UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.80 - Mencari Peniru Hantu Merah Muda



Setelah lama berbicara, satu per satu dari Geng Halle mulai terlihat kesal dan mulai berusaha menendang Mertie tapi dengan mudahnya Mertie menghindar membuat mereka kesal dan mengambil salju untuk dilempar pada Mertie tapi Mertie hanya berbalik pergi dengan menghindari lemparan salju dengan santainya.


"Wuih keren Si Mertie, bisa menghindar dengan tidak melihat kebelakang ... apa dia punya mata dibelakang kepalanya?" kata Teo dengan nada ceria serta kagum.


"Jadi sekarang dia tidak mau menerima pukulan lagi ya?" tanya Tom.


"Tentu saja, buat apa lagi? tidak ada hal yang menguntungkan lagi kan dari mereka yang bisa didapat ...." kata Tan yang mulai berjalan.


"Ada apa dengan anak yang satu itu?" tanya Felix.


"Em, siapa?" tanya Teo dan Tom bersamaan.


"Maksudmu Gina kan? kau memikirkan hal yang sama denganku kan?" kata Cain menatap Felix.


Kelas pertama adalah pelajaran Bahasa Yardley, harusnya pelajaran yang paling mudah tapi karena Bu Latoya yang mengajar jadi berubah sangat susah dan menyebalkan mendengar Bu Latoya yang terbata-bata berbicara. Bu Latoya sengaja mengajar Bahasa Yardley karena katanya dengan begitu dia juga bisa ikut belajar bersama juga. Walau cara berbicara Bu Latoya yang tidak jelas tapi cara mengajarnya terbilang sangat disukai karena to the point pada inti yang ingin dibahas tidak berbelit-belit seperti guru lain yang memulainya dengan penjelasan panjang lebar dan ujung-ujungnya tidak jelas diketahui yang penting adalah yang mana.


"Setidaknya kita tidak perlu membuat kesimpulan bahasa Yardley!" kata Cain berbisik.


Felix hanya tersenyum sambil menulis.


Setelah pelajaran utama selesai dan ke ruang belajar mandiri gunanya untuk membuat kesimpulan dari seluruh mata pelajaran pada hari itu agar memudahkan saat ujian, tidak harus belajar dari awal. Langsung bisa mempelajari kesimpulan saja dari tiap pembelajaran yang sudah dicatat di ruang belajar mandiri sebelum pulang sekolah. Jadi bisa saja melewatkan belajar mandiri tapi saat ujian barulah nanti akan menyesal.


***


Felix, Cain dan Tiga Kembar memakan makan siangnya dengan mata tidak tertuju pada makanan tapi sedang memperhatikan hal lain. Mereka setuju untuk mulai menyelidiki para korban Hantu Merah Muda untuk menemukan Peniru Hantu Merah Muda.


Dallas dan Parish akan diawasi oleh Felix, Cornelia dan Vilvred akan diawasi oleh Cain tapi Vilvred akan dibantu oleh Tan karena satu kelas dengan Tan yang juga akan mengawasi Stede, Ziggy diawasi oleh Teo dan terakhir


Wyatt diawasi oleh Tom.


Mertie yang melihat mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala karena terlalu kelihatan jelas sedang mengawasi gerak-gerik seseorang.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Magdalene ya? Ey ... Hehh!" kata Teo yang kemudian sadar tidak mengarahkan makanan ke mulut melainkan dagunya. Yang lainnya hanya tertawa melihat itu dan mulai fokus memakan makan siang mereka agar hal yang sama tidak terjadi dengan mereka.


Masuk ke ruang belajar mandiri seluruh kelas dan mulai mengumpulkan hasil dari seharian mengawasi masing-masing target. Tapi tidak ada yang istimewa sama sekali untuk bisa dicurigai.


"Jadi kita harus melakukan hal ini lagi besok?" keluh Teo.


"Yup!" jawab Cain membuat Teo dan Tom mengeluh.


"Pokoknya hal sekecil apapun itu harus kalian ingat!" kata Felix.


"Tentu saja, peniru hantu merah muda pasti bukan anak biasa juga ... pasti dia tahu cara agar tidak terlalu menonjol." kata Tan.


"Kalau begitu mudah dong, tinggal pilih yang mana lebih terlihat biasa-biasa saja." kata Teo membuat yang lainnya kembali ke meja masing-masing dan tidak memperdulikan Teo.


Saat semua murid keluar sekolah langsung dikejutkan oleh tumpukan salju. Dengan warna salju yang tidak biasanya yakni berwarna merah muda. Tak lama kemudian terdengar ada yang berteriak histeris dari arah lapangan membuat semua ikut kesana untuk melihat apa yang terjadi. Yang baru saja sampai langsung ikut berteriak histeris juga melihat apa yang dilihatnya.


Sebuah lingkaran yang disusun dengan menggunakan kelinci putih yang tangan dan kakinya diikat kini meronta-ronta. Tapi bukan hanya itu, ada satu kelinci yang berada di tengah lingkaran, tidak seperti kelinci yang lainnya, kelinci itu dipotong-dipotong membentuk huruf X.


"Dia tahu!" kata Cain.


"Apa maksud kalian?" tanya Teo.


"Setidaknya ini menandakan, kita sudah mengawasi orang yang tepat ...." kata Felix sambil tersenyum dan mulai melihat sekeliling memperhatikan murid yang mencurigakan.


"Bukankah kita harusnya berhenti melakukan ini?" tanya Cain, "Ini sudah jelas-jelas dia memperingatkan agar kita tidak mengganggunya." lanjut Cain.


"Ini sudah bagian dari rencana, dengan membuat kita terlihat jelas sedang mengawasi akan membuat Si Peniru itu merasa terancam dan melakukan hal ini. Tapi dengan hal ini dia mungkin berpikir kita akan berhenti tapi disinilah awal kesalahan dari seorang peniru yang tidak seperti Mertie bisa tenang menghadapai pembully, Si Peniru ini didekati sedikit akan langsung memberikan reaksi tidak suka seperti ini ...." Felix dengan menyeringai.


"Sekarang kita hanya perlu mengetahui siapa yang tidak ada dari 7 orang itu di ruang belajar mandiri tadi ...." kata Tan.


"Tidak, mereka semua ada tadi ... bisa jadi mereka sudah melakukan hal ini sebelum ke ruang belajar mandiri." balas Cain.


"Tapi bagaimana jika yang kita cari tidak ada diantara mereka?" tanya Teo.


Tom memukul Teo, "Dasar!"


"Aw! aku kan hanya bilang saja ... siapa tahu saja kan katanya mereka semua ada di ruang belajar mandiri tadi ...." kata Teo.


"Pertama kita harus mencari tahu darimana kelinci ini didapat!" kata Felix yang mulai melepas ikatan kelinci satu per satu yang sedang terikat.


"Ada apa ini?" tanya Pak Egan yang baru datang disusul Bu Farrin dibelakangnya.


Mata Bu Farrin terlihat berubah menjadi merah melihat darah dari satu kelinci yang mati.


"Gawat!" kata Cain dalam hati.


"Eng?" Felix mendengarnya tapi tidak mengerti jadi Cain mulai menjelaskan lewat pikiran. Tapi masih putus-putus yang bisa didengar Felix.


"Biar ibu yang urus mereka, kalian semua cepat pulang!" kata Bu Farrin datang memegang kelinci yang masih terikat.


Felix mengambil kelinci itu dan mulai melepaskan ikatannya, Bu Farrin terlihat kesal melihat kelinci itu mulai berlari pergi.


"Ayo anak-anak bantu tangkap mereka! mereka bisa mati kedinginan nantinya ...." kata Bu Farrin membuat anak-anak segera berlari untuk menangkap kelinci yang berlari pergi tadi.


Tapi entah bagaimana semua kelinci itu mendadak berlari begitu cepat dan sangat lincah membuat anak-anak yang sedang mengejar banyak yang terjatuh.


Cain berbalik melihat Felix yang sedang menutup matanya, "Kau yang melakukan ini?" tanya Cain berbisik.


"Berlarilah ... berlarilah sekuat tenaga kalian! jangan sampai tertangkap!" kata Felix dalam hati dan mulai meletakkan tangannya pada salju yang berwarna merah muda ditanah.


"Eh? kemana kelincinya?" kata anak-anak yang mengejar kelinci tapi tiba-tiba kelinci yang dikejarnya semua menghilang.


"Bukankah ini keterlaluan Yang Mulia?" tanya Bu Farrin lewat pikiran.


"Keterlaluan?" tanya Felix membalas lewat pikiran juga.


"Hanya menginginkan darah hewan, bukankah Yang Mulia harusnya bisa mengerti kami yang setengah Sanguiber harus bertahan hidup dengan meminum darah?" kata Bu Farrin.


...-BERSAMBUNG-...