UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.149 - Hubungan Antar Pemain



Desa terpencil tempat Bella tinggal langsung didatangi oleh pemerintah pusat setelah Daisy menyiarkannya di berita berkat informasi dari Felix. Tenaga kesehatan juga dikerahkan untuk memeriksa warga desa secara menyeluruh dan memberi obat, vaksin dan perawatan khusus bagi yang memang membutuhkan perawatan lebih di Rumah Sakit. Banyak juga bantuan berupa makanan dan pakaian yang datang ke desa itu.


Pemerintah pusat menyayangkan masih saja ada desa yang terabaikan seperti ini dari segi kesehatan dan juga pendidikan. Semua anak yang usia sekolah diberi beasiswa gratis termasuk Bella, sementara Nenek dan Adik Bella diberi perawatan khusus. Penyakit TBC bukannya penyakit yang tidak ada obatnya tapi karena perlu waktu pengobatan yang lama maka perlu biaya yang tidak sedikit juga dan jika obat terputus maka akan membuat bakteri resisten terhadap obat. Sedangkan Adik Bella yang menderita polio dirawat di Rumah Sakit untuk diberi obat anti nyeri atau bantuan pernapasan bila perlu, butuh juga terapi fisik dan dengan makanan bergizi untuk meningkatkan kesehatan dan staminanya.


"Ternyata ini yang membuatmu sibuk mengetik entah apa di handphone waktu itu?" tanya Tom sambil menonton berita.


"Anak berbakti Ibu Daisy!" seru Teo.


"Ayo kita bahas soal Permainan Tukar Kematian!" kata Felix menyudahi pembahasan.


"Bagaimanapun juga sepertinya hubungan antar pemain ada sesuatu ... maksudku kan namanya tukar kematian berarti ada dua pemain yang saling terhubung!" kata Tom mengamati hasil gambar Teo yang menghubungkan antar semua pemain dengan benang merah yang digambar dengan pulpen warna merah.


"Kalau memang ada aturan seperti itu, berarti ... kita hanya perlu mencari siapa yang terhubung dengan Kiana!" kata Tan.


"Apa permainan ini menuntut kita harus egois?" tanya Cain membuat suasana jadi hening, "Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan semua orang tanpa harus memilih!" sambungnya.


"Jujur, hal ini rasanya hanya bisa dilakukan oleh Tom dan aku sendiri ... kalian tidak usah ikut campur!" kata Felix yang tahu Cain, Tan dan Teo terlalu baik untuk hal seperti ini.


"Bukankah permainan ini berasal dari Ruleorum? mungkin kita bisa mencari informasi lebih disana!" kata Teo.


"Siapa yang bisa kita tanyai sedangkan tidak ada Viviandem disana!" kata Tom.


"Tidak ada salahnya kan kita mencoba?!" kata Teo.


"Bukannya aku tidak ingin mencoba, mungkin saja bisa ada informasi yang kita dapat tapi kita ini dikejar waktu ... kalau kita berlama-lama di Mundebris dan tidak mengawasi Kiana, siapa yang tahu jika sementara kita mencari informasi malah Kiana meninggalkan kita duluan!" kata Tom.


"Perkataanmu juga ... bisa tidak, kau tidak mengatakan hal buruk seperti itu tentang Kiana!" kata Teo.


"Hentikan!" teriak Felix.


"Bagaimanapun juga kita butuh sesuatu untuk mengawasi para pemain, tapi walau begitu ... mau itu orang ... ataupun teknologi juga ada batasnya dalam hal mengawasi apalagi kalau pemain meninggalkan rumah ... kita tidak bisa berbuat apa-apa!" kata Tan.


"Tapi, apa kita tidak bisa menggunakan kekuatan Cain untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan Kiana jika kita gagal?" tanya Tom mulai berpikir bahwa masalah mereka adalah waktu.


"Bagaimana jika aku tidak bisa?" tanya Cain tidak mempercayai dirinya sendiri, "Jangan menjadikan aku sebagai tombol Undo untuk digunakan jika gagal. Jika aku tidak bisa melakukannya, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri ...." kata Cain jujur tidak ingin diandalkan dalam hal ini.


"Bagaimanapun itu, kita harus berhasil dalam sekali coba! tidak ada kata kembali ke masa lalu!" kata Felix mengerti perasaan Cain, "Dan kita butuh tambahan orang!"


"Verlin dan Zeki masih belum pulih!" kata Teo.


"Bukankah kita punya kenalan yang ahli dalam teknologi!" kata Felix.


Lama yang lainnya hanya berpikir siapa yang dimaksud Felix, "Aaaaah!" Teo dan Tom bersamaan.


"Hantu Merah Muda!" kata Tan.


"Tapi apa tidak apa manusia biasa seperti mereka diikutkan dalam misi ini?" tanya Cain.


"Kami juga manusia biasa!" sahut Teo dan Tom.


"Kalian itu Alvauden!" balas Cain.


"Kita tidak punya pilihan lain, diantara kita tidak ada yang bisa mengoperasikan alat teknologi untuk pengawasan selain dia, kalau mau ... diantara kita harus mulai belajar saat Mertie membantu kita dan kita tidak perlu ketergantungan dengannya lagi!" kata Felix.


"Baiklah! tidak ada salahnya menggunakan semua sumber daya yang kita punya!" kata Tan setuju.


"Mungkin lebih baik jika kita bertemu Verlin dulu, siapa tahu masih ada yang belum dia beritahukan!" kata Cain.


"Ya, ayo kita berangkat!" kata Felix yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikitpun.


***


Sampai di Rumah Verlin, Tim 001 Kantor Aluias masih tinggal menjaga jika ada yang datang menyerang lagi. Banks juga baru saja datang membawa tas berisi peralatan dan ramuan untuk mengobati.


"Sini aku bawakan!" kata Teo berbaik hati ingin membawakan tas Banks.


Banks hanya tersenyum dan menyerahkan tasnya tapi Teo langsung menjatuhkan tas itu dan ikut tertarik jatuh, "Isinya batu ya?!" Teo merasa lengannya akan patah.


"Kebanyakan peralatan terbuat dari besi Mundebris yang sangat berat, berbeda dengan di Mundclariss yang punya peralatan yang sangat ringan!" kata Banks mengambil alih kembali tasnya.


"Berarti yang bisa menjadi petugas kesehatan di Mundebris hanyalah orang yang kuat?" tanya Tom.


"Tepat sekali! apalagi kalau mau melakukan operasi yang harus berhati-hati dengan organ yang sangat tipis dan kecil ... coba bayangkan jika seorang ahli penyembuh bahkan tidak bisa mengangkat peralatannya untuk mengobati ... mustahil!" jawab Banks.


"Berarti kita tidak boleh bermain-main dengan seseorang yang ahli dalam menyembuhkan du Mundebris dong? pasti semuanya kuat-kuat!" kata Teo.


Tim 001 Kantor Aluias tertawa mendengar Teo yang sangat polos.


Banks mulai masuk ke dalam rumah dan memeriksa keadaan Verlin dan Zeki. Verlin yang merupakan Zewhit Viviandem tidak terlalu mengkhawatirkan tapi Zeki yang Zewhit Manusia, walau sudah hampir mendapatkan tubuh Amantasia tapi belum sempurna. Maka keadaannya sangat memprihatinkan, bisa saja sewaktu-waktu langsung menghilang.


"Seandainya dia tidak menjadi Amantasia, pasti dia tidak akan terluka begini ...." kata Banks.


"Tapi dengan begitu ... pasti dia sudah lama menghilang jika tidak menjadi Amantasia!" kata Felix.


"Tapi karena tubuhnya belum sempurna betul menjadi Amantasia maka pemulihannya akan lama sekali!" kata Banks.


"Berisik sekali!" gerutu Verlin.


"Kau sudah bangun?" tanya Cain mulai mendekat dan membantu Verlin untuk minum.


"Ada apa? cepat tanyakan dan pergi darisini!" sahut Verlin jelas terdengar sedang menahan sakit.


"Para Pemain bagaiamana cara mengetahui terhubung dengan pemain mana?" tanya Tan to the point.


"Bukankah kau tidak ingin ikut dalam permainan?!" tanya Verlin.


"Tidak ada pilihan lain! mau tidak mau kami harus ikut ..." kata Tom.


"Mustahil untuk mengetahuinya sekarang!" kata Verlin.


"Apa?!" teriak FCT3 bersamaan.


"Dulunya sih mudah karena aku belum mati jadi masih memiliki kekuatan Hyacifla seutuhnya tapi sekarang sepertinya mustahil ...." kata Verlin.


"Jadi, rencanamu memang hanya ingin mengawasi tanpa berbuat apa-apa? kau memang hanya ingin diam tanpa melakukan apa-apa sehingga setengah dari jumlah pemain akan otomatis meninggal dalam 90 hari?!" kata Cain.


"Tentu saja tidak, masih ada cara lainnya ... tapi harus mengamati dua pemain yang mati barulah bisa dipikirkan bagaimana pemain lain terhubung! karena setiap set permainan aturannya berbeda-beda! Franklin sangatlah licik, pasti aturan yang dia buat akan sangat licik juga!" kata Verlin.


...-BERSAMBUNG-...