
Banks hanya datang untuk merawat Felix waktu itu, tidak sempat untuk saling mengobrol dan membicarakan apa yang telah terjadi. Baik itu Felix maupun Banks saat itu sedang tidak terlihat dalam suasana hati yang tepat untuk mendiskusikan hal serius.
"Yang Mulia sudah terlihat baikan ...." kata Banks dalam hati memandangi Felix dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Dari ekspresi wajahnya juga sudah kelihatan tenang ... tidak seperti saat baru terjadi kecelakaan waktu itu."
"Kau sedang menscan ku atau apa?!" kata Felix tertawa kecil melihat bagaimana mata Banks.
"Sudah bisa tertawa juga ...." Banks sudah mempelajari Felix, bagaiamana ia tahu kalau kecelakaan yang menimpa teman seangkatannya itu membuat Felix sangat terpuruk walau kelihatan baik-baik saja soal itu. Banks sudah mulai tahu kapan Felix terlihat baik-baik saja tapi itu semua hanyalah kepura-puraan dan kebohongan.
"Jangan bilang kau sudah menyiapakan bumbu untuk memasakku di dalam ... terlihat dari kau yang terus menatapku begitu seperti mau memakanku saja." kata Felix.
"Dan barusan itu adalah pura-pura lagi ...." kata Banks dalam hati melihat ekspresi Felix yang dipaksakan bercanda.
"Banks, aku punya pertanyaan untukmu ... tapi nanti aku tanyakan setelah ini selesai." kata Tan terlihat terburu-buru ingin segera menanyakan pertanyaannya tapi ditahan.
"Baiklah ... jadi, yang kita tahu kalau titik baru gerbang neraka ada disini. Itu menandakan ...." kata Teo mengeluarkan peta kertas dan ingin memasangnya di pohon yang dijaga Banks.
"Em ... em!" Banks melarang ada yang melukai pohonnya walau hanya paku payung.
Akhirnya Teo mengeluarkan plester, "Ini tidak akan bertahan karena pohon lembab ...."
"Kan hanya sebentar juga." kata Banks tidak mau tahu.
Teo pun mengalah karena memikirkan bagaiamana kalau ada diposisi Banks yang seorang penjaga pohon. Pasti tidak akan membiarkan apapun itu untuk melukai walau hanya segores sekalipun.
"Ini menandakan bahwa gerbang neraka kali ini lebih besar lagi dari sebelumnya ...." kata Tom membandingkan dengan peta yang sudah ditandai titik gerbang neraka sebelumnya.
"Itu pertanda buruk tapi juga sedikit melegakan." kata Banks.
"Darimananya yang melegakan?!" Teo sarkastik.
"Pertanda buruk karena lebih banyak lagi korban yang akan berjatuhan dan lebih banyak lagi titik tempat yang dibutuhkan tapi yang melegakan itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama karena gerbang neraka semakin diperluas." kata Banks.
"Tapi ...." kata Banks melanjutkan setelah beberapa saat, "Semua kekuatan memiliki kelemahan dibaliknya. Begitupun gerbang neraka ... tidak perlu kita susah payah terus menghalangi misi dilakukan tapi hanya perlu menghalangi satu titik saja, maka titik lainnya akan ikut bermasalah. Jadi, tidak perlu terlalu terobsesi menghentikan misi mereka semua."
"Tapi setidaknya kalau dihentikan korban akan berkurang ...." kata Teo.
"Itu memang benar, tapi dengan jumlah dan kekuatan yang kita miliki ... tidak bisa menandingi jumlah anak buah Efrain dan kekuatan mereka." kata Banks kemudian melirik Felix, "Terlebih lagi, ada hal besar yang sedang menanti ... kita harus menghemat tenaga untuk itu."
"Hebat sekali sebenarnya mereka, pasti penciptaan gerbang neraka ini tidak direncanakan untuk membuat pengalihan agar perhatian kita tertuju pada itu sehingga melupakan kalau akan terjadi hal besar. Tapi nyatanya itu juga mengalihkan kita ... tujuan mereka untuk membuat kita tidak sempat mempersiapkan diri karena teralihkan oleh gerbang neraka baru itu dan rasanya itu bisa saja berhasil mengingat orang yang satu ini! Jujur, aku iri dengan jumlah mereka yang banyak ...." kata Tom meledek Teo tapi mengalihkan lagi.
"Orang yang satu ini?! maksudmu itu aku?! maksudmu Efrain berhasil mengalihkanku begitu?!" tanya Teo heboh.
"Kenyataanya begitu ...." kata Tom.
"Hentikan!" kata Tan memegang kepalanya yang sudah muak mendengar pertengkaran mereka.
"Jadi, intinya ... kita hanya harus tidak peduli dengan gerbang neraka kan?! okey! kalau sudah selesai, lebih baik aku masuk Mundebris sekarang." kata Teo ngambek.
"Bukannya tidak peduli, tapi pura-pura saja tidak peduli. Kita harus memperlihatkan pada Efrain kalau caranya itu tidak berhasil mengalihkan perhatian kita." kata Tan.
"Okey, kalian kan ahlinya soal itu. Lupakan aku yang sentimental dan tidak bisa menyembunyikan perasaan ini. Efrain memang berhasil mengalihkan perhatianku! puas?!" kata Teo menarik peta yang tertempel di pohon dan membuka Gerbang Alvauden nya.
"Kau sudah mau pergi?!" teriak Tan tapi Teo tidak perduli hanya terus berjalan lurus.
"Hahh ... setidaknya pikiran Teo pasti sudah terbuka." kata Tan.
"Aku membawanya kemari karena itu. Kalau kau yang mengatakan apa yang dikatakan Banks, Teo tidak akan dengar. Apalagi kalau Tom yang menceramahi Teo. Kalau Banks yang mengatakan, dia pasti akan mengerti." kata Felix.
"Kenapa kau mengecualikan dirimu?!" tanya Tan tertawa kecil.
"Aku tidak bisa memerintahkan Teo untuk tidak ikut campur soal gerbang neraka saat ini, disaat aku sendiri melanggarnya." kata Felix.
"Jadi, kau ...." kata Tan tidak selesai.
"Kalian tidak boleh, tapi aku harus! mau atau tidak mau sudah menjadi tugasku mengawasi perkembangan gerbang neraka yang baru ini." kata Felix.
"Tapi dengan kau sendiri ...." kata Tan terus disela oleh Felix.
"Aku tidak sendiri, ada Banks dan ada kalian." kata Felix.
"Apa maksudmu yang ada kami disaat kau melarang kami terlibat?!" tanya Tan.
"Dengan kalian yang tidak ikut campur sangat membantuku, tapi sebaliknya kalau kalian ikut campur itu akan menyusahkanku." kata Felix.
Tan dan Tom tercengang tidak bisa menutup mulutnya karena ucapan Felix barusan yang sangat mengejutkan.
"Kau mau kemana?!" tanya Tan setelah Felix memanggil gerbangnya.
"Mau ke Istana Ruleroum." jawab Felix singkat.
"Katanya kau mau mengawasi gerbang neraka, kenapa malah kesana?!" Tan masih tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang tidak habis pikir dengan ucapan Felix tadi.
"Mengawasi tidak perlu tiap hari kan ...." kata Felix.
"Hahh?!" Tan masih terkejut dengan sisi yang baru dilihatnya dari Felix itu, "Rasanya Felix selalu punya sisi baru yang tidak bisa kumengerti ...."
Banks tertawa dengan cara khasnya yang memukul-mukul leher bagian belakangnya, "Tadi, katanya ada yang ingin ditanyakan ...." masih berusaha menghentikan diri untuk tertawa.
Tan mulai terlihat serius dan menceritakan apa yang dialaminya tadi, "Apa itu benar hanya halusinasiku saja atau itu memang benar terjadi?!"
"Semua Senjata, bahkan bukan hanya berlaku bagi Alvauden saja. Senjata yang dimiliki Quiris tahu kalau tuan nya sedang membutuhkan bantuan, terkhususnya Tellopper yang sangat perhatian pada pemilik nya. Tellopper bukan hanya bisa menyembuhkan atau membuat ramuan tapi juga sangat pintar menghibur pemilik nya." kata Banks.
"Jadi, begitu ...." Tan tersenyum sambil memandang Tellopper nya, "Aku hanya belajar bagaimana membuat ramuan atau menggunakan nya sebagai senjata. Aku tidak tahu kalau dia juga bisa melakukan hal lainnya ...."
"Tellopper sangat istimewa, makanya jarang datang kepada Alvauden. Bukan karena Alvauden yang didatanginya itu ahli dalam menyembuhkan tapi karena Tellopper memang memilih untuk datang ... lagipula untuk menjadi ahli menyembuhkan bisa dilakukan dengan belajar. Tapi kecocokan tidak bisa diubah walau dengan belajar dan kerja keras. Senjata Alvauden biasanya saling berdiskusi dulu saat melihat Alvauden baru dan memilih mana yang cocok untuknya. Dan Tellopper biasanya hanya terus diam, tidak tertarik untuk memilih Alvauden. Tapi kali ini ... dia memilih! dan itu adalah dirimu." kata Banks.
"Aku tersanjung seseorang yang ternyata penyendiri ini memilihku ...." kata Tan.
Banks senang bagaiamana muridnya itu memperlakukan senjata Alvauden nya seperti seharusnya. Karena senjata bukan hanya sekedar senjata tapi juga sahabat terbaik yang akan selalu datang saat dibutuhkan.
"Banyak Quiris yang sudah berpengalaman memperlakukan senjata mereka seperti hanya sebuah besi yang tidak berguna tapi kau berbeda ... masih pemula tapi sudah tahu bagaimana memperlakukan senjata dengan baik. Kalau kau terus menyenangkan hatinya, level Telloper akan bertambah dengan sendirinya." kata Banks.
"Kau benar-benar guru yang hebat Banks! bukan hanya mengajarkan bagaimana cara menggunakan senjata tapi bagaimana memperlakukannya dengan baik." kata Tan memuji.
...-BERSAMBUNG-...