
Disaat Cain sedang terpikirkan hal lain, Efrain kembali dalam pertarungan dan langsung menuju Felix. Karena tidak fokus, Cain meski sudah bergerak tetap saja akan terlambat sampai ketempat Felix berada.
"Felix, jangan!" teriak Cain.
Felix mendengar tapi tidak peduli dan merasa cukup yakin dengan kekuatannya sekarang sehingga tidak perlu takut pada Efrain yang akan menyerangnya. Tinggal mengendalikan darahnya saja dan membunuhnya dari dalam. Begitulah pemikiran Felix, menurutnya inilah saat yang tepat. Tanpa harus membuang waktu, ini saatnya untuk mengakhiri semuanya. Dengan membunuh Efrain langsung menyerang jantungnya. Maka semuanya juga akan berakhir, peperangan akan selesai.
"Apa?! kenapa semuanya menjadi seperti ini?! kenapa aku jadi lebih unggul dibanding Efrain?! kenapa semuanya berjalan lancar?! bahkan disaat Teo, Tan dan Tom masih terlihat baik-baik saja. Apa aku harus senang soal ini?! apa takdir yang kulihat itu berubah karena aku memiliki kekuatan baru ini?!" Felix masih sempat memikirkan hal itu, memikirkan bagaimana ada kejanggalan dari apa yang sedang terjadi. Tapi tetap saja tidak melihat garis besarnya dan melakukan semaunya saja. Sehingga itu menjadi bumerang untuknya karena hanya terpaku pada kekuatan baru saja dimilikinya itu.
Felix yang tanpa pikir panjang langsung melihat Efrain yang datang dengan gerakan slow motion. Sambil melihat dan merasakan darah Efrain yang seakan seperti sudah ada dalam genggamannya untuk dikendalikan. Kembali semuanya dalam gerakan normal dan Felix langsung menarik jantung Efrain untuk keluar. Tapi, bukannya Efrain yang kelihatan terkena serangan. Sebaliknya Felix yang langsung terjatuh dengan memuntahkan banyak darah.
Raja Aluias baru tiba, saat Efrain sudah berada tepat di depan Felix. Cain menahan Efrain dengan segala kemampuannya untuk mengulur waktu, sehingga Raja Aluias bisa membawa Felix pergi darisana.
"Bodoh! sudah kubilang jangan!" teriak Cain ikut bergabung ditempat Felix dibawa oleh Raja Aluias setelah menghalangi Efrain.
"Memangnya apa yang terjadi?!" tanya Raja Aluias panik melihat Felix tidak bergerak sama sekali.
"Efrain punya pembalik serangan Sanguiber. Jadi saat diserang oleh Sanguiber, bukannya dia yang terluka tapi Sanguiber yang menyerang itu yang terluka dengan hal yang akan dilakukannya pada lawan." kata Cain.
"Harusnya kau katakan daritadi!" kata Raja Aluias.
"Aku barusaja mau mengatakannya tapi sudah terlambat. Semuanya terjadi begitu cepat dari yang kuperkirakan." kata Cain.
Banks sudah tiba dan langsung memindahkan tubuh Felix yang sedang ada dipangkuan Raja Aluias.
"Tubuhnya menjadi dingin ...." kata Raja Aluias.
"Tidak apa-apa Yang Mulia, yang dilakukannya tidak begitu parah karena langsung dihentikan cepat setelah merasakan sakit. Sepertinya memang akan mencabut jantung tapi tidak sampai berhasil juga ...." kata Banks yang memakai kacamata melihat organ dalam Felix.
Ratu Sanguiber yang sebenarnya kesulitan bergerak, tetap berjalan dengan santai tanpa kelihatan kesulitan atau kelihatan khawatir juga. Banyak suara bisikan yang mengatakan, "Bagaimana bisa beliau setenang itu, sedangkan putranya sedang dalam keadaan kritis?! seperti yang diharapkan dari Sanguiber. Mereka seperti mesin yang ada di Mundclariss tanpa perasaan sama sekali."
Ratu Sanguiber bahkan tidak mendengarkan hal itu. Karena fokusnya saat ini untuk cepat berjalan dan sampai ketempat Felix berada. Tapi kakinya tidak bisa diajak bekerjasama dengan baik. Walau begitu, dia tetap berusaha kelihatan baik-baik saja. Meski pikirannya hanya dipenuhi apakah benar Felix baik-baik saja disana.
"Maaf ...." kata Raja Aluias yang menahan tangan Banks yang sedang memegang pisau untuk mengiris dada Felix, "Bukannya aku tidak mempercayaimu, hanya respon saja." Raja Aluias dengan cepat melepaskan genggaman tangannya pada Banks.
Banks kembali melakukan aktivitasnya yang tertunda. Mengiris dada Felix untuk melakukan operasi dadakan, "Aku harus menyatukan vena dan arteri yang telah terpotong ... dan ...." Banks kaget karena keadaan Felix lebih parah dari yang dilihatnya lewat kacamata, berbeda saat dilihat langsung saat ini. Karena Felix ingin menarik paksa jantung Efrain keluar maka otomatis vena dan arteri yang menghubungkan jantung dengan seluruh tubuh hampir tercabut semua dan lebih dari itu, jantung Felix terkoyak karena memaksa untuk keluar dari penghalang tulang rusuk.
Tangan Banks mulai bergerak cepat, sampai-sampai tidak jelas dilihat apa yang sedang dilakukan saking cepatnya.
"Aku tahu! jangan sebut soal takdir, aku muak mendengarnya." kata Cain meninju iblis lawannya dengan keras melampiaskan semua amarahnya dalam satu pukulan itu.
"Aku sudah mempersiapkan alat, bahan dan ramuan obat untuk ini. Tidak jelas apa yang akan terjadi, jadi aku membawa semua yang sangat penting." kata Banks.
"Kita berdua terlihat sangat bodoh, sudah tahu kalau ini akan terjadi tapi tidak bisa menghentikannya juga." kata Cain.
"Kita tidak tahu jelas apa yang terjadi. Bukankah hanya terlihat kalau Yang Mulia terluka parah. Dan tidak perlu khawatir, aku bisa menyembuhkannya." kata Banks.
Cain terus memaki dan menghina dirinya sendiri. Sementara Banks kelihatan sangat fokus merawat Felix. Berbeda saat sedang merawat Zeki tadi.
Cain merasa bersalah karena terpaksa meninggalkan Efrain pada Tiga Kembar di garis depan pertempuran.
"Tidak apa-apa, biar kami yang ambil alih!" kata Tan pada Cain saat menahan Efrain tadi.
"Iya, susul Felix!" kata Tom ikut bergabung dengan Tan.
Teo juga datang setelah Cain berhasil pergi, dengan Tan dan dan Tom yang sedang menahan Efrain.
"Bukankah sangat menyebalkan melawan kami?! yang hanya manusia biasa ini ...." kata Teo menyeringai.
Efrain tidak menjawab tapi jelas merasakan perbedaan kekuatan pada mereka bertiga yang sangat meningkat pesat. Setelah dipanas-panasi oleh Teo, Efrain tidak bisa menyangkal kalau memang sangat menyebalkan bagaimana bisa bertarung dengan anak manusia yang bukan apa-apa itu. Yang seharusnya mereka hanyalah ibaratkan serangga yang mudah diinjak.
Efrain ingin menunjukkan bagaimana perbedaan besar kekuatannya pada mereka. Memang berhasil membuat Tiga Kembar melangkah mundur dan kelihatan terpojokkan. Tapi senyuman Tan, Teo dan Tom membuat Efrain bingung apa yang sedang terjadi. Telah dipojokkan tapi tidak kelihatan terpojokkan sama sekali.
Tan, Teo dan Tom tanpa aba-aba, seakan sudah direncanakan bersamaan melempar kunci yang ada didada mereka. Efrain menghindar dengan cepat. Tapi memang tujuannya bukan untuk menyerang Efrain melainkan untuk sesuatu yang sedang ada dibelakang Efrain saat ini.
Tiga Gerbang Alvauden muncul dibelakang Efrain, " Untuk apa?! kalian mau melawanku di Mundebris?! kalian akan kalah kalau terpisah dengan yang ada disini. Keputusan yang buruk tapi bijak, kalian bisa mati dengan cepat." kata Efrain menyeringai.
"Kau lupa siapa kami?!" tanya Teo dengan sombongnya memulkan tinjunya pada tangan yang lainnya.
"Kami adalah ...." kata Teo yang memajukan kedua lengannya, terlihat muncul cincin yang bersinar di jari mereka, bersamaan dengan Tan dan Tom juga melakukan hal yang sama seperti Teo. Kemudian kedua lengan mereka dihempaskan untuk ditarik kebelakang. Muncullah angin besar dari dalam gerbang dengan akar tanaman dan sulur tanaman keluar dari dalam gerbang dalam jumlah besar langsung mengikat Efrain, "Kami adalah ... Alvauden sekaligus Calon Nusfordis Sapphire!" kata Teo yang melanjutkan kalimatnya dengan bangga.
...-BERSAMBUNG-...