
Selama ini Felix tidak pernah memperlihatkan keraguannya untuk dengan sengaja menunjukkan bahwa hatinya lemah. Tapi ternyata memang sulit membunuh seseorang yang tidak melakukan kesalahan apa-apa. Memang tidak bisa dikatakan bahwa Adelio bersih suci dari dosa tapi bukan berarti itu membuat ia harus dibunuh. Kesalahannya tidak sepadan untuk mendapatkan hukuman mati. Tapi apa boleh buat permainan ini namanya menukar kematian, tidak akan selesai jika tidak melakukan penukaran, "Ini menunjukkan bahwa bahkan ... Felix pun juga hanya manusia biasa yang memiliki perasaan seperti manusia pada umumnya ...." kata Tom dalam hati.
Benang merah yang terhubung antara Adelio dan Donahue terputus. Benang yang terhubung dengan Adelio tertarik masuk bersamaan dengan jam tadi sedangkan benang yang terhubung dengan Donahue perlahan mulai terbakar dan menjadi abu, tandanya bahwa Donahue sudah terlepas dari permainan.
Suara ambulance mulai mendekat dan petugas dengan cepat masuk ke dalam kediaman keluarga Adelio. Banyak tetangga yang mulai berkumpul melihat apa yang membuat ambulance itu datang dan tak lama kemudian keluarlah jasad Adelio yang dibawa menggunakan tandu. Semua yang menonton mulai menyayangkan Adelio yang baru berusia 18 tahun itu meninggal.
Sedangkan FCT3 sudah menuju ke pasangan kedua untuk meneruskan apa yang dilakukannya yaitu menukar kematian. Felix terlihat pucat dan mengeluarkan keringat dingin terus membayangkan wajah Adelio karena merasa bersalah, "Apa aku akan terus dibayangi oleh hal ini?" tanya Felix pada dirinya sendiri.
"Katanya semua yang pertama itu memberikan kesan yang dalam dan akan tinggal selamanya sama seperti saat ini, terutama kita tidak bisa melupakan orang pertama yang kita bunuh ...." kata Tom dalam hati melihat Felix dengan jelas memaksakan diri untuk berlari.
Tom melihat keadaan kedua saudaranya Tan dan Teo yang keadaannya mirip dengan keadaan Felix sekarang. Berbeda dengannya yang merasa biasa-biasa saja, "Apa hanya aku yang tidak merasakan apa-apa sama sekali?" Tom merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tapi dilihatnya Cain membuat perasaannya mulai tenang. Keadaan Cain sama dengan dirinya yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Bukan karena tidak merasakan apa-apa tapi karena berusaha untuk terlihat kuat. Jika mereka semua terkena serangan mental secara bersamaan dan tidak ada yang berusaha untuk menjadi tiang kokoh maka mereka semua akan langsung runtuh dalam sekejap.
Untung saja ada Cain dan Tom yang bersedia menjadi tiang kokoh itu untuk membawa Felix, Tan dan Teo yang juga sama-sama ikut berjuang untuk melewati proses yang terasa sangat lama dan sangat menyiksa itu.
Orang kedua yang akan di datangi adalah Fredella, seperti yang sudah dilihat dari kamera cctv yang dipasang oleh mereka. Fredella terlihat keluar dari rumahnya hanya untuk pergi ke kampus. Karena harus memasuki daerah kampus, Cain meminjamkan garis pelindungnya lagi pada Tiga Kembar. Agak sulit mencari keberadaan Fredella di dalam kampus karena tidak seperti tingkat sekolah yang memiliki kelas tersendiri, sistem perkuliahan berbeda.
Cain berhenti berlari dan mulai melakukan komunikasi dengan Felix yang berlari terpisah dengan dirinya, "Terlintas dalam pikiranku kalau Fredella sekarang ada di tempat yang banyak hewan ...."
"Fakultas Kedokteran Hewan!" kata Felix langsung menghubungi Tan, Teo dan Tom setelah mendengar pendapat Cain yang ada benarnya.
"Bagaimana kalau dia tidak ada di sana?" Teo khawatir.
"Aku akan mencari di Fakultas Peternakan, kudengar di Universitas ini ada kebun binatang mini yang dibangun di sebelah Fakultas Peternakan ...." kata Tan.
"Tom, ikuti Tan!" perintah Felix.
"Oke!" sahut Tom langsung merubah arah larinya.
Felix, Cain dan Teo hampir bertabrakan saat mendekati Fakultas Kedokteran Hewan. Terlihat ada keramaian di depan sebuah Laboratorium. Mereka mendekat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi disana, "Semua hewan uji mati lagi, ada yang membunuh disaat kita mencari hewan uji baru ... sepertinya kita harus menunda praktek karena harus mencari hewan uji baru ... lagi! ini sudah yang ketiga kalinya kita pergi mencari." kata seorang praktikan yang membuka jas labnya.
"Bagaimana bisa ada yang membunuh untuk kedua kalinya?!" sahut praktikan lainnya.
"Semua hewan yang ada di kebun binatang mini sudah mati semua!" kata Tom lewat pikiran.
"Tidak ada tanda-tanda Fredella disini!" kata Tan yang tiba di samping Tom setelah mencari kesana kemari.
"Kita coba cari lagi di sekitar sini!" kata Teo.
"Apa ada kebun binatang terdekat disini?" tanya Felix.
"Ada! kalian ingat saat aku mulai bisa berjalan dan Bu Corliss membawaku ke kebun binatang itu untuk merayakan aku bisa berjalan?!" kata Cain.
"Ah, kami duluan!" kata Tan dan Tom.
"Kita harus menyusulnya!" kata Teo sudah mulai berlari duluan.
"Harus dalam jarak 10 meter! malaikat kematian harus dalam jarak itu untuk menghormati yang akan dicabut nyawanya ...." jawab Felix.
"Apa tidak ada cara lain? kalau begini bisa-bisa banyak hewan yang akan menjadi korban ... apalagi Fredella kan termasuk seseorang yang mempunyai kepribadian seperti psikopat! membunuh hewan bukanlah hal yang sulit baginya ...." kata Tan.
"Psikopat membunuh untuk kepuasaan dirinya sendiri dan terlebih lagi dia punya tujuan yang jelas untuk bisa bertahan hidup di permainan ini ... psikopat tidak memperdulikan orang lain selain dirinya sendiri!" kata Tom.
"Tunggu ...." kata Felix menghentikan mereka semua melangkah.
"Ada apa?" tanya Teo.
"Kita ke rumah Casimira! Tan, Teo tunggu disana! Cain, panggil Goldwin! kita harus kesana secepatnya menggunakan teleportasi!" jawab Felix.
"Eng? ada apa?" tanya Goldwin setelah dipanggil melihat keringat Felix, Cain dan Teo yang bercucuran.
Goldwin segera membawa Felix, Cain dan Teo menuju lokasi Tan dan Tom yang sudah lumayan jauh. Goldwin sebisa mungkin ingin mengurangi kelelahan mereka.
"Ayo cepat!" kata Cain menyuruh Goldwin mempercepat gerakannya.
"Jangan membuatku tergesa-gesa! kalau salah satu angka bisa-bisa kita tersesat ke tempat lain!" kata Goldwin marah-marah sambil memutar jam sakunya.
"Tidak ada apa-apa! sunyi sekali!" kata Teo.
"Kita tidak salah kan? bagaimana kalau Fredella benar sedang ke kebun binatang!" kata Tom.
"Gunakan garis pelindung!" perintah Felix mulai berjalan mendekati rumah Casimira.
"Masih ada! tidak hilang kok!" kata Cain yang hanya memudarkan sinar garis tapi tidak benar menghilangkan garis pelindung. Setelah keluar dari rantai jam saku Goldwin, sinar garis pelindung mulai kembali bersinar terang.
Sementara Felix dengan menjadi malaikat maut membuatnya otomatis tidak terlihat dan tidak perlu menggunakan Idibalte.
Semua langkah terhenti ketika roh Casimira berjalan di hadapan mereka semua. Haera langsung muncul untuk menjemput roh Casimira. Terlihat benang merah yang terhubung di jantung Fredella yang lewat disamping roh Casimira terlepas dan menjadi abu.
"Tidak!" Felix tidak mempercayai apa yang dilihatnya dan mulai masuk ke dalam rumah Casimira.
Di dalam sudah tergeletak tubuh Casimira yang penuh darah. Casimira mendapat banyak luka tusukan di perutnya yang sedang mengandung 8 bulan. Teo tetap memeriksa denyut nadi Casimira padahal jelas-jelas melihat roh Casimira tadi.
"Cara kelima adalah pemain membunuh pemain lainnya. Tentu saja benang merah yang saling terhubung ...." Felix mengingat perkataan Kemp.
Felix terbang ke atas masih dengan emosi yang meluap-luap. Tidak percaya ia diatur oleh pemain, tidak percaya ada pemain yang bertindak nekat sampai harus membunuh secara langsung. Pakaian dan mahkota Felix yang berhiaskan batu permata safir bercampur dengan batu permata emerald yang muncul. Felix mengeluarkan api hijau dan membakar 13 benang merah pemain sekaligus dengan menembakkannya dengan panah dan busur Ruleorum yang ada di punggungnya, "Seharusnya aku melakukan ini lebih cepat!" kata Felix turun mendarat di samping sahabatnya.
...-BERSAMBUNG-...