
Tan kini pasrah jika harus menjadi target, karena harus menolong Demelza terlebih dahulu. Tapi saat Tan kembali memberanikan diri mengulurkan tangannya, Demelza sudah tidak ada disana. Rupanya Demelza menjatuhkan dirinya walau kelihatannya kakinya kini terluka.
Tan segera turun dari wahana permainan itu juga dan melihat keadaan Demelza yang kesulitan berdiri tapi harus bersembunyi lagi karena ada orang-orang mendekat.
Demelza membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara setelah memaksakan diri berlari untuk bersembunyi.
"Aku tidak menyangka kau akan langsung melompat tadi." kata Tan tertawa, "Hebat sekali ... bahkan aku sendiri sepertinya tidak bisa melakukan itu."
Demelza melihat rumah kaca yang kemarin malam membuatnya terperangkap tidak bisa kemana-mana, "Aku bahkan tidak akan mendekati tempat itu lagi walaupun terdesak."
"Ya, jangan kesana lagi! kumohon ...." kata Tan setuju, "Em?!" Tan melihat ada balon dipenuhi bunga mendarat mengenai kepala Demelza.
Wujud balon itu sangat indah, jadi Demelza tidak takut dan menyentuhnya. Tapi saat disentuh balon itu meletus dan menembakkan bunga yang tak terhingga ke udara seperti suar.
"Gawat, lari!" teriak Tan yang tidak didengar oleh Demelza tapi tanpa itupun Demelza sudah berlari.
Malam yang gelap dan menyeramkan itu berubah setelah hujan bunga warna-warni. Dibalik bunga yang indah itu berjatuhan ada banyak orang yang kini berlari menuju arah suar bunga itu muncul.
Kaki Demelza yang sedang terluka tentu saja memperlambat lari Demelza. Tidak seperti malam kemarin, Demelza berlari sekuat tenaga dan berhasil bersembunyi. Karena tidak bisa mengandalkan kecepatan lagi, Demelza menggunakan akalnya. Demelza masuk ke dalam tengah-tengah semak bunga, mengandalkan tubuhnya yang kecil. Walau kini banyak luka goresan di kulitnya.
"Ini sama saja seperti kemarin ...." kata Demelza yang lagi-lagi terperangkap dan tidak bisa kemana-mana. Semua orang memenuhi taman itu sekarang.
Sementara Osvald masih berlari menuju pemukiman warga berada. Banyak rumah yang terlihat dengan asap keluar menunjukkan ada orang di dalam sana. Membuat Osvald begitu bahagia dan terus berlari. Memang semua rumah masih seperti model rumah jaman dulu Yardley yang serba kayu. Osvald tidak bisa memikirkan keanehan dulu lagi karena fokus untuk menyelamatkan diri dari dingin terlebih dulu.
Rumah pertama yang dijangkau oleh Osvald langsung diketuk tapi tidak ada jawaban, Osvald tidak bersedih tapi mulai mengetuk rumah lainnya. Hingga sudah mau rumah terakhir tidak ada juga yang membukakan pintu, Osvald mulai meneteskan air mata. Sambil gemetaran kedinginan, Osvald berlutut memohon untuk dibukakan pintu. Tapi tidak ada satu pintupun yang bergerak sama sekali.
"Sepertinya, memang tidak ada orang. Rumah ini hanya diciptakan untuk menyiksa Osvald saja. Memberi harapan palsu ...." kata Tom.
"Ada kok!" kata Teo setelah mengintip ke sela dinding rumah, "Aaaaaaa!" teriak Teo kemudian.
"Ada apa?!" tanya Tom.
"Yang di dalam juga mengintip keluar, mata kami bertemu." jawab Teo heboh.
"Mereka kan tidak bisa melihatmu ...." kata Tom berdecak kesal.
"Bukan kau yang mengalaminya saja ... coba kau tadi, sangat bisa kupastikan kau akan bereaksi sama!" kata Teo membela diri.
Osvald terlihat meringkuk kedinginan di luar rumah seseorang dan menyusun kursi dan meja mengelilinginya. Terlihat ada taplak meja yang cukup lebar. Osvald membuka semua pakaiannya dan digantung di kursi yang digunakan sebagai dinding itu dan menjadikan taplak meja sebagai selimut sementara pakaiannya ditunggu kering. Tapi bukannya kering, pakaiannya malah membatu.
"Osvald ...." Teo dan Tom tidak tega melihat Osvald yang begitu menyedihkan.
Setelah diperiksa semua orang di dalam rumah itu ternyata melihat keluar juga. Tahu bahwa ada orang diluar tapi memang hanya tidak mau menolong saja.
"Aku sudah tahu kalau ini sudah diatur, orang-orang disini ... rumah disini ... semuanya tidak nyata tapi tetap saja sangat menyebalkan." kata Tom.
Entah sudah berapa lama, Teo dan Tom yang duduk di rumah sebelah karena tidak ingin terlalu dekat dengan Osvald berada, "Kursi itu berhenti bergerak!" kata Teo yang melirik ketempat Osvald berada.
"Tadinya kursi itu selalu bergerak karena Osvald yang terus gemetaran ...." kata Teo mulai berdiri, "Tidak mungkin dia sudah berhenti dingin." Teo berjalan mendekat ke tempat Osvald berada, "Dia tidak ada!"
"Hahh?!" Tom yang hampir ketiduran lagi akhirnya mendekat juga memeriksa.
Hanya ada pakaian Osvald yang membeku digantung di kursi tapi Osvald tidak ada disana.
"Bagaimana sih?! seharusnya kau mengawasinya!" kata Tom.
"Jangan menceramahiku! disaat kau sendiri tidur!" kata Teo sebal.
"Kemana dia?!" Teo dan Tom mulai berpencar mencari.
"Disini!" teriak Teo.
Tom berlari cepat ke arah Teo berada dan langsung melongo melihat apa yang dilihatnya. Osvald terlihat sedang mencoba masuk lewat jendela rumah seseorang.
"Apa dia akan mencuri?" tanya Teo.
"Tidak apa-apa ... dia harus bertahan hidup dengan pakaian yang hangat." kata Tom yang dirinya sendiri ragu mengatakan hal itu.
Teo dan Tom menunggu di luar rumah berharap Osvald keluar dengan pakaian hangat tapi sebaliknya terdengar suara gaduh dari dalam rumah.
"Dasar pencuri! menjijikkan! apa yang dilakukan tikus kotor sepertimu menginjakkan kaki di dalam rumah kami?!" teriak pemilik rumah yang langsung mendorong Osvald dengan cara ditendang keluar dari rumah dengan kasar.
"Osvald?!" Teo ingin mendekat tapi ditahan oleh Tom.
Semua pintu rumah tiba-tiba terbuka semua dan orang-orang mendekati Osvald dengan tatapan marah. Terlebih lagi yang kursi dan mejanya dipakai oleh Osvald tadi. Kursi dan meja itu terlihat langsung dilempar dan dihancurkan karena jijik telah dipakai oleh Osvald. Pakaian Osvald juga diinjak-injak dan kini dipenuhi kotoran.
"Bagaimana ini?!" Teo panik melihat semua orang mendekati Osvald.
"Disini kau, rupanya!" suara yang membuat jantung Demelza hampir melompat keluar rasanya. Demelza ditarik keluar dari semak tanaman itu.
"Tidak ...." Tan tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat Demelza ditarik paksa rambutnya oleh perempuan dengan baju merah dan high heels merah.
Kaki Demelza yang terluka membuatnya tidak bisa berjalan dan terus terjatuh. Akhirnya Demelza diseret dengan cara hanya rambutnya yang ditarik.
"Aaaaaaaa!" Demelza berteriak kencang kesakitan diseret seperti itu. Meminta tolong tapi tidak ada yang menolong, semua orang hanya menatap sinis. Setiap kali bunyi high heels berbunyi menandakan dirinya akan tertarik lagi. Demelza merasa suara high heels itu seperti alarm siksaan.
Tom menutup mata Teo saat melihat Osvald sekarang dipukuli dan ditendang oleh semua warga yang ada disana. Tom yang sok kuat melindungi Teo agar tidak melihat itu berakhir tidak bisa menahan diri lagi dan meninggalkan Teo yang masih menutup mata dan berjalan menuju Osvald berada.
Tan juga sudah tidak tahan lagi dan mulai melangkahkan kakinya mengejar Demelza yang masih sedang ditarik paksa itu.
"Aku tidak peduli lagi!" kata Tan dan Tom dengan langkah pasti. Sementara Teo sambil menangis masih menutup mata dan telinganya seperti yang telah diperintahkan Tom.
...-BERSAMBUNG-...