
Dalam beberapa tahun belakangan ini, Gallagher selalu saja menyajikan berita. Dari itu yang hanya sekedar berita kecil sampai yang membuat gempar. Tapi berkat itu juga Gallagher menjadi lebih populer. Hanya saja kali ini begitu berbeda, kecelakaan bus yang memakan korban 11 orang menjadi kejadian paling besar dan meninggalkan luka pada seluruh keluarga besar Gallagher.
Bukannya kembali dari perkemahan, mereka bisa bahagia dan memulihkan semangat untuk kembali belajar. Tapi semangat itu serasa turun sampai ke titik dasar paling terendah.
Kejadian itu bukan hanya meninggalkan ingatan yang sangat membekas bagi Gallagher saja, tapi juga seluruh Yardley heboh dengan itu. Apalagi sosial media Gallagher banyak dikunjungi karena foto dan video dari para korban yang terlihat baik-baik saja selama di perkemahan. Terlebih lagi Demelza, pengikut akun sosial media Demelza meningkat pesat. Banyak komentar turut berduka cita dipostingan foto dan video Demelza. Menyayangkan Demelza yang masih sangat muda harus pergi secepat itu.
"Kematian benar-benar adalah misteri, tidak ada yang tahu kapan datang ... tapi jelas bahwa akan datang. Demelza yang kelihatan ceria pasti tidak tahu kalau beberapa saat setelah foto ini dibagikan dia juga akan pergi ...." kata salah satu komentar dari akun anonim.
Acara perkemahan dihentikan dulu atau tidak diadakan untuk SMP dan SMA tahun ini. Hanya berakhir untuk kelas 6 SD saja. Memang keamanan dan keselamatan akan semakin diperketat dan diperiksa secara teliti tapi bahkan jika acara perkemahan tidak dihentikan, tidak akan ada juga yang bersedia pergi. Jadi, telah disepakati bahwa acara perkemahan berakhir tahun ini tidak dilanjutkan lagi di tingkat kelas yang lebih tinggi.
Kecelakaan bus yang tidak diketahui apa penyebabnya itu masih dalam tahap penyelidikan. Di tempat kejadian malam itu, jalan sangat sepi dan masih area dekat dengan hutan jauh dari pemukiman warga. Cctv juga tidak tersedia di jalanan itu, jadi tidak ada rekaman yang bisa memperlihatkan apa yang terjadi malam itu.
Tidak ada yang menghalangi bus, tidak ada masalah dengan bus, sopir pun juga tidak dalam keadaan mengantuk, mabuk atau dalam pengaruh obat-obatan. Menurut petugas penyelidik, bus seperti menabrak dinding keras sehingga membuat bus terpental mundur dan terbalik.
"Bukannya dinding keras, tapi monster kambing ...." kata Teo sambil mendengarkan berita di tv.
Sopir bus yang dibawa dalam keadaan kritis ke rumah sakit tidak bisa bertahan. Sehingga jumlah korban bertambah satu lagi menjadi 12 korban yang meninggal. 10 murid, 1 guru dan 1 sopir bus.
Pemakaman akan dilaksanakan bersamaan, jadi murid Gallagher membagi diri untuk ke masing-masing lokasi pemakaman. Bagi korban yang terluka dan masih berada di rumah sakit pun juga memaksakan untuk ikut bergabung.
Tapi bukannya dihargai karena tetap datang walau dalam keadaan terluka. Sebaliknya keluarga korban terus menangis melihat korban yang selamat di pemakaman. Mereka berharap bahwa korban yang hanya terluka itu adalah keluarga yang meninggalkannya saat ini.
Felix meninggalkan pemakaman karena merasa tidak disambut baik disana. Hanya menambah luka pada keluarga yang ditinggalkan. Begitupun dengan Tan, Teo dan Tom yang berada di lokasi pemakaman lainnya mendapat perlakuan yang sama.
Semua korban yang terluka kembali ke rumah sakit mengganti baju hitam dengan baju pasien kembali. Tapi meski sudah mengganti baju dengan warna yang lebih cerah, bukan lagi warna gelap. Tetap saja suasana masih tetap suram. Hujanpun turun saat mereka kembali berbaring diatas tempat tidur.
Dokter Mari yang baru saja menukar berkas pemeriksaan Felix juga terpaku dengan hujan yang turun dilihat dari dinding kaca rumah sakit.
"Kau disini rupanya ...." kata Daisy menghampiri Dokter Mari, "Ini apa?!" tanya Daisy melihat amplop coklat yang dipegang Dokter Mari.
"Ini ... informasi rahasia pasien dari klinik." kata Dokter Mari menekankan rahasia pada kalimatnya.
"Ah, begitu." kata Daisy tidak tertarik lagi untuk menanyakan lebih lanjut karena sudah tahu bahwa psikiater sangat sensitif dan ketat soal menjaga kerahasiaan pasiennya.
Padahal sebenarnya, Dokter Mari baru saja melakukan hal ilegel. Menukar berkas informasi pemeriksaan Felix dengan punya anak normal. Tidaklah sesulit itu dilakukan walau rumah sakit itu bukan tempatnya bekerja karena Dokter Mari bukan manusia biasa, melainkan Setengah Leaure.
"Anak-anak selalu saja mendapatkan masalah ... apa wajar anak seumuran mereka terus mengalami hal seperti ini?!" kata Daisy.
"Entahlah ...." kata Dokter Mari menghela napas.
"Apa sebaiknya mereka kita pindahkan saja sekolah di luar negeri?! rasanya jika terus disini ... mereka akan tetap mengalami hal yang sama di masa depan." kata Daisy.
"Apa maksudmu?!" tanya Daisy tidak mengerti maksud ucapan Dokter Mari itu.
"Hanya saja orang seperti kita ini ... memang selalu tidak beruntung." kata Dokter Mari.
"Setidaknya kau kan punya saudari dan keponakan. Kau lebih beruntung daripada aku ... lagipula, apa itu ucapan yang pantas keluar dari mulut seorang psikiater?!" kata Daisy mengakhiri kalimatnya dengan lelucon.
"Saudariku ... ibu Cain sudah meninggal dan keponakanku ... Cain ...." kata Dokter Mari bahkan di dalam hati tetap tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dua orang keluarga yang dimilikinya itu tidak bisa dikatakan sebuah keberuntungan juga menurut Dokter Mari, "Aku tidak bisa melindungi keduanya dengan benar ...." lanjutnya lagi dalam hati.
***
Musim gugur yang menjadi pengingat gugurnya juga 12 orang secara mendadak dan tiba-tiba itu masih menyisakan duka hingga musim dingin tiba. Para korban luka yang selamat sudah kembali bersekolah juga walau masih ada yang belum sepenuhnya pulih. Suasana sekolah sangat muram, tidak terlihat ada kebahagiaan kemanapun mata memandang. Senyuman pun terlihat dipaksakan dan terlihat palsu.
Gallagher yang satu tingkatan saja punya 300 lebih siswa. Kalau dikalikan seluruh tingkat SD, SMP dan SMA seharusnya sekolah akan sangat berisik seperti biasanya. Tapi sekolah seakan hanya ada satu dua orang saja. Bahkan suara langkah sepatu tidak terdengar ada semangatnya juga.
Para guru mengira kalau semua itu akan cepat berlalu dan mereka juga akan lupa sehingga semuanya bisa kembali normal seperti biasa. Tapi, Bukan hanya murid yang berduka melainkan guru juga kehilangan murid serta rekan sesama guru. Mereka ingin menghibur para murid tapi mereka tahu betul apa yang para murid rasakan karena merasakan hal yang sama.
Sehingga semuanya dibuat berjalan apa adanya saja. Tidak ada yang kelihatan berlebihan untuk sekedar menghibur memeriahkan suasana tapi hanya berjalan dan merasakan rasa duka itu bersama-sama.
Felix yang ingin memeriksa keadaan Demelza di Memoriasepirav Zewhit Badut dan Kurcaci tidak bisa dilakukan. Karena sekeliling Memoriasepirav itu terus saja dikelilingi oleh anak buah Efrain yang berniat merekrut kedua hantu itu.
Berdasarkan batu permata emerald yang tertanam disekeliling Memoriasepirav kedua Zewhit itu, mereka hanya mengabaikan dan tidak pernah keluar. Para iblis juga tidak bisa masuk ke dalam Memoriasepirav mereka. Saat yang tepat hanya saat malam terakhir gangguan waktu itu, saat Memoriasepirav mudah dimasuki tapi Ditte, Wadi dan Juro 2020 gagal.
"Semoga mereka tetap berpihak pada kita ...." kata Tan setelah mendengar informasi dari Felix.
"Bahkan satu bantuan saja sangat kita butuhkan, apalagi mereka berdua ... pasti sangat membantu nantinya." kata Tom.
"Tenang saja ... mereka tidak akan berkhianat." kata Teo.
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?!" tanya Tom.
"Aku sedang meyakinkan kalian!" jawab Teo.
"Bukannya harusnya kau dulu yang yakin baru meyakinkan orang lain?!" kata Tom heran tapi karena perkataan Teo itu seperti ada cahaya kecil yang muncul di langit gelap. Walau tidak terlalu berpengaruh tapi dapat dilihat dan dirasakan pengaruhnya.
"Aku membencimu!" kata Teo berdecak kesal tapi Tan dan Tom tertawa mendengar itu.
...-BERSAMBUNG-...