
"Kau kenal dengan Nenek Alviani?" tanya Felix.
"Kau sudah bertemu dengannya?" Verlin mulai memperhatikan tangan mereka berdua, "Setelah Sang Caldway melihat masa depan bahwa akan menghilang dia susah payah membuat gelang ini ...." Verlin sambil menunjuk gelang yang diberi oleh Nenek Alviani.
"Jadi ini gelang ajaib?" tanya Cain dengan wajah sumringah.
"Diatasnya ajaib lagi ... perlu lima tahun lamanya sang Caldway membuatnya."
"Lima tahun? berarti dia bisa melihat ke lima tahun, masa depan yang belum terjadi? tapi Felix hanya bisa melihat kilasan kejadian yang sudah terjadi ... bukan masa depan, padahal kan dia penerusnya."
"Itu karena dia belum sempurna ...." Verlin berbicara tapi langsung menghilang dan tak terlihat lagi oleh Cain.
"Tidak sopan sekali, berbicara tidak selesai langsung pergi ...." kata Cain bercanda.
Felix ingin menyentuhnya lagi tapi Verlin menghindar, "Jangan! sudah cukup aku terlihat di Mundclariss ... jika lama nanti aku bisa kena hukuman."
"Kata Alexavier yang kutemui kini semua aktivitas di Mundebris berhenti, makanya banyak Malexpir yang bebas berbuat kejahatan dan terakhir hampir saja mencelakaiku dan Cain."
"Walau begitu peraturan para Alvauden Sang Caldway tetap berlaku, Malexpir juga tidak akan lama hidup dan langsung menghilang."
"Kan jadi aneh kalau aku tidak melihatnya ...." keluh Cain.
"Para Alvauden ini dimana aku bisa bertemu mereka?" tanya Felix.
"Mereka yang dulunya selalu bersama kini terpisah-pisah semenjak ...." Verlin tidak bisa meneruskan kalimatnya.
"Kalau begitu Nenek Alviani itu siapa? daritadi pertanyaanku tidak kau jawab-jawab!"
"Bisa tidak, kau tidak bertanya tentang Sang Caldway?" Verlin mengelus-ngelus lehernya.
"Lalu aku bisa bertanya kepada siapa lagi? aku yang katanya penerus Sang Caldway tapi tidak tahu dia itu siapa, bisa apa ...."
"Hemmm enaknya bisa membicarakannya seperti itu, kalau aku pasti leher ini sudah teriris sedikit karena bicara seperti itu ... nanti suruh dia membuat peraturan yang tidak terlalu ketat," tunjuk Verlin pada Cain.
"Aku pergi ya ...." Cain meninggalkan mereka berdua karena tidak tahu sedang membicarakan apa saat lawan bicara Felix tidak bisa didengar suaranya.
"Lepaskan saja gelangnya ...." kata Verlin.
"Tidak, Cain akan hidup normal seperti manusia biasa."
"Normal? seperti manusia biasa? itu tidak akan terjadi ...." Verlin sambil menyeringai.
"Kau melihat apa saja saat menyentuh tangan Cain tadi? dan kenapa Nenek Alviani berbicara seakan takdir tidak dapat diubah tapi aku bisa menghentikanmu tadi ...." kata Felix.
"Hanya melihat asal-usulnya ... takdir manusia dan takdir Viviandem berbeda, takdir manusia tidak bisa diubah tapi takdir Viviandem bisa."
"Jadi saat aku menghindari memakai jaket berwarna kuning tidak bisa diubah karena aku manusia ... tunggu kemarin kau bilang Cain keturunan Viviandem, asal-usul yang kau maksud itu apa?"
"Manusia? kau bukan manusia Felix!"
Felix langsung terdiam mendengarnya.
"Jujur seorang Hyacifla adalah seseorang yang suka bercerita tapi karena peraturan aku jadi tidak bisa menceritakan apa yang ingin kau ketahui ... bayangkan bagaimana frustasinya aku sekarang ...."
"Jika aku bukan manusia lalu aku ini apa? Viviandem? jangan berbohong ... aku bisa terluka seperti manusia normal pada umumnya!" menunjukkan bekas luka yang dipergelangan tangan dan di dahinya.
"Felix?" bisik Cain memanggil kemudian diikuti suara Teo dan Tom yang berisik membicarakan tentang niat untuk membeli kacamata.
Felix pun meninggalkan Verlin dan berlari kecil menuju arah samping toko dimana Cain berbisik tadi, "Anak ini darimana saja?" tanya Teo dalam hati.
"Aku habis dari melihat toko roti yang ada dibelakang ...." Felix membuat alasan.
"Siapa yang bertanya?" kata Teo diikuti tawa oleh Tom.
"Hah? apa aku bisa membaca pikiran mereka ...." Felix memandangi mereka satu persatu.
"Sudah larut malam begini, sepertinya lebih baik menginap di rumah Bu Daisy saja ...." kata Tan memandang jam tangannya.
"Kalau aku membeli kacamata tadi, uang untuk makan-makan pada saat ulang tahun nanti jadi berkurang dong ...." Teo dengan wajah berpikirnya.
Felix kemudian memandangi Cain tapi ia tidak mendengar apa-apa, "Apa karena gelang safir itu? jadi aku tidak bisa membaca pikirannya?"
Kemudian suara orang lain yang berlalu lalang langsung menyeruak memenuhi telinga Felix. Ia langsung menutup telinganya tapi tetap saja terdengar sangat berisik, "Apa karena aku memakai gelang ini?" langsung saja ia lepas gelang itu dan semua suara tadi langsung ikut hilang juga, "Ternyata benar!" Felix mengantongi gelang itu dan tidak memakainya lagi.
Saat melewati stasiun kereta, mereka berempat langsung waspada memegang Felix, "Kalian ini ... lepas tidak?" Felix berontak.
"Ow ... tidak bisa, kami tidak akan tertipu lagi ...." Tom menggoyangkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
"Aku bisa membaca pikiran dengan gelang ini, apa mereka tidak bisa ... Cain! Teo! Tan! Tom!" Felix mencoba memanggil mereka satu persatu tapi tidak ada yang menjawab, "Bukan yah? jadi fungsi gelang ini untuk mereka apa?"
Setelah sampai ke jalanan biasa, mereka langsung melepas Felix dan mendorongnya, "Apa-apaan kalian ini!!!" protes Felix karena hampir jatuh.
Tapi tidak dihiraukan dan mereka bertiga hanya berjalan sambil menabrak Felix, "Jalanan luas begini tapi ... aw ... bisa berhenti tidak!"
Tan yang menuju ke arah Felix membuat Felix langsung menghindar tapi, "Kami hanya mengkhawatirkan mu ...." bukannya menabrak, Tan malah menepuk bahunya.
"Alger ...." Felix berbalik melihat tangga ke stasiun kereta bawah tanah yang mulai tidak terlihat.
Dokter Mari yang khawatir datang menjemput di halte bus dekat sekolah dan mengantarnya ke rumah Daisy.
"Kenapa tidak ke rumah dokter saja?" tanya Tom.
"Sudah dijual ...." jawab Dokter Mari.
"Hahh?"
"Mulai saat ini ibu akan tinggal di panti juga."
"Menjual rumah yang bagus terus tinggal di panti?" Teo bingung.
"Jadi kalau dokter ke rumah sakit harus jauh-jauh pulang ke panti dong?" tanya Tom.
"Kan bisa tinggal dirumah sakit, di ruangan dokter dan di klinik juga sudah seperti rumah, kalau dipikir-pikir memang pemborosan membeli rumah dan juga gedung untuk klinik psikiater ... hem."
Lama Dokter Mari menceritakan tentang kepindahannya dan tinggal di kamar lamanya di panti membuat mereka semua tertidur, "Kita makan ma ... hahh dasar!"
Sesampainya mereka di depan rumah Daisy, mereka semua langsung bangun dan segera turun dari mobil, "Ow ... begitu yah," Dokter Mari jengkel karena mereka sepertinya hanya malas mendengarnya bercerita.
"Selamat datang!" sapa Lia sambil ingin berjalan menembus Tan tapi seperti tertabrak dinding, "Aw!" dan akhirnya berjalan menghindarinya.
"Aku merinding lagi?!" kata Cain heran.
"Kau itu kedingininan, ayo cepat masuk!" Dokter Mari mendorong Cain.
"Kenapa aku tidak bisa berjalan menembus mereka?" tanya Lia mengelus-elus dahinya yang terbentur tadi.
"Jadi itu fungsi gelangnya ...." kata Felix dalam hati yang sebenarnya ingin tertawa melihat Lia tertabrak tadi tapi ditahannya.
***
"Aku jadi penasaran, kan Alexavier itu penjaga rumah apa mereka bisa membantu usaha menjadi sukses seperti di toko optik tadi?" tanya Cain saat dia dan Felix menyikat gigi.
"Itu tugas Fortunissa, tapi kami ... Alexavier yang memanggil mereka untuk datang ke rumah yang kami jaga."
"Fortunissa?" tanya Felix setelah berkumur-kumur.
Cain langsung kaget ditambah merinding, "Kak Lia ada disini?"
"Penyihir keberuntungan ... tapi semenjak ...."
Felix memotong kalimat Lia, "Ya ... ya ... semenjak perang mulia 10 tahun semua aktivitas terhenti ... kau mau bilang itu kan?!" Felix keluar dari kamar mandi.
Lia ingin mengejarnya tapi terbentur lagi oleh dinding pelindung Cain yang hendak keluar juga, "Aw! menyebalkan sekali ... kenapa bisa begini sih?"
...-BERSAMBUNG-...