
Cain tertawa keras, "Kau itu terlalu berlebihan Goldwin! dia itu Felix ... aku ini Cain ... menurutmu Felix merasa aku ini adalah seseorang yang berbahaya dan tidak bisa dipercayai? Felix maksudmu? Felix itu tidak mungkin begitu ... lagipula ini aku ... kau pikir aku akan mengkhianati Felix dan merubah apa yang diinginkan Felix? kau pikir aku orang yang seperti itu?"
"Tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran seseorang dan karakter seseorang memang tidak akan berubah semudah itu ... tapi perasaan ... perasaan adalah hal yang mudah berubah. Baik itu kita yang merubah atau diubah oleh orang lain atau keadaan, bisa saja saat ini hatimu berpihak pada Felix tapi tidak ada yang bisa menebak jika suatu saat nanti hatimu adalah milikmu sendiri ...." kata Goldwin.
"Aku bukanlah orang yang seperti itu ... kau pikir aku akan tumbuh menjadi egois?!" kata Cain.
"Pada dasarnya perasaan Leaure selamanya bukan milik diri sendiri tapi milik siapapun yang membutuhkan pertolongan ... selamanya Leaure adalah seseorang yang mementingkan perasaan orang lain dibanding perasaan sendiri. Begitupun aku ... walau aku bersikap kasar, dingin, tidak sopan denganmu tapi aku akan berdiri paling depan jika ada yang berani ingin menyakitimu karena aku ini Unimaris mu ...." kata Goldwin.
"Kau ini sedang menyatakan perasaan atau apa? kenapa membuat suasana jadi canggung begini ...." kata Cain merasa tidak nyaman dengan perkataan Goldwin.
"Begitulah Leaure ... dan kau bukanlah Leaure biasa tapi Leaure sejati, kau lebih dari Leaure manapun bahkan Raja Leaure pun tidak akan menghentikan apa yang ingin dilakukan oleh Leaure sejati karena pada dasarnya yang akan dilakukan Leaure sejati adalah untuk kepentingan banyak orang dan untuk kepentingan dunia ...." kata Goldwin.
"Kau berbicara seakan Felix adalah ancaman bagiku?" kata Cain tertawa.
"Sebenarnya Caelvita dan Leaure sejati tidak boleh bertemu karena merupakan dua orang yang memiliki prinsip yang saling bertolak belakang. Caelvita hanya berusaha keras menjalani kehidupan saat ini sedangkan Leaure sejati berusaha keras membuat masa depan menjadi tempat yang layak untuk ditinggali. Seseorang yang hidup untuk hari ini berbeda dengan seeeorang yang hidup untuk hari esok ...." kata Goldwin sama sekali tidak menurunkan keseriusannya.
"Kalau begitu akan lebih bagus dong! dengan aku dan Felix, kami berdua bisa membuat dunia yang lebih baik dengan bekerjasama! sudahlah ... aku harus kembali ...." kata Cain tersenyum.
"Aku mengatakan ini karena kau bisa saja sedang dalam bahaya tapi tidak tahu apa-apa ...." kata Goldwin saat Cain memanggil gerbang Alvaudennya.
"Kau lihat ini ...." Cain menunjuk gerbang emeraldnya, "Gerbang ini saja sudah menjadi bukti bahwa di dunia ini Felix lah orang yang paling peduli denganku dan jika ada yang ingin menyakitiku, Felix ada di urutan paling terakhir ...." kata Cain begitu percaya diri.
"Aku hanya ...." Goldwin tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tahu ... kau mengkhawatirkanku kan? aku akan menjaga diriku sendiri dengan baik ... karena aku punya dua nyawa untuk kulindungi ... jika terjadi sesuatu denganku, kau juga akan mengalaminya ...." kata Cain mulai masuk ke dalam gerbang.
***
Penyelidikan polisi mengatakan bahwa kebakaran yang terjadi di Rumah Daisy adalah kesengajaan dan dari cctv terlihat sosok yang memang sedang ramai dibicarakan di tv saat ini. Keluarga tersangka yang menabrak lari seorang mahasiswi tapi bersikeras mengatakan bahwa tidak bersalah dan Daisy berhasil mendapatkan bukti penting yang menjadikan masa hukuman tersangka kini bertambah.
"Mahasiswi itu juga tidak mati! ini tidak bisa disebut sebagai pembunuhan tapi kenapa jaksa dan hakim melebih-lebihkan kejadian ini ...." kata kakak dari tersangka yang berhasil diwawancarai.
"Dia orang yang keluar dari rumah ibu kan?" tanya Teo menunjuk layar handphone nya.
"Ibu pasti memang sering mengalami hal seperti ini ... sebagai seorang jurnalis ini adalah resiko yang harus selalu ditanggung!" kata Felix.
"Memang ibu jurnalis yang sangat bersemangat dalam mengejar berita tapi ini pertama kalinya kami mendengar kalau ibu bekerja sama dengan polisi dalam penyelidikan ...." kata Tom.
"Bukankah seringnya pindah rumah karena kejadian begini? lagipula kalian darimana bisa tahu kalau ibu itu jurnalis yang seperti apa sedangkan tidak melihat secara langsung ...." kata Felix.
"Pindah rumah hanyalah hobby nya semata ... kalau mendapat rumah yang menarik pasti secepatnya akan langsung dibeli!" kata Teo.
"Untuk seseorang yang jarang pulang ke rumah, kau pikir ibu terobsesi dengan rumah?" kata Felix tertawa, "Tunggu ... apakah ini ... tidak mungkin!"
"Ada apa?" tanya Tan.
"Jika yang kau katakan itu adalah benar berarti ini memang adalah hasil dari mimpi buatan Ted waktu itu ... keinginan terpendam dari ibu adalah menjadi seorang jurnalis yang tidak memikirkan batas dan bahaya apapun itu ...." jawab Felix mengingat mimpi Daisy waktu itu.
"Slogan ibu adalah menjadi jurnalis yang mementingkan keselamatan karena cita-cita ibu adalah bisa hidup tenang di masa tua nanti. Saat muda sekarang ini dipergunakan sebaik mungkin untuk kesibukan karena di hari tua nanti ibu hanya ingin tinggal di rumah yang nyaman. Menjadi Jurnalis memang sudah menjadi panggilan hidupnya karena sesuai dengan karakternya yang tidak suka tinggal diam ...." kata Tan.
"Ibu memang sangatlah bersemangat kalau menyangkut pekerjaan tapi itu bukan berarti kalau ibu akan mempertaruhkan segalanya untuk pekerjaan ... bahkan sampai kami umur 6 tahun ibu Sissy lah yang sering merawat kami. Makanya kami kenal betul ibu itu orang yang seperti apa ...." kata Teo.
"Jadi maksudmu ini semua karena mimpi buatan itu?" tanya Cain.
"Kau datang lebih cepat dari perkiraan? kau memakai kekuatan waktumu ya?" tanya Tom.
"Apa itu yang penting sekarang?" tanya Cain.
"Menurutku ibu bukanlah seseorang yang mudah dipengaruhi oleh sebuah mimpi!" kata Teo.
"Tapi mimpi dari Ted menunjukkan keinginan terpendam dari seseorang. Bisa jadi selama ini ibu hanya berusaha menahan diri dan mungkin kalian lupa banyaknya kejadian baru-baru ini yang disebabkan oleh mimpi itu ...." kata Felix.
Cain memandangi Felix, "Kenapa kau memandangku begitu?!" kata Felix merasa tidak nyaman dengan tatapan Cain, "Kau tidak setuju dengan pendapatku?"
"Tidak ...." Cain menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa, "Aku berpikir apa sih?! haha ... aku jadi berpikiran aneh gara-gara Goldwin, dasar!" kata Cain dalam hati.
"Atau bisa saja semua hanya karena salah paham, keluarga tersangka itu mengira ibu melakukan sesuatu. Kan kalau sedang emosi semua orang menjadi sosok yang kita benci. Dan tidak menutup kemungkinan juga hanya melampiaskan amarah bukannya aksi balas dendam seperti yang kau pikirkan Felix ...." kata Tom.
"Mungkin aku hanya terlalu kepikiran waktu itu ...." kata Felix membuka diri menerima masukan.
"Kita tunggu saja ibu sadar supaya kita bisa menanyakannya langsung ...." kata Teo.
"Kalian pulang ganti baju dulu, biar aku yang jaga ibu disini ...." kata Felix.
"Nanti kami bawakan baju untukmu ...." kata Tan mulai bersiap-siap berangkat.
"Jadi kita tidak ke sekolah ...." kata Cain menghela napas.
"Padahal dalam hati kau senang kan?!" kata Tom usil.
"Setidaknya ... tidak sesenang dirimu!" balas Cain.
"Kalian pikir kebakaran itu adalah hal yang biasa? bukankah kalian sudah kusuruh untuk menjalani perawatan sehabis menghirup asap kebakaran?!" kata Dokter Mari datang.
"Dokter juga terlalu berlebihan, kami tidak menghirup asap sebanyak itu kok!" kata Teo.
"Iya, kami tidak apa-apa! kalau kembali ke panti dan menghirup oksigen di sana sama saja dengan Terapi oksigen hiperbarik karena oksigen di sekitar panti adalah yang terbaik!" kata Tom bercanda.
"Jangan keras kepala dan cepat ke UGD sana!" perintah Dokter Mari.
"Baiklah ...." Teo dan Tom pasrah.
...-BERSAMBUNG-...