
Kondisi pasukan Efrain yang terluka akibat ledakan besar yang disebabkan oleh Felix memberi kelompok nya sedikit semangat harapan untuk berjuang. Setidaknya lawan mereka sudah kelihatan kacau, tidak lagi kelihatan segar dan dalam kondisi prima saat baru bertemu sebelumnya tadi.
Tadinya kelihatan tidak ada harapan sama sekali, tapi saat ini seperti memunculkan percikan api harapan kemenangan atau setidaknya seperti itulah yang ingin mereka percayai.
"Kalau dalam kondisi seperti itu, sepertinya kekuatannya akan sama dengan kita sekarang." kata Tom mencoba berlagak sombong.
"Aku suka cara berpikir positifmu, Tom!" kata Tan.
Banks dan Verlin setengah mati menahan tawanya karena mendengar ucapan Tan dan Tom itu.
"Tapi ... ya, bisa saja sih!" kata Verlin.
"Jangan meremehkan kami!" kata Tom.
"Felix ...." Zewhit Petugas panti asuhan Helianthus mulai mendekat, "Benar, ini kau Felix?!" Petugas panti masih tidak percaya apa yang barusaja dilihatnya, "Kau masih hidup ... syukurlah!"
"Kak Felix ...." Adik-adik sepantinya dulu juga kelihatan berlari kecil menuju tempat Felix berada. Tapi kemudian dilarang berlari oleh petugas panti agar tidak terjatuh. Bahkan setelah menjadi Zewhit sekalipun, naluri keibuan mereka tetap tinggal.
"Sudah kuduga saat tidak melihatmu bersama kami saat dibawa oleh yang disana itu ... aku yakin kau pasti masih hidup selamat dari kebakaran itu!" kata Saudara yang seumuran dulunya di panti, tiba duluan dihadapan Felix dibanding yang lainnya, "Aku masih tidak tahu apa yang terjadi sekarang ... tapi jujur aku senang bisa melihatmu!" lanjutnya dengan tersenyum.
Tapi senyuman itu berubah menjadi pemandangan menyeramkan karena sebuah pedang menusuk bagian perut yang baru saja berbicara dengan Felix itu. Pedang itu ditarik keatas sehingga membelah dua tubuh teman sekelasnya dulu itu. Hingga menghilang menjadi asap dan tinggal Iblis dengan pedangnya yang sedang berada dihadapan Felix. Iblis itu terlihat mundur dengan seringaian sangat menyebalkan.
Teriakan demi teriakan juga terdengar dari Zewhit lainnya. Petugas panti melindungi anak-anak panti saat akan diserang oleh iblis dan menghilang bersamaan dengan yang dilindungi dalam pelukan itu juga.
Teo berusaha melindungi Zewhit lainnya agar bisa mendekat ke arah Felix tapi melihat bagaiamana iblis sudah ada disana tiba lebih dulu. Teo mengurungkan niatnya dan memilih tempat lainnya dulu.
Tan dan Tom yang kaget dengan serangan mendadak itu baru bergerak saat keadaan sudah kacau. Tan dan Tom teralihkan karena melihat bagaimana reuni Felix dengan petugas panti dan saudara/saudari di panti sebelumnya. Sementara Banks dan Verlin masih sempat ikut menyelamatkan beberapa Zewhit karena cepat bergerak.
Felix gemetaran dan menjatuhkan pedangnya. Kebahagiaannya hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Melihat bagaimana mereka tersadar dan tidak lagi dalam kendali. Bagiamana mereka hanya berjarak begitu dekat tapi Felix tidak berhasil melindungi, lagi. Membuat Felix menggertakkan giginya marah. Felix memungut pedangnya bersamaan dengan petir dan guntur terlukis dan terdengar dari atas langit.
"Tahan emosimu! kau kalah jika merasa sangat putus asa sekarang ... mereka adalah Zewhit, yang harus kau khawatirkan adalah mereka yang masih hidup." kata Zeki terpaksa bangun untuk menahan Felix melampiaskan amarahnya. Bertarung dengan dipenuhi emosi adalah bunuh diri. Zeki sambil menunjuk Tan, Teo dan Tom yang berjuang keras sedang melindungi Zewhit, berharap Felix merubah pikirannya.
"Verlin!" teriak Felix.
Verlin yang mengerti maksud dari tatapan Felix itu mulai mengeluarkan sabit malaikat kematian. Felix juga mengubah dirinya menjadi malaikat kematian. Felix saling memberi isyarat untuk melakukan hal bersamaan.
"Tidak!" teriak Teo menghentikan Felix dan Verlin dengan aktivitasnya, "Aku masih membutuhkan mereka ... jangan bawa dulu ke Jembatan Ruleorum!"
Verlin cukup terkesan dengan bagaimana Felix menerima begitu saja permintaan Teo yang gegabah itu disaat Felix kelihatannya tidak akan mengalah tapi ternyata mengalah juga. Akan lebih baik dan aman jika Para Zewhit dibawa ke Jembatan Ruleroum untuk dijauhkan dari medan pertempuran. Karena pasti hanya dua, kalau tidak terbunuh lagi maka akan dimanfaatkan lagi. Tapi dari Efrain yang memerintahkan untuk membunuh Para Zewhit menandakan mereka tidak lagi dibutuhkan. Yang tersisa hanya satu, yakni pembantaian Zewhit.
Felix yang sedang dipenuhi amarah berhasil menahan emosinya berkat Zeki. Sehingga solusi pertamanya hanyalah satu untuk membawa Para Zewhit pergi darisana. Karena sudah terlepas dari kendali maka bisa dipanggil menggunakan kekuatan Ruleorum lagi. Tapi Felix mengurungkan niatnya itu karena Teo.
Permintaan Teo itu terbilang sangat ceroboh mengingat membawa Para Zewhit pergi darisana adalah yang terbaik. Tapi Felix menuruti saja permintaan Teo itu, meski masih dengan perasaan campur aduk. Verlin tidak mengira Felix begitu mempercayai Alvaudennya bahkan saat belum sepenuhnya terlihat berpikir jernih.
"Apa?!" Felix balik bertanya.
"Kau tahu kan apa yang akan dilakukannya ...." kata Zeki.
"Apa?! aku tidak mengerti apa maksudmu." kata Felix.
"Kau bahkan tidak mau membahasnya ... baguslah! memang seharusnya begitu, tidak ada yang boleh tahu. Yang terpenting adalah kau percaya kalau dia bisa melakukannya. Atau kita harus terpaksa percaya saja ...." kata Zeki.
Felix menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya. Menstabilkan pernapasan dan ritme jantungnya yang tidak normal.
"Aku tidak menyangka ... mereka kelihatan bahagia bisa melihatku lagi. Walau aku sering bersikap kasar pada mereka. Bayangan dan mimpi burukku selama ini adalah sikap mereka yang menganggapku sebagai anak yang kasar, sebagai penyebab kebakaran, sebagai pembawa sial karena hanya bertahan hidup sendirian. Tapi ... nyatanya, mereka bersyukur aku masih hidup." Felix merasa bersalah bagaimana tidak bisa melindungi petugas panti dan saudara/saudarinya untuk kedua kalinya. Tapi perasaan Felix seperti tercerahkan, kepastian membuat Felix merasa lega dan tenang. Mungkin Felix memang sudah sangat menunggu kata-kata itu dari mereka sejak dulu. Sepertinya rasa bersalah Felix berasal dari kesalahapahaman atau Felix memang sengaja membuat kesalahapahaman itu sendiri untuk menghancurkan dirinya sendiri.
Felix mengulurkan tangannya kedepan, kabut atau lebih tepatnya asap dari berbagai arah seperti tersedot masuk kedalam telapak tangan Felix.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menghilang begitu saja dan tidak bisa terlahir kembali." perlahan terbentuk sebuah gelang pada pergelangan tangan Felix yang diulurkan itu, gelang dengan banyak tengkorak.
"Kau melakukan kesalahan Felix ...." kata Verlin mendekat.
"Jangan mempertanyakan tindakanku! mau itu salah atau benar ... akulah yang menentukan!" kata Felix.
Semua Zewhit yang menghilang dan menjadi asap tadi semuanya tersedot masuk kedalam genggaman tangan Felix. Semakin banyak juga liontin tengkorak terbentuk di gelangnya itu.
"Kau membawa jiwa mereka masuk kedalam dirimu ... itu adalah tindakan yang buruk. Itu akan menyulitkanmu suatu saat ...." kata Verlin.
"Aku tidak bisa membiarkan mereka menghilang begitu saja ... untuk sementara biar aku bawa mereka." kata Felix.
"Memulihkan jiwa yang mati akan merusak jiwamu sendiri." kata Verlin.
Felix tidak peduli apa yang dikatakan Verlin. Setelah selesai menyedot semua arwah yang akan menghilang. Felix meninju tanah menciptakan es yang menyebar. Dari dalam es itu muncul kerangka tulang yang kelihatannya baru saja terbakar.
"Itu ...." kata Ditte tidak melanjutkan kalimatnya.
"Dia memanggil tahanan di Neraka ...." kata Efrain.
"Bagaimana bisa dia melakukan itu?!" tanya Ditte.
"Iriana adalah pembimbingnya, tentu saja dia bisa menguasai hal yang sama seperti Iriana." kata Efrain.
"Kekuatan Ruleorumnya yang pertama sempurna. Tidak kusangka ... tapi bukan hal yang perlu ditanyakan juga karena Caelvita sebelumnya juga begitu. Dan ... Caelvita cenderung mengikuti jejak dari Caelvita sebelumnya yang menjadi pembimbing." kata Verlin melihat penampilan Felix yang tidak asing karena menjadi saksi juga saat Iriana berhasil menyempurnakan kekuatan Ruleorumnya.
...-BERSAMBUNG-...