
Felix tidak terlalu yakin dengan janji asal-asalan Cain itu, tanpa dipikirkan matang-matang dan langsung setuju saja agar Orea bisa dibiarkan hidup.
"Apa maksud tatapanmu itu? kau tidak mempercayaiku?! kalau begitu ...." Cain mengulurkan jari kelingkingnya.
"Kau ini! dasar bodoh!" kata Felix memukul tangan Cain.
"Apa maksudmu?! cuma janji dengan jari kelingking juga ...." kata Cain.
"Bagi Viviandem atau Quiris lain yang melakukan janji jari kelingking, jika tidak menepati maka jari kelingking akan terpotong ... nanti setelah Viviandem bangkit, kau akan melihat ada yang terpotong jari kelingkingnya itu menandakan ia adalah pengingkar janji!" kata Felix.
"Jadi itulah kenapa manusia juga melakukannya ...." kata Cain.
"Entah siapa yang memulainya hingga manusia juga ikut-ikutan tapi janji jari kelingking manusia tidak memiliki kekuatan sama sekali ...." kata Felix.
"Berarti setelah ingkar janji satu kali, sudah tidak bisa melakukan janji jari kelingking lagi dong?!" kata Cain.
"Kan masih ada jari satunya ... tapi kebanyakan yang sudah ingkar janji itu tidak ada yang mau melakukan janji jari kelingking lagi dengannya karena sudah tidak bisa dipercayai ...." kata Felix.
"Hebatnya Mundebris ...." kata Cain.
N̶e̶v̶a̶ ̶(̶8̶8̶ ̶t̶a̶h̶u̶n̶)̶ - Orea 5 tahun
"Pasangan kelima belas, Parisya dan Qabil ...." kata Felix.
"Kenapa ekspresimu begitu?" tanya Cain melihat Felix tidak langsung memberi tahu pilihannya malah diam.
"Sebenarnya Parisya dan Qabil ditakdirkan sebagai jodoh tapi entah kenapa Franklin menghubungkan mereka berdua ...." jawab Felix.
"Mereka beda 10 tahun ... berarti setelah Qabil dewasa baru mereka bertemu atau bagaimana ...." kata Cain.
"Mereka sudah bertemu ... karena kedua orangtua mereka bersahabat. Tapi mau bagaimanapun aku menanyakan hal ini pada Franklin, dia tidak mau menjawab ... padahal aku sudah mencari semua informasi dengan Kemp soal takdir semua pemain sebelum akhirnya bertemu Franklin ...." kata Felix.
"Kalau begitu kita simpan dulu pasangan ini ...." kata Cain.
"Ya, jujur aku tidak mengerti jalan pikiran Franklin ... tidak mungkin juga dia asal-asalan dalam memilih pemain dalam memasangkan pemain ...." kata Felix.
"Pasangan keenam belas? eh sudah ya ... ketujuh belas?!" kata Cain ingin mempercepat.
"Tasanee dan Umeko!" kata Felix.
"Keduanya hampir seumuran dan terbilang bukan muda lagi ... susah untuk memilih ...." kata Cain mulai menatap Felix.
Felix mengerti tatapan Cain itu, "Tasanee dan Umeko sama-sama akan meninggal tahun depan menurut buku takdir."
"Sama saja kalau Franklin ingin agar kita memilih Tasanee yang lebih muda setahun dari Umeko. Informasi apa yang kau dapat dari pasangan ini?" kata Cain.
"Tidak ada hal yang istimewa, kehidupan keduanya biasa-biasa saja dan tidak ada konflik ...." kata Felix.
Tasanee (90 tahun) - U̶m̶e̶k̶o̶ ̶(̶9̶1̶ ̶t̶a̶h̶u̶n̶)̶
"Kau langsung memilihnya? tidak mau menyimpannya dulu seperti Parisya dan Qabil?" tanya Cain.
"Tidak baik menyimpan banyak hal!" sahut Felix.
"Ck!" Cain berdecak kesal.
"Pasangan kedelapan belas, Vondro dan Winona!" kata Felix.
"Vondro itu kan?" tanya Cain.
"Iya ...." sahut Felix, "Kenapa? kau tidak percaya diri bisa mengubah dia?!" Felix menyeringai.
"Dia lebih tua dari kita, jujur aku tidak yakin bisa mengubahnya ... dan sempat berpapasan, saat itu aku melihat matanya, entah kenapa firasatku tidak baik ...." kata Cain.
"Jadi kau setuju denganku tidak memilih vondro?!" kata Felix.
"Siapa bilang?!" kata Cain.
"Heh?!" Felix bingung.
"Hanya karena aku bilang tidak yakin, bukan berarti aku tidak bisa ... belum berusaha apa-apa juga ...." kata Cain.
"Jadi kau memilih Vondro?" tanya Felix.
"Iyalah!" sahut Cain.
Vondro (14 tahun) - W̶i̶n̶o̶n̶a̶ ̶(̶2̶5̶ ̶t̶a̶h̶u̶n̶)̶
"Pasangan terakhir yang kesembilan belas adalah Yocelyn dan Zita!" kata Felix.
"Keduanya yang adalah dukun itu kan?! aku hampir kesusahan saat memasang kamera pengawas karena mereka berdua sepertinya menyadari sesuatu ...." kata Cain.
"Yocelyn sang ahli santet, sudah beberapa kali pernah menyantet seseorang hingga meninggal sedangkan Zita sang ahli perpisahan, sudah beberapa kali memisahkan pasangan dengan memantrai agar salah satu pasangan tidak suka lagi ...." kata Felix.
"Mereka berdua sangat jahat! aku tidak mau memilih siapapun!" kata Cain dengan ekspresi lucu.
"Haha ... kita pilih Zita saja! bagaimanapun juga dia tidak membunuh ...." kata Felix agak geli melihat ekspresi Cain.
"Kau tidak tahu ya?! memisahkan orang yang saling mencintai itu lebih buruk dari pembunuhan!" kata Cain.
"Bukannya fitnah lebih kejam daripada pembunuhan?" tanya Felix.
"Ah, iya ... itu!" sahut Cain lupa pepatah itu.
"Sepertinya sudah waktunya ...." kata Felix.
"Iya ... ayo kita kembali ke masa depan!" kata Cain.
***
Felix dan Cain sudah sampai di dalam kelas, "Aku mencarimu daritadi saat kau menghilang di jalan tapi kau malah ada disini ...." kata Teo sebal pada Cain.
"Sudah ada Felix? kukira kau akan datang terlambat?" tanya Tan.
"Memang dia terlambat! terlambat satu hari malahan ...." sahut Cain tertawa.
"Sudah ... kita tidak punya banyak waktu!" kata Felix mengeluarkan catatannya dan langsung mendiskusikannya dengan tiga kembar.
"Jadi bagaimana cara menukar kematiannya sedangkan kita tidak bisa meninggalkan sekolah?!" kata Teo.
"Memangnya sekolah penting sekarang?!" kata Tom.
"Iya! penting!!!" teriak Teo.
"Jadi bagaimana cara melakukannya?" tanya Tom.
"Cukup kami yang kesana!" kata Felix menunjuk dirinya dan Cain.
"Kami akan pergi saat jam istirahat nanti dan menukar kematian ...." kata Cain.
"Kalian akan bolos?" tanya Tan.
"Tidak ... kan ada dia!" sahut Felix menunjuk Cain lagi.
"Walau selama apapun waktu berlalu, aku hanya perlu kembali ke waktu saat jam istirahat selesai kan?!" kata Cain sombong.
"Kau yakin mau melakukan itu? bukankah beresiko melakukan itu? bagaimana kalau ada yang datang membunuhmu? masa depan saat kau menukar kematian akan tidak jadi juga kan ...." kata Tom.
"Kau ini merusak mood saja! tidak masuk sekolah lebih beresiko lagi tahu!" kata Cain.
"Jadi kau hanya ingin memberitahu kami pilihan yang sudah kalian buat?" tanya Tan.
"Lagipula kami akan ke sekolah juga ...." sahut Felix.
"Apa tidak perlu mengikutkan kami? kan kami bisa juga ikut untuk kembali lagi di masa kini? tidak ada batasan juga kan Cain hanya bisa membawa satu orang ...." kata Teo.
"Seperti yang tadi dikatakan Tom ... saat melakukan suatu hal dan kembali di masa sebelum hal itu dilakukan bisa mengundang bahaya ... bisa saja ada yang akan mengincar kita agar yang berhasil kita tukar kematiannya tidak jadi ...." kata Felix.
"Maksudmu anggota keluarga pemain?" tanya Tan.
"Ya! bisa jadi membunuh kita akan dijadikan misi selanjutnya ...." sahut Felix.
"Efrain tahu aku ini apa! dia sudah melihat pedang Leaure ku!" kata Cain saling melirik dengan Felix.
Sebenarnya keduanya sudah sepakat tidak akan mengikutkan tiga kembar karena sudah memperkirakan hal terburuk.
"Apa kami menjadi beban kalau ikut?" tanya Tom.
"Ah, kita lupa ada dia!" kata Cain memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Baiklah ... kalian boleh ikut tapi waktu menukar kematian hanya boleh maksimal 2 jam tidak boleh lebih dari itu ... kita hanya perlu mundur dua jam ... dengan begitu waktu singkat itu kita masih ada di sekolah dan keluarga pemain tidak bisa memasuki sekolah kalau-kalau memang kita menjadi misinya ...." kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...