
"Bersopan santun?" tanya Cairo bingung.
"Jika Caelvita memberi peringatan dengan tongkatnya, secara sopannya adalah dengan langsung mundur saat itu juga. Tapi jika datang untuk yang kedua kalinya, bisa dikatakan bahwa yang diberi peringatan sebelumnya itu sangat putus asa jadi Caelvita harus bersedia mendengar penjelasan dari seseorang yang telah menunjukkan bahwa dirinya bisa menjaga tata krama tapi kemudian datang dengan putus asa." jawab Tan.
"Menurutku bodoh namanya." kata Tom.
Cairo kini memandang Tom meminta penjelasan. Bagaimanapun, pengetahuan itu haruslah dari beberapa sumber dan dari beberapa sudut pandang sehingga bisa dicerna dengan baik dan bisa disimpulkan mana yang terbaik. Begitulah sistem belajar sesungguhnya menurut Cairo.
"Bagaimana tidak bodoh kalau peringatan tongkat Caelvita itu adalah ancaman kematian tapi datang kembali menantang itu namanya bodoh." kata Tom.
"Hanya ada dua, kalau bukan bodoh ya ... sombong. Merasa dirinya bisa mengalahkan kita semua yang ada disini ...." kata Teo.
"Tapi setidaknya dari semua yang pernah diberi peringatan baru kali ini ada yang bersopan santun seperti ini ...." kata Tan.
"Lagipula, mau penjelasan apapun itu. Jika Caelvita berada di pihak yang menolak tentunya alasan itu sudah pasti buruk. Untuk apa lagi didengar?!" kata Tom.
"Ada apa denganmu sebenarnya? apa ada yang salah denganmu?! kenapa kau terus memihak iblis itu?!" Teo heran pada Tan.
"Aku tidak memihaknya ...." kata Tan membela dirinya.
"Lalu apa?!" tanya Teo.
"Entahlah, tapi ... secara tidak sadar aku tertarik dengan iblis itu." kata Tan juga bingung apa yang terjadi dengan dirinya.
"Sepertinya batu permata Sapphire pada Tan sudah mulai sempurna. Berarti dia juga sudah bisa merasakan aura dengan keadaannya sekarang ...." kata Felix dalam hati tetap memasang wajah datar.
"Jangan bilang kau menyukainya?!" kata Teo.
"Apa?! kau sudah gila?!" balas Tan dengan heboh menyangkal, "Aku ... hanya ... bagaimana menjelaskannya, ya? kagum saja ...."
"Kau hanya melihatnya selama beberapa detik saja dan seharian ini sudah melihat bagaimana jejak hasil pembunuhannya. Kau kagum dengan iblis seperti itu?!" Tom setuju dengan Teo.
"Sudahlah ... malam ini kalian semua kembalilah. Biarkan aku yang berjaga disini malam ini. Besok akan menjadi hari yang berat jadi beristirahatlah. Anggap saja ini kesempatan emas untuk memulihkan tenaga. Tidak selamanya kita bertemu iblis seperti Lucy yang mundur memberi waktu untuk kita mempersiapkan diri ...." kata Felix mengalihkan perhatian.
"Kalau begitu kau juga kembali, lagipula tidak akan ada serangan malam ini." kata Tom.
"Belum tentu, kita tidak bisa sepenuhnya mempercayai seseorang yang memiliki mulut yang bisa berbohong. Jadi aku akan tetap berjaga disini ...." kata Felix.
"Bukankah seharusnya kita diskusi bagaimana melawannya besok? membuat jebakan mungkin atau apalah ...." kata Cairo.
"Jebakan tidak akan berguna kalau yang dijebak itu cerdas dan kuat. Bisa dengan mudah menghindari jebakan atau dengan mudah menghancurkan jebakan itu atau lebih parahnya kalau bertemu iblis yang bisa menjadikan jebakan yang kita buat itu berbalik menjebak kita. Hal pertama yang harus diingat saat melawan iblis adalah jangan membuatnya marah dan jangan membuat jebakan yang bisa menjadi bumerang untuk kita." kata Tom.
"Jadi hanya perlu melawan secara langsung saja?!" tanya Cairo.
"Untuk melawan satu iblis harus dengan empat orang. Ada yang menyerang dari setiap sisi, itu adalah satu-satunya cara. Karena Iblis tidak punya titik buta, mereka punya mata di setiap sisi tubuhnya." jawab Tan.
"Jadi kalau 1 lawan 1 sudah seharusnya untuk lari saja ya?!" kata Cairo.
"Harus!" sahut Teo.
"Banks mengajarkan mereka dengan baik ...." kata Felix dalam hati tidak bisa menyembunyikan senyuman yang mengembang diwajahnya.
"Jadi kita ada lima, apa ada kemungkinan bisa menang?" tanya Cairo.
"Ada kemungkinan ... tapi tidak besar. Jadi sebaiknya jangan terlalu berharap!" kata Tom.
"Yang diperlukan saat ini hanya kemungkinan ... kalian beristirahatlah, besok kita akan menang!" kata Cairo.
Tan, Teo dan Tom berdebar mendengar perkataan Cairo itu. Bahkan Felix juga merasakan semangatnya bertambah.
Seperti perintah Felix, Tiga Kembar kembali ke asrama dan Cairo juga kembali ke penginapannya. Tapi bukannya beristirahat, mereka malah latihan.
"Aku bisa saja mati besok, mana bisa aku tidur?!" kata Cairo bangun dan mulai mengambil pedangnya.
"Kalian tidak akan benar beristirahat kan?" tanya Tom saat sudah mendekati sekolah.
"Yang benar saja?!" sahut Teo memanggil Moshasnya.
"Menurutmu Felix benar mengirim kita kembali untuk tidur saja?!" kata Tan menyeringai.
Akhirnya malam itu, di tempat yang berbeda mereka semua berlatih. Teo melakukan video call dengan Cairo dan tentu saja sesuai perkiraan Cairo menjawab telepon dengan wajah dipenuhi keringat. Mereka seakan sudah janjian saja untuk latihan malam itu. Latihan malam itu mereka juga saling berkoordinasi lewat video call.
***
Matahari mulai terbit, perjalanan Tiga Kembar menuju sekolah dipenuhi karpet bunga berwarna pink yang berjatuhan. Dengan keringat yang mengalir turun lewat pelipis, mereka berjalan tertatih-tatih. Tapi saat mulai mendekati sekolah, tanpa aba-aba mereka langsung lari bersamaan dan memasuki Bemfapirav kemudian kembali lagi ke Mundclariss.
"Hahh ...." serempak mereka langsung menghela napas lega tapi kemudian setelah menatap ke depan ada yang melihat mereka, "Hahh?!"
"Ck ... ck ... ck! bisa tidak kalian berhati-hati, bagaiamana kalau yang melihat bukan aku?! kalian bisa dalam masalah!" kata Mertie.
"Apa yang kau lakukan di asrama anak laki-laki?!" tanya Teo.
"Membujuk anak kelas tiga satu per satu untuk menyetujui acaraku." jawab Mertie.
"Memaksa maksudmu?! pakai kata membujuk segala, tidak cocok untukmu ...." kata Teo.
Felix menuruni anak tangga dengan pakaian seragam sudah lengkap mendapati Tiga Kembar dan Mertie.
"Bagaimana bisa kalian yang cepat pulang tapi yang sampai duluan aku? apa kalian habis berkeliling dunia dulu sebelum kesini?!" kata Felix usil dan hanya langsung pergi menuju gedung sekolah.
Tiga Kembar hanya bisa tertawa dan lekas naik ke kamar mereka untuk bersiap-siap juga.
"Rasanya seluruh tubuhku akan runtuh ...." kata Teo.
"Jangan sampai tertidur, kalau sempat tertidur walau sebentar saja tamat riwayat kita. Rasa lelah kita akan menjadi berlipat-lipat ganda lagi." kata Tan.
Tom berlari hampir menabrak mesin minuman otomatis, "Aw!"
"Aku kopi 2!" teriak Tan.
"Aku tiga!" teriak Teo.
"Aku empat!" kata Tom tertawa sambil memasukkan koin nya.
Setelah meminum kopi sekalipun, mereka tetap tertidur saat pelajaran di kelas berlangsung. Guru yang mengajar mencoba membangunkan tapi saat menggoyang-goyangkan tubuh mereka untuk dibangunkan. Semuanya bangun dengan mengeluh kesakitan.
"Rasanya tulang-tulangku mulai meleleh ...." kata Teo yang kemudian dipukul belakang punggungnya oleh Bu Janet dan itu membuat Teo semakin menjerit kesakitan.
Bu Janet dan seluruh kelas hanya bisa menertawai, sementara Tan mengerti betul penderitaan Teo itu tapi diam saja sehingga tidak perlu mendapatkan pukulan sama seperti Teo.
"Diam adalah emas." Tan mengagumi dirinya sendiri kemudian matanya mulai ingin tertutup lagi.
Tom juga tertidur, bahkan duduk paling depan tapi karena sebangku dengan Felix. Dirinya yang sedang tidur itu entah bagaimana tidak diperhatikan oleh guru yang sedang mengajar.
"Nyenyak sekali tidurnya ...." kata Felix kembali menatap papan tulis, "Jujur, saat ini ... aku lebih suka kalau kalian tidak banyak tidur karena nanti kalian akan."
...-BERSAMBUNG-...