
"Pertarungan kali ini tidak bisa ditebak, dengan adanya dua penguasa tertinggi kerajaan di Mundebris. Peluang menang kita menjadi berkurang." kata Ditte.
"Aku tidak peduli menang atau kalah, yang jelas salah satu dari mereka harus mati malam ini." kata Efrain menatap Felix.
"Kita berperang untuk menang, bukan sekedar membuat tempat untuk sengaja melampiaskan obsesi kita." kata Ditte.
"Jangan menceramahiku, kau tidak tahu apa-apa tentangku." kata Efrain.
"Memang ... aku sepertinya memang tidak tahu apa-apa tentangmu, terlebih saat ini." kata Ditte dalam hati kecewa.
Felix ingin bangun berdiri tapi tidak sanggup. Rasa sakit di dadanya begitu ngilu hingga menyesakkan dan sulit untuk bernapas.
"Kau terluka di dalam mimpi?!" tanya Raja Aluias.
"Tidak." sahut Felix.
"Sudah jelas, kenapa kau bertanya. Pasti dia terluka ... tidak mungkin menjelaskan bagaiamana dia merasakan sakit disaat tidak ada luka luar yang terlihat." kata Ratu Sanguiber.
"Memangnya bertanya adalah hal yang salah?! terkadang ... walau kita tahu jawabannya, tetap saja harus bertanya." kata Raja Aluias.
"Itu adalah hal bodoh, kalau sudah tahu dengan jelas apa jawabannya harusnya tidak perlu bertanya lagi. Membuang-buang tenaga dan waktu." kata Ratu Sanguiber.
"Hanya berbicara saja, darimananya yang kau maksud buang-buang tenaga?!" kata Raja Aluias.
"Kini aku mengerti bagaimana kebingungan Quiris lainnya melihat ini. Mereka benar-benar sangat tidak cocok satu sama lain. Bagaimana bisa mereka berdua adalah orangtua Felix sementara kelihatan lebih seperti musuh daripada pasangan." kata Tan.
"Tidak, menurutku sangat jelas bahwa mereka berdua adalah orangtua Felix." kata Teo dengan sudut pandang berbeda.
"Hah? maksudmu?" tanya Tan.
"Kini kita tahu dengan jelas, kenapa kepribadian Felix sangat buruk karena punya orangtua yang ... kau lihat sendiri bagaimana ...." kata Teo membuat Tan dan Tom menahan tawa mengerti sekarang apa yang dimaksud.
"Kau istirahat saja dulu, walau tidak ada luka yang terlihat tapi terluka di dalam Fallacimnia efeknya akan terasa saat bangun. Begitupun jika kau mati disana, tapi sepertinya tidak karena kau bangun dengan keadaan sadar." kata Ratu Sanguiber.
"Tapi dia kelihatan terluka parah ...." kata Raja Aluias.
"Aku tidak apa-apa." kata Felix berteriak karena bosan mendengar mereka berdua. Felix menatap Cain, tapi Cain pura-pura bodoh tidak tahu apa yang dimaksud oleh tatapan Felix itu.
Baru saat Felix menatapnya dengan tatapan membunuh, Cain baru bergerak mendekat. Cain terus menjaga jarak dari Ratu Sanguiber saat membantu Felix berdiri. Felix yang tidak mau menerima bantuan dari Ratu Sanguiber dan juga Raja Aluias lebih memilih Cain, sahabatnya untuk direpotkan.
"Bagaimana kau bisa merekrutnya kalau kau kelihatan takut begitu?!" bisik Felix.
"Aku tidak merekrutnya, dia sendiri yang datang mengamuk tidak jelas saat aku sedang berbicara dengan seseorang ...." kata Cain.
Felix melihat pasukannya terlihat tidak seperti saat pertama tadi datang. Pasukan Efrain yang dikira tidak akan sekuat yang dibayangkan lagi karena serangan Felix saat menghancurkan dunia pikiran ditambah lagi serangan pertama dari Cain. Tapi tetap saja Pasukan Efrain terus berdiri kokoh seakan luka ditubuhnya tidak mengganggunya.
Sementara Setengah Quiris yang menjadi Pasukan Felix memang unggul dari segi kekuatan tapi stamina, mereka kalah dari Iblis Pasukan Efrain.
Tapi kedatangan dua tambahan bala bantuan yang tidak terduga itu memberi semangat baru pada Pasukan Felix walau terlihat Pasukan Efrain tidak menunjukkan semangat mereka turun karena itu. Mereka tetap sombong merasa bisa menang walaupun dengan munculnya dua Viviandem yang merupakan pemimpin di kerajaannya masing-masing di Mundebris itu.
Bahkan tanpa Efrain menyemangati pasukannya, tetap saja mereka kelihatan baik-baik saja. Karena bagaimanapun mereka unggul dari kekuatan walaupun sudah mendapat serangan besar tapi pemulihan fisik mereka sangat cepat dan stamina mereka juga sangat luar biasa. Itulah juga mengapa Optimebris lebih banyak dan yang cocok mengisi adalah kaum iblis.
Sedangkan Quiris berdarah campuran memang kuat karena merupakan keturunan yang bukan hanya satu melainkan dua atau bahkan lebih dari keturunan yang berbeda-beda. Tapi tetap saja akan ada kelemahan dari mereka.
"Apa hanya aku yang sudah memeriksa dan tidak menemukan juga daritadi ...." kata Tom yang terus memperhatikan musuh satu per satu saat jeda bertarung.
"Bukan hanya kau, tapi aku juga tidak melihatnya ...." kata Tan.
"Siapa memangnya? aku bantu cari! mataku lebih bagus dari kalian berdua." kata Teo.
"Wadi, Juro 2020 ...." kata Tom.
"Apa bersembunyi juga seperti Bates tadi?! yang hanya akan muncul kalau sudah waktunya ...." kata Teo malas mencari jadi menyimpulkan saja kalau mereka memang tidak ada disana seperti apa yang telah dikatakan oleh kedua saudaranya. Lagipula menurut Teo, kedua saudaranya Tan dan Tom tidak mungkin salah.
"Ataukah berkhianat?! makanya tidak datang?!" kata Tan membuka kemungkinan.
"Kalau berkhianat?! seharusnya dia ada disini bersama kita melawan Efrain dan pasukannya." kata Tom.
"Yang jelas ... apapun itu aku bersyukur saja. Mereka sangatlah menyusahkan. Walau sebenarnya semua iblis itu menyusahkan sih ...." kata Teo.
Banks kembali sibuk merawat Zeki sejak dari mulai bangun dari Fallacimnia sampai sekarangpun terus menerus fokus pada Zeki saja. Luka Zeki bukan hanya luka akibat Efrain yang menusuk dan membakarnya melainkan luka saat melindungi Banks juga jadi luka Zeki terus bertambah.
"Bahkan Bates sudah bisa mengenaiku juga, sepertinya aku sudah semakin tua ...." Banks merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Karena terlelap dalam Fallacimnia maka keadaan Zeki sepertinya semakin menjadi buruk karena terlalu lama didiamkan dan tidak dilakukan sesuatu untuk luka Zeki itu.
"Kau mengatakan tidak akan membunuhnya ...." kata Ditte melihat kondisi Zeki yang kelihatan sudah tidak sadarkan diri.
"Aku tidak membunuhnya ... kau lihat bagaimana dia masih bisa ikut bertarung saat keluar dari Dunia Pikiran." kata Efrain.
"Itu juga karena Banks memberi pertolongan pertama pada lukanya dengan baik ...." kata Ditte.
"Jadi, apa maksudmu?! kau mau menyalahkanku dan memuji Banks begitu?!" kata Efrain.
"Bagaimanapun juga Zeki adalah seseorang yang berharga bagiku." kata Ditte.
"Kau pikir aku tidak?!" kata Efrain.
"Kurasa sudah tidak lagi ...." kata Ditte dalam hati tidak mau terlalu jauh membantah Efrain apalagi sedang dalam situasi yang tidak terduga seperti sekarang ini. Perdebatan antar sesama selalu bisa terjadi tapi ini bukan yang pertama kalinya dan Ditte walau bagaimanapun tetap berpihak pada Efrain secara profesional.
Raja Aluias dan Ratu Sanguiber melangkah maju saling berdampingan. Pasukan Felix yang mundur sejenak untuk istirahat dan merawat luka juga kembali ikut maju.
"Kau istirahat saja dulu ... nanti baru bergabung!" kata Verlin mengikat perban pada luka Winnie.
Tan, Teo dan Tom juga meneguhkan tekadnya untuk kembali maju juga. Bagi mereka yang hanya manusia, bukan soal kekuatan atau stamina tapi soal tekad. Walau mereka tidak unggul dari kekuatan dan stamina tapi tekad mereka kuat untuk terus berjuang.
"Kau harus tahu, Felix ... ibumu sangatlah menakutkan!" kata Cain masih membantu Felix berdiri.
"Apa kau terluka?!" tanya Ditte.
"Iya, tapi sudah tertutup." jawab Efrain.
"Syukurlah ... kalau ada luka sedikit saja bisa berbahaya. Lawan kita adalah Ratu Sanguiber, pengendali darah." kata Ditte.
...-BERSAMBUNG-...