
Felix terus berlari mengejar anak kecil dari Desa Quinlan yang mengejutkannya ternyata bisa berlari begitu kencang dan melakukan atraksi yang membuat orang-orang kaget dan terpana secara bersamaan. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh anak seumurannya itu bahkan tidak semua orang dewasa bisa lakukan membuat orang-orang di jalan tidak bisa mengalihkan pandangan.
"Apa dia dari sirkus?" tanya Seseorang yang baru saja dilewati Felix. Sementara anak kecil itu sedang melompat diatas mobil yang satu ke mobil lainnya yang lewat di jalan.
Felix mengejarnya di bagian trotoar jalan karena banyak kamera yang sedang merekam aksi anak kecil itu. Meskipun saat ini Felix tidak terlihat tapi adanya perlawanan akan membuat anak itu memperlihatkan kekuatan yang tidak masuk akal saat melawan Felix. Jadi Felix masih berpikir untuk memilih cara terbaik yang bisa diterima oleh akal sehat.
Polisi yang sedang berpatroli mulai datang dan mengelilingi anak itu yang masih berdiri di atas mobil mewah berwarna hijau kekuningan. Pengemudinya terlihat marah-marah tapi anak kecil itu meraih kerah pengemudi itu dengan hanya menunduk dari atas atap mobil dan menariknya dengan hanya satu tangan kemudian melemparkannya keluar dari jendela mobil dengan paksa.
Polisi yang tadinya membujuk anak itu untuk turun dengan cara baik-baik kini berubah menjadi waspada dengan menodongkan senjata pada anak kecil itu.
"Beginikah penegak hukum di Yardley?! menodongkan senjata pada anak kecil 5 tahun?!" teriak Anak kecil itu.
Felix tidak bisa menghubungi Tan, Teo dan Tom karena mereka sedang berada jauh. Felix sudah menghubungi Mertie dan Mertie sudah menyampaikannya pada Kayle tapi Kayle saat ini juga sama-sama jauhnya dengan Tiga Kembar berada.
Disaat Tiga Kembar sudah meninggalkan Desa Quinlan, Kayle buru-buru untuk kembali ke Kota Pippa. Agen Y.B.I yang ada di pusat juga sudah dihubungi tapi tetap akan memakan waktu karena kemacetan yang diperbuat oleh anak kecil itu di jalan.
"Namamu ... Carola kan?" Felix mulai mendekati anak kecil itu dengan melewati kerumunan polisi, "Nama yang bagus ... artinya siap bertempur ya kalau tidak salah? ibumu memberikan nama itu karena ingin kau bisa selalu siap dalam bertempur ... walau memang saat ini terlalu dini untuk itu tapi aku tahu kau bisa. Iblis tidak bisa sepenuhnya mengendalikan anak kecil karena belum memiliki keburukan yang dimiliki oleh orang dewasa. Jadi ... kau bisa mengembalikan kesadaranmu sendiri jika mau." Felix mengulurkan tangannya, "Ibumu sudah menunggumu dirumah ...."
"Ibu?" Carola mulai terlihat tenang dan perlahan melompat dari atas mobil dan berjalan hendak meraih tangan Felix, "IBU?!" suara dan ekspresi Carola berubah menyeramkan dan mencakar tangan Felix lalu mulai melompati Felix kemudian menyerang polisi yang ada disana.
Carola menyerang dengan membabi buta, polisi juga ragu menembaknya. Carola yang hendak menggigit seorang polisi dihentikan oleh Felix dengan menggantikan dirinya yang digigit, "Ow!" Felix menyadari akan hal itu langsung menarik Carola hingga menghadap keatas dengan tangan Felix yang masih berada di dalam mulut Carola. Darah Felix otomatis tertelan dan membebaskan Carola dari bagian iblis ular.
Felix yang menyadari bahwa Carola akan memuntahkan ular itu langsung kebingungan. Karena saat ini sedang berada di tengah kerumunan tapi tiba-tiba semua lampu jalan padam. Felix mengambil kesempatan itu untuk membawa Carola ke tempat yang aman dimana tidak ada yang melihat.
Setelah Carola memuntahkan bagian iblis ular, Carola langsung pingsan. Keadaan Carola sangat memprihatinkan, sepertinya tidak pernah makan sejak meninggalkan desa.
Agen Y.B.I juga sudah datang di lokasi kejadian. Felix membawa Carola mendekat dari jalan agar bisa segera ditemukan dan dia sendiri langsung berlari pergi.
Kesaksian orang-orang yang melihat kejadian itu dan juga polisi terpaksa membuat Y.B.I mengambil langkah tegas dengan memainkan dramanya.
"Anak itu punya kekuatan super!" kata Seorang saksi mata.
"Mohon untuk kerjasamanya, anak yang telah dibawa dengan ambulance itu adalah salah satu anak dari Desa Quinlan yang melarikan diri. Anak itu terkena wabah penyakit jadi semua yang ada disini akan diperiksa terutama yang melakukan kontak langsung. Jadi mohon bantuannya untuk mencegah penularan penyakit ini ...." kata Agen Y.B.I dengan memakai megaphone.
Semua yang menjadi saksi mata saat itu berubah dari mengagumi kekuatan anak kecil itu menjadi ngeri ketakutan karena takut jika terkena penyakit yang sama. Y.B.I memang ahlinya dalam menutup-nutupi sesuatu, maka dari itu Felix merasa tidak salah memilih mereka.
Felix mulai ingin kembali ke sekolah, "Semoga saja belum terlambat!"
"Caelvita-119!" suara yang menggelegar itu membuat Felix mau tidak mau berhenti tanpa dirinya sadari.
"Efrain!" Felix menoleh.
"Apa Iriana saat ini aktif membimbingmu?" tanya Efrain.
"Ada apa kau datang kesini sendiri menemuiku? ah, kau mau menghambatku untuk kembali menyelamatkan kedua Zewhit itu ... apa kedua Zewhit itu sebegitu berharganya sampai kau harus turun tangan sendiri?!" kata Felix mulai ingin meninggalkan Efrain.
Felix yang merasakan sakit diseluruh tubuhnya baru saja mendarat tapi harus bersiap lagi menerima pukulan Efrain yang datang dengan secepat kilat.
"Aku bertanya apa Iriana sedang bersamamu saat ini?" Efrain menghujani Felix dengan pukulan.
"Memangnya mau apa kau dengan orang yang sudah mati?!" kata Felix yang memuntahkan darah lewat mulutnya tapi tidak terintimidasi sama sekali dengan Efrain.
Efrain memanggil gerbangnya dan melempar Felix masuk ke Mundebris.
"Hahh ... dengan kondisi seperti ini aku tidak mungkin bisa memundurkan waktu." Felix berusaha berdiri tegak menunggu Efrain yang juga memasuki Mundebris.
"Kau juga sangat membutuhkan kedua Zewhit itu kan?! kulihat kau ragu antara menyelamatkan anak kecil itu atau tetap menjaga kedua Zewhit itu. Kau tidak ada apa-apanya dibanding Iriana! Iriana tidak akan bimbang dengan kedua pilihan itu. Dia akan langsung memilih anak kecil itu tanpa pikir panjang ... bagaimanapun juga kau itu tidak sebanding dengannya! aku akan menghidupkan Iriana kembali dengan cara apapun!" kata Efrain memprovokasi balik Felix.
"Dia tidak akan bisa hidup lagi! saat kau memanggil jiwa Iriana ke tubuhnya ... yang terpanggil adalah jiwaku! kau mungkin sudah menyadarinya juga. Sadarlah! dia tidak akan kembali hidup lagi." kata Felix.
"Kalau dia tidak bisa kembali hidup maka akan aku hancurkan dunia ini. Iriana yang pantas hidup ... mati ... sedangkan orang-orang yang tidak pantas hidup masih hidup. Tidak adil!" kata Efrain menyerang Felix kembali. Setengah mati Felix untuk menghindari serangan mendadak Efrain itu. Sedikit tidak fokus saja bisa membuat nyawanya melayang.
Setelah Efrain merasa bahwa sudah mengulur waktu dengan baik, ia langsung menghilang begitu saja. Felix yang terluka bergegas memaksakan dirinya untuk kembali ke Mundclariss.
"Sudah pagi?!" Felix memukul kepalanya.
Felix kembali ke sekolah dengan rasa sakit yang berkali-kali lipat karena kehilangan kedua hantu yang bisa saja sangat membantunya dan saat ini menjadi musuhnya sudah pasti akan menyulitkannya.
"Kau darimana saja?!" teriak Teo, "Kau terluka?!" Teo memeriksa Felix yang terlihat kacau.
"Maaf, aku mengacaukannya. Aku tidak berhasil menjaga kedua hantu itu." kata Felix lesuh.
"Apa maksudmu?" kata Teo tertawa.
"Efrain menghalangiku untuk kembali setelah menyelamatkan Carola, kedua hantu itu pasti sudah ada bersama Efrain sekarang." kata Felix masih dengan nada lesuh.
"Kau tidak kehilangan kedua hantu itu. Walaupun sebenarnya aku ingin mereka menghilang ...." kata Teo tertawa.
"Hah?! apa maksudmu?" Felix heran kemudian memandangi Tan dan Tom yang mulai berdiri dan membuat seseorang terlihat, "Verlin? Zeki?" Felix akhirnya melihat sosok Verlin dan Zeki yang tadinya tertutupi oleh Tan dan Tom yang merawat luka mereka.
"Saat kau tidak ada, mereka berdua yang berjaga disini." kata Tan.
"Jadi ...." kata Felix mulai terlihat ceria.
"Ya, kedua hantu terkasihmu itu masih ada di sekolah. Pasti saat ini sedang sibuk mengikuti Demelza dan Osvald." kata Tom membuat Tan, Teo, Verlin dan Zeki tertawa.
...-BERSAMBUNG-...