UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.137 - Hari Mulai Berlalu Dengan Cepat



Sungguh menakjubkan sahabat Caelvita atau yang disebut Alvauden. Bisa membuat manusia biasa seperti Tan, Teo dan Tom bisa memiliki kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh manusia. Tiga Kembar itu bisa bolak-balik semaunya ke Mundebris dan Mundclariss. Bahkan tak lama setelah itu mereka bertiga bisa memasuki Bemfapirav juga. Walau Teo dan Tom sempat heboh saat pertama kali mengetahui Bemfapirav adalah dunia para hantu, saat pertama kali melakukan kunjungan ke Bemfapirav semuanya ketakutan tapi untung saja ada Tan yang walaupun juga panik tapi bisa menenangkan diri dengan cepat dapat membawa mereka pergi darisana.


Disaat Felix dan Cain sibuk berlatih, Tiga Kembar sudah mulai melakukan banyak kontrak dengan berkeliling membujuk tanaman atau hewan yang ditemuinya. Bahkan mungkin pengetahuan Tan, Teo dan Tom tentang Tanaman dan Hewan Mundebris sudah lebih banyak dari Felix dan Cain.


Felix sempat khawatir jika Tan, Teo dan Tom kelelahan harus melakukan aktivitas lain setelah pulang sekolah dan mengerjakan tugas sekolah. Tapi ternyata tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semangat mereka bertiga tidak pernah kendor. Bahkan semakin hari berlalu, bukannya mengeluh tapi mereka terlihat lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya.


Cain yang sudah mengetahui kekhawatiran Felix tentang masa depan yang dilihatnya itu terlihat berbeda setelah hari itu. Tidak pernah membuat lelucon lagi, bahkan tidak banyak bicara. Setiap hari ia sudah seperti robot saja karena mengerjakan tugas langsung setelah tugas itu diberikan agar bisa secepatnya ke Mundebris untuk berlatih. Cain tidak ingin membuang waktunya dengan percuma lagi walau hanya sedetik.


Sedangkan Zeki yang sudah tahu tujuan Efrain mulai memperingatkan Felix. Walau butuh waktu lama karena harga dirinya serasa jatuh ke dasar jurang. Tidak mempercayai perkataan Felix tentang Efrain dan menentang Felix serta saat ini malah dengan tidak tahu malu mengajukan akan membantu melawan Efrain. Zeki serasa sudah tidak punya harga diri lagi tapi perasaannya yang kehilangan sahabat baiknya ke dalam kegelapan tidak sebanding dengan rasa malu itu. Zeki sudah memantapkan dalam hatinya, bahwa dia sendirilah yang akan menghentikan Efrain.


Verlin yang juga sudah tahu informasi berkat cerita dari Felix dan telah melihat masa depan bersama Felix. Verlin mulai ikut membantu juga dengan menggunakan keahliannya.


"Walau mungkin tidak bisa sebaik saat aku membantu Sang Caldway dulu karena kekuatanku sudah tidak seperti dulu lagi tapi tetap akan aku lakukan yang terbaik ...." kata Verlin.


"Aku dengar dari Iriana kalau kau sangatlah membantunya dulu, tidak perduli kapan dan dimana kau siap menemani dan melakukan misi tanpa keraguan sedikitpun ... aku beruntung kau juga berada disisiku!" kata Felix.


"Kau pikir aku akan ada disisi Efrain?!" tanya Verlin.


"Bukannya aku tidak mempercayaimu ...." Felix mulai tertawa.


"Ya ... aku maklum saja!" kata Verlin pasrah.


"Apa menurutmu kekuatan Cain yang sekarang bisa mengalahkan Efrain?" tanya Felix.


"Sangat ... sangat ... sangat jauh dari kemungkinan!" jawab Verlin langsung tanpa memikirkannya dulu sama sekali.


"Apa kau harus menjawabnya dengan cepat seperti itu ...." Felix kesal dengan penghinaan Verlin pada Cain yang sudah bekerja begitu keras, "Memangnya sekuat apa Efrain itu?"


"Akan aku jelaskan dengan mudah ya ... tidak ada seorangpun di Mundebris yang bisa mengalahkannya!" kata Verlin yang membuat semangat Felix hilang seketika.


"Memangnya dia sekuat itu?" tanya Felix dengan nada lesuh.


"Dia adalah Raja Neraka, Raja Iblis ... biasanya dia itu malas sekali keluar dari Neraka, hanya jika Sang Caldway memaksanya untuk keluar barulah Efrain keluar dari Neraka. Jenderal Perang terkuat yang berasal dari kaum iblis semuanya dilatih oleh Efrain sendiri ... bisa kau bayangkan kan, prajurit terkuat Mundebris berasal dari didikan Efrain!" jawab Verlin.


"Seharusnya aku tidak bertanya!" Felix menyesali perbuatannya sendiri.


"Jika kau tidak bertanya tetap akan aku beritahu juga!" kata Verlin.


"Haha ... kau tidak perlu sebaik itu!" kata Felix sarkastik yang tidak disadari oleh Verlin yang tidak peka.


***


"Kita sudahi dulu latihan hari ini!" kata Goldwin yang sudah sangat kelelahan.


"Sedikit lagi!" kata Cain masih terlihat baik-baik saja.


"Bukannya aku tidak mau tapi kita ada misi!" kata Goldwin yang membuat Cain tidak bisa berkata-kata lagi. Memang prioritas utamanya adalah latihan dan latihan. Tapi tidak bisa juga mengecualikan misi yang menjadi kewajibannya.


Undangan misi terlihat mengeluarkan surat dengan kertas yang panjang sampai tergulung di tanah saking panjangnya isi misi itu. Padahal undangan itu mengambang di udara lebih dari satu meter.


"Misi apa ini?!" decak kesal Cain malas membacanya.


"Jadi apa sebenarnya inti dari misi ini?" Cain menghela napas panjang.


Goldwin yang sebenarnya malas menjelaskan kini dengan bahagia menjelaskan misi itu pada Cain. Misi yang menyebutkan bahwa banyak tanaman dan hewan yang merasa terganggu dengan kemunculan tiga anak manusia yang terus menganggu mereka. Cain tahu betul siapa yang dimaksud dengan tiga anak manusia itu.


"Jadi maksudnya adalah ini surat keluhan?" tanya Cain tidak habis pikir.


"Seperti itulah, yang membuat penjelasan misi ini sangat banyak karena masing-masing keluhan dari berbagai tanaman dan hewan!" jawab Goldwin.


"Memangnya Leaure juga harus mengatasi keluhan dari seseorang?!" Cain merasa latihannya percuma karena harus menangani misi seperti itu.


"Leaure tidak memandang siapa yang harus ditolong dan masalah apapun itu bahkan musuh sekalipun itu!" kata Goldwin.


"Mereka ini tidak membutuhkan pertolongan kita sama sekali!" kata Cain.


"Undangan misi tidaklah muncul karena seseorang mengajukannya. Bukan karena seseorang secara langsung meminta pertolongan ke kita. Tapi perasaan seseorang yang membutuhkan pertolongan itu yang tertulis sendiri di surat misi Leaure. Bahkan tanpa seorang Raja Leaure sadari ...." kata Goldwin.


"Jadi maksudmu aku harus menghentikan Tan, Teo dan Tom?!" kata Cain.


"Kau bisa mengabaikan misi ini tapi seperti yang kau tahu ... ini akan masuk sebagai misi yang gagal kau laksanakan!" kata Goldwin.


"Tidak masalah!" kata Cain santai tanpa beban sama sekali.


"Ck! kau ini tidak memiliki jiwa sebagai Leaure sama sekali!" decak kesal Goldwin.


"Jadi maumu aku bagaimana?!" tanya Cain kesal.


"Setidaknya kita kesana menerima keluhan dari para tanaman dan hewan ... agar bisa mendapatkan poin kerajinan! SETIDAKNYA ...." jawab Goldwin penuh penekanan.


"Baiklah!" Cain menyerah.


"Heh?!" Goldwin heran sendiri dengan Cain yang menyerah secepat itu. Padahal akhir-akhir ini ia terus saja kalah berdebat dari Cain, "Baiklah ... setidaknya ia bisa bersantai dan istirahat dulu!" kata Goldwin dalam hati yang mengkhawatirkan Cain akan mati kelelahan karena latihan tiada henti.


"Kita mulai darimana?" tanya Cain.


"Istana Ruleorum!" jawab Goldwin.


"Apa mereka juga ada disana?" tanya Cain.


"Sepertinya begitu ... tanaman dan hewan yang ada disekitar Kerajaan Ruleorum sangatlah keras kepala dan tidak akan dengan mudahnya menerima kontrak apalagi dengan manusia, walau Alvauden sekalipun!" jawab Goldwin.


"Seharusnya Tan, Teo dan Tom yang meminta pertolongan saja!" kata Cain.


"Itu hanya bisa jika seseorang tersebut sangatlah putus asa dan merasa sangat terganggu ... barulah bisa menjadi misi kita untuk tertulis di surat undangan misi!" kata Goldwin.


"Sepertinya itu tidak akan terjadi!" kata Cain yang tahu betul dengan Tiga Kembar yang tidak pantang menyerah dan tidak akan mengeluh sama sekali itu. Walaupun mengeluh pasti hanya sekedar ucapan lewat saja. Mungkin sekarangpun, tiga anak itu sedang dipenuhi semangat membara membujuk untuk bisa melakukan kontrak.


...-BERSAMBUNG-...