UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.423 - Charleston, Anak Dengan Senyuman.



Biasanya Teo santai saja jika diperlakukan begitu dengan dua saudaranya atau ditambah Cain. Tapi kali ini ditambah Osvald dan Demelza, Teo merasa sangat tersudutkan.


"Wah, baru kali ini rasanya aku terluka ...." kata Teo dalam hati.


"Kalau begitu, saya pamit Yang Mulia ...." kata Harvard ingin mengepakkan sayapnya tapi ditahan oleh Felix.


"Aku sudah kedinginan jangan buat hujan lagi!" kata Felix merasakan sedikit setruman listrik saat memegang sayap Harvard.


"Dan ... jangan berisik, kami mohon!" kata Tan meminta agar tidak muncul lagi petir dan guntur yang meredam suara Zewhit Badut dan Kurcaci sehingga tidak terdengar.


"Apa karena mereka manusia, jadi tidak takut padaku ...." kata Harvard merasa kecewa dan pergi dengan tenang tanpa menimbulkan hujan atau petir maupun guntur seperti yang diminta.


Seiring dengan cahaya matahari yang terus masuk, ada seperti sebuah film yang terputar. Bukan yang bisa dilihat dari mata tapi masuk langsung di dalam kepala mereka. Semua target hanya bisa diam sambil melihat film itu dengan seksama.


"Yang ditakdirkan sepertinya memang sulit untuk dihentikan." kata Felix melihat bagaimana Tan, Teo dan Tom yang menjadi target walau sudah diperingatkan dan dituruti oleh mereka sekalipun, tetap saja mereka menjadi target dengan cara tidak terduga-duga, "Aku harap mereka baik-baik saja ... tidak terlihat ada perubahan aura juga, jadi sepertinya baik-baik saja." Felix meyakinkan dirinya sendiri.


"Menjadi Meinimeirav adalah sebuah tragedi, makanya aku memperingatkanmu untuk berhati-hati tapi bukanlah hal buruk juga, mereka bisa mendapatkan pengalaman." kata Iriana.


Di dalam film yang terputar langsung masuk ke dalam kepala mereka itu, seperti sebuah virus yang masuk ke dalam hard drive komputer dan terus muncul membuat segalanya tidak bisa berfungsi. Tiga Kembar, Osvald dan Demelza hanya bisa diam dan tidak bergerak.


Pertama terlihat Charleston yang masih umur sekitaran 5 tahun memasuki taman hiburan dengan digandeng oleh seseorang yang lebih tua darinya.


"Ayah, apa kita akan bersenang-senang hari ini?!" tanya Charleston dengan riang mengira dia dibawa kesana untuk bermain.


"Tidak, kita kesini untuk bekerja." jawab Sang Ayah yang memakai topi panjang dan pakaian serba hitam karena profesinya yang sebagai seorang pesulap.


Charleston yang kecewa hanya bisa menahan diri untuk tidak menghilangkan senyumnya. Bagaimanapun itu adalah pertama kalinya dia diajak oleh ayahnya untuk keluar bersama.


Sang Ayah membawa Charleston ke sebuah ruangan yang dipenuhi banyak kostum dan mulai sibuk berbicara dengan seseorang disana sambil menunjuk Charleston. Charleston hanya bisa diam saat dipakaikan baju badut dan dirias.


"Kau hanya perlu berdiri disini dan menjual balon ini, kalau sudah habis kau bisa bermain wahana yang kau mau." kata Sang Ayah memberikan kumpulan balon berwarna-warni.


"Benarkah?!" kata Charleston begitu bahagia.


"Kalau semua ini terjual habis!" kata Sang Ayah menekankan tapi tetap dengan ekspresi datar.


"Saat itu, kukira semua ayah di dunia ini memiliki ekspresi yang sama dengan ayahku ... tapi setelah satu bulan bekerja di taman hiburan aku akhirnya sadar, ayahku berbeda. Ayah lainnya begitu hangat tidak seperti ayahku yang dingin." kata Zewhit Badut saat ini.


Waktu terus berlalu, Charleston sudah bekerja di taman hiburan selama setahun. Bahkan sudah tiga bulan tidak pernah pulang ke rumah dengan ayahnya. Akhirnya Charleston pulang ke rumah karena merindukan ibunya tapi setelah sampai, bukan hanya ibunya yang sudah tidak terlihat tapi rumahnya juga sudah hancur.


Charleston berlari kembali ke taman hiburan untuk mengatakan hal itu pada ayahnya dan menanyakan keberadaan ibunya. Tapi Sang Ayah hanya menjawab, "Apa balon yang kau jual hari ini sudah habis semua?!"


"Hahh?! bukan itu yang penting sekarang! ibu dimana?! dan apa yang terjadi dengan rumah kita?!" kata Charleston untuk pertama kalinya mengeluarkan emosinya di depan ayahnya.


"Yang penting sekarang adalah kau menjual semua balon yang kuberikan!" kata Sang Ayah dengan wajah datar dan mulai naik kepanggung pertunjukan. Charleston hanya bisa melihat senyuman ayahnya jika berada di atas panggung berusaha menyenangkan hati penonton. Tidak pernah senyuman seperti itu didapatkan Charleston.


Charleston yang masih muda tidak tahu harus bagaimana dan hanya melaksanakan kembali perintah ayahnya. Menjual balon disaat pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh ibunya dan rumahnya yang telah hancur.


Tahun berlalu lagi, Charleston dan Sang Ayah sudah sepenuhnya menetap tinggal di taman hiburan. Walau karyawan dilarang untuk tinggal tapi Sang Ayah tetap nekat sembunyi-sembunyi tinggal di gudang bersama Charleston.


Charleston yang sudah 8 tahun, sudah mengerti apa yang terjadi pada dirinya dan ayahnya. Bahkan tanpa mencari tahu, semua orang membicarakan dirinya dan ayahnya. Anehnya, orang-orang membicarakan hal itu di belakang Sang Ayah tapi tidak dengan Charleston.


"Dia masih kecil, dia tidak akan mengerti juga apa yang kita katakan." kata karyawan lainnya.


"Kasihan sekali, ibunya seorang pengkhianat negara dan kini tinggal bersama ayahnya yang hanya seorang pesulap dengan gaji kecil."


Charleston hanya diam saja mendengar itu semua, "Bagaimana mereka pikir aku ini tidak mengerti?! bagaimana mereka mengasihani disaat bahkan tidak memperlihatkan kepeduliannya padaku?! hanya karena aku masih kecil, aku ini tetaplah manusia yang berhak diperlakukan sama seperti orang dewasa lainnya." Charleston merasa rendah diri tapi tetap memasang senyumnya agar ada yang mau membeli balonnya.


Dua tahun berlalu, kini Charleston sudah berumur 10 tahun. Dia dan Ayahnya masih tinggal secara sembunyi-sembunyi di gudang taman hiburan. Bagi Charleston, dia sudah lupa bagaimana saat tinggal di rumahnya yang dulu bersama ibunya. Kini taman hiburan itulah rumah sekaligus tempatnya bermain dan bekerja.


Charleston sudah menghafal semua wahana, karyawan, apapun yang ada di taman hiburan itu sudah melekat sempurna diingatannya. Bahkan berlari dengan cekatan tanpa tersandung melewati wahana yang sedang berjalan.


"Awas!" teriak pengendali wahana.


Tapi Charleston hanya tertawa dan berbalik memasang senyuman lebar dan menyapa serta tak lupa menyapa juga orang-orang yang menaiki wahana itu. Charleston merasa bahwa dia bisa bahagia walau keadaannya yang tidak memungkinkannya bahagia. Normal untuk anak 10 tahun merasakan hal itu, karena masih dipenuhi harapan dan mimpi yang besar.


Hingga semuanya berubah saat umurnya mencapai 15 tahun. Sudah 10 tahun lamanya dia menggeluti pekerjaan yang sama itu. Melihat bagaimana anak lainnya yang datang ke taman hiburan bersama keluarga, bersama teman sepulang sekolah. Charleston akhirnya menyadari kenyataan pahit bahwa selamanya dia akan terjebak di taman hiburan itu menjual balon memakai pakaian dan riasan badut hanya berdiri sambil melihat semua orang dengan wajah bahagia memasuki taman hiburan dan pulang dengan wajah lebih bahagia lagi.


Setiap harinya, senyuman Charleston makin pudar hingga akhirnya dia membuat riasan untuk warna bibirnya semakin terang dan dibuat semakin melebar untuk menutupi dirinya yang sudah tidak bisa tersenyum lagi.


"Bukankah itu berlebihan?!" kata Sang Ayah melihat Charleston terus merias area mulutnya.


"Bukankah yang terpenting agar balon habis terjual, ayah ...." kata Charleston datar.


Sang Ayah hanya memakai topinya dan meninggalkan ruangan rias. Sementara Charleston di depan cermin melatih dirinya untuk tersenyum, "Apa begini cara tersenyum?! bahkan aku sudah lupa bagaimana ...." katanya dihadapan cermin.


Hari itu begitu gelap dengan awan mendung pertanda hujan akan turun. Pengunjung taman hiburan sangat sedikit, bahkan yang sudah datang terlihat lebih memilih pulang. Semua pekerja tinggal melamun dan hujan pun turun dengan derasnya membuat semua balon Charleston pecah. Charleston tetap tersenyum melihat itu dan mulai tertawa.


Menurutnya lucu saja, semua pengunjung begitu bahagia memasuki taman hiburan dan menolak atau merengek agar tetap tinggal lebih lama bahkan ada yang tidak ingin pulang. Bahkan ada yang mengatakan bahwa pasti menyenangkan bisa tinggal di taman hiburan. Padahal semua pekerja disana tidak ada yang benar bahagia, "Senyuman mereka semua palsu!" kata Charleston terus tertawa di tengah hujan melihat pekerja di taman hiburan itu.


Ditengah tawa Charleston terdengar ledakan besar dari belakang. Tapi tanpa ekspresi, Charleston hanya terus tertawa karena mengira itu hanyalah dari wahana bermain. Tangan Charleston tiba-tiba ada yang menarik, "Ayo kita pergi darisini!" kata Sang Ayah.


Charleston melepas tangan ayahnya, "Kemana?! bukankah disini adalah rumah kita."


"Perang sepertinya akan terjadi!" kata Sang Ayah untuk pertama kalinya dengan ekspresi yang belum pernah dilihat oleh Charleston sebelumnya.


"Kalau begitu, biarkan aku mati disini ... di rumah!" kata Charleston berjalan ke arah ledakan berbanding terbalik dengan orang-orang yang berlari menjauh darisana.


Banyak perhiasan, uang, barang berharga lainnya yang berjatuhan disaat orang-orang berlari. Seseorang yang pernah dimintai pinjaman oleh Charleston tapi ditolak mentah-mentah itu ternyata punya banyak uang di dalam kopernya tapi koper itu ditinggalkan begitu saja untuk menyelamatkan diri.


Pesawat tempur terus beterbangan dilangit dan menjatuhkan bom membuat semua wahana bahkan gudang tempat Charleston tinggal selama ini juga sudah hancur.


Ditengah hujan itu, Charleston merasakan kehangatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Pelukan ayahnya dari belakang, "Baiklah, kita disini saja ... di rumah, berdua!" senyuman yang sangat diimpikan oleh Charleston terlukis di wajah Sang Ayah untuk pertama kalinya.


"Karena ibu seorang pengkhianat, apa karena dia kita akan mati saat ini?! bukankah itu lucu, ayah?!" Charleston dengan tawa riang.


Sang Ayah memeluk Charleston, "Maafkan ayah tidak bisa menjadi ayah yang sesungguhnya seperti ayah lainnya."


Sebuah benda jatuh tepat disamping mereka berdua. Charleston sadar itu apa dan hanya balik memeluk ayahnya dengan erat, "Bersama ayah di rumah ini sudah cukup bagiku."


...-BERSAMBUNG-...