
"Siapa orang tadi Felix? yang menyebut dirinya Pemburu Iblis itu?" tanya Tan yang bersandar di depan gerbang masuk Jembatan Ruleorum.
"Kau pasti sudah pernah membaca dongengnya. Dia keturunan dari Viviandem Aluias beratus-ratus tahun lalu yang menikah dengan manusia kemudian membuat para keturunannya untuk bersumpah menangkap semua penjahat dari dunia kegelapan. Tentunya keturunan sekarang sudah tidak memiliki darah Aluias lagi tapi aku tidak menyangka sumpah itu terus diteruskan sampai di keturunan sekarang." jawab Felix yang menarik kelopak bunga satu per satu.
"Jadi salah satu dongeng yang melegenda di kaum Aluias itu ya?! aku sih sudah lupa-lupa ingat walau belum lama membacanya tapi aku memang tidak terlalu memperhatikannya ... tapi apa yang membuatnya menyebut dirinya sebagai Pemburu Iblis?" tanya Tan.
"Entahlah, kenapa bisa jadi begitu ... yang jelasnya itu adalah sebuah sumpah keluarga, kita tidak bisa ikut campur. Jika kaum Aluias tahu, mereka akan tersinggung. Bagi kaum Aluias, sosok yang menjadi tokoh utama dongeng itu adalah seseorang yang dikagumi." kata Felix.
"Bunga itu akan marah kalau bangun melihat kelopak bunganya habis kau tarik semua!" kata Tan menendang Felix yang tangannya tidak berhenti mencabuti kelopak bunga yang berada disamping tempatnya duduk.
"Biarkan saja ... siapa suruh dia tidur! aku sudah memberitahunya untuk siap sedia berjaga disini dan melaporkan siapa yang masuk atau keluar darisini." kata Felix kini memanjangkan tangannya meraih kelopak bunga yang jauh.
"Mereka juga perlu istriahat. Lagipula siapa yang bisa keluar dari jembatan ini? tidak mungkin ada Zewhit yang keluar dari jembatan!" kata Tan.
"Cain maksudku ...." kata Felix dalam hati masih terus mencabuti kelopak bunga.
Teo dan Tom datang setelah mengantar roh korban tadi dan mengucapkan salam perpisahan.
"Astaga ... apa yang kau lakukan Felix?" kata Teo melihat kelopak bunga yang berserakan di tanah, "Mereka akan membunhmu setelah bangun ...."
"Ayo kita kembali!" kata Felix berdiri.
"Saat sampai kita akan langsung ujian ya?" Teo memukul jidatnya.
"Aku tidak bisa memujimu walau kita berhasil membunuh satu Iblis, kenyataannya tindakanmu yang terlalu terburu-buru itu bukanlah tindakan yang baik untuk kau jadikan kebiasaan ... dan aku tidak memberimu Garam Ruleorum untuk dihamburkan seperti itu!" kata Felix kemudian meminta Marsden merubah dirinya menjadi Gerbang Ruleorum.
"Aku tahu, maaf ...." kata Tom.
"Apa? apa maksudnya dengan Garam Ruleorum? bukankah itu ada di kamar?" kata Teo.
"Aku menaburnya di desa tadi." kata Tom.
"Apa?! garam berharga itu? tega-teganya kau!" Teo menarik kerah baju Tom.
"Jadi, desa itu akan terhindar dari hal buruk? berarti Iblis akan menjauh dari desa itu atau bagaimana?" tanya Tan.
"Entahlah ... aku hanya berharap semua orang menurut aturan pemerintah sehingga tidak ada yang keluar malam." kata Felix mengambil kunci di belakang punggungnya setelah merubah dirinya menjadi malaikat kematian.
Kunci yang akhirnya bisa ditarik oleh Felix setelah permainan tukar kematian berakhir. Bisa digunakan untuk mengatur waktu untuk kembali sama seperti kekuatan Cain tapi hanya bisa digunakan satu kali sehari waktu dunia yang akan dituju.
Felix memasukkan kunci itu pada ujung kiri gerbang dan mengatur waktu, setelah selesai gerbang terbuka dan siap untuk dipakai.
Pemilik kelopak bunga itu yakni batang masing-masing bunga yang sudah dicabut kelopaknya oleh Felix akhirnya terbangun. Teriakan mereka terdengar saat pintu gerbang mulai tertutup. Felix hanya tersenyum mendengar itu.
***
Ujian Final Semester berlangsung, semua kelas sangat sunyi karena para murid berkonsentrasi mengerjakan soal.
"Pak?"
"Iya, Parish ada apa?" tanya Pak Egan.
"Bisa minta baterai jam itu dilepas? mengganggu konsentrasi!" jawab Parish.
"Ow, iya, Maaf. Akan bapak lepas baterainya." Pak Egan langsung meraih jam dinding yang terpasang di kelas itu untuk dilepas baterainya.
Sepertinya para murid terlalu sensitif selama ujian berlangsung. Bahkan suara kecil sedikitpun sangat mengganggu ditelinga.
Felix hanya bisa mengerjakan ujian dengan tenang mengerjakannya langsung setelah kertas ujian diberikan atau saat waktu mulai berakhir. Karena saat mulai, semua anak-anak hanya akan membaca soal terlebih dahulu dan jika waktu sudah mau berakhir, banyak anak-anak sudah selesai dan keluar kelas.
"Rahasiamu bisa peringkat satu terus pasti karena membaca pikiran orang-orang kan? sehingga bisa menjawab dengan benar semua?" tanya Mertie menyeringai.
"Kau pikir hanya satu suara yang aku dengar? bukan hanya semua orang di sekolah ini tapi semua suara di sekitar sini masuk ketelingaku secara bersamaan. Kau pikir aku bisa mendengar jawaban dengan suara yang saling tumpang tindih itu?!" kata Felix membela dirinya, "Ya ... aku memang bisa memilih suara yang ingin aku fokuskan dengar yang mana, aku bisa curang jika aku mau tapi aku lebih memilih mengerjakannya sendiri."
"Selalu saja orang sepertimu yang dikaruniai kemampuan seperti itu. Coba kalau aku yang mempunyai kemampuan seperti itu, aku tidak akan belajar dan hanya akan mendengar jawaban orang lain untuk kutulis ...." kata Mertie.
"Makanya bukan kamu yang terpilih menjadi aku!" kata Felix.
"Ya, dunia ini ternyata cukup adil ...." kata Mertie.
Berita kejadian tadi malam sudah beredar tapi tidak seperti biasanya para murid di Gallagher tidak sibuk membicarakan soal itu karena sedang sibuk belajar dan ujian.
"Berarti akan ada tiga korban lagi di desa itu ...." kata Mertie.
"Desa yang dekat dari situ apa?" tanya Felix.
"Baru dua korban, kau pikir Iblis akan pindah desa sekarang?" Mertie balik bertanya.
"Belum pasti tapi usahakan untuk mengawasi desa terdekat dari Desa Kimber!" kata Felix.
"Baiklah, alatku masih belum selesai. Tapi besok mungkin sudah bisa selesai dan bisa dipasang ... aku tidak menyalahkanmu Tom tapi seharusnya kau menunggu alat yang kubuat ini selesai! lagipula ... kau juga tidak bisa menyelematkan korban." kata Mertie.
"Mertie!" Felix menegur.
"Apa ada perkataanku yang salah?" tanya Mertie.
"Tom melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya, setidaknya lebih cepat darimu!" kata Felix.
"Hahh ... kalian selalu saja memihak satu sama lain." kata Mertie, "Kasihannya aku yang tidak punya siapapun untuk membela ...." kata Mertie dengan nada suara yang dilebih-lebihkan dan mulai pergi meninggalkan Felix dan Tiga Kembar.
"Dia ada benarnya!" kata Teo mendengus dan mulai tertawa.
"Menurut kalian ... tidak mungkin kan kalau keturunan yang menyebut diri mereka adalah Pemburu Iblis itu hanya satu?" tanya Tan.
"Yang kemarin itu bukanlah dari keluarga utama. Terlihat dari pedangnya tidak ada unsur Aluias sama sekali." jawab Felix.
"Apa kita harus senang karena ada mereka atau sebaliknya kita harus menghentikannya?" tanya Teo.
"Tentu saja harus dihentikan!" kata Tom tegas.
...-BERSAMBUNG-...
NOVEL UNLUCKY SEDANG IKUT DALAM LOMBA UPDATE TIM SEASON 2!🥳
Mohon bantuan votingnya, ya!😉
UNLUCKY bergabung masuk di Tim B!🔥
...🎉HIDUP TIM B!🎉...
......🎉SEMANGAT TIM B!🎉......