
"Seseorang yang mengajukan Neumbell, menurutmu akan diam saja ...." kata Cain.
"Benar yang dikatakan Cain ... kita tidak bisa memprediksi bagaimana skala dari ending permainan yang diinginkan Efrain." kata Felix dalam hati dan hanya tinggal melamun memikirkan baik-baik yang dikatakan Cain.
Hari ini Haera sudah berulang kali datang, tidak seperti biasanya yang hanya datang setiap pagi saja. Perjalanan pulang ke panti Haera juga ikut dengan memakai tas selempangnya yang terlihat sangat penuh.
"Em!" Haera menunjuk tasnya pada Cain.
"Hahh ... sudah kubilang jangan pakai tas ini lagi!" kata Cain sebal.
"Ada apa?" tanya Teo.
"Tasnya ini harus diikat untuk ditutup, tidak pakai resleting atau kancing magnet ...." jawab Cain cerewet tapi tetap mengikatkan tas Haera, "Memangnya apa yang kau ambil di dalam tas?"
"Eng!" Haera meninggikan lolipopnya.
"Hahh ...." Cain menghela napas panjang.
Teo kebingungan melihat tingkah Haera yang melompat-lompat meninggikan lolipopnya, "Dia minta dibukakan!" kata Cain menjelaskan.
"Aaaaah!" Teo segera mengambil lolipop Haera dan membukakan bungkusnya.
Berjalan dari halte bus menuju panti, Haera memakan permen 10 bungkus. Tanpa sadar Teo meneteskan air mata karena tidak lama lagi Haera akan pergi, "Aku punya banyak permen di kamar!" kata Teo.
"Kau memperlakukannya seperti seseorang yang sedang mengalami penyakit yang tidak disembuhkan dan empat hari lagi akan meninggal ... terlihat kau akan melakukan apapun yang diminta Haera ...." kata Cain.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu!" kata Teo takut jika Haera tersinggung dan sedih.
"Dia sudah mengalaminya berulang kali! bukan satu atau dua kali ... dia sudah terbiasa! mengasihaninya akan jauh lebih membuatnya kesal!" kata Cain.
"Tapi, bagaimanapun kan bukan dia yang merasakan!" kata Teo.
"Ingatan tentang Dicoisvi sebelumnya akan tersimpan! dia sudah tahu bagaimana rasanya ... dan memang takdirnya begitu!" kata Cain.
"Ingatan seperti itu seharusnya menjadi trauma ... dan ingatan lah yang membentuk kepribadian seseorang!" kata Teo.
"Bagi Dicoisvi, ingatan sebelumnya hanya seperti file yang ada di komputer. Masing-masing memiliki folder dan hanya untuk dijadikan acuan untuk pembelajaran!" kata Cain.
Sementara Cain dan Teo adu mulut, Haera naik ke bahu Felix dan menyisir rambut Felix sambil masih mengemut permennya. Felix menahan Haera agar tidak terjatuh tapi Haera hanya dengan santainya menyisir rambut Felix yang terus berjalan tanpa takut sama sekali akan terjatuh dengan posisi itu.
Sampai di kamar, rambut Felix sudah banyak ikatan hasil kerjaan Haera. Felix berkaca dan hanya bisa mengehela napas panjang karena tidak bisa marah juga.
"Kau akan membantuku membukanya kan?" tanya Felix.
Haera kaget mendengar perkataan Felix dan naik ke tudung jaket Cain untuk bersembunyi. Haera terbilang cukup berat untuk naik ke tudung jaket karena ukurannya lebih besar dari kucing tapi Cain hanya tertawa saja.
"Kau selalu saja suka melakukan ini padaku! tapi dengan Cain tidak pernah ...." kata Felix membuka ikatan rambutnya satu per satu.
"Jangan kira aku tidak pernah! dia sering melakukan itu, hanya saja kau tidak pernah melihatnya ...." kata Cain.
"Ayo!" kata Tom membuka pintu kamar dan hanya kepalanya yang muncul.
Mereka turun untuk makan malam, seperti biasanya ruang makan hanya akan diisi oleh mereka saja. Yang lainnya bersekolah di sekolah yang tidak sampai malam dan hanya sampai sore hari. Hanya bagi yang sudah SMA saja yang pulang malam seperti mereka tapi kebanyakan hanya mengambil makanan untuk di makan di kamar dan melanjutkan belajar lagi.
FCT3 terbilang unik karena masih SD dan mendapatkan pembelajaran seperti anak SMA. Karena Gallagher memang sekolah yang tidak membatasi umur untuk mulai belajar. Bagi Gallagher semakin muda usia semakin penting untuk dibiasakan belajar lebih banyak dan lebih lama. Ibu Corliss dulunya hanya iseng menyuruh Cain dan Tiga Kembar untuk mendaftar dan ternyata mereka semua lulus masuk padahal ujian masuknya sangatlah susah. Felix disarankan oleh Dokter Mari untuk pindah ke Gallagher tapi awalnya Ibu Corliss melarang karena proses dan ujian untuk murid pindahan lebih sulit dari murid baru tapi ternyata Felix bisa lulus juga.
"Kak Luna tidak ada ya ...." kata Tan menengok ke dalam dapur saat mengambil makanan prasmanan yang terjejer rapi di depan dapur.
"Iya, dia sedang bekerja! makan yang banyak ...." kata Petugas Dapur.
"Lebih bagus kalau dekat!" kata Teo sudah sedia dengan remote ditangannya.
"Leher sakit kalau paling depan begitu!" kata Cain.
Teo tidak mendengarkan dan mencari channel kesukaannya untuk dinonton sambil makan malam. Bu Corliss datang dengan membawa gelas kopinya yang kosong untuk diisi ulang.
"Kalian pulang ternyata ... kenapa tidak bilang?" kata Bu Corliss.
"Memangnya kalau bilang apa yang akan berubah?" tanya Teo membuat Bu Corliss sebal.
"Kau ini! kalau bilang kan ibu bisa saja pesankan pizza ...." kata Bu Corliss membalas ejekan Teo.
"Kalau begitu pesankan sekarang!" kata Tom.
"Kan di depan kalian sudah ada makanan ...." kata Bu Corliss mulai kabur.
"Kiana sudah tertidur lelap, padahal aku rindu mendengarnya berceloteh ...." kata Teo.
Haera duduk di atas meja, berada paling tengah dan memakan permen sambil berbaring dengan perut buncitnya. Sudah banyak bungkusan permen yang berserakan di atas meja bahkan di atas perut Haera.
"Apa dia tidak bisa makan makanan seperti ini?" tanya Tan.
"Tidak!" sahut Cain.
"Dia tidak bisa makan makanan manusia? makanya dia menolak permen yang aku berikan? jadi permen yang dimakannya ini apa?" tanya Teo.
"Sulit untuk menjelaskannya ... tapi permen ini dibuat dengan menggunakan air yang ada di bawah jembatan Ruleorum!" jawab Cain.
Felix kaget mendengar itu dan tersedak makanan membuatnya terbatuk-batuk, "Memangnya air yang ada di bawah jembatan itu apa?" tanya Tom bingung melihat reaksi Felix.
"Ibaratkan kalau di Mundclariss namanya Asam Sulfat!" jawab Cain.
Tan, Teo dan Tom memasang ekspresi kaget akhirnya mengerti kenapa Felix bereaksi seperti tadi.
"Hal berbahaya begitu kenapa dimakan?" tanya Tom tidak mengerti.
"Haera lahir darisana jadi tidak aneh kalau dia juga bisa makan itu ...." jawab Cain.
"Jadi kalau kita yang makan permen ini bagaimana?" tanya Teo.
"Tidak tahu ... belum ada yang cukup bodoh untuk melakukan itu!" jawab Cain membuat Teo tersinggung, yang lainnya hanya tertawa.
"Kalau dipikir-pikir kita tidak banyak mengenal Haera ya ...." kata Tan.
"Kita tidak akan tahu apa bisa bertemu Dicoisvi selanjutnya nanti ...." kata Tom.
Teo hanya bisa menangis, tidak bisa mengatakan apa-apa. Sedangkan Haera sudah tertidur pulas padahal masih ada permen di dalam mulutnya. Sesekali Haera terbangun dan mengemut permen yang disimpan di pipinya sehingga terlihat mengembang.
"Kalau kita tidak mengenal Franklin atau Haera pastinya di masa depan kita akan mengejar pewaris dan Dicoisvi baru seperti Alvauden sebelumya yang menganggap mereka adalah penjahat. Tapi karena kita tahu maksud dari tujuan mereka yang sebenarnya pasti kita tidak punya niat lagi untuk melakukan ini dan menyerahkan sepenuhnya pada mereka berdua saja ...." kata Tom.
"Apa maksudmu? malahan karena sudah tahu kita harus lebih berpartisipasi lagi!" kata Cain.
"Heh?! kau tidak lelah? kau akan melakukan ini lagi nantinya?" tanya Tom.
"Tentu saja! pasti Felix juga berpikiran begitu ...." kata Cain.
...-BERSAMBUNG-...