
"Jadi bagaimana rapat hari ini?"
"Kau cepat kembali Felix? eh?! apa yang sedang kau lakukan?" tanya Cain melihat Felix sedang memukul-mukul batu dan muncul percikan sinar berwarna biru, "Batu permata safir? jangan bilang untukku?! eh! kenapa kau ...." Cain heran melihat Felix yang terus memukul batu permata safir itu.
"Jangan kegeeran!" kata Felix memukul batu itu sampai sudah hampir menjadi pasir.
"Pasir batu permata safir ini untuk apa? tidak mungkin hanya karena kau tidak ingin memberikannya padaku jadi kau hancurkan ...." kata Cain.
"Mau buat akuarium!" kata Felix.
"Iya, ya! kan memang bagus kalau pasirnya berwarna biru bersinar ... hahaha ... kau bercanda ya?!" kata Cain awalnya ikut dalam lelucon tidak jelas Felix tapi berakhir sarkastik.
"Beritahu aku hasil rapat hari ini saja!" kata Felix mulai mengumpulkan pasir biru itu dalam kotak berwarna hitam.
Cain mulai melapor tentang hasil rapat diskusi tentang keanehan yang didapat masing-masing, "Yang dari Teo mana?" tanya Felix.
"Eh?! ah itu ... tidak penting!" kata Cain.
"Apa maksudmu?! sudah aku bilang kan jangan mengabaikan petunjuk sekecil apapun itu ... sekonyol apapun itu!" kata Felix membentak.
"Tapi bukankah lebih efektif kalau kita mengabaikan sesuatu yang benar-benar tidak mencerminkan petunjuk yang kita butuhkan ... dengan memilahnya akan membuat kita bisa selangkah lebih cepat mendapatkan petunjuk daripada harus menyimpan informasi yang bisa membuat kita bingung ...." kata Cain.
"Kau pikir Teo itu sedang bermain-main? kau pikir Teo tidak serius dalam misi ini? kau pikir Teo akan membuat lelucon sedangkan keselamatan Kiana taruhannya? jangan membuat image Teo memenuhimu Cain ... Teo, walaupun begitu ... dia sama seriusnya dengan kalian ... jadi jangan menganggap remeh atau mengabaikan informasi darinya! petunjuk yang banyak tidak akan membuat bingung tapi malah akan memperjelas, ingat itu!" kata Felix.
"Jangan menceramahiku disaat kau sendiri tidak pernah memberitahuku apa yang kau lakukan di Ruleorum dan informasi apa yang telah kau dapatkan tentang permainan ini ...." kata Cain.
"Biar aku sendiri yang tahu! kau tidak perlu tahu ...." kata Felix.
"Kau ingin menanggungnya sendirian lagi? sebenarnya berapa kali aku harus bilang, Felix! kau itu tidak bisa selamanya menanggung beban sendirian. Kau mungkin berpikir itu demi kebaikan kami tapi sebenarnya itu malah membuat repot kami juga ... atau jangan bilang kau tidak mempercayaiku?!"
"Sudahlah, sana kembali ke kamar dan awasi lagi para pemain ... bukankah sudah waktunya kau tukaran jaga monitor dengan Tan?!" kata Felix.
"Aku membencimu!" kata Cain pergi meninggalkan Felix.
"Ah, itu ... aku sudah tahu!" kata Felix santai.
Cain menendang kaleng yang ada di depannya, "Aw!" teriak Cain saat melihat kaleng itu terlempar ternyata ada batu dibaliknya. Cain berbalik melihat Felix apa melihat kejadian itu dan akan mengejeknya tapi Felix dengan ekspresi datar hanya langsung memungut kaleng itu dan membuangnya di tempat sampah mengabaikan Cain yang kesakitan sedang memegangi kakinya.
"Apa-apaan kau! kalau tidak ingin mengejek, setidaknya kau menanyakan keadaanku! lagipula kau sudah tahu kan kalau aku akan terluka? apa aku benar Alvaudenmu?!" teriak Cain yang tahu betul Caelvita akan tahu jika Alvauden akan terluka.
Felix menoleh ke belakang, "Kau baik-baik saja?"
"Tidak usah bertanya jika hanya terpaksa!" kata Cain membuka sepatunya dan melemparnya mengenai kepala Felix.
Felix mengambil sepatu Cain dan membawanya masuk ke dalam panti, "Kembalikan sepatuku! aku dingin!" teriak Cain.
***
Saat sarapan pagi ada 10 orang asing yang juga ikut makan di ruang makan panti, "Siapa mereka?" tanya Teo.
"Mereka pekerja yang akan membuat kolam ikan di belakang panti!" sahut Felix.
"Heh! jadi yang katanya untuk akuarium itu kau sedang tidak bercanda?!" kata Cain.
"Makanya kan sudah aku bilang! tapi kau tidak percaya ...." kata Felix.
"Apa-apaan kau membuang-membuang batu permata safir hanya untuk hal seperti itu? kau tidak tahu bagaimana sulitnya mendapatkan batu permata safir, bahkan aku dengar di Mundebris untuk bisa mendapatkannya hanya bisa ditukar dengan kematian seseorang dan tidak bisa dibeli oleh uang sama sekali ... dan yang kau lakukan hanya untuk menghias kolam ikan?!" kata Cain.
Felix ingin minum tapi dihentikan oleh Cain, "Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" kata Cain merebut gelas minum Felix.
"Apa yang aku pikirkan? aku sedang haus!" kata Felix mengambil gelas minuman Tan.
"Siapa yang bilang jangan membuang-buang waktu ... tapi kau sendiri sekarang sedang membuang-buang waktu!" kata Cain.
***
"Jadi disini ya kolam ikannya akan dibuat?" tanya Tom.
"Kalian yang disana! tidak berangkat sekolah?!" teriak Luna dari pintu belakang panti.
"Baru mau berangkat!" teriak Teo.
"Tidak mungkin kalau yang sekarang Felix lakukan adalah benar membuang-buang waktu ...." kata Tan yang membuat mereka semua jadi penasaran dan memeriksa kolam ikan yang akan dibuat itu.
"Felix!" teriak Cain melihat sosok Felix sudah berjalan jauh di depan.
"Aku bahkan sudah tidak heran lagi ...." kata Tan.
Sudah hal wajar bagi Felix dan Cain yang baru saja bertengkar dan baikan lagi secepat kilat. Bahkan seperti tidak pernah terjadi apa-apa sama sekali.
"Bisa saja mereka nanti saling bunuh dan baikan lagi setelah menjadi Zewhit ...." kata Tom.
"Hey ... jangan bercanda dengan hal seperti itu!" kata Teo merinding mendengar lelucon Tom.
"Aku hanya asal bicara!" kata Tom tertawa.
"Jangan asal bicara dengan bahan itu!" kata Teo.
"Iya ... iya!" Tom merangkul Teo.
"Apa ada yang aneh?" tanya Tom pada Tan yang sibuk memonitori satu per satu para pemain.
"Mau ganti?" tanya Teo melihat Tan daritadi terus memegang tablet sambil berjalan.
"Tidak usah!" kata Tan kemudian tersenyum, "Kau pikir aku akan berkata seperti itu kan?! ini ... dengan senang hati!" menyerahkan tablet pada Teo dan kemudian berlari.
"Makanya jangan bertanya!" kata Tom berlari menyusul Tan meninggalkan Teo sendirian yang harus mendapat jatah jaga lebih cepat dari jadwal karena kebaikan hatinya yang tidak perlu itu.
"Aku benci diriku sendiri!" kata Teo.
Sampai di halte bus mereka menunggu tapi tiba-tiba ada gerombolan burung gagak beterbangan dan tidak berhenti berteriak dengan suara yang membuat merinding.
"Sudah dimulai!" kata Felix langsung menarik tongkatnya dari belakang punggungnya.
"Em? apa maksudmu?" tanya Cain.
"Pemain pertama dari 100 pemain sudah meninggal!" sahut Felix.
"Hah?!" teriak Cain dan Tiga Kembar bersamaan.
"Ingin rasanya Teo mengatakan bahwa 'Jangan Bercanda!' tapi ekspresi Felix tidak mencerminkan sedang membuat lelucon sama sekali!"
"Nenek yang waktu itu membeli vas bunga meninggal!" kata Cain memeriksa satu per satu kamera pengawasnya dengan cepat.
"Kau sudah mengetahui ini kan Felix?" tanya Tan.
"Ini artinya dua orang sudah terbebas dari permainan! Permainan Tukar Kematian tinggal 98 peserta!" kata Tom.
"Ya! putri dari Nenek itu sekarang selamat karena berhasil lolos dari tukar kematian!" kata Felix.
"Bagaimana kau bisa tahu? darimana juga kau tahu kematian Nenek itu terhubung dengan putrinya?" tanya Cain.
...-BERSAMBUNG-...