UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.549 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 32



"Bagaimana ...." kata Cairo tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena disela oleh Raja Aluias.


"Bagaimana aku tahu namamu?! menjelaskannya akan lama. yang jelas, bukan hanya kau saja tapi semua yang ada di Kuil Pemburu Iblis aku kenal. Bahkan yang meninggalkan Kuil sekalipun, aku juga tahu ...." kata Raja Aluias membuat Cairo agak gugup setelah mengatakan itu. Merasa kalau Raja Aluias tahu semua tentangnya termasuk saudarinya, "Tidak perlu khawatir! bukan seperti yang kau bayangkan. Hanya saja keturunan Aluias, dimanapun berada ... harus berada di jalan yang benar dan harus menjadi bagaimana Aluias seharusnya, yakni menjadi pembasmi kejahatan. Kaum Aluias tidak boleh sama dengan kaum lainnya, di dunia manapun itu ... prinsip harus tetap dipegang teguh karena begitulah asal mula Klan Aluias di Mundclariss dimulai."


Cain terus mengedipkan matanya membuat Raja Aluias sadar kalau sudah terlalu banyak berbicara tanpa sadar, "Rasanya aku sedang bersama ayahmu saja ...." kata Raja Aluias merasa situasi sekarang sangat familiar baginya.


"Dia pasti sangat baik untuk menyela, Yang Mulia." kata Cain tersenyum canggung.


"Terkadang dia bahkan tidur saat aku sedang berbicara." kata Raja Aluias.


"Bisa kubayangkan kenapa ...." kata Cain membuat Raja Aluias agak sebal tapi tidak bisa marah juga pada Cain.


"Aku ingat pedang ini, aku sendiri yang membuatnya saat masih kecil." kata Raja Aluias melihat pedang yang dipegang oleh Cairo.


"Seumuranku?!" tanya Cain.


"Seumuranmu aku sudah membuat ratusan senjata. Kau sangat tertinggal jauh dari Aluias yang seumuran denganmu." jawab Raja Aluias.


Aluias terkenal akan pembuat senjata paling hebat di Mundebris. Semua senjata yang dibuat sangatlah kuat. Hanya saja kalau ada kesan berlian pada senjata, maka itu hanya bisa digunakan oleh Kaum Aluias saja. Tidak bisa diperjual belikan kecuali dinyatakan lain.


"Jadi, apa ada cara khusus untuk menggunakan pedang ini dengan baik?!" tanya Cairo.


"Sudah diduga, kau memang keturunan Aluias. Tanpa kau sadari pasti akan tahu kalau setiap senjata itu berbeda-beda. Sama seperti yang sedang kau pegang ini. Senjata ini kubuat dengan berlian asli yang kutemukan dekat dengan gunung merapi yang ada di Mundebris yang merupakan sisi lain dari Kuil." Raja Aluias memegang senjata yang sudah lama sejak dipegang terakhir kali itu.


Cain kelihatan agak terkejut mendengar itu. Memang Cain sudah tahu kalau Raja Aluias juga tahu soal gunung merapi yang menjadi rahasia itu. Tapi yang ada di Mundclariss tidak bisa membuka gerbang untuk masuk Mundebris, hanya bisa masuk Bemfapirav. Itupun bisa tersesat kalau masuk Bemfapirav karena jalan sangat membingungkan. Cain tahu tidak semudah itu untuk menemukan jalan ke gunung merapi apalagi untuk mendapatkan berlian di gunung merapi itu.


"Berarti ini sangatlah spesial ...." kata Cain ikut menyentuh mata pisau yang tajam itu. Karena Cain melakukan itu, muncul percikan api seperti sedang menggesekkan korek api untuk dinyalakan, "Sekarang aku tahu ... kenapa kau terpilih." kata Cain menatap Cairo kemudian menatap Efrain, "Ini sempurna untuk membunuh iblis."


"Pedang ini jika membunuh manusia yang dirasuki iblis atau apapun itu. Bahkan tidak akan membuat Zewhit keluar. Tapi langsung membunuh apa yang ada didalam disaat masih berada didalam tubuh manusia. Tanpa sempat untuk menjadi Zewhit. Maka dari itu aku memberikan ini pada kuil untuk digunakan karena sangat cocok untuk menangkap penjahat yang memanfaatkan tubuh manusia." kata Raja Aluias.


"Sangat sempurna memang untuk pemburu iblis." kata Cain.


"Sudahi obrolan tentang senjata ... sangat menyebalkan!" kata Goldwin ikut bergabung.


"Aku melepaskanmu karena kau Leaure ...." kata Raja Aluias berbaik hati untuk tidak kesal.


Goldwin merasakan ada bahaya yang mendekat, tapi Cain dan Raja Aluias hanya saling melirik satu sama lain.


"Ayo kita lihat ... bagaimana kemampuannya!" kata Raja Aluias lewat pikiran pada Cain. Cain juga setuju soal itu.


Tanpa peringatan, ada iblis yang tiba-tiba saja muncul dibelakang Cairo berdiri. Raja Aluias dan Cain hanya diam, sementara Goldwin ingin membantu tapi ditahan oleh Cain.


Sebuah tombak besar menuju tepat di kepala Cairo tapi Cairo bisa menghindar dengan cepat. Kemudian menangkap bagian pegangan tombak saat melewati bagian atas kepalanya. Masih menunduk untuk menghindari tombak itu, Cairo menarik tombak itu kemudian memutar dirinya untuk berhadapan dengan iblis yang menyerangnya dari belakang, "Tidak baik menyerang seseorang dari belakang!" kata Cairo melesatkan tombak milik lawan mengenai dada dan ditendang dengan tendangan berputar oleh Cairo dibagian perut hingga iblis terlempar mundur.


Raja Aluias dan Cain tersenyum melihat itu. Bangga bagaimana keturunan Aluias yang hanya memiliki sedikit darah Aluias tetaplah hebat dan bisa diandalkan.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan Aluias memang, kalau soal bela diri fisik." kata Raja Aluias dalam hati.


Setelah melihat itu, Raja Aluias dan Cain tidak merasa perlu mengkhawatirkan Cairo lagi dan mulai bertarung dengan lawan masing-masing. Merasa kalau Cairo tidak akan membuat malu Aluias karena memang memiliki anugerah darah Aluias. Bertambahnya satu manusia dalam pertarungan akan menjadi pengubah alur. Entah itu sebagai kelemahan atau sebaliknya. Tapi Cain dan Raja Aluias tahu Cairo akan menjadi andalan disana.


"Ini panggilan!" kata Tan.


"Aku tidak yakin ... kita sudah gagal dan mau mencoba lagi?!" kata Tom pesimis.


"Dia yang memaksa, cincin ini daritadi terus bersinar dan mengecilkan diri sehingga jariku mulai mati rasa karena terlalu erat. Ini tandanya merrka sedang ingin berkomunikasi dengan kita. Disaat seperti ini, pasti bukan untuk mengobrol tentunya ...." kata Teo, "Kita harus meladeninya karena menggunakan sabun apapun pasti tidak akan membantu cincin ini terlepas dari tangan kita." Teo sempat-sempatnya bercanda.


"Untuk balas dendam dengan apa yang terjadi tadi sepertinya ...." kata Tan.


"Memangnya apa lagi?! Yang kita lakukan sudah ditebak pastinya ...." kata Tom.


"Kita coba saja!" kata Teo.


"Baiklah, siapa targetnya?!" tanya Tom.


"Aku mau dia!" sahut Teo menunjuk Bates.


"Ide buruk! dia ahli pikiran." kata Tom.


"Kalau begitu dia!" kata Teo mengganti dengan menggeser telunjuknya sedikit.


"Dia lagi?!" kata Tom.


"Pasti tanaman yang di Mundebris mau membalas apa yang diperbuat Efrain tadi. Bukankah kalau mau balas dendam, harus pada orang yang tepat. Bukannya menggunakan orang lain sebagai pelampiasan." kata Teo.


"Iya, kita coba saja lagi. Tidak mungkin kan?! Di Mundebris akan menggunakan cara yang sama lagi." kata Tan memaksakan tertawa dengan perasaan khawatir.


"Baiklah ... ayo!" kata Tom mengalah.


Tan, Teo dan Tom melempar kunci gerbang mengelilingi Efrain seperti kurungan. Efrain kelihatan berada tepat ditengah-tengah tiga gerbang Alvauden yang mengelilinginya.


"Ini lagi?!" Efrain menyeringai, "Aku sudah tahu apa yang akan kalian lakukan." Efrain menaruh pedangnya dan mulai memunculkan api. Sepertinya bukan untuk memotong-motong tanaman tapi untuk membakarnya sampai habis kali ini. Bahkan sebelum ada yang keluar dari dalam gerbang, Efrain sudah menembakkan api besar masuk pada setiap gerbang.


Ledakan besar keluar dari dalam Gerbang Alvauden. Membuat Efrain yang masih berada ditengah-tengah lengah karena tidak mengira kalau kali ini serangan berbeda. Harus terperangkap didalam ledakan yang dimulainya sendiri.


"Ow, kali ini mereka kelihatan terkejut ...." kata Teo akhirnya bisa melihat Ditte dan Bates kaget melihat ledakan besar terus menerus membesar keluar dari dalam Gerbang Alvauden mengenai Efrain.


"Untunglah sepertinya, mereka sudah mempersiapkan sesuatu memang di Mundebris." kata Tan tersenyum.


Teo memasang kacamata untuk melihat Mundebris. Disana terlihat banyak tanaman dan hewan saling adu tos dengan bahagia, "Sepertinya memang begitu ...." Teo tertawa.


Tom merebut kacamata Teo untuk melihatnya juga, "Sepertinya mereka sudah menduga kalau kali ini Efrain akan menggunakan api, makanya di Mundebris mereka menyiapkan bahan peledak." kata Tom.


"Sudah kubilang kan, pasti berhasil ...." kata Ular yang melingkar di batang pohon. Sementara pohon itu merasa lega karena dendamnya terbalas. Bagian pohonnya yang tadi dihancurkan oleh Efrain, kini rasa sakitnya itu bisa terbalaskan.


...-BERSAMBUNG-...