UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.48 - Penyihir Salju



Saat akan meninggalkan kelas menuju kantin, Felix dan Cain melihat Magdalene yang membaringkan wajahnya di meja yang penuh dengan bunga dan surat yang terlihat hanya rambutnya yang kelihatan karena tenggelam oleh bunga, "Kau tidak mau ikut?" tanya Cain.


Felix kesal melihat tingkah Cain yang terlalu perhatian itu dan pergi duluan meninggalkan Cain.


"Lagipula aku tidak bisa melakukan apa-apa juga disana!" jawab Magdalene.


"Setidaknya disana kau tidak akan sendirian begini ... ayo! eh, Felix kemana?" Cain mulai mencari keberadaan Felix.


"Kau itu selalu baik dengan semua orang Cain, terimakasih ...." Magdalene tiba-tiba bangkit dari kursinya tanpa harus menggunakan kaki dan hanya melayang.


"Aku tidak sebaik itu kok!"


"Aku bersyukur ada orang sepertimu di dunia ini ...."


"Kau terlalu memujiku, haha ...."


"Kalau boleh tahu, kenapa kau ingin menyelidiki korban Hantu Merah Muda? aku tadi kaget mendengar kalau Hantu Merah Muda adalah Mertie tapi karena sudah menjadi hantu begini, percuma ya aku tahu ... kalian berdua hebat bisa tahu identitas Hantu Merah Muda!"


"Sebenarnya aku dan Felix mengira kalau kejadian kemarin itu sudah direncanakan, mulai dari kita tidak bisa masuk di ruang belajar mandiri, Peniru Hantu Merah Muda, lilin yang dipakai didalam kelas ... bukankah terlihat seperti sudah direncanakan?!"


"Apa terlihat begitu ya ... jadi dengan menyelidiki salah satu korban Hantu Merah Muda itu bisa saja kita mendapat petunjuk tentang penyebab kematianku?!"


"Belum bisa dipastikan sih, hahh! Felix bikin kaget saja!" Cain kaget melihat Felix berdiri di lorong yang gelap, "Apa yang kau lakukan disini sendiri?"


"Menunggumu!"


"Dasar baik sekali, tapi tidak tahu mengekspresikan perasaannya!" Cain tersenyum sambil bergumam dalam hati.


***


Saat menyantap makan siang, salju pertama turun, terlihat dari dinding kaca kantin yang langsung mengubah suasana suram kantin menjadi cerah. Banyak anak-anak mengeluarkan smartphone mereka untuk mengabadikan moment itu, ada juga yang hanya merekamnya lewat mata saja untuk diingat.


"Kenapa kalian malah memasang wajah cemberut begitu?" tanya Felix pada kembar.


"Karena turunnya salju pertama, menandakan ulang tahun mereka juga sudah dekat."


Akhirnya Felix mengetahui alasannya. Wajar bagi anak panti asuhan tidak menyukai hari ulang tahun mereka. Hari ulang tahun, biasa diberikan sesuai dengan hari saat anak mulai dititipkan di panti, ada juga yang menyertakan ulang tahun asli di dalam surat tapi lebih menyebalkan lagi karena hari ulang tahun asli merupakan tanda mereka telah diabaikan oleh orangtua. Apapun itu, yang jelas ... bagi anak yang tidak beruntung ... ulangtahun bukanlah hal yang membahagiakan.


"Ulang tahun asli?" tanya Felix disambut anggukan Cain yang awalnya ragu.


"Kalian beruntung, aku sendiri hanya diberi ulang tahun palsu ... entah kapan sebenarnya aku lahir ...." kata Felix.


Cain menyadari itu adalah cara Felix untuk menghibur seseorang walau sebenarnya tidak begitu caranya.


"Saat ulang tahun nanti kita akan puas makan-makan, tenang saja kami yang traktir!" Teo dan Tom memaksakan ceria.


"Jangan membuang-buang uang tabungan!" kata Felix.


"Tujuan mengumpulkan uang kan untuk bisa dinikmati bersama ...."


"Pemikiran kalian sederhana sekali!" kata Felix.


"Toh uang yang ditumpuk dan tidak dipakai tidak akan ada gunanya setelah kita mati jadi ayo kita nikmati bersama ...." kata Teo.


"Masa depan? tentu kami ingin hidup lebih lama juga tapi tidak ingin terlalu menggantungkan harapan pada masa depan ... hanya ingin setiap harinya untuk terus bahagia saja ... soal masa depan, nanti mengikut haha ...." Tan menyetujui gaya hidup kedua kakaknya.


"Betul yang dikatakan Tan, kita terlalu terobsesi pada masa depan yang bisa saja besok kita sudah mati dan hari ini kita sibuk kerja tidak pernah liburan, membatasi makan karena diet, tidak membeli sesuatu yang kita inginkan karena hemat ... hingga saat dipenghujung kematian kita jadi menyesal karena tidak pernah membahagiakan diri sendiri ... hanya selalu menyiksa diri untuk harapan masa depan cerah yang tidak diketahui apakah kita akan bisa bertahan sampai di titik itu." entah karena salju atau karena perkataan Tan membuat Cain jadi terbawa suasana dan ikut merenung.


"Jadi tanggal berapa ulang tahun kalian?" tanya Felix setelah lama melamun.


"Tanggal 2 desember!" Teo dan Tom dengan membentuk angka dengan tangan.


"Tinggal 3 hari lagi ...."


"Kalau mau cari hadiah, cari secepatnya ...." kata Tom tidak tahu malu.


"Jangan kegeeran!" kata Felix.


***


Mereka berenam melewati jembatan tanpa atap itu yang menghubungkan gedung sekolah. Felix yang sudah sedia dengan topi beanie dan tudung jaketnya tidak perlu khawatir rambutnya terkena salju.


"Felix jadi penggemar segala macam topi ya?" tanya Teo.


"Bahkan tidur pun memakai topi, membeli baju pun yang ada tudung nya ...." sambung Tom.


Saat dulu masih sedikit rambut hijau yang muncul Felix hanya memakai topi saat keluar atau sedang tidur bersama tiga kembar, saat sudah berubah semua dia harus memakainya selalu ... memakai topi karena spray warna menyeluruh bisa saja dibantal akan muncul warna dan ketahuan memakai pewarna rambut jadi mau tidak mau Felix jadi dikatai penyuka topi.


Saat melewati jembatan terlihat ada dua orang dewasa, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki yang berlari sambil menangis dan saling berpegangan tangan, "Itu orangtuaku!" kata Magdalene segera menghampiri dan saat kedua orangtuanya akan berlari menembusnya ia menghindar karena tidak ingin menghisap energi kehidupan orangtuanya.


Magdalene tidak mengikuti orangtuanya dan hanya langsung terduduk dengan salju yang jatuh menembusnya dan mulai menengadahkan kepalanya ke langit sambil berteriak dan menangis, "Kenapa harus aku yang mengalami hal ini?!" teriakannya itu langsung membuat angin ribut dan salju semakin lebat turun sampai-sampai susah untuk melihat.


Disaat tiga kembar berlari cepat menyebrang ke gedung sebelah, Felix dan Cain tidak meninggalkan tempatnya melihat sebuah burung hantu besar berwarna putih tiba-tiba datang dari langit dan mendarat di depan Magdalene.


Felix dan Cain panik, langsung saling bertatapan ... tanpa aba-aba mereka berlari agar bisa ketempat Magdalene, "Eh mau kemana?" tanya Teo dan Tom.


Saat sudah hampir dekat dengan posisi Magdalene dan Burung Hantu Putih itu, tiba-tiba Magdalene terangkat ke atas dengan posisi berbaring dan pakaiannya berubah menjadi gaun warna putih kemudian Magdalene dalam posisi berdiri kini mendarat di tanah yang penuh salju menatap dengan tatapan kebencian lalu ia bentangkan tangannya dan rambut pirangnya memanjang sampai ke tanah lalu muncullah badai salju.


Burung Hantu Putih itu merendahkan dirinya untuk bisa dinaiki oleh Magdalene.


"Kalian mau kemana?" teriak Felix kesusahan mendekati posisi mereka karena salju.


"Lain kali akan aku sapa Tuan Muda dengan cara yang benar tapi hari ini saya harus membawa anak perempuan ini ke suatu tempat!" kata Burung Hantu Putih itu yang mulai mengepakkan sayapnya.


"Ke suatu tempat?" tanya Cain.


"Dia roh yang malang, karena tidak ada Malaikat Maut yang bisa membimbing maka saya akan membawanya ke tempat yang bisa membuat penyesalannya bisa hilang agar tidak membuat kekacauan ...."


"Terimakasih ...." kata Cain mulai menghentikan langkahnya.


"Walau tidak semua arwah bisa saya bantu tapi sebisa mungkin akan saya bantu sebanyak mungkin ... Magdalene adalah hantu yang lahir di musim dingin berpotensi menjadi Hantu Penyihir Salju yang sangat berbahaya ... kalau begitu saya pamit, sampai jumpa Tuan Muda ...."


Magdalene pergi tanpa sepatah kata pun dengan terbang bersama Burung Hantu Putih yang besar itu melewati badai salju.


...-BERSAMBUNG-...