"Meninggal yang kedua kalinya? Verlin?" pertanyaan yang terus berputar dikepala Felix hingga ia membuka pintu dan masuk toko melihat Hyacifla berambut putih itu, "Diakah ... Verlin?"
"Verlin?" tanya Tom.
"Kau datang juga ...." sapa Hyacifla berambut putih.
"Namamu Verlin?" tanya Felix setelah menjauh dari mereka berempat.
"Kau sudah mengingat namaku?"
"Ikut aku keluar!" ajak Felix kepada Verlin sambil memberikan Cain kwitansi dan memberitahu akan keluar sebentar.
"Apa aku temani?" tanya Cain.
"Tidak. ..." Felix langsung berjalan keluar toko dan menuju samping toko, Verlin dibelakangnya mengikuti.
Sampai di samping toko yang merupakan lorong sempit dan gelap Felix langsung menarik tangan Verlin, "Kau membuatku jadi terlihat!" Verlin melepas cengkeraman Felix.
"Kau yang bisa melihat masa depan tapi tidak memberitahuku kecelakaan bus yang akan terjadi!" teriak Felix.
"Kecelakaan?"
"Jangan berpura-pura bodoh ... kau melihatku memakai jaket berwarna kuning tapi tidak memperingatkanku dengan kejadian yang bisa menyelamatkan nyawa banyak orang ...."
"Kejadian? kecelakaan bus? semenjak aku menjadi Zewhit ... maksudku menjadi hantu, kemampuanku sebagai Hyacifla sudah tidak seperti dulu lagi ... yang kau maksud kecelakaan itu, aku tidak melihatnya. Dulu saat bersama dengan ir ...." mulut Verlin langsung ditutup oleh Felix.
"Kau mau menyebut nama Sang Caldway kan?"
Verlin mengangguk sambil menyadari hampir menyebutkan nama Sang Caldway, "Aku hampir saja mati yang kedua kalinya ...." Verlin langsung duduk lemas.
"Bahkan menyebut nama Sang Caldway juga tidak boleh?" tanya Felix.
"Iya, setelah perang mulia 10 tahun lalu peraturan baru dari Alvauden Sang Caldway tidak boleh menyebut nama dari Sang Caldway seperti memanggil nama orang biasa tanpa hormat ... bagaimana kau bisa tahu dan menghentikanku mengatakannya tadi?"
"Firasatku saja ...." andai saja tadi Felix tidak bertemu Nenek Alviani dia tidak akan bisa mendapat petunjuk.
"Felix?" Cain memanggil.
"Disini ...."
"Kau ... ow ... kau Alexavier toko ini kan?" tanya Cain takjub melihat sosok Verlin yang selam ini membuatnya penasaran.
"Iya ... lama juga aku tidak disapa oleh manusia," Verlin mengajak bersalaman, "Perkenalkan, Verlin Aethelred Sapphire ...."
"Cain Vale Wilmer!" meraih tangan Verlin.
"Ternyata begitu ... sungguh sebuah takdir yang unik, bagaimana bisa kalian dipertemukan begini ...." mata biru Verlin bersinar.
"Apa maksudmu?" tanya Felix.
Verlin tidak menjawab membuat Cain yang tangannya masih digenggam hanya memasang wajah aneh, "Kau peramal yah?" tanya Cain.
"Hyacifla!" Verlin langsung melepaskan tangannya.
"Yah, tentu saja Hya ... apa ... tadi?" Cain yang berlagak keren tapi ujung-ujungnya tidak bisa mengejanya.
Felix memukul dahi Cain dan mereka berdua tertawa bersama.
"Mereka berdua ... bagaimana bisa ini terjadi ... hahaha ... tidak kusangka akan bertemu lagi dengan generasi baru yang akan menjungkir-balikkan dunia ini nantinya ...." kata Verlin dalam hati sambil tersenyum.
...-BERSAMBUNG-...