
Tom segera memeriksa isi tas Tan dan memilih ramuan yang paling dikenalnya yang berwarna biru untuk menghentikan pendarahan.
"Apa ada ramuan itu, Tan? yang ... yang itu ... yang bisa menutup luka luar?!" Tom dalam mode panik.
Tan sudah tidak punya tenaga lagi untuk berbicara, bahkan Tom sudah mendekatkankan telinganya di depan masker Tan tetap tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Tan. Resiko lebih besar lagi jika harus membuka masker Tan akan lebih membahayakan dari pada luka Tan sekarang. Jaringan Alvauden juga tidaklah berfungsi di dalam dunia Zewhit. Tidak ada cara kini untuk meminta Tan menjelaskan cara merawat lukanya saat ini.
Osvald juga sudah tiba disana melihat bagaimana keadaan Tan yang sudah tidak sadarkan diri.
"Jadi, kita terpilih karena memiliki rasa takut yang paling tinggi?!" kata Demelza tidak habis pikir setelah diberi penjelasan oleh Osvald, "Yang benar saja?! masih banyak anak-anak lain yang lebih penakut lagi. Kenapa mereka memilihku?! apa benar caranya memilih itu akurat?!"
Teo dan Tom hanya bisa diam, mereka mendengar dengan jelas keluhan Demelza tapi tidak bisa menjelaskan juga. Walau besok pagi tidak akan ingat tapi sekarang pasti akan membuatnya kesal jika dijelaskan. Penilaian kedua Zewhit itu sangatlah akurat dan tidak bisa diganggu gugat.
Melihat bagaimana Teo dan Tom hanya diam, Osvald mulai mengingat bagaiamana selama ini tindakan mereka. Tom yang pernah mengingatkan untuk tidak takut dan beberapa hari yang lalu Teo dan Tom memberinya minuman hangat yang dibuatkan khusus oleh petugas dapur padahal tidak ada dalam menu.
"Ternyata semuanya begitu jelas ... sekarang aku mengerti kenapa mereka melakukan itu." kata Osvald dalam hati, "Mereka benar tiga kembar yang selama ini kukenal ... tiga orang yang punya kepribadian berbeda tapi memiliki wajah yang sama. Tiga orang yang sangat kusukai ini ... ternyata menyimpan rahasia ...." sambungnya lagi dalam hati.
Demelza memperhatikan Osvald yang terus menatap Tiga Kembar, "Sangat mencengangkan kan?! sama! aku juga kesal dengan mereka ... ternyata selama ini mereka tahu kita disini tapi baru memunculkan diri sekarang. Sangat menyebalkan!"
"Tom!" Teo menepuk pundak Tom untuk disuruh berbalik.
"Em?!" Tom terpaksa mengalihkan pandangannya dari Tan yang masih belum sadarkan diri juga.
Setelah berbalik muncul roulette besar yang tidak berhenti berputar dengan warna-warni lampu sehingga tidak jelas apa tulisan yang ada dimasing-masing pilihan.
"Hahh?! tidak!!!" Osvald dan Demelza terlihat panik dan mulai berlari menuju roulette itu berada.
"Memangnya ada apa dengan itu?!" teriak Teo.
"Semua pilihan adalah senjata ... yang terpilih akan langsung menyerang kita! cara untuk bertahan adalah menghancurkannya!" teriak Osvald.
"Berarti akan lebih berat lagi, karena ada kita ...." kata Tom.
Teo memanggil Winn dan melemparkannya, papan roulette itu hancur terkena Moshas Teo bahkan sebelum Osvald dan Demelza sampai.
"Hahh ...." Osvald terlihat sangat lega dan mulai duduk di atas tanah yang hangat, "Kau enak tidak ada salju disini ...." kata Osvald pada Demelza.
"Kau tidak tahu saja bagaimana beratnya di tempatku ...." kata Demelza tidak mau kalah kalau dirinya yang lebih tersiksa daripada Osvald.
"Jadi, ternyata ada kesamaan gangguan juga diantara mereka ...." kata Teo melihat bagaimana Osvald dan Demelza mengetahui bagaiamana cara kerja papan roulette itu.
"Berikan aku juga!" kata Demelza mengulurkan tangannya setelah kembali ke tempat Tiga Kembar berada.
"Apa?!" tanya Teo bingung.
"Kau memberi Osvald senjata, kenapa aku tidak?!" kata Demelza protes.
Tom menghela napas dan memberikan senjata pada Demelza yang sama diberikan Teo pada Osvald, "Jangan sampai hilang!" kata Tom memperingatkan.
Senjata hadiah dari Banks yang merupakan senjata seperti pedang anggar yakni foil tapi tidaklah sepanjang aslinya dan semua bagiannya sangatlah tajam. Hadiah setelah melaksanakan latihan gerbang neraka diberikan oleh Banks. Senjata yang cocok untuk dibawa kemana-mana karena ukurannya yang kecil dan baik digunakam untuk menyerang titik vital seseorang. Tidaklah salah jika Teo dan Tom merasa setengah hati meminjamkan senjatanya itu.
Salju mulai datang dari arah dunia Zewhit Kurcaci ke dunia Zewhit Badut. Taman hiburan yang porak-poranda itu mulai terkena salju.
"Berikan padaku!" kata Demelza melihat Tom memberi Tan jaket, "Lagipula, dia tidak sadarkan diri jadi tidak akan merasakan dingin juga ...."
"Hahh?! aku tidak percaya kau mengatakan hal itu ... bagaimanapun dia begini karena melindungimu, kau benar-benar tidak tahu malu!" kata Tom.
"Aku tidak peduli, kalian mengatakan apa! yang jelas kalian kesini karena ingin membantu kami, jadi lakukan dengan baik! jangan setengah-setengah!" Demelza menarik paksa jaket pada tangan Tom untuk langsung dipakai.
Teo dan Tom tidak habis pikir, dikiranya kebencian terhadap Demelza akan berkurang setelah ini tapi sebaliknya, sepertinya akan semakin bertambah. Teo dan Tom pun membuka jaket paling luarnya untuk menyelimuti Tan yang masih tidak sadarkan diri.
"Mereka ...." kata Osvald membuat semuanya mengarahkan pandangan pada satu arah semua.
"Badut menyebalkan itu ...." kata Demelza.
"Si pendek itu ...." kata Osvald.
"Kurcaci, Osvald." kata Teo hampir tidak bisa menahan tawanya.
"Kurcaci?" tanya Osvald.
"Dia disebut Hantu Kurcaci." jawab Teo.
Kedua Zewhit itu terlihat berdiri dari kejauhan berdampingan di masing-masing wilayah dunianya. Zewhit Badut terlihat memasang senyum menyeramkan dan menyembunyikan satu tangannya dibelakang sementara tangan lainnya dipakai untuk melambai. Zewhit Badut sedang berdiri di atas kuda komidi putar dengan pose keren, kaki kanan menginjak kepala kuda dan kaki kiri berada di belakang seperti seorang ksatria.
Sementara Zewhit Kurcaci membuat dirinya sangat tinggi, tidak memasang senyuman seperti Zewhit Badut tapi menarik putus kaki dan tangannya kemudian menukarnya. Tangannya dipasang di kaki sedangkan kakinya dipasang di tangan.
"Iiiiiih menjijikkan!" teriak Demelza menutup matanya.
Bahkan Osvald sudah mual dan mau muntah melihat itu. Darah dari Zewhit Kurcaci juga terus menetes. Zewhit Kurcaci memutar dirinya agar kaki yang terpasang ditangannya berada dibawah sementara tangan yang terpasang di kakinya sedang dipakai untuk mengumpulkan salju. Zewhit Kurcaci terlihat sedang dalam posisi kayang tapi kepalanya memanjang sampai ke depan di antara kedua tangan yang terpasang di kakinya.
Bahkan Teo dan Tom juga merinding melihat itu terlebih lagi Osvald dan Demelza yang ingin melarikan diri tapi ditahan oleh Tom, "Sulit melindungi kalian kalau jauh dan percuma lari, tidak ada tempat untuk bersembunyi di dunia yang dibuat oleh mereka. Lebih baik melawan daripada terus berlari." salju yang ada di sekitar Zewhit Kurcaci berubah warna menjadi merah karena darah itu membuat suasana semakin menyeramkan.
"Yang mengganggumu bahkan tidak menyeramkan sama sekali." kata Osvald mencoba memberanikan diri.
"Kau tidak tahu saja, dia itu licik sekali." kata Demelza.
"Ah, sama sepertimu ...." kata Osvald membuat Demelza kesal sehingga mengeluarkan kata makian.
"Sepertinya mereka sedang membuat sesuatu ...." kata Tom.
"Si pendek ... maksudku kurcaci itu ... ah bukan kurcaci atau orang pendek lagi karena sudah setinggi itu ... memang sedang membuat sesuatu dengan salju tapi yang badut itu sepertinya tidak melakukan apa-apa." kata Osvald.
"Dia sedang melakukan sesuatu juga dibelakang punggungnya." kata Teo.
Zewhit Badut mulai berteriak nyaring dan akting seperti koboi kemudian melemparkan banyak mobil kecil sekaligus di hadapan mereka. Tapi perlahan mobil kecil tadi dikira hanya mobil mainan itu berubah besar dan terlempar karena saling bertumpuk.
"Bom bom Car?!" kata Osvald.
"Ada apa dengan ini?!" tanya Demelza yang kemudian terjawab dengan satu per satu orang muncul dan memegang kemudi dan mengendarainya dengan cara paling buruk.
Ada sekitar lebih dari 50 bom bom car bersama satu orang hantu figuran masing-masing sekarang sedang mengelilingi mereka berlima. Sementara Zewhit Kurcaci masih membangun sesuatu dengan salju dan belum jelas apa tapi yang jelas sudah mulai terlihat sangat tinggi.
"Prinsip dari bom bom car adalah ...." kata Teo tidak selesai.
"Tabrakan!" kata Tom melempar satu mobil dengan Sesemax karena hampir ditabrak. Mobil lainnya juga sudah menuju arah mereka.
"Apa?! bagaimana ini?!" kata Osvald panik.
...-BERSAMBUNG-...