UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.407 - Menjadi Target Part 3



"Lari!" teriak Teo pada Osvald.


"Kau juga harus cepat lari, semua yang disini akan menyerang dengan cepat, kalau lambat bergerak akan membuatmu dalam bahaya." kata Osvald.


"Tidak, aku harus menunggu Tom sampai kesini! cepat! kau bisa duluan pergi!" kata Teo masih menunggu Tom sedang berlari ke arahnya.


Tom terus berlari tapi tanpa berbalik sudah tahu kalau yang dilihatnya itu perlahan memaksa untuk keluar. Sungai yang membeku perlahan retak dan Tom harus berlari cepat agar tidak terjebak disana.


"Hahh?!" Teo dan Osvald sudah melihat sekilas apa yang ada di dalam sungai yang dilihat Tom tadi dan mulai mengejar Tom saat ini.


"Apa kau benar, Teo?!" tanya Osvald dalam hati sudah mulai berlari. Osvald merasa ragu setelah melihat bagaiamana Teo menunggu Tom, "Kalau hanya ilusi, kenapa mereka saling peduli begini seperti pada umumnya aku mengenal mereka?! padahal semua yang ada disini tidak bisa berbicara dan tidak saling peduli dengan yang lainnya." Osvald sudah melihat banyak makhluk aneh tapi tidak ada yang normal, tidak bisa berkomunikasi dan tidak peduli saat yang lainnya dilukai oleh Osvald untuk bertahan hidup melindungi diri.


Tom sudah sampai di seberang, Teo langsung menarik Tom cepat naik dan berlari juga mengejar Osvald yang sudah lumayan jauh.


"Memangnya ada makhluk seperti itu disini?!" teriak Teo.


"Entahlah ... kita kan pernah absen semalam tidak mengawasi Osvald dan walaupun bersama Osvald, tidak semuanya bisa kita lihat karena Osvald sering menghilang tanpa jejak." kata Tom.


"Dilihat kalau dia berlari, pasti tidak ada cara untuk melawan makhluk itu ...." kata Teo yang tahu jika Osvald akan melawan kalau punya cara untuk menang.


"Tentu saja, mana ada cara untuk menang melawan makhluk itu?! kita saja belum tentu bisa menang ...." kata Tom sudah kelelahan karena memang sudah lebih banyak berlari daripada Teo.


Teo menyadari hal itu, "Ayo kita lawan!" kata Teo berhenti berlari, "Kita tidak bisa selamanya terus berlari dan kalau terjadi sesuatu dengan kita, Osvald juga bisa terluka." sambungnya.


Teo dan Tom berbalik dan menunggu makhluk yang berasal dari bawah sungai yang membeku tadi. Makhluk itu adalah buaya tapi berjalan dengan kedua kakinya dan berdiri tegap seperti monster dari animasi yang pernah dinonton oleh Teo dan Tom. Ukurannya luar biasa besar dan sangat tinggi sampai-sampai Teo dan Tom hanya seperti semut saja saat berhadapan dengan makhluk itu.


"Kulitnya terlihat keras ...." kata Teo memanggil Moshas nya.


"Apa maksdumu?! kau sedang meremehkanku?!" kata Winn.


"Ah, sorry!" kata Teo.


"Hahh?! apanya?!" tanya Tom heran apa yang dimaksud oleh Teo yang tiba-tiba saja minta maaf.


"Apa?!" Teo langsung berpura-pura bodoh.


Tom sedang tidak mood untuk meladeni kelakukan Teo itu dan langsung berlari menuju kaki makhluk itu untuk diserang.


"Dia sudah gila!" kata Teo melihat Tom yang nekat mendekati kaki makhluk itu.


Kalau tidak menghindar, Tom pasti sudah menjadi bubur. Bagaimana tidak, makhluk itu memanfaatkan tubuhnya yang besar dengan sangat baik. Mengggunakan kaki untuk menginjak dan kedua tangannya sebagai palu membuat salju yang menumpuk terus beterbangan.


"Kau harus membantunya mengalihkan perhatian!" kata Winn.


Teo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan melemparkannya ke udara. Tiba-tiba sebuah ledakan besar terjadi dari benda yang dilemparkan oleh Teo.


"Dia sudah gila?! apa yang dilakukannya?!"


"Eh?! kau sendiri kenapa kembali kesini?!" teriak Teo kaget melihat Osvald ada di sampingnya, "Cepat pergi darisini!"


"Tidak akan ada cara untuk mengalahkannya!" kata Osvald.


Kaki monster yang telah dilukai itu tertekuk sehingga mengakibatkan tanah berguncang karena monster itu terjatuh.


"Berhasil?! bagaimana bisa?!" Osvald melongo.


"Cepat pergi darisini!" teriak Teo yang juga mulai berlari menuju monster itu setelah diberi kode oleh Tom.


"Kalaupun mereka adalah Teo dan Tom, yang dilakukannya sekarang ini ... mustahil!" kata Osvald mulai ingin mempercayai bahwa mereka berdua adalah benar Teo dan Tom yang dikenalnya tapi setelah melihat apa yang telah dilakukan oleh Tom pada monster itu dan Teo memiliki senjata yang bersinar terang, "Apa-apaan ini?! apa mereka benar orang yang selama ini aku kenal?!"


Monster itu kesulitan berdiri hanya karena kakinya terluka disebabkan tubuhnya yang besar dan berat. Maka dari itu Teo dan Tom tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Tapi meski monster itu kesulitan berdiri tetap saja sangat berbahaya untuk didekati karena terus mengamuk dan memukul apapun yang mendekatinya.


"Kau pernah melihat makhluk ini?!" teriak Teo pada Osvald mencoba mencari petunjuk tentang monster itu.


"Tidak, aku tidak pernah melihatnya!" teriak Osvald.


"Berarti makhluk ini datang karena keberadaan kita ...." kata Teo stres.


"Tentu saja, kesulitan akan bertambah tergantung dari target ... dan kita menjadi target, itulah kenapa Felix melarang kita untuk ikut campur karena setelah kita menjadi target ... bukannya meringankan beban target malah membawa bahaya yang lebih besar lagi." kata Tom merasa bersalah pada Osvald.


"Kita harus mengalahkan makhluk ini apapun yang terjadi!" kata Teo.


"Makhluk ini hanya besar saja, dia tidaklah seberbahaya itu!" kata Winn membuat Teo sebal.


Disaat Teo dan Tom akan kembali menyerang, tiba-tiba ada lagi yang terlempar turun dari langit dan jatuh tepat disamping wajah monster itu berada.


"Zeki?!" teriak Teo dan Tom bersamaan.


"Hahh?! kalian ada dua ... jadi yang sendiri itu siapa?! ah, Tan ya?!" kata Zeki saat melihat senjata mereka berdua. Sulit mengetahui siapa Tan, Teo dan Tom tapi dengan senjata yang dipegang oleh masing-masing mereka mudah menebak walau tidak melihat wajah mereka.


"Awas!" teriak Osvald yang melihat Zeki sedang berada tepat di depan mulut raksasa itu.


Tapi Zeki hanya santai saja dan melemparkan pedangnya pada mata monster itu bahkan tanpa berbalik sedikitpun. Disaat monster itu berteriak kesakitan dan terus bergerak, Zeki dengan santainya mencabut pedangnya dari mata monster itu dan melompat tepat di jantung monster itu berada dan membunuhnya dalam sekejap.


"Hahh?!" Osvald melongo melihat apa yang telah disaksikan olehnya saat ini. Belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dilakukan oleh Teo dan Tom tapi kali ini ditambah dengan melihat anak seumuran masih TK membunuh monster dengan mudahnya.


Disaat Osvald tidak berhenti terheran-heran, Teo dan Tom langsung lega saat melihat kedatangan Zeki. Mereka tahu betul bahwa monster itu adalah lawan yang mudah untuk seorang Zeki.


"Apa yang terjadi diluar sebenarnya?!" tanya Tom pada Zeki yang masih berada di atas tubuh monster yang sudah tidak bergerak lagi itu.


Zeki hanya bisa menghela napas kesal, "Tidak diluar, tidak didalam sini ... lawanku selalu saja buaya." Zeki kembali terbang dengan sangat cepat, malas untuk menjelaskan pada mereka apa yang sedang terjadi di luar.


Setelah kepergian Zeki, terdengar suara kaca yang pecah. Suaranya sangat besar dan tidak berhenti-berhenti.


"Sepertinya ini bukan karena kita saja tapi ... jika ada yang masuk kesini ... akan membuat perubahan di dalam sini juga." kata Tom menyadari setelah kedatangan Verlin ada badai salju datang setelah itu kemudian mereka yang tiba-tiba menjadi target.


"Terjadi sesuatu yang besar di luar sana dan kita juga terkena dampaknya ...." kata Teo.


...-BERSAMBUNG-...