UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.249 - Solusi Untuk Masalah Lama Dari Masalah Baru



Sebelum mengetahui identitas diri Felix yang sebenarnya, ia merasa tersiksa akan rasa bersalah yang selalu menghantuinya itu. Satu-satunya anak yatim piatu di Panti Asuhan Helianthus yang selamat bisa bertahan hidup. Bukannya membuat dirinya dianggap sebagai seseorang yang beruntung karena bisa selamat dengan ajaibnya tapi sebaliknya malah dianggap pembawa sial.


Setelah bertemu Cain, kemudian Tiga Kembar, rasa bersalah itu perlahan tertutupi. Tapi hanya tertutupi, bukannya hilang. Hanya bersembunyi di bawah alam bawah sadar dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul kembali ke permukaan.


Waktu yang tepat itu adalah saat Felix merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat selesai melakukan perburuan harta karun di Perkemahan Sekolah. Kebahagiaan yang didapatnya bersama sahabat pertama itulah yang merupakan waktu yang tepat untuk rasa bersalah itu muncul menghantui Felix kembali.


Mimpi buruk itu kembali lagi menyiksa Felix disetiap tidur sehingga membuatnya takut untuk tidur. Menyiksa dirinya sendiri dengan berjalan ditengah malam yang dingin untuk menghilangkan kantuknya. Tapi tanpa ia sadari ternyata ikut menyiksa orang lain selain dirinya sendiri yakni Cain yang diam-diam selalu mengawasinya.


Setelah Felix mengetahui bahwa dirinya adalah seorang Caelvita, ia merasa bebannya bertambah. Masalah batinnya yang belum selesai ditambah lagi tanggung jawab yang harus dilakukan. Tapi ternyata dibalik masalah itu, muncul sebuah penyelesaian.


Awalnya Felix hanya ingin melakukan eksperimen pada dirinya sendiri untuk memperluas jangkauan jaringan komunikasi pikirannya. Tapi ternyata eksperimen itu tidak hanya untuk melatih dirinya untuk bisa fokus, waspada dan peka terhadap lingkungan. Muncullah sebuah solusi untuk mimpi buruk Felix itu.


Bisa tersadar saat bermimpi membuat Felix tidak takut dalam bermimpi lagi karena ia bisa mengatur mimpinya sendiri atapun menenangkan dirinya sendiri kalau mendapat mimpi buruk bahwa itu hanyalah sekedar mimpi. Biasanya anak-anak panti di dalam mimpinya akan mengatakan hal yang sama berulang kali yakni beruntunglah bahwa dirinya bisa selamat sedangkan mereka berakhir menjadi debu. Walau berulang-ulang tidaklah membuat bosan melainkan berulang-ulang menyakitinya.


Tapi saat bisa mengendalikan mimpinya, Felix bisa mengabaikan hal itu dan fokus meneliti mimpinya itu. Mencari hal janggal yang mungkin diketahui oleh alam bawah sadarnya yang sengaja disembunyikan.


Karena mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur. Jadi mimpi bisa menjadi petunjuk besar jika bisa tersadar saat sedang bermimpi.


Hal itu bukan hanya untuk melatih kemampuan Felix, tapi juga perlahan menyembuhkan ketakutannya untuk tidur dan bermimpi buruk. Bahkan setelah bisa melakukan Lucid Dream, Felix ingin terus tertidur dan bermimpi agar bisa mendapatkan petunjuk lebih cepat. Tapi yang namanya mimpi tidak bisa terjadi sesuai yang diinginkan terus menerus. Mimpi yang sama berulang kali hanya bisa dialami saat ia masih belum sepenuhnya menguasai Lucid Dream. Setelah menguasainya, mimpi buruk itu tiba-tiba tidak datang lagi.


Kata Dokter Mari itu menunjukkan bahwa Felix mulai sembuh oleh PTSD yang dialaminya. Dimulai dari mimpi traumanya yang berulang kali terus datang itu perlahan menghilang. Meski begitu, tidak ada waktu untuk senang mendengar bahwa ia sudah mulai sembuh.


Felix langsung melakukan hal lain untuk bisa memimpikan hal itu lagi. Dengan melatih otak untuk menyaring informasi untuk membantu fokus pada hal penting, yakni emosinya.


Mimpi yang datang karena trauma itu akhirnya menjadi peluang untuk Felix. Bukan hanya menyembuhkan dirinya sendiri tapi sekarang juga digunakan sebagai metode analisis. Saat melalui hari-hari biasa ataupun hari yang tidak biasa. Felix sebisa mungkin mengingat dan memperhatikan sampai detail terkecil agar bisa melatih otaknya untuk memilih mimpi yang diinginkannya. Setelah berhasil dimimpikan itu bisa membantunya mencari petunjuk dan menganalisisnya. Bahkan tidur sekalipun, Felix tidak beristirahat.


***


Tan mulai mengobrol dengan tanaman bunga yang dekat dengan kakinya itu. Belum sempat mengangkat kaki, ia sudah terhenti.


Teo mulai menanyai rumput untuk mengetahui apakah ada hewan yang hidup di dalam tanah atau yang kecil yang sulit dilihat oleh mata langsung. Karena rumput mengatakan ada hewan yang pernah menggali lubang, akhirnya Teo mengambil sekop kecil dari tas ranselnya untuk menggali mencari keberadaan hewan Mundebris seperti yang dikatakan oleh rumput, "Kau sedang tidak mengerjaiku, kan?" tanya Teo membaringkan dirinya karena sudah menggali cukup dalam tapi tidak ditemukan apa-apa.


"Aku ingat sekali ada ...." sahut Para Rumput bersamaan.


"Kau yakin benar di sekitar sini?" tanya Teo.


"Tentu saja, kami masih muda untuk dikatakan pikun! kami yang paling muda diantara jenis rumput lainnya ...." jawab Rumput sombong.


Tom meminta bantuan pohon untuk diangkat naik ke puncak pohon. Agar bisa melihat dan memeriksa sekitar dengan baik dari ketinggian. Tom melirik jenis pohon yang seingatnya, pohon yang ditemui sebelumnya bersikeras tidak mau melakukan kontrak. Tom berusaha mencari informasi dari pohon yang dinaikinya itu, "Kau kenal dengannya?" tanya Tom.


"Kenal!" sahut Pohon.


"Kau dekat dengannya?" tanya Tom lagi.


"Bukankah kalau sudah kenal berarti sudah dekat ...." jawab Pohon menggores-gores batangnya sendiri dengan rantingnya karena kebingungan dengan ucapan Tom.


"Heh ... belum tentu! kenal belum tentu dekat tapi dekat sudah tentu kenal!" kata Tom.


"Dekat belum tentu juga kenal baik ...." kata Pohon yang menohok Tom dan tidak bisa berkata-kata lagi, "Benar juga yang dikatakan pohon itu, dekat belum tentu menandakan bahwa sudah mengenal dengan baik."


"Menurutmu kalau aku menawarkan kontrak, apa dia mau?" bisik Tom.


"Jenis pohon itu suka sekali tidur dan tidak suka diganggu. Jadi tunggu sampai dia terbangun saja ... kalau membangunkannya saat sedang tidur, Tuan Muda bisa diinjak-injak ...." kata Pohon yang mengingatkan Tom akan pengalaman mengerikannya benar-benar hampir menjadi pupuk pohon.


"Jadi kapan biasanya dia bangun?" tanya Tom.


"Sehari dia bangun sekali tapi hanya 1 menit lamanya terbangun kemudian melanjutkan tidur lagi ...." jawab Pohon.


"Apa?!" kata Tom panik tapi tetap memelankan suaranya.


"Namanya juga Pohon Pangeran Tidur!" kata Pohon.


"Haha ... aku tidak bisa membayangkan bagaimana Pohon Raja Tidur ...." kata Tom.


"Kalau Pohon Raja Tidur hanya bangun selama 1 detik." kata Pohon membuat Tom tercengang karena hanya asal-asalan mengatakan jenis pohon yang tidak dia tahu ternyata memang benar ada.


"Seharusnya aku bertanya pada Verlin dulu sebelumnya ... bagaimana dia bisa melakukan kontrak dengan mereka ...." Tom menyesali dirinya kurang cekatan dalam mencegah sesuatu yang seharusnya bisa dicegah.


"Verlin? dia membangunkan paksa pohon itu dan mengajaknya berkelahi ... tidak membiarkan pohon itu tertidur dan terus mengganggunya sampai pohon itu berhasil mengalahkannya ...." kata Pohon.


"Dia melakukan itu? sudah kuduga sih dari kepribadiannya pasti akan melakukan itu karena cenderung tidak sabaran tapi dia adalah seseorang yang tidak mengenal kata menyerah ...." kata Tom tertawa kecil, "Apa aku juga harus melakukan hal yang sama?" tanya Tom pada dirinya sendiri, "Ah, tidak! akan aku pakai caraku sendiri!" kata Tom menyeringai.


...-BERSAMBUNG-...