
Raut wajah Felix berubah total, Cain tahu betul kalau Felix sudah sangat marah besar. Cain perlahan mundur untuk menjaga jarak, "Banyak saksi mata ... cctv juga!" Cain mencoba menyadarkan Felix yang sebentar lagi akan meledak.
"Jadi, kau yang membuat lubang itu?!" Felix perlahan melangkah maju sedangkan Cain sebaliknya.
"Bukan ... bukan aku!" kata Cain membantah.
"Kalau begitu jelaskan dengan baik, kalau tidak aku akan membunuhmu!" kata Felix yang menahan amarah bersamaan dengan itu gunung merapi tadi meletus kembali.
"Wow, tahan emosimu! dunia disini sangat terikat dengan dirimu. Kau bisa saja membuat bencana besar kalau tidak bisa menahan emosi." kata Cain.
Felix mengira letusan gunung merapi saat tadi ia datang dan yang baru saja hanyalah kebetulan, "Apa maksudmu?!" tanya Felix sudah menanangkan dirinya.
"Dunia disini sangatlah lemah, tidak terbiasa dengan keberadaan seseorang sepertimu ... tidak seperti Mundclariss yang kita tempati. Disini, keberadaanmu bisa membahayakan ... sekaligus menjadi sosok penyelamat juga sih ... karena alam yang disini sangat terikat denganmu. Tidak jelas bagaimana bisa seperti itu, kau bisa menanyakannya langsung dengan Caelvita 1 sampai 5 nanti. Merekalah yang membagi-bagi dunia ini ...." kata Cain.
Felix hanya terus menatap dengan tatapan sudah siap membunuh kapan saja. Cain dengan cepat peka untuk menjawab pertanyaan Felix yang tertunda, "Sungguh bukan aku yang membuat lubang itu ... yang aku lakukan hanyalah melakukan misiku semata."
"Apa misimu?" tanya Felix sudah melepas genggaman tangannya. Cain melihat itu bisa bernapas lega.
"Tepatnya ada 21 orang yang jatuh ke dalam lubang air kematian. Aku hanya disuruh menunggu di bawah mencegah yang jatuh tidak menyentuh air kematian ... dan membawanya kemari." jawab Cain.
"Untuk apa kau membawanya kemari?! bukankah kau sudah tahu kalau disini mereka pasti ada yang memiliki wajah yang sama ...." kata Felix.
"Itulah juga alasan utama kenapa aku membawanya kesini ... menggantikan orang dengan wajah yang sama disini sebentar." kata Cain.
"Itu adalah hal bodoh! sejak kapan kau jadi bodoh begini?! ah ... tidak, kau memang sudah bodoh dari awal kan?!" kata Felix tidak habis pikir Cain melakukan hal beresiko itu.
"Jangan menghakimi dulu tanpa tahu alasannya, sobat!" kata Cain maju menepuk bahu Felix dengan tertawa.
"Kau cari mati, ya?!" kata Felix membuat Cain mundur kembali.
"Ini bukan misi Leaure, melainkan dari Istana Ruleorum yang memintaku melakukan hal ini. 21 orang yang kubawa dari dunia atas, disini mereka yang lain sudah tidak ada. Tapi keberadaan mereka adalah sesuatu yang sangat berpengaruh disini." kata Cain akhirnya jujur.
"Jadi, maksudmu ... Ruleorum lebih memilihmu dibanding aku?!" Felix tersinggung.
"Kau lihat sendiri kan?! Caelvita bisa membuat dunia disini kiamat dalam sekejap kalau mau. Terlebih lagi Caelvita saat ini ... kau! memiliki sifat yang pemarah." kata Cain yang langsung dihadiahi oleh Felix tendangan di perut, "Aw! keras sekali!" Cain tidak mengira tendangan Felix itu akan sangat kuat, berbeda dengan terakhir kali saat ia pergi, "Ternyata Veneormi sudah tidak mempengaruhinya lagi ...." Cain menyeringai padahal merasakan sakit.
"Kau mau tambah lagi? kalau dilihat dari senyumanmu yang menjengkelkan itu ...." kata Felix.
"Dunia ini ...." kata Felix tidak selesai.
Cain melanjutkan, "Dunia ini ... tidak ada Quiris! dunia yang normal, dunia yang menjadi tempat impianku. Suatu saat aku akan tinggal tua dan mati disini ...." Cain dengan sentimental menutup mata mendengar suara ombak pantai.
"Kalau begitu, tunjukkan dimana kau mau dikubur sekalian aku menyiapkannya lebih awal." kata Felix.
"Ck! dasar, kau ini!" Cain membuka matanya sebal.
"Aku tidak percaya Ruleorum memberimu perintah tanpa memberi tahuku lebih dahulu." kata Felix berjalan menuju jalan raya.
"Aku yang meminta tidak memberitahumu ... jangan merasa kau tidak dihormati Felix. Ruleroum ingin melapor tentang ini tapi aku larang. Saat ini kau harus fokus menjaga Tan, Teo dan Tom! urusan lain, biar aku yang urus." kata Cain.
"Apa hakmu memilahkan apa yang harus kulakukan?!" Felix menghentikan langkahnya membuat Cain harus kembali mundur lagi karena sudah berjalan jauh di depan.
"Aku ini Pemimpin Alvauden, sudah tugasku mengurangi bebanmu. Alvauden harus pintar-pintar mengatur hal yang tidak usah menjadi beban pikiranmu. Semua yang jatuh kesini, tidak akan dalam bahaya. Jadi kau seharusnya tidak perlu khawatir dan datang kemari, walau sudah kutebak kalau pasti akan kemari sih ...." kata Cain.
Felix hanya diam tidak menjawab ataupun sekedar menatap Cain melainkan kembali meneruskan langkahnya, "Kau membuatku terlihat menyedihkan ... bahkan kau sudah sampai disini melakukan misi. Sementara aku, satu dunia saja kewalahan kujaga ...." kata Felix dalam hati kemudian berhenti berjalan.
"Kau merasakannya juga kan?!" Cain memunculkan Pedang Ruleorum dan ditancapkan di tanah. 20 orang juga langsung muncul berjejeran di depan Felix dan Cain saat ini.
"Ah, ini ... entah bagaimana pedang ini masih bersamaku bahkan pewaris permainan tukar kematian sudah ada yang baru tapi tetap saja aku masih memiliki ini." Cain menyadari Felix menatap pedangnya.
"Selama kau masih hidup, selamanya kau akan tetap menjadi pewaris pusaka permainan tukar kematian. Kau sudah tahu tapi berpura-pura bodoh agar tidak membuatku lebih menyedihkan lagi karena tidak mengetahui hal ini begitu?!" kata Felix.
"Jadi, itu yang kau pikirkan tentangku ... jangan menganggapku sebagai seseorang yang harus kau lampaui Felix. Aku ini sahabatmu, bukan rival ataupun lawanmu." kata Cain melepas pedangnya dan berjalan kembali ke arah pantai diikuti oleh 20 orang dibelakangnya tanpa ekspresi sama sekali.
"Mungkin, karena aku terlalu lama tidak bertemu denganmu ... rasanya kau sangat asing!" kata Felix berbalik, "Tunggu ... hanya 20?! tadi kau bilang ada 21?!"
"1 orang harus meninggal disini memang, sudah menjadi takdirnya meninggal hari ini ... tapi Ruleorum menggunakannya untuk tugas mulia dan memperpanjang usianya sedikit lebih lama." kata Cain memperlihatkan gelangnya yang berisikan nama seseorang, "Rohnya sudah masuk kesini!" Cain membuat garis pelindung untuk mereka semua dan masuk ke dalam air. Air langsung membelah membentuk jalan tapi bagian atas tetap ada air sehingga tetap terlihat normal jika dilihat oleh manusia. Hanya saja Felix dan Cain tidak perlu terkena air dan bisa berjalan biasa tanpa harus susah payah berenang.
"Mereka diisi oleh roh yang ada disini, diri mereka yang lain ... yang sudah meninggal ... roh mereka aku bawa dari Ruleorum untuk melakukan misi disini ... nanti setelah sampai di dunia atas, semuanya akan kembali ke dalam sini dan gelang ini kukembalikan ke Istana Ruleorum." Cain menunjuk gelang dengan banyak mutiara biru, "Setelah itu, semuanya akan kembali normal. Roh pemilik asli semua tubuh ini tidak akan ingat apa-apa, hanya ingat bagaimana mereka jatuh masuk ke dalam lubang ...." Cain ingin memulai obrolan tapi Felix hanya diam saja. Keduanya terlihat sangat canggung seperti hanya kenal satu dua hari saja.
...-BERSAMBUNG-...