UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.272 - Konsep Dasar Iblis



"Sudah terjadi?" tanya Tan melihat wajah pucat Felix.


"Belum terlambat ... ayo kita kesana!" kata Tom memungut pedang Felix yang terjatuh dan menaruhnya ditangan Felix kemudian mengarahkan tangan Felix menuju ke belakang punggungnya. Tom sudah hafal betul dimana tepatnya tempat pedang Felix berada. Hanya saja harus menggunakan tangan Felix sendiri untuk bisa menaruhnya.


"Ada apa?" tanya Mertie tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Manusia tidak ada yang bersalah dalam kasus ini." jawab Tan.


"Em ... bisa lebih detail lagi!" kata Mertie.


"Iblis merasuki Sang Penghipnotis, semuanya hanya untuk mengelabui kita ... untuk mengelabui polisi dan juga kita. Bagi polisi, yang menghipnotis itu adalah pelaku utamanya tapi bagi kita iblis yang memasuki penghipnotis itu adalah pelakunya ... tapi kenyataannya ...." kata Tan tidak selesai karena kecewa dengan dirinya sendiri yang lambat mengetahui apa yang sedang terjadi.


"Tapi?!" Mertie sudah sangat penasaran.


"Penghipnotis hanyalah pengalihan." kata Tom.


"Pengalihan?" tanya Mertie.


"Ya, untuk mengalihkan polisi dan menjauhkan kita dari pelaku sebenarnya ...." kata Tan.


"Iblis yang merasuki penghipnotis hanyalah pengalihan, sebenarnya yang ingin dilakukan oleh iblis itu adalah merasuki yang dihipnotis ... kita tertipu!" kata Tom menggigit bibirnya.


"Tidak ... maksudmu sekarang ...." Mertie mulai mengerti apa yang sedang terjadi.


"Ya, saat ini yang pura-pura dihipnotis tapi sebenarnya dirasuki oleh Iblis itu sedang melakukan pembunuhan!" kata Tan.


Felix mengacak-acak rambutnya dan mulai tertawa, menertawakan kebodohannya, menertawakan keterlambatannya dalam berpikir.


"Kalau begitu ... ayo cepat kita kembali!" kata Mertie mulai panik.


"Kalian duluan! aku harus memberinya obat penawar!" kata Tan mengarahkan pandangannya pada orang yang dijadikan penghipnotis tadi.


"Obat penawar?" tanya Mertie.


"Setelah masuk Bemfapirav, mata Bemfapirav juga akan terbuka ... seperti dirimu!" jawab Tan.


"Ada obat untuk itu? kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Mertie.


"Memangnya jika aku memberitahumu, kau mau meminumnya? kau mau, tidak akan bisa melihat hantu lagi?" tanya Tan.


"Tid ... tidak." jawab Mertie.


"Jadi ya begitu, kenapa aku tidak memberitahumu." kata Tan.


Mertie terpaksa menerima ejekan Tan yang memang benar adanya. Tidak mungkin bagi Mertie melepaskan kemampuan untuk melihat hantu, sekalipun itu mengganggunya. Karena Mertie adalah Mertie. Si Hantu Merah Muda yang sudah berjanji pada hantu yang telah ia selamatkan.


"Kalian akan memberiku apa?" tanya penghipnotis.


"Jangan khawatir, anda juga tidak akan mengingat semua ini ... walau mungkin akan mengalami mimpi buruk selama beberapa hari, tapi akan hilang juga nantinya." jawab Tan mulai meramu ramuan dalam botol kecil yang selalu dibawanya di dalam tas.


"Dia sudah benar-benar sah menjadi murid Banks." kata Tom.


"Padahal, ramuan pelupa seharusnya sangatlah sulit untuk diramu bersamaan dengan ramuan penawar mata ...." lanjut Tom lagi.


Tom memasang kacamata pemberian Banks yang bisa melihat ke dunia lain itu. Tom mulai berjalan diikuti oleh Teo serta Mertie yang juga ikut tanpa tahu apa-apa. Sedangkan Felix berjalan pelan di belakang.


"Kita akan kemana?" tanya Mertie.


"Kalau kita kembali ke Mundclariss dan ada banyak orang, bisa gawat kan ... empat anak manusia yang tiba-tiba muncul dari dunia lain? menurutmu itu bagus?" kata Teo.


"Jadi, kacamata ini bisa melihat ke dunia lain? membantu kalian untuk aman atau tidaknya memasuki dunia lain ... begitu?" kata Mertie.


"Ow, kau cepat mengerti!" kata Teo memuji.


"Kau yang lambat!" kata Mertie.


"Kau pun tidak jauh berbeda!" kata Teo.


"Wah, kau tidak sendiri! daritadi kau hanya diam disaat mereka mengetahui sesuatu ...." kata Mertie.


"Kau juga mengalami hal yang sama kan?!" kata Teo mulai tertawa dan memegang bahu Mertie untuk kembali ke Mundclariss.


"Jadi Muntclaris adalah sebutan untuk dunia nyata?" tanya Mertie.


"Pakai D bukan T dan Double S, MunDclariSS bukan Muntclaris ... dan bukan dunia nyata tapi dunia manusia." jawab Tan.


"Apa bedanya? penyebutannya sama saja! tunggu ... jadi maksudmu ...." kata Mertie.


"Bemfapirav bukanlah dunia tidak nyata seperti bayanganmu. Bemfapirav adalah benar dunia, bukan sekedar dunia ghaib seperti yang kau pikirkan ...." kata Teo.


"Jadi dunia yang tadi kita datangi itu benar dunia hantu? kukira hanyalah dunia kegelapan ...." kata Mertie.


"Yup! tapi kau ada benarnya juga, dunia kegelapan ...." jawab Teo.


"Kita terlambat ya?!" kata Tom terdiam ditempatnya.


Teo dan Mertie menyusul berdiri disamping kiri dan kanan Tom melihat apa yang dilihat Tom saat ini. Mereka ada tepat di depan eskalator di lantai dua menuju lantai satu. Tapi di lantai satu sudah dipenuhi oleh cairan merah dengan dua orang yang tergeletak tidak sadarkan diri dan satu orang yang memegang pisau sedang terlihat kebingungan.


"Dia tidak ingat apa yang telah dilakukannya." kata Tom.


"Tentu saja karena bukan dia yang melakukannya." kata Felix lumayan jauh di belakang mereka bertiga.


"Iblis yang berada di dalam tubuhnya?" tanya Mertie.


"Sudah pergi pastinya, dengan membawa bonus dua roh tidak bersalah yang baru saja meninggal itu!" kata Tom.


"Sudah berapa banyak arwah yang dimiliki oleh Efrain?!" kata Teo, "Dia melakukan segala macam cara sekarang, demi mendaptkan banyak roh ... tapi sebenarnya untuk apa?"


"Tidak mungkin karena hobby mengoleksi hantu ... tentu saja untuk membunuhmu!" kata Tom.


"Mu disini juga berlaku untukMU!" balas Teo sarkastik.


"Tenang saja, kalau kau mati aku juga pasti menyusulmu tidak lama setelah kau mati!" kata Tom mengundang tawa pada Teo tapi tidak untuk Felix.


"Bukankah tidak baik tertawa saat di TKP?!" kata Mertie.


"Ow, ehhem ...." Teo dan Tom membungkam mulutnya sendiri, setuju yang dilakukannya saat ini adalah hal yang salah.


Polisi datang dan mulai menangkap pelaku yang berteriak bahwa tidak ingat apa-apa itu. Untung saja pengunjung mall sudah tidak terlalu ramai karena sudah hampir larut malam. Jika masih ramai, korban bisa jadi bukan hanya dua tapi lebih dari itu.


"Jadi apa yang kita dapatkan?" tanya Tan yang sudah datang.


"Bagaimana dengan orang tadi?" tanya Mertie.


"Aku sudah membawanya kembali, sama seperti orang yang sedang dibawa oleh polisi itu ... dia juga tidak ingat apa-apa sekarang dan tidak akan melihat hantu juga." jawab Tan.


"Kerja bagus, Mertie!" kata Felix.


"Ya, ini memang tugas kami!" kata Tom sepakat.


"Iya kan? sudah kubilang kalau kalian akan berterimakasih padaku ...." kata Mertie.


"Ini bukanlah masalah pembunuhan biasa, bukan juga pembunuhan berantai oleh sebuah kelompok atau organisasi ... tapi ini adalah pembunuhan berencana yang khusus dilakukan oleh iblis dengan cara menipu." kata Tan.


"Dan benar kita tertipu ...." kata Teo.


"Sebuah pembunuhan tingkat satu yang melanggar peraturan Ruleorum dan harus segera dihentikan." kata Felix.


"Mengelebui kita dengan menggunakan metode penghipnotisan padahal semua hanyalah kebohongan ... tidak ada hipnotis sama sekali dalam hal ini. Hanya satu iblis yang akting menghipnotis kemudian pindah ke tubuh manusia lain yang sedang berpura-pura dihipnotisnya itu." kata Tom.


"Tapi bagaimana dia diam saja kalau memang tidak dihipnotis? bukankah normalnya, jika ada orang asing yang menyentuh pundak kita dan berbicara kita akan berbalik dan menjauhi orang asing itu?" kata Mertie.


"Konsep dari iblis sendiri adalah menipu, merayu, mengelabui, membohongi ... semua prinsip dari cara memanipulasi orang lain, iblis lah yang terbaik." kata Tan.


"Beruntung kami mendengarkanmu, sehingga bisa tahu hal ini ...." kata Teo.


"Jadi apa yang akan kita lakukan? semua kesembilan pelaku, tidak ... sekarang sudah sepuluh. Mereka semua pada dasarnya tidak bersalah sama sekali ...." kata Mertie.


...-BERSAMBUNG-...